Pada kali ini akan dibahas mengenai
Wawancara dalam setting pendidikan dan PIO, wawancara dalam kedua bidang
ini tentu sangat berbeda, mulai dari pembinaan rapport, tujuan
wawancara, dsb. Untuk wawancara di bidang pendidikan, saya pernah
mengalaminya sendiri saat akan mencalonkan diri menjadi anggota OSIS di
SMA, saat itu saya diwawancarai oleh pembimbing BK di sekolah saya.
Selain untuk tujuan pencalonan OSIS, wawancara di sekolah juga digunakan
untuk hal lainnya, seperti mengatasi anak-anak bermasalah, anak-anak
yang mengalami kesulitan berlajar, wawancara saat penerimaan siswa baru,
dll.
Sistem sekolah yang berkaitan dengan
kurikulum, keuangan, akademik dapat diberitahukan kepada orang tua murid
dan siswa saat wawancara penerimaan masuk, kemudian masalah behavioral
seperti bullying di sekolah juga dapat menggunakan wawancara untuk
mengetahui akar penyebab masalah tersebut, kemudian psikososial yang
berhubungan dengan diskriminasi, lingkungan seperti Status Sosial
Ekonomi, lingkungan yang kumuh, bakat dan minat seorang siswa dapat
diwawancarai saat akan penempatan kelas akselerasi, level perkembangan
anak yang digunakan terutama saat anak akan memasuki tingkat SD.
Dalam bidang pendidikan, orang-orang yang
dapat diwawancarai adalah siswa, guru dan orang tua. Orang tua misalnya,
kita dapat mewawancarai orang tua dari anak murid yang memiliki masalah
di sekolah untuk mencari informasi lebih banyak sehingga dapat
memudahkan untuk mengatasi masalah anak tersebut. Sedangkan untuk guru,
kita dapat mewawancarai mengenai cara pengajaran di kelas, apakah
metodenya sudah dirasa baik dan cukup efektif dalam aplikasinya, dan hal
lainnya yang mempengaruhi guru tersebut di sekolah. Bagi siswa, kita
dapat mewawancarai anak-anak yang memiliki tingkah laku bermasalah, atau
anak yang mengalami kesulitan belajar, dengan wawancara kita dapat
mencari informasi apa yang menyebabkan anak tersebut mengalami
masalah-masalah tersebut dan kita dapat mencari intervensi terbaik untuk
menangani masalah tersebut.
Dalam bidang PIO, wawancara sangatlah efektif
saat rekrutmen karyawan baru atau saat mengatasi masalah yang dialami
oleh karyawan, selain itu wawancara juga diperlukan saat karyawan
mengundurkan diri dari perusahaan, promosi karyawan, penempatan posisi
pekerjaan, couching dsb. Berdasarkan pernyataan Bapak Jeffrey kemarin,
wawancara rekrutmen dalam bidang PIO biasa diawali juga dengan pembinaan
rapport, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar
informasi pribadi, pengalaman kerja sebelumnya (jika bukan fresh
graduate), motivasi untuk bekerja di perusahaan tersebut, pendidikan,
dsb. Saat mewawancarai fresh graduate, biasanya interviewer akan
bertanya seputar hal-hal umum seperti informasi pribadi, pengalaman
berorganisasi dan pendidikan yang telah ditempuh, kelebihan dan
kekurangan kandidat, dasar-dasar alat tes.
Teknik BEI menggunakan format STAR
(Situation, Task, Action, Result), sedankan ada juga FACT (Feeling,
Action, Context, Thinking), dengan STAR interviewer dapat melihat
leadership dan strategi dari interviewee, kedua format ini mengutamakan
PAST atau apa yang telah dilakukan sebelumnya saat menghadapi suatu
situasi, tugas apa yang didapat, apa yang dilakukan saat itu, dan
bagaimana hasil akhirnya dari hal yang dilakukan. STAR dapat dilakukan
dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, sedangkan FACT dilakukan
pada orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, seperti manajerial,
direktur dikarenakan wawancara secara lebih mendalam.
5 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar