Kamis, 19 September 2013

Atrraction, Love, and Old Age Romance (Melinda Widjaja)

Pertemuan minggu kemarin pada mata kuliah Perilaku Seksual sangat menarik. Kami menonton tayangan dokumenter, yang kalau saya tidak salah ingat, berjudul The Science of Sex Appeal. Selama dua jam, rekan-rekan saya sekelas diam menonton dengan atensi penuh karena film tersebut sangat menarik.
     Ada tiga bagian dalam sexual attraction, yaitu memilih pasangan, menjaga hubungan dengan pasangan, dan membangun "sarang" bersama demi reproduksi. Dalam memilih pasangan, manusia ternyata memang "judging book by it's cover". Dalam menilai lawan jenis, baik pria ataupun wanita menilai dengan melihat wajah. Wanita, terutama dalam masa ovulasi, lebih memilih pria dengan wajah yang maskulin. Pria cenderung memilih wanita dengan wajah feminin. Kedua jenis kelamin tersebut juga tertarik dengan orang yang memiliki wajah simetris dan sesuai dengan golden ratio. Bau tubuh pasangan juga menjadi faktor dalam memilih pasangan. Setiap individu memiliki bau tubuh yang unik dan spesial, seperti sidik jari. Bau tubuh tersebut mempengaruhi kita pada level bawah sadar. Selain satu atau dua hari sebelum ovulasi, wanita biasanya merasa jijik pada aroma tubuh pria, sedangkan pria bila diekspos pada aroma sekresi dari vagina, akan tertarik dan penilaiannya akan keatraktifan wanita yang ia lihat menurun (tidak pilih-pilih). Faktor biokimia seperti dopamine dan testoterone juga berpengaruh dalam dorongan seksual. Tapi, hal-hal yang telah saya sebutkan di atas merupakan faktor pendorong attraction dan lust. Bagaimanakah tentang love?
     Ilmu sains mengatakan bahwa cinta, gairah dan nafsu seksual memiliki batas waktu. Maka, ada orang-orang yang melakukan selingkuh atau poligami, serta berbagai mating strategy lainnya. Tapi, ada pasangan yang telah puluhan tahun menikah dan bagian otak yang terlibat dalam early love masih aktif. Malah, mungkin cinta akan makin mendalam selama pasangan tersebut telah tua dan memasuki masa pensiun. Alasan yang terpikir oleh saya mungkin karena pasangan yang telah tua dan pensiun memiliki lebih banyak waktu untuk bersama, sehingga mereka dapat lebih banyak bermesraan dibandingkan ketika masih muda dan bekerja. Mereka juga mungkin lebih dapat menerima kekurangan fisiknya masing-masing. Orang-orang yang muda lebih memperhatikan penampilan dan terkadang risih jika merasa memiliki kekurangan fisik. Biasanya, orang yang sudah tua menerima penampilan mereka apa adanya dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Mungkin saja hal tersebut malah memperkuat hubungan cinta dan seksual mereka.
     Akhir kata, kita harus optimis bahwa ketertarikan seksual dan biokimia tidak menjadi harga mati kepada pilihan dan perilaku kita dalam memilih pasangan. Kita juga dapat memilih sendiri apa pilihan yang menurut kita terbaik bagi kita. Kita sendirilah yang menentukan bagaimana cara kita memilih calon pasangan yang akan menemani sepanjang hidup kita.
 
17 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar