Minggu, 06 April 2014

Keterampilan Dalam Melakukan Wawancara (Kresentia Stefanie Hendra)

  
Dalam melakukan wawancara ada beberapa hal yang sebaiknya dikuasai oleh interviewer antara lainnya yaitu kemampuan untuk membina rapport, empati, Attending behavior, teknik bertanya yang baik, keterampilan dalam melakukan observasi, dan active listening. Dalam blog kali ini saya akan menjelaskan beberapa keterampilan wawancara tersebut.


Yang pertama adalah kemampuan untuk membina rapport. Rapport adalah suatu situasi dimana adanya hubungan yang nyaman dan hangat antara interviewer dan interviewee. Rapport menjadi hal yang penting untuk dibangun pada awal wawancara, seperti dalam kehidupan kita sehari-hari ketika ingin mengobrol dengan seseorang pastilah kita memilih untuk ngobrol dengan orang yang membuat kita merasa lebih nyaman, orang yang mau mendengarkan cerita kita dan memberikan respond hangat dari cerita yang mungkin saja membosankan bagi teman kita, tetapi teman ngobrol itu tetap setia mau mendengarkan cerita yang kita sampaikan. Sama hal dengan melakukan wawancara, interviewee akan merasa lebih percaya dan lebih ingin terbuka untuk bercerita lebih banyak kepada interviewer jika adanya situasi yang nyaman dan hangat tersebut. Hal-hal kecil seperti memberikan senyuman, menyapa, jabat tangan, atau hanya melakukan percakapan kecil, hal ini bisa mempengaruhi pembinaan rapport saat melakukan wawancara, karena kita sering kali menilai seseorang dari kesan pertama yang kita lihat.


Yang kedua adalah rasa empati. Rasa empati ini mungkin akan sulit dibangun, karena tidak mudah menempatkan diri kita pada situasi yang dirasakan oleh interviewee. Tetapi sebagaiinterviewer yang baik kita harus tetap berusaha untuk memposisikan diri kita pada situasi yang dirasakan oleh interviewee, supaya interviewee merasa dimengerti dan tidak merasa sendirian pada situasi yang sangat buruk dalam hidupnya. Memberikan rasa empati ini mungkin situasi perilaku "malaikat" yang sulit untuk dilakukan jika interviewer belum pernah merasakan situasi tersebut, tetapi setidaknya dengan mendengarkan cerita interviewee dan memahami situasi yang sedang dirasakan serta tidak memberikan pendapat yang memojokkan interviewee itu sudah bisa dibilang memberikan rasa empati.



Yang ketiga adalah attending behavior. keterampilan ini adalah salah satu keterampilan yang mudah untuk dilakukan. Situasi ketika Interviewer berperilaku supaya interviewee merasa dihargai. seperti contohnya ketika memberikan sebuah pertanyaan, interviewer harus memberikan kesempatan supaya interviewee bisa menceritakan diri mereka dengan bebas dan juga terbuka. Coba kita bayangkan ketika kita sedang berbicara dengan orang lain dan lawan bicara kita juga berbicara ketika kita sedang berbicara, dan pada akhirnya semua berbicara dan tidak ada jawaban atau informasi yang didapatkan. Hal tersebut sangat tidak mengenakan, sehingga dalam melakukan wawancara, interviewer harus memberikan kesempatan kepada interviewee untuk menjawab sehingga interviewer bisa menyimak baik apa yang ingin disampaikan dan interviewee pun pasti akan merasa nyaman untuk bercerita karena ia merasa dihargai.


Yang keempat adalah bertanya dengan teknik yang baik. Ketika melakukan wawancara pastilah kita membutuhkan pertanyaan yang ingin diajukan kepada interviewee, dalam memberikan pertanyaan itu sebaiknya jangan mendesak interviewee untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan jawaban yang interviewer inginkan. Interviewer sebaiknya tidak memberikan pertanyaan yang mengarahkan cerita interviewee, hal yang mungkin terjadi adalah ketika memberikan pertanyaan yang salah hal ini bisa membuat kepercayaan interviewee dan rapport yang telah dibina pada awal wawancara hilang dan tidak merasa nyaman dalam situasi wawancara tersebut sehingga tidak mau melakukan wawancara.


Yang kelima adalah keterampilan dalam melakukan observasi. Keterampilan observasi berfokus pada 3 hal yaitu perilaku non verbal, perilaku verbal, dan konflik, diskrepansi, dan inkongruensi. perilaku non verbal itu meliputi ekspresi wajah dan juga bahasa tubuh, ketika intervieweememberikan jawaban interviewer harus mengamati ekspresi dan juga bahasa tubuh yang ditampilkan. Dari pengamatan tersebut mungkin bisa menemukan informasi baru atau juga bisa mengetahui jawaban yang diberikan jujur atau bohong. Selanjutnya ada perilaku Verbal, dalam perilaku verbal interviewer mengamati setiap kalimat yang diucapkan, biasanya intervieweemengeluarkan kata kunci yang sering kali ulang-ulang. Selain itu interviewer juga harus memperhatikan jawaban yang diberikan konsisten atau tidak.




Yang keenam adalah active listening. Dalam melakukan wawancara dibutuhkan juga waktu untuk diam sekitar 10-15 menit, karena mungkin interviewee masih belum yakin untuk menceritakan situasinya kepada interviewer. Diam dalam konteks ini bukan berarti tidak peduli lalu menjadi acuh tak acuh, tetapi interviewer memberikan waktu kepada interviewee, ketersediaan untuk mendengarkan bisa memberikan dukungan atau penguatan. Hal ini sederahana tapi mungkin maknanya akan sangat berarti bagi interviewee.

Itulah keenam keterampilan yang sebaiknya harus dikuasai oleh interviewer. Keterampilan apa saja yang sudah anda kuasai ? Semoga semua keterampilan sudah anda kuasai yaaa.. :)


14 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar