Selasa, 11 November 2014

Keluarga Akulturasi (Anggi Maria Christiana 705140155)


Definisi
     Definisi keluarga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dengan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas kebawah sampai dengan derajat ketiga” (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).
     Definisi Akulturasi. “Koentjaraningrat mengatakan bahwa proses akulturasi itu timbul apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaannya dihadapkan dengan unsur kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan sendiri” (Sobarudin, 2013).

Penyebab Terjadinya Keluarga Akulturasi
     Penyebab umum. Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki masyarakat majemuk. Kemajemukan tersebut dapat dilihat dengan adanya perbedaan-perbedaan yang jelas diantara masyarakat Indonesia. Di Indonesia terdapat sekitar 380 suku bangsa dan kurang lebih 200 bahasa daerah. Hal ini sangat berpeluang besar akan terjadinya perkawinan beda budaya (lintas budaya). Globalisasi yang terjadi juga tidak memungkiri individu untuk melakukan interaksi yang lebih luas, sehingga hal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pernikahan lintas budaya maupun lintas bangsa sekalipun (Junida, 2012).
     Berawal dari pernikahan dua budaya. Pernikahan dua budaya terjadi karena ketertarikan sepasang kekasih secara fisik, kesamaan dalam berbagai aspek kehidupan, dan rasa keberhargaan yang dialami antara sepasang kekasih. Tidak jarang pula yang beralasan cinta semata meskipun begitu banyak perbedaan dibandingkan kesamaan diantara mereka. Artinya, sama seperti pasangan pada umumnya, pasangan beda budaya menikah karena memandang kesamaan atas mereka saja, dibandingkan ketertarikan terhadap budaya tertentu (Proses Komunikas pada Pernikahan Beda Suku di Indonesia, 2013).
    Penyebab khusus.  Masih karena pernikahan dua budaya akan tetapi terdapat kekhasan dalam alasan. Alasan yang menyebut tertarik dengan ras atau budaya pasangan. Alasan seperti ini sangat jarang dimiliki oleh pasang beda budaya, tetapi yang paling berdampak positif ketika menjalani keluarga akulturasi. Ketertarikan terhadap budaya pasangan terjadi karena terdapat kekurangan yang dialami budaya pasangan lain yang justru dimiliki oleh budaya pasangannya. Pasangan yang seperti demikian mampu mengumpulkan bagian-bagian yang positif dari kedua budaya dan menjadikan satu kesatuan yang berkesinambungan (Lewis, Yancey, and Bletzer 1997).
     Alasan lain yang juga unik adalah ‘perbaikan keturunan’. Pernikahan beda suku (lintas budaya) memiliki sisi positif dalam hal keturunan yang dilahirkan. Dari studi kesehatan, ketika gen-gen yang berbeda dipertemukan, maka akan terjadi sintesis mutualisme dalam pembentukan generasi unggul yang lebih kuat secara gen. Bentuk dari keunggulan tersebut adalah lahirnya anak-anak yang memiliki intelegence yang lebih baik dan secara fisik memiliki ketahanan tubuh dari penyakit-penyakit lebih kuat serta memiliki fisik yang lebih bagus (Proses Komunikasi pada Pernikahan Beda Suku di Indonesia, 2013).
     Alasan yang sangat jarang terungkap adalah pernikahan dua budaya yang disebabkan karena sistem budaya itu sendiri.  Sistem Exogami adalah seseorangdiharuskan kawin dengan orang di luar suku keluarganya. Sistem ini terdapat di daerah Gayo, Alas, Tapanuli, Mingkabau, Sumatera Selatan, Buru dan Seram (Junida, 2012).

Dampak Akulturasi
     Dampak positif. Keluarga akulturasi yang berhasil mengatasi perbedaan, memberikan banyak dampak positif baik antara pasangan, keluarganya, keturunannya, dan bahkan orang-orang sekelilingnya. Biasanya keluarga yang berhasil mengatasi perbedaan yang justru mengalami banyak kedamaian daripada biasanya. Pada keluarga akulturasi seperti ini mampu memberikan dampak kesehatan psikologis karena pasangan yang terlatih sabar dan mampu memaknai perbedaaan menjadi persamaan. Anak-anak juga mampu dihadapkan pada perbedaan di dunia luar karena mereka terbiasa melihat cara penyesuaian kedua orangtua mereka. Biasanya anak-anak yang seperti ini memiliki keunggulan dalam bersosialisasi dan justru cerdas dalam berkomunikasi (Budaya Tak Jadi Perkara, 2010).
     Keluarga akulturasi yang berhasil mengatasi perbedaan juga memberikan dampak positif bagi orang-orang sekelilingnya. Mereka menjadi model yang baik bagi keluarga-keluarga yang justru memiliki kesamaan dalam budaya.
     Dampak negatif. Menjalani keluarga akulturasi tidaklah gampang dan seringkali mengalami proses penyesuaian. Tidak jarang pasangan yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum menghadapi keluarga akulturasi, justru mengalami kegagalan.  Banyak tantangan yang dihadapi ketika sepasang kekasih beda budaya memulai kehidupannya sebagai keluarga akulturasi (Fery, 2011).
     Biasanya kejadian yang sering muncul, yaitu: (a) penyesuaian budaya, (b) benturan budaya seperti ketersinggungan terhadap budaya pasangan, (c) selisih paham, (e) keributan, (f) ketakutan kehilangan identitas keturunan, dan (g) perceraian (Fery, 2011).
     Tidak jarang yang mengalami perceraian dikarenakan tidak kuat dengan perbedaan yang muncul ketika menjalani rumah tangga. Seringnya terjadi selisih paham, perbedaan pola pikir, dan gaya hidup menyebabkan perceraian. Perceraian banyak memberikan akibat buruk bagi perkembangan psikologis anak dan psikologis pasangan yang merasa paling dirugikan. Dampak perceraian ini yang menjadi dampak negatif paling besar dari keluarga akulturasi, dan membuka pembahasan baru yang lebih rumit (Fery, 2011).

Simpulan
     Pada umumnya keluarga akulturasi tejadi karena pernikahan sepasang beda budaya. Keluarga akulturasi yang berhasil mengatasi perbedaan, memberikan banyak dampak positif baik antara pasangan, keluarganya, keturunannya, dan bahkan orang-orang sekelilingnya. Di samping itu, banyak dampak negatif yang ditimbulkan jika keluarga akulturasi tidak berjalan dengan baik bahkan berakhir perceraian. Berdampak tidak baik secara psikologis pada pasangan yang merasa paling dirugikan dan anak yang dijadikan korban perceraian.

Daftar Pustaka

Akademika. (2010). Budaya tak jadi perkara. Diunduh darihttp://www.persakademika.com/budaya-tak-jadi-perkara.html.
Fery. (2011). Tantangan pernikahan bagi pasangan beda budaya. Diunduh darihttp://ferymenuliz.blogspot.com/2011/12/tantangan-bagi-pernikahan-pasangan-beda.html.
Junida, I. (2012). Pernikahan beda budaya (kontra). Diunduh dari
Keluarga. (2014). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diunduh darihttp://kbbi.web.id/keluarga.
Proses Komunikas pada Pernikahan Beda Suku di Indonesia. (2013). Diunduh darihttp://masdampsi.wordpress.com/2013/03/20/proses-komunikasi-pada-pernikahan-beda-suku-di-indonesia/.
Sobarudin, A. (2013). Pengertian akulturasi menurut para ahli. Diunduh darihttp://www.bisosial.com/2013/02/pengertian-akulturasi-menurut-para-ahli.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar