Jumat, 17 Agustus 2012

Perempuan dan HIV/AIDS (Vania Christabela)

June 20, 2012 at 10:06pm ·


Kerentanan Perempuan Tertular HIV/AIDS
     Fenomena HIV/AIDS tidak hanya terkait akan suatu gender tertentu atau isu penetralan suatu gender tertentu. Pada data yang ditunjukkan oleh UNAIDS (2002) perempuan merupakan kelompok yang tertinggi dengan kasus terinfeksi HIV/AIDS tertinggi, tidak dapat juga di pisahkan dari kasus spesifik perempuan lainnya, diantaranya pada korban kekerasan karena kondisi budaya dan hukum yang tidak berpihak dan keadilan.
     Spesifikasi perempuan untuk masalah HIV/AIDS dilakukan karena kerentanan yang dialami oleh perempuan, yang merupakan penyebab dari faktor biologis ataupun anatomi alat kelaminnya, dan faktor kedudukan perempuan yang lebih rendah daripada pria, dan posisi yang lemah dalam kemandirian ekonomi. Potensi kekerasan seksual, khususnya dalam rumah tangga memiliki peluang terkena Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS. Beberapa faktor penyebab perempuan kekerasan seksual rentan terinfeksi HIV/AIDS.

  1. 1.    Faktor Biologis. Struktur di dalam vagina terdapat banyak lipatan membuat permukaannya menjadi luas dan dinding vagina sendiri memiliki lapisan tipis yang mudah terluka. Anatomi ini memudahkan air mani bertahan lebih lama dalam rongga vagina bila terjadi pentrasi. Maka air mani yang terinfeksi dapat segera menulari perempuan tersebut. Ini akan terjadi pada kasus perkosaan dimana penyerangan seksual dapat melukai dan kemungkinan terinfeksi bisa 2-4 kali lebih besar. 
  2. 2.    Faktor Kultural. Perempuan sulit untuk menolak hubungan seksual dengan pasangannya karena nilai perempuan tidak memiliki kekuasaan untuk menyarankan penggunaan kondom dalam hubungan seksual. Faktor tabu membicarakan seks, kesehatan reproduksi dan informasi lain membuat perempuan sulit membicarakan seks dengan pasangannya. Akibat lebih lanjut perempuan sulit melakukan tindakan cepat untuk mengakses pengobatan bagi penyakit seksual yang sudah ia derita.
  3. 3.    Faktor ekonomi. Perempuan umumnya sangat tergantung secara ekonomi kepada laki-laki. Ini menyebabkan perempuan tidak memiliki posisi tawar menolak hubungan seksual dengan pasangannya.
     Selain itu, perempuan yang rentang kekerasaan seksual diantaranya adalah ibu rumah tangga atau istri, perempuan muda dalam hubungan pacaran, anak perempuan, perempuan pekerja, termasuk migran dan pekerja rumah tangga, perempuan diperdagangkan, perempuan di daerah konflik, perempuan cacat dan pekerja seks komersial. Kecenderungan perempuan karena biologi maupun konteks sosial yang terjadi, maka perlindungan bagi perempuan yang terinfeksi perlu dilakukan, diantaranya adalah kebijakan umum, dan pendampingan, maka hal tersebut dapat membantu wanita untuk tidak terinfeksi.
(Dikutip dari Jurnal perempuan. Dari Komnas perempuan, modul tentang kekerasan terhadap perempuan dan HIV/AIDS, 2004)

      Pada perempuan kekerasaan seksual sering kali terjadi yang biasanya disebabkan oleh suatu kultur atau budaya. Hal ini terjadi karena kelonggaran terhadap nilai-nilai atau agama secara umum, penyebab terjadinya fenomena ini dikarenakan suatu perkawinan yang superfisial, kehidupan perkawinan yang tidak bahagia, penjualan bebas alat kontrasepsi, dan pornografi.  Biasanya hal ini terjadi pada perempuan melalui cairan sperma dan darah pada pasangannya, namun ada juga ditemukan dari dalam air liur, keringat dan air mata, dan semua itu merupakan sumber utamanya adalah darah.
     Sebaiknya perempuan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Kesalahan dalam memilih pasangan  akan mempengaruhi keharmonisan suatu hubungan yang berdampak pada perselingkuhan, mengapa? Rata-rata perempuan tidak menyadari perilaku hypersex yang dialami oleh pasangannya, saat sebelum menikah karena perasaan kasih sayang yang dimiliki, hal tersebut dapat menutupi kekurangan pasangannya, sedangkan hal tersebut dapat berdampak buruk pada saat setelah menikah.
     Setelah menikah penyesalan baru akan dirasakan ketika  perempuan tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual pasangannya (Hypersex), yang menyebabkan pasangannya tersebut akan mencari perempuan lain untuk memenuhi hasrat seksualnya tersebut. Tentu saja hal ini berdampak bukan hanya kepada keharmonisan, namun juga pada perilaku seksualnya, karena hal ini bisa aja menjadi proses terjadi penularan HIV/AIDS dari pasangannya.
      Pada era sekarang sebaiknya perempuan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu hubungan yang baik dan sehat. Perempuan juga harus tegas dan bijaksana dalam memilih suatu kultur yang diterapkan dalam lingkungan keluarga maupun sosialnya, karena seringkali suatu kultur menganggap perempuan memiliki derajat di bawah laki-laki. Baik dalam pendidikan dan pekerjaan, perempuan juga harus dapat memenuhi kebutuhan finansial mereka tanpa harus bergantung sepenuhnya pada suami.
      Pada pekerja seks komersil, kepuasan seks pelanggan merupakan hal yng paling utama, namun mereka juga harus menjaga kondisi mereka agar tidak tertular HIV/AIDS dengan menggunakan alat kontrasepsi. Sebaiknya, para pekerja seks komersil harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penyakit-penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS, karena hal ini sangat penting agar mereka tidak tertular dari penyakit menular tersebut. Maka suatu badan yang menangani korban dengan HIV/AIDS ketika mengadakan penyuluhan, para perempuan pekerja seks komersil tersebut harus turut aktif dalam kegiatan penyuluhan tersebut. Penggunaan alat kontasepsi harus di utamakan pada saat melayani seorang pelanggan, karena dapat menjadi pencegahan penularan penyakit tersebut.
      Penyuluhan yang diselenggarakan terkait dengan HIV/AIDS harus lebih sering dilakukan terutama pada daerah-daerah prostitusi, selain itu harus dilakukan pengecekan kesehatan rutin pada pekerja seks komersial tersebut. hal ini dilakukan tentunya untuk mencegah HIV/AIDS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar