Senin, 07 April 2014

Adult Sexual Relationship (Marlyn Irena)

 

Dalam pertemuan mata kuliah prilaku seksual minggu lalu, kelompok membahas tentang adult sexual relationship. Mendengar pembahasan ini saya menjadi berpikir, bagaimana sebuah hubungan dikatakan dewasa? apakah karena usia seseorang dalam hubungan tersebut memang sudah memasuki masa dewasa? Atau karena lamanya hubungan mereka? 

Ternyata, tidak menjadi jaminan tuh usia seseorang atau lamanya hubungan mereka. Banyak hal yang dapat terjadi. Orang yang dikatakan matang secara usia belum tentu searah dalam sikapnya, terlalu lama hubungan pun dapat menimbulkan kumpul kebo atau bahasa kerennya cohabitation, khususnya bagi pasangan yang takut untuk mengambil komitmen pernikahan.

Hubungan orang dewasa cukup rumit kan? *pening*

Dari pada pusing tentang materi adult sexual relationship, saya akan bercerita mengenai sudut pandang saya dan orang-orang disekitar saya. (sedikit keluar jalur dari materi sih)

What makes a relationship mature?


Hmnn, jika saya mengingat-ingat kembali, saat saya masih baru mengenal arti cinta (whooo..) Ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya berpikir hal terpenting untuk memulai hubungan (pacaran) adalah cinta. Yeap, hanya C.I.N.T.A! Asalkan orang tersebut berpenampilan baik (gak jelek-jelek amat gitu), care dengan saya dan menunjukan rasa cinta-nya (padahal gombal) pada saya, saya akan berpikir "Yes! He's the ONE"

     TAPI, semakin saya bertambah usia (Hmn, i'm 21 yearsold now). Oh man! Cinta? kayaknya kata-kata tersebut sudah mulai pudar. Banyak pertimbangan yang telah menggantikan 'si cinta' ini menjadi hal nomor kesekian. Salah satu pertimbangan tersebut adalah kemapanan.

     Bukannya saya membenarkan untuk wanita untuk menjadi materialistik, atau hanya menilai orang dari materinya saja. Tapi saya sebagai wanita pasti mulai berpikir kedepan, bagaimana nanti pasangan saya akan menghidupi saya dan anak-anak saya, apakah cinta saja cukup? tentunya tidak. Apakah kami akan membeli rumah dengan cinta? apakah kami akan memberi makan pada anak kami dengan cinta?

     Percayalah, Kalian para wanita di luar sana cepat atau lambat akan memikirkan hal ini (Kemapanan sang pasangan). Saya telah berbicara dengan banyak teman wanita seumuran saya, mereka semua membenarkan bahwa pola pikir mereka sekarang terhadap hubungan sudah berbeda. Dari yang hanya menekankan pada CINTA, sampai "Duh, gue gak cinta ma dia, tapi dia direktur perusahaan terkenal". Sebagai wanita pasti ada yang mengidamkan pasangan yang dapat menopang dalam hal materi.


Nah, apakah pikiran yang seperti ini dapat mencapai Mature Relationship?

     I'm still wondering. Mungkin untuk mendapat jawaban tersebut memerlukan seminar seharian tentang hal ini. Today's Quote:
"My wealth is my relationship, not money. But i can't deny money helps me in my relationships."
-Bo Sanchez-

16 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar