Pada kesempatan menulis blog mengenai pengalaman praktikum wawancara di laboratorium maupun di panti sosial tresna werdha, saya mengucap puji Syukur kehadirat Allah SWT. dan juga kepada Bu Henny dan Ci Tasya selaku pengajar yang telah memberikan kesempatan saya untuk belajar dan terjun langsung untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari di kelas selama ini, dan juga bersyukur karena laporan hasil wawancara di lab maupun di panti telah berhasil juga saya dan kelompok selesaikan.
Pada kesempatan praktikum di laboratorium saya mendapatkan menemukan kelemahan dan kelebihan saya dalam menerapkan teknik wawancara yang telah diajarkan. Dalam kelebihan yang telah saya terapkan adalah dapat membina rapport secara baik dengan subyek wawancara baik dibidang PIO, Psikologi Pendidikan, maupun dibidang Psikologi Klinis, saya juga melakukan attending behavior yang cukup baik dengan melakukan kontak mata kepada subyek dan juga menyesuaikan nada dan kecepatan bicara saya dengan subyek untuk menunjukan ketertarikan saya terhadap informasi yang disampaikan oleh subyek. Namun, kelemahan saya adalah dalam teknik bertanya sesekali saya masih menggunakan kata tanya ‘mengapa’ untuk memperdalam informasi yang telah disampaikan oleh subyek. Selain itu, saya terkadang bingung dengan pertanyaan selanjutnya yang akan diajukan kepada subyek dan juga dalam mengajukan pertanyaan saya nampak ragu-ragu sehingga membuat subyek terlihat bingung menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Hal-hal tersebut yang membuat saya harus lebih banyak belajar lagi untuk mengasah pengetahuan saya mengenai teknik wawancara yang baik dan dari pengalaman tersebut saya belajar untuk menyiapkan diri lebih baik lagi.
Pada kesempatan praktikum wawancara di Panti Sosial Tresna Werdha, saya lebih banyak lagi mendapatkan hambatan dalam menggali informasi dan dalam mengajukan pertanyaan kepada subyek wawancara. saya cenderung tidak peka terhadap informasi yang cukup baik dan banyak yang disampaikan oleh subyek. Hal tersebut membuat saya mendapatkan informasi yang tidak menyeluruh dari target yang informasi yang ingin saya dapatkan dan membuat saya haru kembali ke panti werdha tersebut untuk melakukan wawancara lanjutan. Jika subyek wawancara sudah mulai banyak cerita dan mulai memperluaskan area pembahasan saya cenderung mengarahkan dan menanyakan ke hal berikutnya sehingga subyek tidak menjawab pertanyaan sebelumnya dengan menyeluruh. Hal tersebut didukung dengan persiapan yang kurang baik dari saya sebagai pewawancara karena mempersiapkan pertanyaan yang kurang detail dan kurang dapat mempertajam kembali pertanyaan dari informasi yang sudah disampaikan oleh subyek. Namun, disamping hal tersebut saya sudah cukup baik dalam menerapkan teknik wawancara. Pengalaman praktikum yang telah diberikan ini sungguh menjadi bahan pembelajaran dan pembenahan bagi saya untuk memperbaiki penerapan teknik wawancara yang saya aplikasikan. Saya masih butuh banyak belajar dan memperbanyak pengetahuan saya mengenai teknik wawancara yang  baik. Terimakasih atas pengalaman berharga dan penting ini Bu Henny dan Ci Tasya, semoga saya tidak bertemu dengan Ibu maupun Cici di kelas pertemuan kelas yang sama di semester depan, Amin. Dan semoga pengalaman praktikum tersebut dapat berguna bagi Saya dan kawan-kawan lainnya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas wawancara kami sebagai calon sarjana psikologi dari Universitas Tarumanagara.
6 Juni 2013