Selasa, 25 November 2014

Sex and Stress (Yohana Pratama)


Haiii, teman-teman… Kalian pernah mengalami stress? Dan, apa kalian pernah merasakan dampak dari stress tersebut?
Semua orang mungkin pernah mengalami stress, dan dampak dari stress tersebut. Stress dapat mempengaruhi beberapa aspek dalam kehidupan seseorang, misalnya pekerjaan, hubungan dengan orang lain. Selain itu, bagi pasangan suami istri, stress juga dapat mempengaruhi hubungan seksual mereka. Ada yang tahu bagaimana stress dapat mempengaruhi sex? Dan, apakah ada yang tahu bahwa sex juga dapat membuat seseorang menjadi stress?
Agak membingungkan yah? Nah, kali ini saya akan membahas tentang sex and stress. Pada pertemuan mata kuliah perilaku seksual kami menonton sebuah film tentang sex and stress. Terdapat beberapa contoh kasus yang diceritakan dalam film tersebut. 

Kasus pertama, yaitu seorang ibu yang memiliki 6 orang anak dan 2 orang cucu. Ia mengalamistress karena terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah, dan ia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Selain itu, ia juga mengalami stress karena ia tidak memiliki gairah untuk berhubungan seksual dengan suaminya. Ia juga merasa bersalah karena tidak dapat melayani suaminya dengan baik. Hal ini dikarenakan, setelah melahirkan anak keenamnya, terjadi perubahan hormon dalam tubuhnya yang menyebabkan ia kehilangan gairah seksual. Akibatnya, apabila suaminya meminta untuk melakukan hubungan seksual maka ia akan merasa stress dan jijik. Kasus kedua, yaitu seorang ibu yang memiliki anak berusia 3,5 tahun. Ia mengalami stress karena sulit untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya, karena anaknya selalu mengikuti dirinya. Lalu, kasus ketiga, yaitu seorang ibu yang memiliki satu orang anak, dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia mengalami stress karena ia hanya memiliki sedikit waktu untuk bersama anak dan suaminya, dan selalu merasa bersalah. Bahkan, ia tidak mempunyai waktu untuk merawat dirinya, misalnya sulit untuk berdandan ketika bangun pagi. Selain itu, ia juga harus mencuri-curi waktu untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya. Ia juga berpikir bahwa dengan melakukan hubungan seksual maka ia sudah membuat suaminya merasa bahagia dan ia telah melaksanakan tugasnya sebagai istri. Namun, untuk mengurangi stress, ia selalu mengonsumsi makanan ringan yang menyebabkan berat badannya selalu naik.
Ada beberapa cara yang telah dijelaskan dalam film tersebut untuk mengatasi stress dan meningkatkan kualitas hubungan seksual dengan pasangan. Misalnya, pada kasus pertama, ibu tersebut disarankan untuk mengikuti beberapa terapi yang memungkinkan perubahan hormon dalam tubuhnya dapat teratasi. Selain itu, ibu tersebut juga disarankan untuk menyediakan waktu agar dapat melakukan hubungan seksual dengan suaminya. Pada kasus kedua, ibu tersebut disarankan untuk dapat mencuri-curi waktu agar dapat melakukan hubungan seksual dengan anaknya. Pada kasus ketiga, ibu tersebut disarankan untuk mengikuti kelas make up dan kelas yoga agar ia mampu merawat diri, dan dapat memberi perasaan positif terhadap dirinya. Lalu, ibu tersebut disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan ringan yang dapat membuat berat badannya naik. Kemudian, ibu tersebut diberi informasi bahwa untuk membahagiakan suami tidak harus dengan melakukan hubungan seksual saja. Akan tetapi, berbincang-bincang juga dapat membahagiakan suami.



Nah, teman-teman, sex dan stress ternyata memiliki hubungan timbal balik yah. Maksudnya yaitusex dapat membuat seseorang menjadi stress, dan stress dapat mempengaruhi kualitas hubungan seksual yang dimiliki oleh seseorang.
Bagi kalian yang sudah menikah, apabila mengalami stress atau mengalami gangguan dalam melakukan hubungan seksual sebaiknya diatasi dengan cepat.

24 Nov 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar