Selasa, 25 November 2014

Breman & Breman (Carnesya Hergiani)

    Pada pertemuan mata kuliah perilaku seksual, saya menyaksikan film Breman & Brean mengenai stress dan sex. Terdapat beberapa contoh kasus dalam film tersebut. Kasus pertama adalah Gabriela Buich. Dia adalah seorang ibu dengan 6 orang anak. Hari-harinya sangat sibuk. Dia bahkan tidak memiliki  waktu 30 menit, dia sibuk mengurus suami dan 6 orang anaknya. Setelah kelahiran anaknya yang keenam, dia merasa tidak bergairah dalam melakukan hubungan sexual dengan istrinya. Setelah memeriksakan dirinya ke dokter, ternyata dalam dirinya terdapat perubahan hormon. Hal ini membuatnya stress akibat ketidakmampuannya melayani suaminya dengan baik.



     Kasus kedua adalah Cherisie yang memiliki anak berusia 3,5 tahun. Anak cherisie tidak mau lepas darinya. Anaknya selalu ingin tidur bersamanya. Hal ini membuat chrisie tidak bebas dalam melakukan hubungan seksual, karena anaknya selalu mngikutinya. Kasus ketiga adalah Stephanie. Dia adalah seorang ibu yang bekerja di rumah. Meskipun begitu Stephanie tetap sibuk dan sedikit sekali memiliki waktu bersama anak-anaknya dan suaminya. Untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya Stephanie perlu mencuri waktu. Terkadang dia merasa bersalah jika kurang memperhatikan anak-anaknya. Hal ini membuat dia stress.

     Dari ketiga contoh kasus diatas dapat dipastikan bahwa stress dan sex sangat berhubungan. Ketika stress maka keinginan melakukan hubungan seksual menurun. Sedangkan ketika tidak dapat melakukan hubungan seksual dapat memicu stress. Kesibukan dapat menurunkan frekuensi hubungan seksual, karena tidak memiliki waktu untuk bersama suami. Terlebih jika keluarga tersebut sudah memiliki anak dan anak-anak masih kecil. Maka itu saya pernah mendengar bahwa ketika keluarga memiliki anak yang masih kecil, kepuasan pernikahan biasanya menurun. Meskipun sex bukanlah hal satu-satu menjadi penyebab menurunnya kepuasan pernikahan, tetapi menjadi salah satu penyebab. Karena ketika anak masih kecil, tentu perhatian dan waktu tercurah pada anak seutuhnya. Sehingga terkadang tidak memiliki waktu untuk berdua bersama pasangan. Oleh karena itu sangat diperlukan pengertian pada pasangan dan juga pasangan perlu membagi waktu dengan baik agar semuanya dapat terpenuhi.

22 Nov 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar