Kamis, 08 November 2012

Postpartum Depression atau Depresi Pasca Melahirkan (DPM) (Chrissie Magdalena)


    Postpartum depression atau depresi pasca melahirkan (DPM) merupakan sebuah depresi pasca persalinan yang dialami oleh seorang ibu mulai dari awal persalinan hingga 2 tahun setelah melahirkan. berbeda dengan  baby blues. Umumnya gangguan ini terjadi pada dua minggu awal dari kelahiran.

   Berdasarkan DSM IV TR, seorang perempuan yang mengalami DPM sering mengalami kecemasan berat (severe anxiety) dan bahkan panic attacks. Perilaku ibu terhadap bayi sangat bervariasi termasuk disinterest  dan fearfulness of being alone with infant atau kebosanan  yang berlebihan, sehingga menghalangi bayi untuk beristirahat dengan cukup. Kondisi DPM ini dapat menimbulkan masalah hubungan antara ibu dan anak. Hal ini disebabkan, ibu yang mengalami DPM cenderung merasa sedih sehingga tidak memberi afek positif serta tidak peka terhadap anak. Masalah-masalah yang terdapat pada anak yang memiliki ibu dengan DPM dapat berupa gangguan orientasi, afek depresi, gangguan tidur (irregular sleep), perkembangan verbal yang terhambat, gangguan perilaku, dan gangguan fisik lainnya.

     Gejala DPM meliputi gangguan emosional, perilaku dan gejala fisik  (National Mental Health Association, 2003).
    Gangguan emosional meliputi
(a) sikap mudah tersinggung,
(b) perasaan sedih,
(c) hilang harapan,
(d) tidak berdaya,
(e) mood swings,
(f) ingin menyakiti orang lain (termasuk bayinya, diri sendiri ataupun suami),
(g) merasa bersalah dan
(h) takut kesendirian.

Gangguan perilaku meliputi
(a) sikap kurang peduli terhadap bayinya sendiri atau sebaliknya
(b) terlalu perduli terhadap perkembangan bayi,
(c) kurang mampu merawat diri sendiri,
(d) enggan melakukan aktivitas yang menyenangkan,
(e) motivasi menurun,
(f) enggan bersosialisasi, dan
(g) sulit mengambil keputusan.

Sedangkan, gejala fisik yang biasanya muncul antara lain:
(a) cepat merasa lelah,
(b) mengalami gangguan tidur dan selera makan,
(c) sakit kepala atau dada,
(d) sesak napas,
(e) mual dan muntah, dan
(f) jantung berdebar cepat.

     DPM dapat di sebabkan oleh 3 faktor, yaitu faktor perubahan hormon, resiko situasi (situational risk), dan stress kehidupan. Faktor perubahan hormon disebabkan perempuan mengalami fluktuasi hormon setelah melahirkan, seperti penurunan hormon serotonin. Faktor resiko situasi terjadi karena adanya masa transisi pada perubahan hidup perempuan setelah kehadiran anak. Perubahan yang signifikan dapat menjadi penyebab munculnya depresi. Faktor stress kehidupan lebih disebabkan oleh akumulasi stress pada kehidupan ditambah dengan stress kehadiran bayi. Contohnya, stress berlebihan dalam pekerjaan ditambah dengan tanggungjawab sebagai seorang ibu dapat menjadi penyebab krisis emosional yang mengarah kepada DPM. Selain itu, hubungan antara suami dan istri yang tidak harmonis juga dapat menjadi penyebab dari munculnya DPM.

     Setiap gangguan tentunya ada pencegahan. berikut ini merupakan pencegahan-pencegahan yang dapat dilakukan:
a) llmu dan pengalaman: calon ibu mempersiapkan diri dengan membaca buku atau majalah tentang proses persalinan dan pasca persalinan, atau bertanya pada ibu lain untuk berbagi pengalaman.
(b) Berkomunikasi dengan pasangan,
(c) Pembantu atau babysitter.
(d) Dukungan orangtua: kehadiran orang tua dapat membantu menenangkan pikiran serta perasaan negatif yang muncul,
(e) Berusahalah untuk menyenangkan diri sendiri, dan
(f) Konsumsi makanan yang bergizi,
(g) Tidur atau beristirahat ketika bayi Anda tertidur.


   Dalam menangani DPM, obat antidepresan dapat membantu meringankan, namun harus dikombinasikan dengan konseling berkelanjutan dengan seorang terapis terlatih. studi menunjukkan bahwa beberapa obat antidepresan tidak memiliki efek berbahaya pada bayi menyusui, namun psikoterapi saja juga dapat digunakan. Sosialisasi melalui kelompok pendukung dan dengan teman-teman dapat memainkan peran penting dalam pemulihan. Latihan dan gizi yang baik dapat meningkatkan suasana hati ibu baru dan juga membantu dalam pemulihan. Kafein harus dihindari karena dapat memicu perubahan suasana hati dan kecemasan.
    Beberapa tindakan lain yang juga dapat membantu menangani DPM adalah (a) Meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan memberikan kesenangan untuk diri sendiri, (b) Baca majalah, berbincang dengan saudara atau teman dekat, (c) Beristirahat sedapat mungkin. Biarkan pasangan atau keluarga membantu dengan kegiatan rumah tangga dan mengurus si kecil sementara, (d) membatasi teman-teman yang akan mengunjungi untuk menunggu satu atau dua minggu.

     Tulisan ini membahas Postpartum Depression atau Depresi Pasca Melahirkan (DPM), baik dari definisi, gejala, penyebab, pencegahan, dan pengobatan. Hal ini mungkin seringkali luput dari perhatian masyarakat. Namun, tetap saja penderita DPM harus segera ditangani karena akan menggangu aspek kehidupan, afeksi yang diberikan terhadap bayi, dirinya sendiri, dan kehidupan berumah tangga. Ibu Henny, dosen pada mata kuliah Psikologi Perempuan, mengatakan bahwa pertolongan yang dapat dilakukan terhadap ibu penderita DPM bukan hanya dibujuk "sabar yaa", "tenang yaa. kamu pasti bisa", dan lainnya. Namun, harus diberikan pertolongan berupa membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membantu merawat bayi, dan lain-lain yang terwujud dalam tindakan. Hal itu dilakukan agar ibu tidak mengalami stres bertumpuk dan dapat beristirahat lebih.

4 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar