Minggu, 05 Mei 2013

"Kamu mau gaji berapa?" (Nurul Hidayah Prabowo)

     Pada perkuliahan Teknik Wawancara minggu ini (29/04/13) menghadirkan seorang bintang tamu. Bintang tamu yang berkecimpung di bidang Psikologi Industri dan Organisasi ini, bekerja di sebuah perusahaan sebagai HR (kalau tidak salah). Sebenarnya agak bingung juga ingin menuliskan apa tentang materi minggu ini. Selain karena saya terlambat masuk kelas yang diakibatkan satu hal (pengakuan dosa, hiks hiks hiks), juga karena saya memang tidak terlalu meminati bidang ini. Namun karena cukup termotivasi untuk mendapatkan nilai tambahan (berusaha memaksimalkan usaha yang terbaik boleh dong, hehe), saya harus memutar otak saya lagi untuk mengingat materi apa saja yang saya dapatkan dari yang disampaikan oleh bintang tamunya.
     Dari yang saya dengar, apa yang disampaikan bintang tamu (sebut saja Mr. J) ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dipelajari di kelas sebelumnya. Namun pada kelas kemarin, ada satu topik yang menjawab rasa penasaran saya. Topik tersebut mengenai pertanyaan 'gaji' yang diinginkan. Sebelum saya mengenal lebih dalam tentang dunia Psikologi Industri dan Organisasi atau yang biasa disingkat PIO, saya sangat penasaran tentang hal tersebut. Saya pernah mendengar, bila ditanya tentang ingin dibayar berapa ketika wawancara, ada yang mengatakan lebih baik memberikan jawaban seperti "terserah bapak atau ibu saja". Jawaban ini agar terkesan bahwa calon pekerjanya tidak matre (yaa kalii hari gini gitu loh, kalo nggak matre mau makan apa? :D).
     Namun di sisi lain, ada yang bilang bila ditanya mengenai ingin gaji berapa, lebih baik menjawab standar gaji yang kita inginkan, "10 juta aja cukup pak/bu". Katanya, jawaban seperti ini akan memberikan kesan bahwa kita memiliki percaya diri. Sehingga sang interviewer akan memiliki pandangan positif mengenai performance kita saat bekerja nanti.
     Faktanya,  saat di kelas Mr. J memberikan jawaban yang menentang kedua jawaban yang terdapat di paragraf sebelumnya. Saya sangat setuju dengan jawaban Mr. J ini. Kenapa? Alasannya saat kita pasrah ingin digaji berapa aja hal tersebut justru harus dipertanyakan. Jangan-jangan interviewee cuma pengen bermanis-manis biar diterima (hahaha, tipe penjilat gitu kali yaa). Selain itu, kalau nanti beneran dibayar murah gimana? Makanya jangan deh pake cara ini hanya untuk terlihat "bagus" (mencegah penambahan pegawai yang demo :D).
     Alasan untuk jangan meminta gaji yang terlampau besar adalah mengenai pertanggung jawaban kinerja kita di masa depan. Malu dong kalau kita udah dengan pedenya minta gaji yang besar, ternyata kinerja kita kelas teri. Hahaha, jadi lebih baik jawabannya harus yang masuk akal juga lah (sesuai dengan kinerja kita).
     Dalam penerimaan atau nggaknya sih kayanya tidak dilihat dari jawaban mau digaji berapa yaa? Lebih dari itu, masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain apakah kita diterima atau tidak. Contohnya dari hasil wawancara (jawaban interviewee saat diberikan pertanyaan mengenai STAR), dan hasil tes-tes psikologi. Kesimpulan yang saya tangkep sih, kalau kita memang memiliki skill yang perusahaan butuh dan memenuhi kriteria (setidaknya hampir) perusahaan, perusahaan juga pasti akan memberikan gaji yang layak. Tapi jangan lupa loh, setiap perusahaan memiliki standar masing-masing untuk masalah pemberian gaji pekerjanya.
 
4 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar