Pengertian Pornografi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pornografi dapat diartikan sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk meningkatkan nafsu birahi. Selain itu, menurut KBBI, pornografi juga dapat diartikan sebagai bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk meningkatkan nafsu birahi. Sementara dalam Encarta Referency Library (Downs: 2005) dinyatakan bahwa pornografi adalah segala sesuatu yang secara material baik berupa film, surat kabar, tulisan, foto atau lain-lainnya, menyebabkan timbulnya atau munculnya hasrat-hasrat seksual.
Secara etimologis, pornografi berasal dari bahasa Yunani pornographia yang berarti tulisan tentang atau gambar tentang pelacur. Memiliki arti lebih luas, yakni penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia secara terbuka (eksplisit) dengan tujuan membangkitkan birahi.
Faktor yang Memengaruhi Pornografi di Kalangan Remaja
Berikut adalah faktor-faktor yang memengaruhi pornografi di kalangan remaja.
Pola asuh orang tua. Keluarga merupakan faktor terkuat untuk pembentukan karakter seorang individu khusunya remaja. Orang tua harus menjadi pengawal yang baik bagi anaknya agar anaknya dapat bertumbuh secara baik dan wajar. Begitu juga dengan pornografi, seharusnya orang tua terbuka terhadap anak serta memberikan bekal agama supaya anak tersebut terhindar dari pornografi.
Lingkungan sosial Berdasarkan hasil survey Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar pada tahun 2007 menyatakan bahwa alasan mereka menyaksikan menyaksikan materi pornografi antara lain karena iseng (27%), terbawa teman (10%), takut diolok-olok teman (4%). Melihat materi pornografi di rumah/kamar mandi (36%), rumah teman (12%), warung internet (18%), dan rental (3%). Dapat kita lihat dari hasil penelitian, bahwa lingkungan pergaulan masih menjadi faktor kuat yang memengaruhi pornografi di kalangan remaja.
Media massa
Media massa adalah salah satu media yang menyajikan informasi baik positif maupun negatif yang sangat cepat ditangkap dan memengaruhi orang lain termasuk remaja. Namun, sayangnya belakangan ini terdapat jumlah remaja yang tidak sedikit jumlahnya yang mengakses sisi negatif dari media massa, salah satunya ialah pornografi. Media massa maupun media elektronik dapat digunakan oleh remaja untuk mengakses pornografi tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh “HEART” FKS UNHAS pada tahun 2008 terhadap 2.135 mahasiswa UNHAS mengenai akses media pornografi didapatkan hasil 314 (15%) melalui CD/DVD, 283 (13%) handphone, 535 (25%) internet, 55 (3%) majalah dan sisanya melalui media lainnya.
Dampak Pornografi di Kalangan Remaja
Berikut merupakan dampak dari pornografi di kalangan remaja. Penulis membagi dampak pornografi menjadi 2 bagian yakni dampak fisik serta dampak psikologis
Dampak fisik Dampak fisik menyangkut tentang perubahan fisik seseorang.
Mudah terjangkit IMS (Infeksi Menular Seksual). Dengan pornografi, tentunya akan merangsang seseorang untuk melakukan seks bebas yang akhirnya akan membahayakan dirinya sendiri. Risiko terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) menjadi besar karena seks bebas tersebut. Orang atau remaja yang melakukan seks bebas biasanya akan terkena penyakit IMS seperti gonorrhea, candidiasis, sifilis, dan juga HIV/AIDS.
Aborsi. Aborsi merupakan kegiatan untuk menggugurkan kandungan. Aborsi dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari ramuan jamu, mantra, dukun beranak, hingga jasa dokter kandungan tertentu yang berkedok klinik. Hasil riset Allan Guttmacher Institute pada tahun 1989 melaporkan bahwa sepanjang sejarah 55 juta bayi digugurkan. Angka ini memberikan bukti bahwa setiap hari 150.658 bayi dibunuh, atau setiap 105 nyawa bayi direnggut sewaktu masih dalam kandungan.
Mudah terjangkit IMS (Infeksi Menular Seksual). Dengan pornografi, tentunya akan merangsang seseorang untuk melakukan seks bebas yang akhirnya akan membahayakan dirinya sendiri. Risiko terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) menjadi besar karena seks bebas tersebut. Orang atau remaja yang melakukan seks bebas biasanya akan terkena penyakit IMS seperti gonorrhea, candidiasis, sifilis, dan juga HIV/AIDS.
Aborsi. Aborsi merupakan kegiatan untuk menggugurkan kandungan. Aborsi dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari ramuan jamu, mantra, dukun beranak, hingga jasa dokter kandungan tertentu yang berkedok klinik. Hasil riset Allan Guttmacher Institute pada tahun 1989 melaporkan bahwa sepanjang sejarah 55 juta bayi digugurkan. Angka ini memberikan bukti bahwa setiap hari 150.658 bayi dibunuh, atau setiap 105 nyawa bayi direnggut sewaktu masih dalam kandungan.
Dampak psikologis. Dampak psikologis merupakan dampak yang berkenaan psikis seorang remaja pecandu pornografi.
Merusak Otak. Menurut Dr Mark, pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama Pre Frontal. Kerusakan bagian otak ini akan membuat prestasi akademik menurun, orang tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.
Menggangu hubungan sosial. Remaja yang biasanya sering mengakses situs-situs porno biasanya akan terganggu dalam hubungan sosialnya. Remaja pecandu pornografi biasanya akan menjadi tertutup dan merasa minder sehingga biasanya akan menghindar dari orang lain. Pecandu pornografi biasanya akan dibayang-bayangin rasa berdosa karena perbuatannya.
Kesimpulan
Pornografi yang sekarang ini sangat mudah diakses sangat berbahaya bagi remaja. Dampak pornografi yang dhasilkan oleh pornografi dapat menghancurkan remaja baik secara fisik maupun secara psikologis. Faktor-faktor penting yang memengaruhi pornografi harus bekerja sebaik mungkin untuk menhindari remaja dari dampak buruk pornografi.
REFERENCES
Rahmawati, D.N., Hadjam, N.R., & Afiatin.T. (2002). Hubungan antara kecenderungan perilaku mengakses situs porno dan religiusitas pada remaja.Jurnal Psikologi, 1-13. Diunduh dari file:///C:/Users/HP/Downloads/110-204-1-SM.pdf.
Hariyani, M., Mudjiran., & Syukur,Y. (2012). Dampak pornografi terhdap perilaku siswa dan upaya guru pembimbing untuk mengatasinya. Jurnal Ilmiah Konseling, 1(1), 1-8. Diunduh dari file:///C:/Users/HP/Downloads/696-1541-1-PB.pdf.
Panjaitan, H. (2010, Mei 25). Penulisan Proposal Ilmiah. Diunduh darihttp://hannaregina-ppi.blogspot.com/2010/05/tinjauan-pustaka.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar