Pada
perkuliahan Teknik Wawancara minggu ini (29/04/13) menghadirkan seorang bintang
tamu. Bintang tamu yang berkecimpung di bidang Psikologi Industri dan
Organisasi ini, bekerja di sebuah perusahaan sebagai HR (kalau tidak salah).
Sebenarnya agak bingung juga ingin menuliskan apa tentang materi minggu ini.
Selain karena saya terlambat masuk kelas yang diakibatkan satu hal (pengakuan
dosa, hiks hiks hiks), juga karena saya memang tidak terlalu meminati bidang
ini. Namun karena cukup termotivasi untuk mendapatkan nilai tambahan (berusaha
memaksimalkan usaha yang terbaik boleh dong, hehe), saya harus memutar otak
saya lagi untuk mengingat materi apa saja yang saya dapatkan dari yang
disampaikan oleh bintang tamunya.
Dari yang
saya dengar, apa yang disampaikan bintang tamu (sebut saja Mr. J) ini tidak
jauh berbeda dengan apa yang sudah dipelajari di kelas sebelumnya. Namun pada
kelas kemarin, ada satu topik yang menjawab rasa penasaran saya. Topik tersebut
mengenai pertanyaan 'gaji' yang diinginkan. Sebelum saya mengenal lebih dalam
tentang dunia Psikologi Industri dan Organisasi atau yang biasa disingkat PIO,
saya sangat penasaran tentang hal tersebut. Saya pernah mendengar, bila ditanya
tentang ingin dibayar berapa ketika wawancara, ada yang mengatakan lebih baik
memberikan jawaban seperti "terserah bapak atau ibu saja". Jawaban
ini agar terkesan bahwa calon pekerjanya tidak matre (yaa kalii hari gini
gitu loh, kalo nggak matre mau makan apa? :D).
Namun di
sisi lain, ada yang bilang bila ditanya mengenai ingin gaji berapa, lebih baik
menjawab standar gaji yang kita inginkan, "10 juta aja cukup pak/bu".
Katanya, jawaban seperti ini akan memberikan kesan bahwa kita memiliki percaya
diri. Sehingga sang interviewer akan memiliki pandangan positif mengenai
performance kita saat bekerja nanti.
Faktanya, saat di kelas Mr. J memberikan jawaban yang menentang kedua
jawaban yang terdapat di paragraf sebelumnya. Saya sangat setuju dengan jawaban
Mr. J ini. Kenapa? Alasannya saat kita pasrah ingin digaji berapa aja hal
tersebut justru harus dipertanyakan. Jangan-jangan interviewee cuma
pengen bermanis-manis biar diterima (hahaha, tipe penjilat gitu kali
yaa). Selain itu, kalau nanti beneran dibayar murah gimana?
Makanya jangan deh pake cara ini hanya untuk terlihat "bagus"
(mencegah penambahan pegawai yang demo :D).
Alasan
untuk jangan meminta gaji yang terlampau besar adalah mengenai pertanggung
jawaban kinerja kita di masa depan. Malu dong kalau kita udah dengan pedenya
minta gaji yang besar, ternyata kinerja kita kelas teri. Hahaha, jadi lebih
baik jawabannya harus yang masuk akal juga lah (sesuai dengan kinerja
kita).
Dalam penerimaan atau nggaknya sih kayanya tidak dilihat dari jawaban
mau digaji berapa yaa? Lebih dari itu, masih banyak pertimbangan-pertimbangan
lain apakah kita diterima atau tidak. Contohnya dari hasil wawancara (jawaban interviewee saat diberikan pertanyaan
mengenai STAR), dan hasil tes-tes psikologi. Kesimpulan yang saya tangkep sih,
kalau kita memang memiliki skill yang
perusahaan butuh dan memenuhi kriteria (setidaknya hampir) perusahaan,
perusahaan juga pasti akan memberikan gaji yang layak. Tapi jangan lupa loh,
setiap perusahaan memiliki standar masing-masing untuk masalah pemberian gaji
pekerjanya.
4 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar