Kamis, 16 Mei 2013

Ekspresikan Dirimu (Arief NC)

Ekspresi perasaan tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan bernuansa seni, tetapi juga dapat dilakukan dengan ekspresi seksual. Seperti seni, ekspresi seksual pun beragam bentuknya, yang dapat dilakukan secara individual misalnya fantasi seksual (sexual fantasy) dan masturbasi.. Bagaimana dengan konteks orientasi seksual? Individu dengan orientasi seksual manapun tetap dapat melakukan ketiganya. Hanya saja bentuk ekspresinya yang berbeda. Misalkan seseorang yang heteroseksual membayangkan lawan jenisnya (fantasi seksual), tetapi homoseksual membayangkan sesama jenis, biseksual membayangkan keduanya.
     Fantasi seksual merupakan yang paling umum di antara ketiganya. Seakan-akan kita berimajinasi sesuatu yang bernuansa seksual, itulah fantasi seksual. Fantasi seksual pada pria lebih mengarah pada bagian tubuh, aktivitas seksual, variasi pasangan, dan tidak terlalu romantis. Sedangkan perempuan cenderung lebih romantis daripada pria dan lebih emosional. Seperti apakah fantasi seksual pada wanita? Bayangkan Anda sedang membaca sebuah novel. Anda mampu membayangkan adegan-adegan dari cerita percintaan di dalamnya. Pada setiap adegan, Anda dapat "merasakan" seperti apa rasanya menjadi tokoh yang diceritakan, seakan-akan mengalami apa yang dirasakannya pula. Fantasi seksual dapat meningkatkan gairah seksual, membantu mencapai orgasme, membantu dalam masturbasi, mengeksplor aktivitas yang dianggap "tabuh." Jika seandainya apa yang terjadi di dalam fantasi itu menjadi kenyataan pada situasi yang tidak tepat, tentu akan bertentangan dengan budaya maupun dengan agama. Misalnya membayangkan memiliki hubungan seksual dengan seseorang yang belum menjadi istri, dianggap menyimpang dari budaya masyarakat (dianggap tabuh). Fantasi seseorang bersifat subyektif, sehingga masyarakat juga tidak dapat mengatakan bahwa itu penyimpangan budaya, karena setiap orang dapat berimajinasi demikian.
     Fantasi seksual masih dapat dianggap lazim, tetapi berbeda halnya dengan masturbasi. Pada abad 19 dan 20 di Amerika dan Eropa, masturbasi tidak dianggap baik bagi seseorang. Masturbasi dianggap  dapat menyebabkan hal buruk, misalnya membuat seseorang menjadi "steril (tidak dapat menghasilkan keturunan)." Inilah yang melatarbelakangi orangtua pada zaman itu untuk mengusahakan agar anaknya tidak melakukan masturbasi sama sekali. Bahkan ada penyedia jasa untuk mencegah masturbasi itu sendiri. Untunglah, pada jaman sekarang hal-hal seperti ini sudah mulai ditinggalkan. Masturbasi malah dianggap dapat menyehatkan secara seksual. Selama masturbasi merupakan perangsangan yang dilakukan dengan sengaja pada genital pada tubuh sendiri untuk memperoleh kepuasan seksual, baik dilakukan secara alami maupun dengan bantuan alat. Secara alami, seseorang dapat menyentuh genitalnya sendiri. Dengan bantuan alat, misalnya dengan vibrator atau dildo, namun tujuannya tetap memperoleh kepuasan seksual. Manfaat melakukan masturbasi, misalnya seseorang dapat mengurangi ketegangan, sebagai sarana fantasi seksual, dan sebagai sarana untuk mengenali diri secara seksual. Mengenali diri secara seksual berarti seakan-akan mencari bagian ternyaman saat diberikan sentuhan pada tubuh. Dengan mengenali titik kenyamanan tersebut, akan mempermudah mencapai orgasme ketika berhubungan seksual nantinya.
     Baik fantasi seksual maupun masturbasi, keduanya dapat dilakukan sendiri (secara individual). Tujuannya adalah memperoleh kepuasan seksual, yang merupakan kebutuhan seksual. Konteks "seksual" tidak hanya sebatas hubungan seksual, aktivitas seksual lainnya seperti fantasi seksual dan masturbasi dapat pula menjadi sarana untuk itu. Bahkan keduanya akan sangat membantu mencapai kepuasan seksual ketika berhubungan seksual. Harus diingat, apabila belum menikah, tentu dilarang untuk melakukan hubungan seksual (pada budaya-budaya tertentu), tetapi fantasi seksual dan masturbasi mungkin masih diperbolehkan meskipun tidak ada aturan tertulis. Dengan demikian, kebutuhan seksual seseorang akan tetap terpenuhi tanpa harus berhubungan seksual dan melanggar aturan-aturan dalam budaya. Ekspresi umumnya identik dengan perasaan, misalnya mencurahkan perasaan senang dalam sebuah lagu, mengekspresikan rasa sedih dengan musik, dan lain-lain. Bagaimana dengan ekspresi seksual itu sendiri? Ekspresi yang dilakukan dengan fantasi seksual dan masturbasi merefleksikan siapa diri kita dalam konteks seksual. Kalau berbicara mengenai suatu hal, setiap orang mempunyai karakter tersendiri berbeda dari yang lain. Misalnya fantasi seksual yang kita miliki itu dapat merangsang kita setiap kali membayangkannya, tetapi tidak dapat merangsang apabila dibayangkan ornag lain. Menyentuh genital dengan cara X belum tentu dapat merangsang seseorang meskipun berhasil pada orang lain. Keduanya sama-sama subyektif, namun keduanya merupakan ekspresi siapa diri kita.
 
4 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar