Senin, 27 Mei 2013

yeah, I can do it! (Nawal Afif)

     Melakukan wawancara merupakan hal menegangkan bagi saya. Berbicara dengan orang lain yang saya tidak kenal saja saya kaku, apalagi untuk menjadi pewawancara. Saya rasakan ketegangaan yang luar biasa pada saat praktikum pertama di kampus, saya benar-benar tercampur aduk antara rasa takut, tegang, panik dan takut tidak bisa mengingat daftar pertanyaan. Dan ternyata benar pada saat saya menjadi I-wer benar-tegang dan lupa pada daftar pertanyaan yang membuat saya mencontek daftar pertanyaan.

     Ketika wawancara pada lansia di panti merupakan pelajaran yang luar biasa untuk saya. Ketika subyek saya menangis didepan saya, rasa juga sedih ingin menangis bersama, tetapi saya ingat untuk menjadi I-wer yang baik tidak ikutan menangis dan saya dapat menahan rasa itu. dalam proses mencari data subyek, ternyata tidak segampang yang saya kira. Saya belajar di sini terkadang sebuah wawancara tidak harus sesuai dengan apa yang kita tulis didaftar pertanyaan, karena belum tentu subyek kita menjawab apa yang kita mau dan mengerti apa yang kita maksud. Dengan menanyakan hal-hal yang biasanya mereka lakukan mereka menjadi teringat dan akhirnya bercerita panjang lebar.

    Pada praktikum kedua merupakan bagian favorite saya, yaitu praktikum sebagai psikolog dalam sekolah untuk i-wer setting pendidikan. Hal ini membuat saya bertekat untuk melihat daftar pertanyaan lagi dan melakukannya dengan spontan. Dan ternyata berhasil walaupun ternyata sebelum 10 menit saya sempat kehabisan bahan pembicaraan. Pada pratikum kedua saya merasakan kehilangan rasa keteganggan dan rasa panik saya. Ketika praktikum ke terakhir saya juga merasakan ketenganggan, karena untuk setting klinis. Tetapi saya berpikir buat apa saya panik karena takut tidak hafal dengan daftar pertanyaan  dan tegang karena takut berbuat salah. Saya kan sedang belajar dan saya mecoba tidak panik agar tidak buyar semua. Dan ternyata hasilnya membuat saya mengatakan yeaah I can do it! Yang di mana saya tidak melihat daftar pertanyaan dan saya menanyakan dengan spontan. Ternyata saya bisa melakukannya :’) *terharu*.


    Dari semua praktikum di kampus dan di panti, merupakan pelajaran berharga buat saya dalam menjadi i-wer. Hal ini tidak akan saya lupakan, karena ternyata menjadi i-wer bukanlah suatu hal yang menyusahkan. Satuhal yang saya dapatkan menjadi i-wer dan merupakan kuncinya yang menurut saya, yaitu bersikap tenang. Dan saya yakin dari praktikum-praktikum ini membuat saya memiliki bekal untuk kelak nanti.

26 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar