Kamis, 08 November 2012

Kanker Serviks (Chrissie Magdalena)


     Kanker Serviks merupakan kasus kanker yang terbanyak nomor tiga di dunia. Kanker serviks disebut juga "silent killer", karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, 10-20 tahun. Proses ini seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala.

     Kanker serviks merupakan infeksi "Human Papilloma Virus". Berikut ini merupakan penyebab kanker serviks:
Wanita berusia di atas 40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks.
Faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kanker serviks. Namun hal ini bukan berarti jika keluarga Anda bebas kanker serviks maka Anda tidak akan terkena. Anda harus tetap berhati-hati dan melakukan tindakan pencegahan.
Hubungan seksual di usia yang terlalu muda, berganti-ganti partner seks, atau berhubungan seks dengan pria yang sering berganti pasangan.
Memiliki terlalu banyak anak (lebih dari 5 anak). Pada saat Anda melahirkan secara alami, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks, yang dapat memicu aktifnya sel kanker. Semakin sering janin melewati serviks, semakin sering trauma terjadi, semakin tinggi resiko kanker serviks.
Keputihan yang berlangsung terus-menerus dan tidak diobati. Pada keputihan yang normal, lendir berwarna bening, tidak bau dan tidak gatal.
Membasuh atau membersihkan genital dengan air yang tidak bersih.
Pemakaian pembalut wanita yang mengandung bahan dioksin (bahan pemutih yang dipakai untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas).
Daya tahan tubuh yang lemah. Kebiasaan merokok juga menambah risiko kanker serviks.
     Gejala atau ciri-ciri kanker serviks:
Terasa sakit saat berhubungan seksual dan mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan badan,
Keluar darah yang berlebihan saat menstruasi,
Keputihan yang tidak normal,
Pada stadium lanjut: kurang nafsu makan, sakit punggung atau tidak bisa berdiri tegak, sakit di otot bagian paha, salah satu paha bengkak, berat badan naik-turun, tidak dapat buang air kecil, bocornya urin atau air seni dari vagina, pendarahan spontan setelah masa menopause, tulang yang rapuh dan nyeri panggul.
Infeksi HPV memang tidak mengakibatkan gejala yang kentara. Namun, ada baiknya melakukan deteksi kanker serviks sejak dini. Ada sejumlah metode untuk mendeteksi atau mengetahui apakah Anda terkena kanker servik, antara lain:
IVA - Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Merupakan deteksi dini yang dapat dilakukan di klinik. Caranya dengan mengoleskan larutan asam asetat 3%-5% ke leher rahim, kemudian mengamati apakah ada perubahan warna, misalnya muncul bercak putih. Jika ada, berarti kemungkinan terdapat infeksi pada serviks dan harus dilakukan pemeriksaaan lanjutan.
Pap Smear atau dikenal juga dengan sebutan Papanicolaou test, Pap test, cervical smear, smear test. Pemeriksaan pap smear memiliki berbagai kelebihan: biaya murah, waktu cepat dan hasil akurat. Tes ini dapat dilakukan kapan saja kecuali saat masa haid atau menstruasi; setidaknya satu tahun sekali. Pemeriksaan dilakukan di atas meja periksa kandungan oleh dokter/bidan yang sudah terlatih dengan menggunakan spekulum untuk membantu membuka alat kelamin wanita. Setelah vagina terbuka, bagian leher rahim diusap dengan spatula secara melingkar untuk mengambil contoh sel endoserviks. Kemudian hasil usapan tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui apakah ada sel abnormal, infeksi atau radang.
Thin prep merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dari pap smear. Karena pap smear hanya mengambil sebagian sel dari leher rahim, sedangkan thin prep memeriksa seluruh bagian serviks. Sampel yang diambil dari leher rahim dimasukkan ke dalam botol yang berisi cairan, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Di lab, sampel tersebut dijadikan slide dan diberi pewarna khusus agar lebih jelas. Membran khusus digunakan untuk membuat preparat dengan irisan tipis, yang akan memperlihatkan infeksi atau jaringan abnormal.
     Bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati. Berikut ini diuraikan beberapa langkah untuk mencegah kanker seviks:
Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan cara konsumsi makanan bergizi. Perbanyak makanan yang mengandung vitamin A, C dan E serta asam folat untuk mengurangi risiko kanker leher rahim.
Sebelum menggunakan toilet umum, selalu bersihkan bibir kloset dengan alkohol atau jangan duduk pada bibir kloset. Jangan membersihkan genital dengan air kotor.
Hindari hubungan seks di usia dini dan hindari berhubungan sex selama masa haid/menstruasi.
Hindari merokok, karena penggunaan tembakau dapat menyebabkan kanker.
Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini.
Vaksinasi dapat dilakukan pada perempuan usia 10-55 tahun dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6.
     Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah ada sejumlah metode untuk mengobati kanker serviks. Pada stadium awal, pengobatan kanker serviks dilakukan dengan cara menyingkirkan bagian yang sudah terkena kanker. Misalnya dengan pembedahan listrik, laser atau cyrosurgery (membekukan dan membuang jaringan abnormal).
Untuk pengobatan kanker serviks stadium lanjut, dilakukan terapi kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium akhir atau kasus yang parah maka terpaksa dilakukan histerektomi, yaitu bedah pengangkatan rahim (uterus) secara total agar sel-sel kanker yang sudah berkembang dalam kandungan tidak menyebar ke bagian lain dalam tubuh.
       Namun, menurut penulis, kanker serviks dan kanker apapun ada kemungkinan untuk disembuhkan apabila penderita kanker memiliki self-efficacy---keyakinan bahwa dirinya mampu atau bisa sembuh--- dan social support, baik dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar lainnya. Selain itu, pencegahan memang lebih baik dilakukan terlebih dahulu daripada mengobati.

4 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar