Latar Belakang
Pada zaman ini, umumnya orangtua belum memahami perkembangan anak secara mendalam. Kurangnya pemahaman mendalam tersebut membuat anak tidak dapat mengoptimalkan karakternya. (Astington, 1993; Bower, 1993; Flavell et al., 1995; Wellman, Cross, & Watson, 2011 dikutip dalam Papalia, Olds & Feldman 2007) mengatakan “that children younger than 6 cannot distinguish between thoughts or dreams. That between ages 2 and 5, children’s knowledge about mental processes-their own and others’-grows dramatically” (p. 254). Perkembangan otak pada usia 1-5 tahun sedang berkembang pesat. Oleh karena itu, peran orangtua sangatlah diperlukan dalam pembentukan karakter anak sedini mungkin khususnya pada usia 1-5 tahun.
Lickona (1991) mengemukakan “building on these classic understandings, i would like to offer a way of thinking about character that is appropriate for values education: character consist of operative values, values in action” (p. 51). Sesuai dengan kutipan tersebut berarti membangun suatu karakter yang sesuai dengan nilai pendidikan yaitu terdiri dari nilai operatif yang terdapat dalam tindakan. Dalam hal ini, tindakan yang dimaksud adalah tindakan orangtua terhadap anaknya, peran orangtua sangat berpengaruh pada karakter yang terbentuk pada anak.
Anak adalah anugerah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk taat kepada Tuhan dan juga orangtuanya. Dibalik segala keceriaan anak, ia perlu perhatian dan bimbingan orangtua. Sebaliknya, orangtua pun juga ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya (Hyoscyamina, 2011).
Djali (dikutip dalam Hairuddin, 2014) mengemukakan bahwa karakter adalah suatu kecenderungan tingkah laku yang konsisten secara lahiriah dan batiniah. Dalam hal ini berarti karakter berada di dalam diri seorang individu dalam bentuk perilaku.
Perkembangan Anak Usia 1-5 tahun
Usia 1-3 tahun. Pada usia ini, seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa pengasuhan, pemeliharaan, dan bimbingan orangtua. Anak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan motorik, seperti merangkak, berdiri, melompat, dan berlari. Anak masih memiliki kelekatan emosi dengan orangtua, takut berpisah dari orangtua, dan lain-sebagainya. Hal yang diinginkan anak berpusat pada diri sendiri (Hughes dikutip dalam Dariyo, 2006).
Usia 4-5 tahun. Pada usia ini, anak masih terikat pada hubungan dengan orangtua. Di usia ini sudah ditandai dengan kemandirian, kemampuan kontrol diri dan hasrat untuk memperluas pergaulan. Hasrat tersebut akan mengurangi kelekatan emosi dengan orangtuanya (Hughes dikutip dalam Dariyo, 2006).
Peran Orangtua dalam Pembentukan Karakter Anak
Orang tua merupakan pendidik utama bagi anak. Pendidikan yang baik dalam keluarga akan membentuk karakter serta kepribadian anak yang baik. Perkembangan kepribadian dan karakter dapat dituangkan melalui bimbingan orangtua (Hyoscyamina, 2011).
Tanggapan orangtua. Hal yang diperhatikan dalam membentuk karakter anak adalah dalam pembimbingan, orangtua memiliki peranan yang khas. Tanggapan orangtua terhadap sikap anaklah yang menentukan. Selama tanggapan orangtua sama, sikap anak yang tidak tepat akan tetap berlangsung. Bentakan, ancaman, marah, merupakan aksi yang seringkali muncul dalam menanggapi sikap anak yang tidak pada tempatnya. Di sinilah seharusnya orangtua mengubah tanggapannya. Dengan mengubah tanggapan, pola anakpun juga akan berubah. Anak akan belajar dari tanggapan orangtua (Olen, 1984/1987).
Gaya pengasuhan. Dalam pembentukan karakter, khususnya pada anak usia 1-5 tahun peran orangtua dapat dilihat dari gaya pengasuhannya. Menurut Braumind (dikutip dalam King, 2014) ada empat gaya pengasuhan, yaitu (a) authoritarian parenting, (b) authoritative parenting, (c) neglectful parenting dan (d) permissive parenting. Namun pada pembahasan ini hanya memfokuskan pada pengasuhan authoritative parenting.
Braumind (dikutip dalam King, 2014) mengemukakan “authoritative encourages the child to be independent but still places limits and controls on behavior. This parenting style is more collaborative. Extensive verbal give-and-take is allowed, and parents are warm and nurturing toward the child” (p. 309). Bahwa dalam gaya pengasuhan authoritative, orangtua sangat mendukung anaknya untuk dapat lebih mandiri, namun masih menempatkan batasan-batasan dalam perilaku.
Sehubungan dengan hal tersebut bahwa orangtua yang mendidik anaknya dengan benar, mendukung, mengarahkan serta bertanggung jawab dapat membentuk karakter anak. Pembinaan anak pada usia 1-5 tahun tersebut harus dilakukan karena masih terdapat kelekatan emosi pada orangtua serta perkembangan otak sedang dalam masa yang pesat.
Simpulan
Untuk membangun karakter yang kuat dan jiwa baik pada anak didalam keluarga, harus diciptakan suasana keluarga yang harmonis dan dinamis. Suasana tersebut dapat tercipta jika terbangun koordinasi dan komunikasi dua arah yang kuat antara orangtua dan anak (Hyoscyamina, 2011). Hal ini dapat dilihat dari peran orangtua dalam mendidik anaknya, dapat menghasilkan anak yang berkarakter baik ataupun tidak.
Peran orangtua sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak, khususnya di usia 1-5 tahun. Bimbingan orangtua, tanggapan, dan gaya pengasuhan sangat memengaruhi pola serta karakter anak karena pada usia tersebut pola pikir anak telah berkembang pesat. Anak akan meniru apa yang dilakukan orangtua, sebab orangtua merupakan role model dan juga sosok terdekat bagi anaknya. Jika orangtua tidak membimbing dan mengasuh dengan baik, maka karakter yang tidak baik juga akan terbentuk pada anak.
Daftar Pustaka
Dariyo, A. (2007). Psikologi perkembangan anak tiga tahun pertama (psikologi atitama). Bandung: Refika Aditama.
Hairuddin, E. K. (2014). Membangun karakter anak dari rumah. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Hyoscyamina, D. E. (2011, Oktober). Peran keluarga dalam membangun karakter anak. Jurnal Psikologi, 10(2), 144. Diunduh dari: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/download/2887/2570
King, L. (2014). The science of psychology: An appreciative view (3rd ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respectand responsibility.Canada, US: Bantam.
Olen, D. R. (1987). Kecakapan hidup pada anak (Fr. Rosariyanto, Penerj.). Yogyakarta: Kanisius. (Karya asli diterbitkan tahun 1984)
Papalia, D., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human development. (10th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar