Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, spiritual adalah kata sifat (adjective) yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin), dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, kekudusan, sesuatu yang suci, keagamaan, dan lain-lain (Kamus Besar Bahas Indonesia [KBBI], 2014). Secara umum penggunaan kata spiritual tidak hanya ditujukan terhadap jiwa dan pikiran manusia saja, tapi juga dalam konteks lainnya.
Dalam penggunaanya di kehidupan sehari-hari pengertian spiritual juga sering dihubungkan dengan bisnis perusahaan, pekerjaan, konsultan, perawatan atau rawatan. Selain itu juga dihubungkan dalam dunia tarikat dan filsafat, mimbar keagamaan dan ceramah agama, dimensi supranatural dan paranormal, persoalan budaya, semangat dan harapan, dan lain-lain. Pengertian spiritualitas akan berbeda-beda tergantung dari peletakan kata itu sendiri (Majlisasmanabawi, 2014)
Pengertian Spiritualitas Kristen
Pertama-tama hal yang harus di ketahui yaitu pengertian spiritualitas itu sendiri dalam di dalam kekristenan. Spiritualitas adalah sebagai kehidupan yang dihubungkan dengan Roh Kudus. Orang yang memiliki kehidupan seperti ini disebabkan oleh adanya pengetahuan kebenaran (notitia), lalu mereka percaya kepada (assensus) dan menyerahkan hidupnya secara total (fiducia) kepada Tuhan Yesus Kristus. Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas yang penghayatannya menjadi jelas dan konkret, karena mengikuti keteladanan kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus (Pranoto, 2007).
Spiritualitas yang Tidak Sehat secara Emosi
Permasalahan spiritualitas secara emosi. Masih banyak permasalahan spiritualitas yang tidak sehat dalam kehidupan sehari-hari manusia. Banyak orang yang cenderung dewasa secara rohani, namun belum dewasa secara emosinya. Scazzero (2006) mengemukakan sepuluh tanda utama dari spiritualitas yang tidak sehat secara emosi. Tiga di antaranya yaitu menutupi kehancuran, kelemahan, dan kegagalan, hidup tanpa batas, dan menutupi kehancuran, kelemahan, serta kegagalan, dan menghakimi perjalanan rohani orang lain
Menutupi kehancuran, kelemahan, serta kegagalan. Banyak orang yang sering dihantui serta mendapat tekanan dari lingkunan sekitar untuk menampilkan citra diri yang kuat dan harmonis secara rohani. Banyak yang akhirnya merasa bersalah jika tidak memenuhi standar itu atau tidak mencapainya. Hal ini lah yang menyebabkan banyak orang berusaha untuk menutupi kehancuran, kelemahan, dan kegagalannya untuk mendapatkan pandangan yang baik di depan orang banyak.
Orang-orang kemudian cenderung untuk menutup diri dan akhirnya memiliki spiritualitas yang tidak sehat secara emosi. Seringkali orang lupa bahwa tidak satu pun dari manusia yang sempurna dan semua tidak lepas dari dosa. Kisah-kisah dalam Alkitab pun banyak menceritakan tentang tokoh-tokoh Alkitab yang mengalami kegagalan namun dipulihkan oleh Tuhan Yesus Kristus dan hidupnya pun berangsur-angsur menjadi baik (Scazzero, 2006).
Hidup tanpa batas. Banyak orang Kristen yang diajarkan bahwa Kristen yang baik harus terus menerus dan memerhatikan orang lain. Selama bertahun-tahun banyak orang yang percaya dengan hal ini, memang hal ini benar adanya tapi banyak orang yang akhirnya salah menafsirkannya. Akhirnya orang Kristen banyak yang merasa terus dibebani dengan rasa bersalah karena merasa tidak cukup banyak memerhatikan orang lain. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sendiri memiliki keterbatasan. Yesus memberi teladan ketika menjadi manusia, Ia memiliki keterbatasan seperti Dia tidak menyembuhkan semua orang sakit dan Dia tidak membangkitkan orang mati. Kuncinya adalah belajar untuk puas dalam segala keadaan.
Menghakimi perjalanan rohani orang lain. Sering kali banyak orang mengubah perbedaan tingkat rohaninya menjadi superioritas dalam hal moral dan kebajikan. Terkadang manusia menjadi terlalu terikat dengan mind setnya sediri sehingga menganggap orang lain yang berbeda dalam pola pikirnya adalah salah. Akhirnya banyak yang akhirnya sering menghakimi orang lain dari segi musik mereka, menghakimi orang Presbiterian karena dianggap terlalu terstruktur, dan lain-lain. Orang-orang cenderung menciptakan kelompok-kelompok yang tak terhingga dalam mengelompokan manusia.
Spiritualitas yang Sehat secara Emosi.
Banyak orang Kristen yang akhirnya mengalami jalan buntu dalam hal kerohaniannya. Sebagian merasa terhilang, dan berusaha mencari jalan untuk kembali. Sebagian lagi merasa takut mereka akan tersesat lagi dan banyak pula dari mereka yang tidak menyadari bahwa mereka telah tersesat. Spiritualitas yang sehat berkaitan dengan kerohanian kontemplatif.
Definisi kesehatan emosi dan kerohanian kontemplatif. Scazerro (2006) mengatakan “Kombinasi dari kesehatan emosi dan kerohanian kontemplatif bisa menjawab apa yang bagi saya merupakan bagian yang hilang dalam kekristenan kontemporer. Keduanya bisa digunakan Roh Kudus dalam diri kita untuk mengenal kuasa dari kehidupan yang autentik dalam Kristus melalui pengalaman” (h. 57).
Kesehatan emosi dan kerohanian kontemplatif. Menurut Scazzero (2006) kesehatan emosi terkait dengan beberapa hal yaitu (a) bisa menyadari, mengenali, dan mengatur perasaan kita sendiri, (b) bisa menempatkan diri dan memiliki belas kasihan yang aktif bagi orang lain, (c) bisa berinisiatif dan menjaga hubungan yang dekat juga bermakna, (d) bisa melepaskan diri dari pola yang merusak diri.
Sebaliknya, kerohanian kontemplatif yang berfokus pada praktik dan perhatian secara klasik seperti (a) sadar dan berserah, (b) bersandar sepenuhnya didalam hadirat Allah, (c) mempraktikan kehidupan yang tenang, teduh, dan tidak putus-putusnya berdoa. Kesehatan rohani dan kerohanian kontemplatif memiliki tiga anugerah utama yaitu anugerah untuk melambatkan diri, untuk berfokus pada kasih Allah, dan untuk terbebas dari semua ilusi.
Anugerah melambatkan diri. Scazzero (2006) mengatakan “Kelemahan terbesar kita muncul dari kekuatan terbesar kita” (h. 59). Hampir semua orang disibukan dengan aktifitasnya masing-masing sehingga mereka terkadang tidak memberi perhatian kepada Tuhan. Hal ini melambatkan atau menghambat diri untuk berkembang serta semakin mendekatkan diri dengan Allah. Memang benar kesehatan emosi dan kerohanian kontemplatif memiliki kekuatan yang cukup untuk melambatkan diri. Tetapi hal itu pula yang memanggil manusia untuk berefleksi agar bisa mendengar Allah dan dirinya sendiri.
Anugerah berfokus pada kasih Allah. Disiplin dan tradisi kontemplatif membuat kesehatan emosi semakin baik. Hal ini dikarenakan orang-orang semakin menyediakan sarana-sarana yang membuat mereka terus sadar dan peka akan kasih Allah. Kerohanian kontempaltif menggerakan manusia ke arah hubungan yang lebih dewasa dengan Allah.
Anugerah terbebas dari ilusi. Panggilan untuk mendapatkan spiritualitas yang sehat secara emosi adalah sebuah panggilan kepada ritme, pengharapan, dan budaya yang ada. Itu adalah panggilan kepada hidup yang ditransformasikan melalui Kristus yang bangkit dengan kuasa mengatasi ilusi dan kepura-puraan dunia kita (Scazzero, 2006, h.71).
Simpulan
Spiritualitas adalah hal yang berhubungan dengan kerohanian, kejiwaan, dimensi spiritual dalam diri manusia. Pengertian spiritual itu sendiri didalam agama Kristen adalah kehidupan yang dihubungkan dengan Roh Kudus (Allah). Banyak orang yang dewasa dalam spiritualitas (imannya) namun tidak sehat secara emosinya. Orang yang spiritualitasnya tidak sehat secara emosi ditandai dengan menutupi kesalahan, kekerurangan dirinya, hidup tanpa batas, dan cenderung mengahakimi perjalanan rohani seseorang. Berbeda dengan orang yang spiritualitasnya tidak sehat secara emosi, orang yang spiritualitasnya sehat ditandai dengan bisa menempatkan serta mengatur dirnya, memiliki rasa belas kasihan, hidupnya senantiasa tenang dan rajin dalam hal peribadatan contohnya dalam doa.
Kesehatan kontemplatif dan sehat secara emosi sendiri mempunyai tiga buah anugerah yaitu anugerah untuk melambatkan diri, berfokus pada kasih Allah, dan terbebas dari ilusi. Dengan adanya ketiga anugerah tersebut kehidupan spiritualitas kita akan semakin berkembang. Di samping itu kesehatan emosi kita akan berangsur-angsur berubah secara sehat.
Reference List
Pranoto, M. M. (2007, Oktober). Spiritualitas pelayanan kristen. Diunduh darihttp://www.seabs.ac.id/journal/oktober2007/Spiritualitas%20Pelayanan%20Kristen.pdf
Scazzero, P. (2014). Permasalahan spiritualitas yang tidak sehat secara emosi (M. K. Santoso, Ed.) (Tim Literatur Perkantas Jatim, Penrj.). Surabaya: Penerbit. (karya asli diterbitkan tahun 2006)
Tim Webmaster Yayasan Majlis Asma Nabawi. (n. d.). Pengertian spiritualitas. Diunduh dari http://www.artikel.majlisasmanabawi.net/spiritual/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar