Jumat, 17 Agustus 2012

Pentingnya Sex Education bagi Anak (Stefanie Christina)

June 19, 2012 at 10:20pm ·

Pernahkah Anda ditanya oleh adik, keponakan, bahkan anak Anda tentang hal yang berhubungan dengan seksualitas? Mungkin yang ada di pikiran Anda adalah bagaimana saya menjawab pertanyaannya, apa yang harus saya katakan, atau mungkin Anda akan langsung berpikir ‘sudahlah, nanti juga dia tahu sendiri.’

Tahap Perkembangan Seksual Anak
Anak berusia 2-5 tahun mulai berkembang secara fisik, di usia ini mereka mulai memahami apa artinya menjadi anak laki-laki dan menjadi anak perempuan. Rasa penasaran adalah dasar dari seksualitas anak di usia ini. Anak mempelajari bahwa alat kelamin mereka adalah private, dan mereka mulai mengaitkan hal seksualitas dengan kerahasiaan.

Di usia 6-12 tahun, tanda-tanda anak mengalami pubertas sudah semakin jelas, anak laki-laki dan perempuan keduanya menjadi semakin private tentang tubuh mereka. Anak mulai mencari informasi seksualitas yang berbasis pengetahuan—dan memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk orangtua/pengasuh, teman sebaya, dan saudara kandung. Apa ada yang salah dengan seks atau pendidikan seks bagi anak-anak, khususnya siswa SD? Sebenarnya, tidak. Memang bagi orang timur, seperti Indonesia, bicara seks kadang tabu bagi para orang tua kepada anak-anaknya. Kaum konservatif menilai, pendidikan usia dini bertentangan dengan kultur Indonesia, bahkan justru bisa mengarahkan anak-anak untuk melakukan hubungan seks lebih dini. Sedangkan di pihak lain, justru menganjurkan pentingnya pendidikan seks usia dini, bahkan sebelum anak-anak berusia 12 tahun.

Saat orangtua menghindari pertanyaan anak tentang seksualitas, anak akan menjadi semakin penasaran, dan akhirnya ia mencari informasi sendiri di luar, seperti yang telah dijelaskan di atas. Pencarian informasi di luar inilah yang membuat anak mengetahui tentang seksualitas sebelum waktunya, karena ia tidak mendapatkannya dari orang yang ia harapkan, yaitu orangtua mereka sendiri. Jika orangtua mereka begitu tertutup, anak akan menjadi semakin segan untuk bertanya lagi, dan rasa penasaran mereka semakin meningkat. Seharusnya orangtua bisa menjadi sumber informasi bagi anak dan menjadi orang terdekat bagi anak.

Orangtua menginginkan perilaku positif mengenai seksualitas dari anak, tetapi orangtua tidak tahu bagaimana cara mendorong perilaku tersebut. Anak memiliki rasa ingin tahu yang alami tentang seks, dan saat orangtua menghindar dari pertanyaan anak, mereka memperkuat ide anak bahwa seks adalah rahasia, misterius, dan tidak baik. Tubuh remaja terus berubah, mereka mungkin merasa cemas dengan perubahan itu atau hubungan mereka dengan orang lain. Pengetahuan yang akurat mengenai seksualitas dapat menuntun mereka kepada citra diri dan penerimaan diri yang lebih positif. Orangtua mungkin menjadi marah dan bingung saat mereka mendapati anaknya terlibat dalam ‘sexual play’. Sex play pada anak adalah hal yang sangat normal, dan seharusnya orangtua lebih prihatin jika anak mereka tidak memiliki ketertarikan pada tubuh mereka maupun tubuh lawan jenis daripada jika mereka ingin tahu ada apa di “bawah” sana.

Apakah yang seharusnya Saya lakukan sebagai orangtua?
Seharusnya sebagai orangtua, Anda dapat menjadi sumber informasi bagi anak, menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk bertanya. Carilah informasi mengenai sex education dari berbagai sumber untuk membantu anak Anda melewati masa ini, karena peran Anda sebagai orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak di masa mendatang.
Saat anak berusia 3-5 tahun, anak akan bertanya “itu apa? (menunjuk pada bagian tubuh yang spesifik)”, “Mama ngapain aja sih? Papa ngapain aja? (peran gender)”, “Dede bayi datengnya darimana?” Sex education yang dapat diberikan berupa, pertama, peran dari anggota keluarga, seperti Ayah adalah seorang laki-laki, kewajiban ayah adalah mencari nafkah. Ibu adalah perempuan, kewajiban ibu adalah mengurus rumah dan mengurus anak. Kedua, pemahaman bahwa makhluk hidup selalu bertumbuh, bereproduksi, dan akhirnya mati. Ketiga, jangan membuat nama samaran untuk organ reproduksi mereka, jika anak bertanya “ini apa?” sambil menunjuk organ reproduksi mereka, katakanlah pada anak laki-laki bahwa yang ia miliki adalah penis, pada anak perempuan, yang ia miliki adalah vagina.

Kebanyakan perempuan tidak tahu apa itu labia mayora dan labia minora. Labia mayora adalah dua lipatan elastis dari kulit, berjumlah sepasang, kiri dan kanan. Biasanya juga disebut bibir luar vagina dan berfungsi menutup dan melindungi struktur alat kelamin.
Labia minora adalah dua lipatan kulit sebelah dalam, yang juga disebut bibir dalam vagina. Labia minora letaknya di sebelah dalam dari labia mayora dan lebih tipis. Area yang ditutup oleh labia minora termasuk vagina, saluran urin, pembukaan kelenjar Bartholin dan Skene dinamakan vestibula.
sedangkan vagina sendiri merupakan jaringan otot, sangat elastis, berupa saluran dari vestibula sampai pada uterus. Vagina adalah tempat penetrasi penis pada saat senggama, dan sebagai saluran keluarnya menstruasi. Sebagian besar kaum perempuan mungkin tidak menyadari manfaat lebih dari alat kelamin yang dimilikinya. Pengetahuan yang didapat saja minim, bagaimana mereka bisa memperhatikan daerah intim tersebut. Padahal organ reproduksi merupakan “properti” yang wajib dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya.

Anak juga harus diajar untuk tidak membuka baju di tempat sembarangan. Saat ingin mandi, bukalah baju di kamar mandi, jangan membuka baju di ruang tamu, lalu berlari sambil telanjang ke kamar mandi. Ajarlah anak untuk menghargai organ tubuh mereka, jangan diperlihatkan kepada semua orang.

Untuk anak berusia 6-8 tahun, sex education yang diberikan dapat berupa reproduksi hewan dan tumbuhan, persamaan dan perbedaan gender, pertumbuhan dan perkembangan manusia. Misalnya saat anak bertanya, “Mama dapet bayi darimana?” Anda dapat menjawab “sel wanita dan sel pria bertemu, lalu jadi dede bayi di dalam perut mama.”

Untuk anak berusia 9-12 tahun, sex education yang diberikan dapat berfokus pada topik biologis seperti sistem endokrin, menstruasi, masturbasi dan mimpi basah, hubungan seksual, kontrol kelahiran, aborsi, harga diri, dan hubungan dengan orang lain.

Saran yang dapat saya berikan sebagai mahasiswa psikologi adalah agar para orangtua jangan bersikap apatis tentang perkembangan seksualitas anak, jangan berpikir bahwa pikiran ‘nanti juga anak tahu sendiri’ akan membuat Anda aman, karena anak akan lebih gencar mencari tahu apa yang membuat ia penasaran sampai ia menemukannya, ini bisa lebih berbahaya daripada Anda sedikit meluangkan waktu untuk memperhatikan masalah yang dihadapi anak tentang seksualitas, hubungan anak dengan orangtua juga pastinya akan bertambah baik jika kedua belah pihak saling terbuka. Kedua, batasi penggunaan teknologi, seperti internet. Upaya yang dapat dilakukan adalah jangan terburu-buru mengenalkan anak pada teknologi internet, jangan menempatkan komputer di tempat tertutup, tempatkanlah di ruang tamu, atau di kamar orangtua, awasi penggunaan internet oleh anak, terutama yang masih usia SD.

Terima kasih Anda telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, semoga dapat menambah pengetahuan serta membantu Anda :)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber referensi:
Carroll, J.L. (2010). Sexuality now: Embracing diversity (4thed). Califronia: Wadsworth Publishing Company.
_____. diakses pada 2012, 19 Juni. http://bangka.tribunnews.com/2012/06/04/maraknya-pornografi-dan-seks
     memprihatinkan
_____. diakses pada 2012, 19 Juni. http://www.resep.web.id/seputar-sex/menguak-fungsi-seksual-alat-kelamin
     perempuan.htm
_____. diakses pada 2012, 19 Juni. http://www.danishe.com/2010/11/tips-tips-yang-bisa-dilakukan-orang-tua.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar