Minggu, 02 September 2012

Mengapa Aku Dilahirkan? (Elvandari Armen)


"Mama, mengapa aku dilahirkan? Apakah kehadirkanku memang diharapkan?"
     "Mama, mengapa aku tidak dilahirkan? Apakah kehadirkanku memang tidak diharapkan?"
     Jika Anda sebagai anak, pertanyaan mana yang mungkin saja Anda tanyakan? Mari menjadi perenungan.
     Tidak ada satupun anak di dunia ini yang mau mendengar bahwa kehadirannya tidak diharapkan. Tentunya mereka ingin bahwa kehadirannya memang diharapkan. Mereka tentunya ingin dibesarkan dalam lingkungan yang penuh cinta dari kedua orangtuanya. Tetapi, banyak juga anak yang akan lahir, namun orangtuanya menganggap bahwa dirinya sebagai petaka. Mengapa demikian? Yaaaa, itu karena kecelakaan yang terjadi antara pria dan wanita yang belum resmi menikah.
     "Walaupun belum berfisik manusia, tapi aku tumbuh dan berkembang. Semakin hari, beratku bertambah. Lama kelamaan, aku merasa bahwa aku berada di ruangan yang hangat. Sampai suatu ketika, aku merasa bahwa ada suatu benda aneh yang mendekat padaku. Benda tajam yang siap menyakitiku. Mama, aku takut....." Mungkin itu sebagian gambaran darri perasaan anak yang akan diaborsi. Anak yang tidak bersalah harus menanggung kesalahan orangtuanya. Rasanya tidak adil bahwa kesalahan itu harus dilimpahkan pada calon anak. Sebelum berbuat, pertimbangkanlah konsekuensi dan resikonya. Pria yang memang menyayangi kita sebagai wanitanya, tentu akan menjaga dan menghormati kita. Pria tersebut tidak akan merusak masa depan kita. Jika memang kekasih Anda meminta Anda melakukannya, pertimbangkan dan tinjau ulang hubungan Anda. Coba tanya pada diri Anda sendiri, apakah Anda siap jika sewaktu saat pacar Anda sekarang bukan menjadi suami Anda padahal semuanya sudah diberikan? Apakah Anda siap untuk menjadi ibu? Atau Anda lebih memilih mengorbankan si kecil yang sudah hidup?

28 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar