Minggu-minggu
lalu yang saya bahas adalah aplikasi teknik wawancara di berbagai bidang dalam
psikologi. Di akhir blog saya selalu mengatakan bahwa untuk menjadi seorang
pewawancara yang baik haruslah dapat menguasai teknik-teknik dengan baik dan
berusaha untuk melakukannya serta punya pengalaman yang banyak. Terdapat lima
jenis skills dasar untuk dapat
menjadi pewawancara yang baik. Apa saja jenis keterampilan tersebut? Mari kita
lihat..
Keterampilan
dasar wawancara terdapat lima jenis, yaitu kemampuan membina rapport, empati, attending behavior, teknik bertanya, keterampilan observasi, dan active listening. Yang pertama sekali
dalam menentukan berhasil atau tidaknya dalam melakukan wawancara adalah
kemampuan untuk membina rapport. Sama
seperti sebelumnya, seseorang akan sulit untuk percaya kepada orang yang baru
pertama kali ditemuinya dan akan merasa asing. Dengan kemampuan untuk membina rapport inilah kehangatan dapat
terjalin, klien akan sedikit demi sedikit percaya dan membuka rahasianya. Hal
ini didukung juga dengan sikap terhadap klien (raut wajah, bahasa yang
digunakan, dsb). Empati juga penting karena empati interviewer dapat merasakan apa yang dirasakan oleh interviewee, atau bagaimana anda dapat
berkaca pada perasaan klien anda, pengalaman dan perilaku klien anda.
Kemudian dalam attending behavior, kunci utamanya
adalah untuk mengurangi kuantitas berbicara interviewer
dan memberikan klien waktu untuk menceritakan tentang diri mereka. Attending akan lebih gampang jika anda
lebih fokus ke klien daripada ke diri anda sendiri. Teknik bertanya terdapat
jenis bertanya dengan open question
dan close question. Akan lebih baik
menggunakan open question karena
klien akan lebih bebas mengekspresikan perasaannya dan akan lebih banyak
mendapatkan informasi. Jika dibandingkan dengan close question, pertanyaan tersebut bersifat mengarahkan sehingga
klien tidak bebas dalam mengekspresikan perasaannya. Keterampilan dalam
observasi juga perlu untuk melihat perilaku verbal nonverbal dan melihat
diskrepansi, inkongruensi dan konflik.
Yang terakhir
adalah active listening yang terdapat
empat jenis yaitu encouraging, reflection
of content (paraphrasing), reflection of feeling, dan summarizing. Dalam encouraging,
kita lihat keseragaman antara verbal dan nonverbal klien kita, misalnya mereka
mengatakan senang tetapi dengan ekspresi muka sedih. Dengan paraphrasing, kita mengulang apa yang
dikatakan oleh klien dengan bahasa kita sendiri. Hampir sama dengan paraphrasing, summarizing digunakan untuk menyaring atau menjelaskan apa yang
dibicarakan klien. Reflection of feeling
diidentifikasi dengan key emotion
yaitu labeling dengan kata sad, mad, scared, glad. Itulah
penjelasan kelima keterampilan dasar dalam melakukan wawancara. Silakan
mempelajarinya jika ingin memperbagus teknik wawancara kalian..
16 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar