Minggu, 22 September 2013

Dengan Dasar Apa Pernikahan Anda Dibangun? (Priskila Huwae)

     Bagi kebanyakan orang menikah mungkin menjadi salah satu tujuan di masa depan yang ingin dicapai. Bahkan tidak sedikit dari kita yang telah memasang target dengan jelas, misalnya menikah pada usia tertentu, menikah dengan pasangan dengan kriteria tertentu, dan lain-lain. Setiap orang pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang pernikahan. Bagi saya membuat keputusan untuk menikah harus dipikirkan sebaik mungkin, karena menikah merupakan suatu moment yang hanya akan saya lakukan sekali seumur hidup. Pandangan boleh berbeda, persepsi juga boleh berbeda, tetapi yang pasti semua orang pernah berpikir tentang pernikah. Mengapa pernikahan menjadi hal yang penting? Hal ini disebabkan karena pernikahan merupakan salah satu kebutuhan dari setiap manusia. Pada tahapan perkembangan sosioemosional Erikson, dinyatakan pada tahapan keenam, yaitu intimacy vs. isolation, manusia membutuhkan kedekatan satu sama lain dan memiliki perasaan bahwa ia kehilangan sesuatu pada dirinya apa bila tidak berhubungan dengan orang lain (King, 2011).
     Terlepas dari semua hal di atas, yang ingin saya bahas kali ini adalah, dengan dasar apakah pernikahan anda dibangun? Cinta kah? Kuatkah dasar tersebut untuk mempertahankan pernikahan anda? Pasti menjadi impian setiap kita dapat menikah dan membangun rumah tangga dengan orang yang kita cintai. Saya bisa melihat pernikahan yang dimulai dengan cinta, dari kedua orang tua saya. Ayah dan Ibu saya berasal dari daerah yang berbeda, dengan latar belakang yang juga berbeda. Namun, Ibu saya pernah bercerita saat bertemu dengan Ayah saya. Ia seperti tahu bahwa Ayah saya adalah jodohnya. Mereka melewati proses pacaran yang sangat singkat, hanya tiga bulan. Setelah tiga bulan pacaran mereka memutuskan untuk menikah, dan tahun ini pernikahan mereka telah berusia 23 tahun. Cinta yang dulu muncul saat awal perkenalan dijaga agar terus ada dan tidak hilang oleh kedua orang tua saya. Mereka kadang bersikap seperti orang yang sedang berpacaran, duduk di depan tv sambil berangkulan, atau Ibu saya bersandar di bahu Ayah saya sambil bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Ayah saya akan membawakan hadiah untuk Ibu saya setiap pulang dari sebuah perjalanan. Hal-hal seperti itulah yang saya saksikan dari hubungan pernikahan kedua orangtua saya. Saya melihat cinta yang menurut saya semakin hari semakin bertambah bukannya semakin pudar.
     Tetapi, apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan pernikahan? Dibutuhkan juga komitmen yang kuat dari masing-masing orang terhadap pasangannya. Komitmen yang bisa saya lihat dari hubungan pernikahan orang tua saya adalah, mereka selalu menjaga agar kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sejak awal menikah tetap dilakukan sampai sekarang. Mungkin hanya hal-hal kecil seperti pergi ke gereja bersama-sama, berdoa di malam hari bersama-sama, makan di meja makan bersama, dan lain sebagainya. Tetapi untuk menjaga agar hal-hal tersebut bisa berjalan hingga sekarang dibutuhkan komitmen dari keduanya untuk terus mau melakukan hal-hal tersebut.
     Selain cinta dan komitmen, komunikasi yang baik juga diperlukan agar hubungan pernikahan berjalan secara sehat. Ayah saya bekerja di provinsi yang berbeda dengan provinsi tempat kami tinggal. Dalam satu bulan beliau akan berada di dua kota yang berbeda. Setengah bulan lebih beliau akan ada di kota tempatnya bekerja, dan sisanya beliau akan pulang ke rumah di kota tempat kami tinggal. Setelah pulang dari tempat kerja masing-masing, Ayah saya akan menelepon Ibu saya berjam-jam, untuk sekadar bercerita tentang berbagai hal, dan hal tersebut dilakukan setiap hari. Mereka mencoba terus menjaga komunikasi walaupun berada di tempat berbeda.

     Dari hubungan pernikahan kedua orang tua saya, dapat saya lihat adanya tipe hubungan consummate love. Dimana  consummate love  sendiri memiliki arti hubungan yang memiliki ketiga elemen, yaitu intimacy, passion, dan commitment. Hubungan ini saling bergantung satu sama lain dan dapat saling merubah dan belajar untuk mempertahankan hubungan. Dengan tipe hubungan seperti inilah sebaiknya pernikahan anda dibangun. Dengan demikian pernikahan anda dapat berjalan secara baik dan sehat, sehingga kemungkinan terburuk seperti perceraian dapat terhindarkan.
18 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar