Minggu, 31 Maret 2013

Sejarahmu Bukan Sejarahku, Social History… (Andri Setia Darma)

===================================================
“Apa sih yang terlintas dipikiran kalian saat membaca kalimat diatas?”
“Pasti mau membahas tentang sejarah perjuangan para pahlawan ya bos?”
“Waduh bukan sejarah itu yang saya maksud” :p
“Terus sejarah apaan donk?”
“Terkait dengan dunia psikologi, saya coba paparkan di bawah ya” J
===================================================
Social History
Tak ada satu pun manusia yang menjalani hidup yang persis sama, bahkan yang terlahir kembar sekalipun. Segala peristiwa atau pengalaman yang terjadi pada diri seseorang dapat memberikan kontribusi pada pembentukan karakternya. Walaupun ada dua orang yang mengalami peristiwa yang sama, pemaknaan mereka terhadap peristiwa itu belum tentu sama.
“Hmm…jadi social history itu?”
“Cerita atau kisah pengalaman yang terjadi pada diri seseorang sepanjang hidup yang dapat mempengaruhi keadaan psikis mereka…” mungkin ini bisa dijadikan pengertian yang tepat mengenai social history yang saya maksud.
Apa ya keterkaitan social history dengan wawancara oleh psikolog?
Social history dapat menjadi informasi yang penting terkait dengan permasalahan yang dialami oleh seseorang. Nah, jadi jelas kan, seorang psikolog perlu mengetahui social history kliennya karena hal tersebut dapat membantu psikolog untuk mengetahui akar permasalahan yang terjadi pada diri klien.
Selain mendengarkan social history atau kisah klien, seorang psikolog juga harus memahami persepsi dan perasaan klien tentang hal tersebut. Mengapa? Karena bisa saja sesuatu yang kendengarannya membahagiakan, justru membawa kesedihan bagi diri klien, vice versa.
Aspek yang masuk ke dalam social history
Familiy history. Segala hal yang terkait dengan keluarga, termasuk tempat dan kapan klien lahir. Hal ini penting karena ada kemungkinan bagian dari keluarga lainnya yang memiliki permasalahan atau kecenderungan yang sama dengan klien. Pola komunikasi, nilai-nilai yang diterapkan, dan kebudayaan dalam keluarga juga dapat memberikan andil kepada diri klien.
Educational history. Segala pengalaman yang terkait dengan pendidikan klien, seperti tempat bersekolah, pengalaman di lingkungan sekolah dengan teman atau guru, dan pemilihan jurusan pendidikan. Ingatan klien terkait bidang pendidikan juga dapat memberikan pengaruh kepada kehidupan sosial klien.
Occupational training job history. Hal yang terkait dengan pekerjaan klien. Ada sebagian orang yang merasa enggan untuk membicarakan pekerjaannya. Hal ini dapat dikarenakan pekerjaan yang ditekuninya bertentangan dengan norma sosial yang berlaku. Untuk menanyakan masalah pekerjaan ada baiknya menggunakan kalimat seperti “apa kesibukan anda saat ini?”.
Marital History. Keadaan pernikahan atau rumah tangga klien. Pengalaman dalam pernikahan mungkin juga dapat memberikan dampak terhadap permasalahan yang dialami diri klien. Persepsi klien terhadap keadaan pernikahannya dapat menjadi informasi penting yang perlu digali.
Interpersonal relationship. Hubungan pertemanan klien dengan koleganya. Mengetahui apakah klien memiliki teman di lingkungan kehidupannya atau justru tidak dapat berbaur dengan orang-orang disekitarnya, dapat membantu psikolog untuk menemukan akar permasalahan.
Recrational preferences. Cara klien melakukan hal yang menyenangkan baginya. Ketertarikan klien terhadap suatu bidang yang mungkin juga menjadikannya sebagai hobi dapat memberikan informasi keadaan klien.
Sexual history. Hal yang terkait dengan seksual. Aspek ini juga dapat menjadi hal yang sensitif bagi sebagian orang. Adanya pengalaman seksual yang traumatis ataupun keadaan sosial budaya yang mengganggap membicarakan aspek seksual sebagai hal yang tabu dapat menghambat klien dalam menceritakan aspek ini.
Medical history. Pengalaman yang terkait dengan kesehatan fisik klien. Hal ini mencakup seperti seberapa sering klien dirawat di RS, pengalaman operasi, penyakit yang dialaminya, obat-obatan yang dikonsumsi, dokter yang dikunjungi.
Psychiatric/psychotherapy history. Pengalaman yang terkait dengan kesehatan mental klien. Sangat penting untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami gangguan mental sebelumnya atau pengalaman mengunjungi psikolog atau psikiater lain.
Legal History. Terkait dengan hukum yang berlaku. Apakah klien pernah mengalami permasalahan hukum, menjalani hukuman kurungan penjara, dan menghadiri persidangan.
Alcohol and substance use/abusee. Apakah klien merupakan seorang peminum yang aktif ataupun menggunakan obat terlarang. Penggunaan zat-zat tersebut dapat makin memicu timbulnya permasalahan.
Nicotine and caffeine consumption. Konsumsi klien terhadap nikotin atau caffein. Apakah klien merupakan perokok berat, ketergantungan dengan kopi dan rokok.


=======================================================
Waduh-waduh... Berdasarkan social history saja, begitu banyak informasi yang harus digali dari seorang klien, belum lagi informasi lainnya seperti keluhan/permasalahan dan harapan klien setelah sesi selesai.
Seorang interviewer yang sudah handal, mungkin hanya perlu satu sesi untuk mendapatkan informasi-informasi di atas. Lah kalau saya? (ga usah dijawab deh, nyusun panduan pertanyaan wawancara aja blom beres :p)
Saya jadi terpikir, untuk menjadi sorang interviewer yang baik apa harus menjadi orang yang supel dan pandai bicara? Hmm…Berhubung saya orangnya agak kaku, pendiam, dan kurang pandai bicara, jadi harus sering-sering latihan wawancara. Dimulai dengan wawancara secara informal terhadap tukang jual jajanan deket kampus aja deh mulai besok. Sembari latihan, siapa tahu jadi akrab dan dikasih potongan harga kalau beli dagangannya, hahaha…
 
23 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar