Pengertian Psikologi Agama
Pengertian psikologi agama secara umum. Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama (Ramayulis, 2011). Oleh karena itu, definisi psikologi agama mencakup ilmu jiwa dan agama.
Pengertian psikologi agama menurut para ahli. Menurut Robert H. Thouless Psikologi Agama merupakan cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang diambil dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan Thouless (dikutip oleh Laila, 2014). Oleh karena itu, psikologi agama merupakan ilmu yang berkaitan dengan perilaku dan keyakinan seseorang.
Sejarah Psikologi Agama
Sejarah perkembangan psikologi agama. Sumber Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian anthropology. William James tampaknya juga tidak melupakan aspek penting dan kajian psikologi agama ini. Kebahagiaan akan diperolehnya bila seseorang mampu memilih yang baik dan menyingkirkan yang tidak baik. Bahkan dengan memperhatikan manfaatnya bagi dunia pendidikan, psikologi agama telah dimasukkan dalam materi pendidikan di fakultas-fakultas di lingkungan perguruan tinggi agama. Dengan begitu optimis, Mulyomartono mencoba mengkolaborasikan subtansi ajaran Islam kedalam wacana psikologi, sehingga tercipta psikologi baru yang berlabel Islam (Ramayulis, 2011).
Hubungan Manusia dalam Perkembangan Agama
Perkembangan agama pada anak. Perkembangan beragama pada anak-anak melalui beberapa fase yaitu (a) pertama, tingkat dongeng, dimulai pada anak yang berusia 3 sampai 6 tahun dan konsepnya dipengaruhi oleh fantasi dan emosi; (b) kedua, tingkat kenyataan, tingkatan ini dimulai sejak anak masuk SD hingga ke usia adolesense. Anak sudah mencerminkan konsep berdasarkan kenyataan; (c) ketiga, tingkat individu. Pada tingkatan ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka (Ramayulis, 2011).
Perkembangan agama pada remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan yang dilalui oleh seorang anak menuju masa dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya belum dapat berdiri sendiri, berbeda dengan remaja. Remaja tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang tua, tetapi mereka belum mampu bertanggung jawab dalam ekonomi dan sosial (Ramayulis, 2011).
Hubungan agama pada orang dewasa. Ada beberapa sikap yang menunjukan sikap dewasa, seperti (a) menentukan pribadinya, (b) menentukan cita-citanya, (c) menggariskan jalan hidupnya, (d) bertanggung jawab, dan (e) menghimpun norma-norma sendiri. Sikap diatas merupakan sikap yang mengawali masa dewasa. Masa dewasa seseorang telah menunjukan kematangan jasmani dan rohaninya dan sudah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap, serta perasaan sosial yang sudah berkembang (Ramayulis, 2011).
Fungsi Agama bagi Kehidupan Manusia
Fungsi agama dalam kehidupan manusia secara individu. Di dalam ajaran agama terdapat nilai-nilai kehidupan manusia. Nilai inilah yang dijadikan sebagai acuan dan sekaligus sebagai petunjuk bagi manusia. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono, apabila kebutuhan tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketidakseimbangan, yakni antara kebutuhan dan pemenuhan, maka akan menumbuhkan kekecewaan yang tidak menyenangkan (Ramayulis, 2011).
Fungsi agama bagi kehidupan masyarakat. Masalah agama tidak akan mungkin dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Agama juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengatasi frustasi, mengatasi ketakutan, perdamaian, social control, pemupuk rasa solidaritas, transformative, kreatif, dan sublimatif (Ramayulis, 2011).
Fungsi agama dalam menghadapi krisis modernisasi. Secara historis, modernisasi merupakan perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan tradisional. Karakteristik yang umum dan modernisasi adalah menyangkut berbagai bidang tradisi sosial mobilitas sosial (Ramayulis, 2011).
Fungsi agama dalam pembangunan. Agama sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat memberi peranan yang positif dalam pembangunan individu dan masyarakat selama kebenarannya masih diyakini secara mutlak (Ramayulis, 2011).
DAFTAR PUSTAKA
Laila, I. (2014). Pengertian psikologi agama. Diunduh dari http://www.academia.edu/6764004/Pengertian_Psikologi_Agama
Ramayulis, (2011, September). Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar