Minggu, 03 Maret 2013

Psikolog? (Elvandari Armen)


Suatu sore, saya sedang jenuh dengan tugas-tugas kuliah yang lumayan banyak dan merencanakan merefresh pikiran dengan cara menonton televisi.. Sore itu tampaknya tidak ada acara yang menarik, sehingga saya berkali-kali menekan tombol angka-angka yang ada pada remote control TV hingga saya berhenti dan tertarik pada satu acara di stasiun televisi swasta. Acara yang ditayangkan berupa kuis di mana terdapat beberapa host ternama Indonesia yang sedang mewawancarai tiga peserta anak-anak. Acara tersebut menyajikan "kebolehan" tiga peserta anak-anak usia sekitar 5-7 tahun. Salah satu host menanyakan kepada ketiga peserta mengenai cita-cita mereka kelak. Anak-anak tersebut menjawab dokter, artis, dan salah satu profesi (kebetulan saya lupa, hehe). Karena jawaban anak-anak tersebutlah saya juga mulai berpikir dan mengingat-ingat, sebagian besar anak-anak akan menjawab profesi "itu-itu" saja ketika ditanya mengenai cita-citanya. Apakah hanya profesi "itu-itu" saja yang mereka pernah dengar? Memang profesi yang mereka inginkan sangatlah mulia karena pada dasarnya berorientasi pada pengabdian pada masyarakat. Tidak salah memang jika anak-anak sangat mengagumi sosok tertentu dan ingin menjadi sama seperti mereka. Tetapi, ada salah satu profesi yang memegang peranan penting dan tampaknya banyak dibutuhkan di zaman ini.. Yaaa, psikolog.. Apakah anak-anak memang belum terlalu familiar dengan profesi ini? Mendengar jawaban anak-anak tersebut, entah mengapa saya ingat dengan tugas Teknik Wawancara yang belum saya sentuh sama sekali. Kebetulan materi kuliah teknik wawancara kemarin membahas mengenai psikolog klinis dewasa dan psikolog klinis anak-anak. Mari kita lebih berkenalan dengan profesi yang satu ini..... :)

Psikolog klinis biasanya bekerja di Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Jiwa, membuka praktek sendiri, ataupun bekerja di klinik pengembangan diri. Secara garis besar, psikolog klinis membantu klien untuk lebih sadar mengenai permasalahan yang sedang dihadapi dan membantu klien tersebut memecahkannya.

Sama seperti namanya Psikolog Dewasa, berarti psikolog yang cenderung menangani dan membantu orang-orang dewasa, sedangkan psikolog anak lebih sering berhubungan dengan anak-anak dan permasalahan yang sering dialami oleh anak. Hal yang mendasar untuk menjadi psikolog klinis (dewasa maupun anak) adalah menguasai seluruh tahap perkembangan dan memahami masalah-masalah yang sering dihadapi orang dewasa atau anak. Dengan menguasai teori-teori tersebut, kita sebagai calon psikolog klinis lebih percaya diri ketika berhadapan dengan klien.

Salah satu cara yang digunakan para psikolog klinis untuk mengetahui dan memahami permasalahan klien adalah dengan teknik wawancara di mana dengan teknik ini klien dan psikolog bertatap muka langsung dan saling bertukar informasi dengan menggunakan bahasa verbal. Kelebihan teknik wawancata adalah data yang diperoleh lebih banyak dan lengkap, pertanyaan dapat dikembangkan atau disesuaikan dengan kebutuhan, dan dapat memastikan jawaban-jawaban yang diutarakan oleh klien. Tetapi, salah satu kelemahan teknik  tersebut adalah teknik ini sangat tergantung dengan skill pewawancara, dalam hal ini psikolog. Selain teknik wawancara, teknik lain yang sangat diperlukan untuk menangani klien adalah observasi. Dengan teknik ini, psikolog dapat memperhatikan segala perilaku mulai dari mimik wajah, gerak tangan, atau bahasa tubuh lainnya. Tidak hanya itu, hasil tes psikologi juga digunakan sebagai data untuk menentukan intervensi lebih lanjut pada klien. Perlu menjadi catatan bahwa ketiga aspek atau pilar tersebut tidak dapat berdiri sendiri, ketiganya harus saling mendukung satu sama lain agar menegakkan diagnosa yang lebih akurat. Tentunya untuk menjadi ahli dalam ketiga teknik tersebut membutuhkan jam terbang yang tinggi. Lebih banyak belajar, lebih banyak berlatih, lebih banyak terjun langsung tentunya dapat mengasah kemampuan teknik-teknik tersebut. Seiring waktu dan pengalaman, ketiga teknik ini dapat dikuasai.

Psikolog klinis mempunyai tugas yang mulia, tidak kalah dengan profesi-profesi lainnya. Apapun profesi yang kita pilih, asalkan tekun, mau berusaha, dan menjalankannya dengan hati, maka usaha dan pengabdian kita akan dihargai oleh orang lain. Kurang lebih seperti itulah profesi psikolog klinis, semoga dapat sedikit membantu dan memenuhi rasa ingin tahu para pembaca mengenai psikolog. Have a nice day, readers :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar