Minggu, 03 Maret 2013

Teknik Wawancara bagi Psikolog Klinis (Anak dan Dewasa) (Dhiya Afifah Purvita)


Pada saat mata kuliah teknik wawancara, terdapat 4 kelompok yang maju untuk mempresentasikan hasil wawancaranya. Kelompok itu terdiri dari 2 kelompok dari psikologi klinis dewasa dan 2 kelompok psikologi klinis anak. Saya akan menyimpulkan mengenai materi yang telah kelompok presentasikan pada hari Senin, 25 Febuari 2013.
     Dari hasil presentasi, saya menyimpulkan bahwa definisi menurut psikolog klinis anak maupun klinis dewasa adalah suatu teknik atau cara yang digunakan untuk mendapatkan data atau informasi dari hasil interaksi antara dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan. Wawancara tidak dapat lepas dari observasi. Apabila kita mewawancarai seseorang maka kita akan sekaligus mengobservasi lawan bicara.
     Teknik wawancara tentu mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Menurut psikolog klinis anak maupun klinis dewasa, kelebihan wawancara adalah pewawancara dapat langsung mendapat informasi dari orang tersebut tanpa perantara orang lain. Informasi yang didapatkan juga asli dan tidak di manipulasi oleh orang lain. Selain data verbal yang didapatkan, pewawancara juga mendapatkan data nonverbal dari hasil observasi. Data nonverbal dapat berupa gesture tubuh, gaya bahasa yang digunakan (dapat membedakan orang yang berpendidikan dengan yang tidak berpendidikan), pandangan orang tersebut, dan penampilan/ cara berpakaian. Adapun kekurangan dari wawancara adalah membutuhkan waktu yang lama sehingga pewawancara akan merasa lelah. Selain itu, kemampuan pewawancara juga dapat menurun. Pewawancara juga dapat menjadi kurang fokus apabila sudah lelah dan akibatnya banyak kehilangan data yang penting dari klien.
     Terdapat kendala-kendala yang dialami oleh psikolog klinis tersebut saat wawancara, yaitu apabila klien kurang kooperatif maka psikolog susah mendapatkan informasi karena klien tidak mau berbicara atau mengungkapkan informasi yang ditanyakan oleh psikolog, sehingga psikolog harus terus menggali serta membina hubungan sampai klien dapat mempercayainya. Apabila klien berbicara terus-menerus sehingga pembicaraan diluar konteks, maka psikolog harus meluruskan pembicaraan tersebut agar waktu yang tersedia cukup dan klien tidak perlu menambah waktu dan administrasinya. Pada klien anak-anak, psikolog harus membuat anak tersebut merasa nyaman terdahulu seperti mengajaknya bermain, sehingga waktu yang dibutuhkan dan waktu untuk membina hubungan terkesan lama karena anak-anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Setelah anak merasa nyaman barulah psikolog mulai bertanya dengan anak tersebut. Untuk mendapatkan informasi mengenai anak-anak, psikolog tidak hanya bisa mendapatkan informasi dengan bertanya dengan anak tersebut tetapi ia bisa mendapatkan informasi dengan bertanya kepada orangtua, pengasuh atau orang yang mengerti dengan perkembangan anak tersebut. terdapat masalah yang sering dijumpai pada anak- anak yaitu, selective mutism yang merupakan istilah untuk anak yang tidak mau bicara walaupun sebenarnya  anak tersebut dapat berbicara. Kendala yang sering ditemui oleh klien dewasa adalah klien tersebut mendapat tekanan dari orangtua atau orang-orang yang menyuruhnya ke psikolog. Apabila orang yang menyuruhnya seperti orangtua tidak ada di sampingnya saat wawancara, maka ia akan leluasa bercerita kepada psikolog tersebut.
   Demikian kesimpulan yang saya tuliskan berdasarkan materi yang saya dapatkan di mata kuliah teknik wawancara. Tentunya masih banyak kekurangan dari kesimpulan yang saya tuliskan. Namun, saya berharap kesimpulan ini dapat berguna dan membantu bagi siapapun yang membutuhkannya, Terima kasih

26 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar