Tampilkan postingan dengan label teknik wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknik wawancara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

Tips-tips untuk membina rapport dan empati bagi pewawancara (Florencia Irena Salim)


Berikut adalah tips-tips yang dapat digunakan bagi para interviewer agar dapat membina hubungan yang baik dengan klien.

1. Beri Kesan Pertama yang Baik

“Anda tidak akan mempunyai kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama” – Will Rogers

Setiap orang pasti akan langsung menilai beberapa kepribadian orang yang baru pertama kali ditemui. Sebuah kesan langsung tercipta kepada kita hanya dalam waktu beberapa saat, walaupun hanya dari penampilan. Itulah pentingnya kesan pertama. Berpakaian yang rapi, sopan dan bersih

2. Berikan citra adanya karisma yang kuat

Dengan menunjukan aura karisma yang kuat, klien akan lebih me-respect anda, dan klien pun akan lebih segan sehingga apa yang anda ucapkan akan didengarkan dengan seksama.

3. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti

Dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, interviewee akan merasa nyaman berbicara dengan kita, sehingga komunikasi yang terjalin akan menjadi lebih baik. Selain itu body languange yang kita tunjukan sangat berpengaruh, dengan menunjukan kepercayaan diri, tentunya klien akan lebih percaya kepada kita.
Body Languange yang berpengaruh, diantaranya adalah mengatur dan mengendalikan cara duduk, cara menatap lawan bicara, cara berbicara, dll

4. Tunjukan Rasa Peduli (Empati)

Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.
cara menunjukan empati adalah mendengarkan dengan baik apa yang diucapkan klien, dengan itu anda akan dapat meresapi dan merasakan apa yang dialami klien.

26 September 2012

Thick That Point, Rapport and Empathy (Lina Pratiwi)


     Sebagian besar manusia normal tentu hanya memiliki satu mulut, dua mata, dan dua telinga. Hal tersebut diberikan demikian oleh Sang Pencipta agar kita dapat selalu melihat dan mendengar terlebih dahulu sebelum berbicara. Agar setiap kata yang keluar bukan hal sembarangan, yang dapat menyakiti dan merugikan orang lain. Agar setiap kata yang keluar didasari dari observasi indera penglihatan dan pendengaran, baru kemudian memutuskan kata-kata yang memang sepantasnya dikatakan. Lidah tidaklah bertulang, dengan dua mata dan dua telinga pun masih banyak individu yang seenaknya berkata-kata tanpa mendengarkan dan melihat kondisi sebenarnya dengan seksama.

     Sebagai seseorang yang bekerja di bidang pelayanan masyarakat; baik psikolog, konsultan, maupun pekerja sosial; perlu adanya regulasi yang baik terhadap ketiga indera sensoris itu. Mengapa? Karena dalam setiap pekerjaan kita, selalu akan ada tugas untuk membangun rapport dan kemampuan untuk berempati terhadap kondisi dan situasi yang dimiliki klien. Rapport dan empati, kedua hal yang menjadi titik ukur keberhasilan pekerjaan kita.

     Melalui pembentukan rapport dan empati yang baik, klien dapat merasa diterima apa adanya dan nyaman untuk menceritakan permasalahnnya. Kualitas rapport dan empati yang kita miliki juga menentukan seberapa terbuka dan tulus klien dalam menceritakan semua hal tentang dirinya. Kejujuran dan keterbukaan klien dapat memberikan kita data yang lebih lengkap dan mendalam, sehingga membantu analisis untuk menentukan diagnosa, dan akhirnya akan memberikan pengaruh pada proses penanganannya.

     Terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan untuk membangun rapport yang baik. Pertama, berikan sikap peduli dan ramah, yang membuat klien merasa dirinya diterima secara utuh. Kedua, meskipun kita berusaha untuk ramah dan peduli, tetapi janganlah “sok tahu”  tentang kondisi yang dihadapi klien. Sekalipun kita pernah berada dalam situasi yang serupa dengan klien, tetapi persepsi, perasaan yang muncul, dan dinamika dari situasi tersebut dapat menjadi sangat berbeda. Apalagi bila kita memang tidak pernah berada dalam situasi tersebut, jangan bersikap seakan-akan kita pernah mengalaminya, percaya atau tidak klien dapat menyadari kepalsuan itu.

     Permasalahan yang dihadapi klien tidak hanya permasalahan sehari-hari, terkadang ada permasalah klien yang dalam persepsi kita hal luar biasa, sulit dipercayai, tidak masuk akal, dan bahkan terkadang tidak sejalan dengan keyakinan kita. Dalam hal ini, untuk dapat membangun rapport yang baik, kita tidak boleh “lebay” atau berlebihan dalam merspon permasalahan yang dihadapi klien. Berikan tanggapan yang sesuai, tidak berlebihan, tetapi tidak juga tanpa ekspresi atau memberikan muka datar. Kita harus dapat meregulasi kadar respon yang akan kita berikan selama klien menceritakan permasalahannya. Hal terakhir, katakan apa yang memang perlu diungkapkan. Perhatikan perkataan yang kita pakai serta respon klien terhadap kata-kata tersebut. Gunakanlah bahasa yang sesuai dengan latar belakang klien. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan latar belakang klien menciptakan kesetaraan dan dapat membuatnya lebih terbuka diri.

     Ketika kualitas rapport yang baik terbentuk, empati juga akan mengiringinya. Kedua hal ini saling tumpang tindih satu sama lain. Kemampuan berempati yang baik dapat membimbing pada pembentukan rapport yang baik, juga sebaliknya. Sebagai seorang yang diberikan kepercayaan untuk mengatasi permasalahan yang tidak bisa ia tangani sendiri, apapun permasalahnnya kita harus dapat menerima klien secara utuh dan tanpa berusaha untuk menghakimi. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut kita harus dapat memusatkan kosentrasi selama klien menceritakan permasalahannya, ataupun ketika kita perlu menyampaikan sesuatu. Fokus yang kita berikan juga menjadi nilai tambah bagi klien, bahwa kita tidak “gampangan” dalam menangani permasalahan mereka.

     Perlu ditekankan kembali disini, bahwa semua poin-poin diatas dapat menjadi efektif dalam kadar yang seimbang dan terkendali. Segala sesuatu yang berlebihan ataupun terlalu kurang tidaklah baik, begitu pula poin-poin dalam pembentukan rapport dan empati. Selain itu, ketika rapport pada satu klien telah berhasil, dan mungkin sangat berhasil, usahakan untuk selalu kritis dalam menghadapi klien kita selanjutnya. Perlu terus disadari adanya keberagaman individu dan variasi dalam proses ini.

Selamat mencoba!

27 September 2012

Building rapport and Empathy simple tips ;) (Rinda Mar)


Selamat malam Saudara sekalian .. Kita berjumpa lagi disini dengan topik yang sedikit berbeda namun masih berhubungan dengan Teknik Wawancara tentunya .. :)

Nahh sesuai dengan judulnya , kali ini saya akan berbagi pengetahuan yang saya dapatkan di kelas teknik wawancara tentang membina rapport dan empati dengan klien .. semoga bermanfaat . let's cekibrot :D

Pertama-tama, apa sih rapport itu ?
Bukan, ini bukanlah raport yang biasa kita terima ketika sekolah dulu. membina rapport disini secara simpelnya adalah membina hubungan baik dengan klien.

Nah hal-hal kecil yang sebenarnya mudah untuk dilakukan namun seringkali kita abaikan dalam membina rapport adalah berikan senyuman hangat kepada klien. Pada awal sesi pertemuan kita harus memberikan senyuman simpel yang hangat kepada klien karena hal ini akan membuat klien merasa nyaman dengan kita, sebagai psikolog.

Yang kedua adalah berikan salam. setelah memberikan salam kita bisa membuka topik dengan menanyakan pertanyaan pembuka seperti menanyakan kabar klien. Hal  ini akan membuat klien sedikit demi sedikit merasa nyaman dengan kita.

kemudian yang ketiga adalah sampaikan secara singkat tujuan dari wawancara yang akan kita lakukan.

Yang selanjutnya kita harus memperhatikan tingkah laku selama proses wawancara berlangsung, seperti posisi duduk yang rileks, tatapan mata kita kepada klien serta ekspresi kita ketika mendengarkan klien.

Kelima, jadilah pendengar yang baik dengan memperhatikan dengan seksama apa yang sedang diceritakan klien, sesekali tataplah mata klien. Jangan lupa untuk men silent semua gadget yang Anda bawa agar tidak ada gangguan selama proses wawancara. Akan lebih baik jika semua gadget Anda dimatikan.

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan, kita harus tepat waktu. Jika pada awal pertemuan saja Anda sudah tidak tepat waktu, bagaimana klien bisa mempercayai Anda sebagai psikolog yang baik? ini berhubungan dengan first impression .

Yang terakhir dan penting adalah kita harus bisa berempati dengan klien. kita harus  mencoba merasakan apa yang klien rasakan supaya kita bisa mengerti apa yang dirasakan klien dan kita akan lebih baik dan tulus dalam membantu klien tentunya.


Sekian postingan dari saya, semoga bermanfaat

26 September 2012

Lanjutan Mengenai "Apa itu Wawancara". (William Kosasie)


Lanjutan Mengenai "Apa itu Wawancara".


     Salam hangat pembaca, dikesempatan ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai wawancara. Pada pembahasan yang sebelumnya, saya telah membahas sedikit mengenai apa itu wawancara. Kali ini, saya akan berbagi sedikit tips untuk menjadi seorang pewawancara yang baik. langsung saja tidak pakai basa basi, tips tersebut yaitu adalah kemampuan untuk menerapkan rapport dan empati, apakah itu? yang pertama rapport. Rapport yang saya maksud disini bukan rapot hasil ujian yang kayak disekolah-sekolah bagikan, rapport dalam pemahaman wawancara adalah membina hubungan yang baik antara pewawancara dan subyek. Berikutnya yang ke-dua adalah empati. Saya yakin pembaca pasti tau apakah itu empati. Empati singkatnya adalah kemampuan untuk mengetahui dan merasakan perasaan orang lain. Nah, dua hal ini merupakan dasar yang sangat penting dan wajib untuk kita pahami tidak hanya dalam aplikasi berwawancara, melainkan pada seluruh aspek kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

     Pertama rapport, penting untuk kita lakukan agar subyek merasa nyaman dan dekat dengan kita sehingga subyek tidak segan untuk berbagi informasi yang kita inginkan. bagaimana sih caranya untuk membina hubungan dengan orang yang baru kita jumpai? terlebih lagi kita akan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi dan mungkin menjadi pengalaman distress bagi seseorang. Singkatnya seperti menerima tamu dirumah, saat bertemu dengan subyek sapalah beliau dengan senyum yang ramah, menunjukan sikap yang koperatif dan bersahabat, persilahkan beliau untuk duduk, dan kemudian memulai dengan perbincangan dan basa-basi ringan seperti sharing pengalaman, kegemaran dan hobi masing-masing, kemudian bisa didalami dengan perbincangan mengenai pekerjaan, pendidikan ataupun pergaulan sosial. setelah klien sudah lebih terbuka, barulah sebaiknya untuk kita memulai bertanya pada hal-hal lebih mendalam. Selama proses rapport, kitapun harus tetap memperhatikan kata-kata yang diucapkan oleh klien, karena itupun merupakan bagian dari informasi.

     berikutnya yang terakhir adalah empati. memiliki perasaan empati berguna agar kita dapat merasakan dan mengerti posisi yang sedang dialami oleh klien, sehingga selama berwawancara, kita dapat mengikuti dan mengalir bersama dengan psikis klien.  Mengembangkan rasa empati dapat dilakukan melalui beberapa cara, misalnya (1) intropeksi dan kenali diri anda sendiri,(2) belajar untuk melihat sesuatu hal dari sudut pandang yang berbeda, (3) hindari sikap egois, dan (4) belajar untuk menerima seseorang dengan apa adanya. demikian, jika pembaca memiliki ke-dua kompetensi tersebut, maka anda telah memiliki modal awal untuk menjadi seorang pewawancara yang baik. Sekian dan terima kasih.

24 September 2012

Tips Membina Rappot dan Empati yang Baik (Olga Patricia Ritung)


    Dalam wawancara, kita sebagai pewawancara harus membangun suasana yang baik agar proses wawancara tersebut berjalan dengan baik dan lancar sehingga kita juga bisa mendapatkan informasi yang kita ingin ketahui. Membangun suasana sama dengan membina rapport. Membina rappot adalah kegiatan yang dilakukan untuk membuat klien merasa nyaman dengan kita saat proses wawancara berlangsung.Terdapat beberapa tips-tips membina rapport dengan baik yang akan saya share buat pembaca.

1. Membangun interaksi yang baik
     Sebelum memulai proses wawancara, terlebih dahulu kita sebagai pewawancara harus memiliki inisiatif sendiri untuk membangun interaksi yang baik, hangat, dan nyaman dengan klien. Interaksi ini dapat diawali dengan senyum kepada klien, berjabat tangan, dan memberikan sambutan atau sapaan yang bersahabat dengan klien, dan juga dapat membangun percakapan kecil tentang keadaan cuaca atau lingkungan di sekitar. Interaksi awal yang baik dapat membuat kesan yang menyenangkan bagi klien. Hal ini menguntukan bagi pewawancara karena memudahkan kita sebagai pewawancara untuk menjalani proses wawancara hingga selesai.

2. Tunjukkan ekspresi yang ramah dan menyenangkan
     Saat membangun interaksi yang baik tersebut, kita juga perlu menunjukkan ekspresi bahwa kita memiliki minat dalam melakukan wawancara. Jangan sampai saat melakukan proses wawancara, kita memperlihatkan raut wajah yang datar atau bosan sehingga membuat klien berpikir "yang wawancara aja mukanya seperti gitu, apa untungnya ikut proses wawancara ini". So, tunjukkan bahwa kita bersedia melakukan wawancara dan siap untuk menjalani prosesnya. Diperlukan juga eye contact selama menjalani proses. Hal ini dapat membuat klien berpikir bahwa kita masih memiliki kepedulian saat mendengarkan ceritanya.

3. Ikuti arah pembicaraan klien
     Saat klien menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menceritakan masalahnya, kita harus fokus mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien. Kita juga harus mengerti masalah dari cerita-cerita yang klien lontarkan. Ikuti ke mana arah pembicaraan klien. Hindari penggunaan alat gadget, seperti handphone, laptop, ipad, dan lain-lainnya yang membuat klien merasa kurang nyaman. Fokus dan pahami maksud klien, tetapi bukan berarti kita menjadi 'sok tahu' jika memang kurang memahami cerita klien.

4. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
     Yang sangat penting dari wawancara adalah komunikasi. Saat kita berkomunikasi dengan klien, yang kita gunakan adalah bahasa. Setiap orang memiliki bahasa masing-masing sesuai pemahaman mereka. Terkadang saat melakukan wawancara kita menemukan klien yang hanya berbicara dalam bahasa inggris atau bahasa indonesia biasa atau mungkin ada yang menggunakan bahasa daerah mereka. Sebaiknya kita sebagai pewawancara mengikuti bahasa yang mereka gunakan supaya mereka merasa nyaman saat berkomunikasi dengan kita.
     Selain itu, kita yang juga adalah seorang psikolog, saat berbicara dengan klien sebaiknya perhatikan tingkat pendidikan klien. Jangan sampai kita berbicara menggunakan bahasa-bahasa psikologi padahal klien adalah orang teknik.

     Setelah dapat membina rapport dengan baik, kita juga sebagai pewawancara harus memiliki empati dalam mendengarkan setiap ungkapan atau kata yang dikeluarkan oleh klien. Dengan berempati, kita dapat mengerti dan memahami setiap masalah yang dihadapi oleh klien tersebut sehingga dapat memudahkan kita untuk membantu mereka dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam berempati, kita perlu merasakan ada yang dirasakan oleh klien saat bercerita. Merasakan apa yang dirasakan klien di sini maksudnya bukan berarti kita juga harus mengalami apa yang klien alami. Hayati setiap pengalaman dan perasaan yang klien ungkapkan. Coba terima dan pahami setiap cerita klien. Tetapi JANGAN buat penilaian atau judgement dari setiap cerita yang diungkapkan oleh klien. Fokuskan diri kita setiap saat pada klien adalah kunci di mana kita bisa berempati terhadap klien.

23 September 2012

Its all about being a nice person....(Herlina Widya)


Sekarang saya akan membahas bagaimana cara membangun rapport yang baik dengan subjek atau klien kita yang akan kita ajak wawancara, mungkin hanya akan dijabarkan beberapa tips sederhana yang practical untuk bagian ini, karena saya sendiri juga masih amatir. So, kalo kata orang Kaskus sih CMIIW alias (Correct me if I’m wrong)..

Jadi yang paling pertama terlintas di otak saya ketika Bu Henny mengatakan soal pembinaan rapport adalah bagaimana mengatur nada bicara, kata-kata yang keluar dari mulut, dan mood kita sendiri. Saya rasa, ini adalah tentang menjadi seseorang yang menyenangkan di mata subjek. Menurut pengalaman saya sendiri, berbicara dengan orang yang menyenangkan akan lebih mudah membuat kita “membuka” cerita-cerita tentang diri kita, dan itu juga yang akan memudahkan jalan kita sebagai seorang psikolog untuk mewawancari klien.

Di samping itu, mungkin kita harus sedikit banyak membaca riwayat hidup si klien ini, dan menyelidiki apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukai klien, karena berbicara tentang hobi yang sama adalah salah satu kata kunci untuk membangun sebuah hubungan komunikasi yang baik. Sangat aneh jika kita berbicara tentang hal yang tidak di sukai si klien, apalagi kalau hal tersebut diulang terus menerus, maka sedikit banyak akan mempengaruhi cara klien melihat dan akan menahan informasi yang harusnya kita dapatkan.

 Empati juga menjadi hal yang penting dalam membina sesuatu yang disebut rapport, tanpa empati tentu kita tidak dapat merasakan apa yang klien rasakan dan cenderung ber ekspresi flat, lurus- lurus saja seolah tidak memiliki perasaan, tetapi tidak baik juga jika terlalu larut dalam kesedihan si klien sehingga ketika klien bercerita, kita juga ikut menangis saking berempati nya. Kita harus ikut merasakan, harus mengerti dan paham posisi dan permasalahan yang dialami klien, tetapi kita juga harus tetap berdiri sebagai seorang psikolog yang akan menyembuhkan.

Cara membangkitkan empati yang paling saya mengerti adalah membayangkan bagaimana rasanya menjadi si klien, membayangkan jika mengalami masalah yang dia alami, apa yang akan kita lakukan, cara seperti apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut? Hal-hal tersebut akan membuat kita merasa ingin membantu menyelesaikan masalahnya dengan terapi-terapi yang kita berikan. Berhubung saya suka membaca cerita hidup seseorang, lagi-lagi saya menyarankan untuk membaca riwayat hidup si klien, mengapa masalah tersebut terjadi, apa sebabnya, apa akibatnya, sehingga kita dapat lebih memahami masalah si klien bukan hanya dari satu sudut pandang saja..

Well this is all I can share, ilmu saya masih belum terlalu banyak, mungkin nanti jika ada informasi atau ilmu yang dapat saya bagikan di blog ini, saya tidak akan pelit-pelit untuk menulis. Thanks for visiting my blog, xoxo.

22 September 2012

First step to be a good interviewer (Meilinda Taslim)


     Apa yang mau saya sampaikan di posting kali ini berkaitan erat dengan dua posting sebelumnya, yaitu kemampuan wawancara yang baik. Saya akan membahas dua hal yang sangat penting dan dapat dikatakan landasan dasar yang diperlukan bagi interviewer agar proses wawancara dapat berjalan dengan lancar.

     Pertama, membina rapport. Membina rapport sederhananya diartikan sebagai membina keakraban. Hal ini dilakukan guna membuat klien merasa nyaman berbicara dengan kita sehingga Ia dapat jujur serta terbuka dalam menyampaikan informasi. Kedua, berempati. Hal ini memang tidak mudah karena melibatkan perasaan kita. Empati jauh lebih dalam daripada simpati. Kedua hal ini wajib dimiliki interviewer, khususnya psikolog atau konselor. Berikut ini beberapa tips yang dapat digunakan untuk membina rapport dan berempati.

Menepati janji yang telah dibuat bersama klien.

Buatlah janji bertemu dengan klien dan tepatilah janji Anda. Datanglah tepat waktu dan jangan biarkan klien menunggu Anda. Jika Anda melakukan hal ini berarti Anda menghargai klien dengan waktu yang telah diluangkannya untuk Anda. Hal ini sederhana, namun terlalu sering terlupakan. Terlambat bahkan telah dicap sebagai budaya, masyarakat telah mentoleransi hal ini. Sungguh mengecewakan. Sebagai seorang yang ingin dikatakan profesional, seharusnya kita dapat memperhatikan hal ini dengan saksama.

Bicarakan hal-hal yang diminati klien.

Sebagai permulaan, anda sebaiknya menanyakan hal-hal umum terlebih dahulu. Anda dapat menanyakan kabar, pekerjaan, ataupun hobi mereka. Setelah itu, Anda juga dapat membicarakan topik ringan dan yang disukai klien sebelum Anda benar-benar masuk ke dalam wawancara. Jika Anda mengetahui klien berasal dari daerah tertentu, Anda juga dapat menyinggung hal yang berkaitan dengan daerah asalnya; bahkan jika Anda dapat berbicara bahasa daerah asalnya, lakukanlah karena hal itu akan membuat klien senang. Ini adalah salah satu trik yang dapat membuat klien merasa cocok dan nyaman dengan Anda. Persamaan membuat klien merasa dekat, apalagi berkaitan dengan budaya. Anda juga dapat mengobrol mengenai hobi klien, apabila Anda memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hobi tersebut, klien pun akan merasa cocok dengan Anda.

Jelaskan tujuan wawancara.

Hal ini sangat penting. Anda harus jelaskan maksud kedatangan Anda, tujuan wawancara, dan ingin digunakan untuk apa, di mana, serta oleh siapa. Beritahukan klien bahwa data yang didapat dijaga kerahasiaannya. Anda harus menjaga baik-baik privasi klien. Anda harus menaati kode etik dengan benar.

Fokus pada apa yang disampaikan oleh klien.

Siapkan diri Anda baik-baik. Ponsel dapat dimatikan agar tidak mengganggu proses wawancara. Jangan biarkan diri Anda memikirkan hal lain selain yang berkaitan dengan wawancara. Hormati orang yang berada di depan anda, pusatkan perhatian anda padanya.

Menjadi pendengar yang baik.

Sebagai pewawancara, tentunya Anda harus lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, sebab informasi atau data yang diperlukan berasal dari klien atau lawan bicara Anda. Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut tentu ada tujuannya, yaitu lebih banyak mendengarkan. Berikan kesempatan bagi klien untuk menyampaikan informasi yang Anda butuhkan. Anda boleh saja berkomentar, namun seperlunya saja.

Body language dibutuhkan.

Yang mau saya tekankan di sini adalah eye contact. Menurut saya pribadi, kontak mata memberikan energi tersendiri dan dengan adanya kontak mata inilah lawan bicara atau klien Anda dapat merasa bahwa Anda benar-benar memperhatikan apa yang mereka katakan. Gerakan tubuh lainnya juga diperlukan ketika mendengarkan klien. Gerakan mengangguk ketika setuju, misalnya. Posisi tubuh juga perlu diperhatikan. Jaga posisi tetap santai dan mengarah kepada klien. Menopang dagu atau posisi tubuh terlalu menyender dengan kursi kurang dianjurkan.

Pandai menempatkan diri.

Hal ini berkaitan erat dengan empati. Saat mendengarkan kisah klien, posisikan diri anda seolah-olah anda juga mengalami hal tersebut. Jika Anda melainkan hal ini, Anda Akan mengerti mengapa klien bertingkah laku demikian sehingga Anda tidak menilai klien buruk dan mengadilinya. Dengarkan klien tanpa judgement. Ketika klien memiliki nilai yang berbeda dengan Anda, posisikan diri Anda sebagai pendengar. Hargai apa yang dianutnya tanpa berusaha untuk mengadilinya. Anda tidak perlu menyetujui pernyataan klien, namun Anda wajib menghargainya.

     Demikian sedikit tips dari saya mengenai membina rapport dan empati. Semoga bermanfaat bagi pembaca semua. Selamat mencoba dan good luck for us!

16 September 2012

Tips Membina Rapport dan Empati yang baik (Jennifer Jesslyn)


Saat kita melakukan wawancara, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu membina hubungan yang baik dengan klien atau narasumber yang akan kita wawancara (membina rapport). Tujuannya membina rapport ini, agar pada saat wawancara berlangsung kita dapat lebih menikmati wawancara tersebut karena sudah terjalin hubungan yang baik dengan klien atau narasumber. Selain itu juga, kita harus memiliki rasa empati yang besar kepada klien atau narasumber kita. Berikut ini adalah tips-tips untuk membina rapport dan rasa empati yang baik dengan klien:
• Ramah
Usahakan pada saat pertama berjumpa kita awali dengan memberikan senyuman kepada klien, berjabat tangan, mengucapkan selamat pagi/siang, mengucapkan apa kabar dan mempersilahkan klien untuk masuk atau duduk. Dan saat selesai melakukan wawancara, jangan lupa untuk mengucapkan terimakasih.
• Perhatikan ekspresi wajah
Jaga ekspresi wajah saat wawancara berlangsung. Jika gembira, usahakan tidak menampilkan ekspresi yang berlebihan. Jika kaget, usahakan tdk menunjukan dengan ekspresi yang tidak enak, seperti mengangakan mulut. Usahakan ekspresi wajah netral saat kaget tersebut.
• Perhatikan posisi duduk
Posisi duduk saat wawancara harus secara nyaman, agar saat wawancara berlangsung tidak membuat banyak gerakan untu mencari posisi yang enak, karena akan mengganggu klien. Kemudian posisi duduk juga harus terlihat sopan. Tidak bisa sambil angkat kaki atau sambil memasang posisi santai.
• Bahasa tubuh
Bahasa tubuh yang baik, haruslah yang tidak menyinggung klien, seperti tidak menunjuk saat berbicara.
• Tata bahasa
Bahasa yang digunakan harus bahasa indonesia yang baik dan benar. Tidak menggunakan bahasa yang terlalu sulit dimengrti seperti penggunaan istilah-istilah psikologi, karean tidak semua klien mengerti dan tidak semua klien datang dari latar pendidikan yang tinggi.
• Mengikuti alur klien
Jika klien bercerita tidak berurutan, tidak usah dipotong, karena itu bisa membuat klien tersinggung. Tapi ikuti sampai dimana klien bercerita. Jika telah selesai baru kita membuat kesimpulan yang berurutan dari hasil wawancara tersebut.

20 September 2012

Jumat, 21 September 2012

Tips Praktis untuk Membina Rapport dan Empati (Theresia Syanli)


  Apa yang ada dibenak kita saat mendengar kata "RAPPORT" ? Kebanyakan orang langsung teringat masa sekolah dahulu, yaitu Buku Raport. Yang dimaksud RAPPORT disini bukanlah Buku Raport sewaktu kita sekolah, tetapi RAPPORT disini yaitu membangun sebuah hubungan dan memulai komunikasi dengan efektif. Dengan membangun RAPPORT yang baik akan tercipta suatu kepercayaan dan pengertian. Berikut tips praktis untuk membina rapport serta empati :)

1. Rapport harus diciptakan dan dibangun secara berangsur-angsur.
2. Rapport penting untuk membangun dan membangkitkan empati terhadap narasumber dan selama proses wawancara buatlah agar narasumber percaya dan mau menceritakan mengenai dirinya secara keseluruhan.
3. Terlebih dahulu sebelum memulai sesi wawancara, sebaiknya matikan telepon genggam dan usahakan tidak menggangu berjalannya proses wawancara agar wawancara itu sendiri tetap terfokus dan berjalan dengan lancar.
4. Ketika wawancara juga sebaiknya jangan bersikap seperti sedang melakukan intergosasi dan jangan mengintimidasi klien dengan bersikap seenaknya.
5. Pertama-tama sebagai seorang interviewer harus mampu untuk menciptakan hubungan yang aman dan nyaman serta lingkungan sekitar lokasi wawancara harus aman dan nyaman. Lingkungan harus membuat narasumber merasa leluasa untuk membuka mengenai dirinya.
 6. Persilahkan narasumber untuk duduk dan perhatikan bahwa kursi interviewer dan narasumber sejajar agar tidak menimbulkan kesenjangan. Usahakan agar tidak memasang raut wajah yang datar, menjudge, serta menjaga sikap ketika narasumber menceritakan tentang dirinya yang mungkin bukan merupakan suatu hal yang wajar, seperti misalnya ketika narasumber menceritakan bahwa dirinya pernah melakukan aborsi, usahakan untuk bersikap biasa dan jangan menilai narasumber secara sembarangan, karena hal itu dilakukan tentu dengan penyebab dan ada alasannya.
7. Perhatikan juga agar tidak sembarangan mengucapkan suatu lelucon tertentu yang mungkin dapat melukai hatinya, jangan sembarangan berbicara tanpa memerhatikan kondisi dan situasi narasumber.
8. Usahakan untuk peduli dan tertarik supaya narasumber merasa nyaman dengan sesi wawancara, akan tetapi lebih baik jika bersikap netral terhadap topik tertentu agar narasumber tidak fokus hanya terhadap topik tertentu sehingga sulit untuk menganti topik pembicaraan yang lainnya.  Juga sebagai interviewer jangan bersikap ‘sok tahu’ lebih baik mengatakan, “I’ve never been in that position, so I just can only imagine how you felt.” supaya narasumber tidak merasa terintimidasi dan mengerti bahwa kita memahami perasaan atau situasinya.
 9. Sebagai interviewer, kita harus memerhatikan bahasa yang dipergunakan oleh narasumber dan usahakan untuk mengikuti gaya berbahasa yang digunakan narasumber, mengatur cara berbicara. Perhatikan tingkat pendidikan narasumber. Juga jangan terlalu banyak menggunakan istilah Psikologi, akan sangat tidak nyaman jika narasumber merasa diremehkan karena interviewer berbicara mengenai istilah Psikologi dan ia tidak memahaminya.
10. Sebagai interviewer harus mampu merefleksi diri mengenai masalah ataupun perilaku yang dirasakan oleh narasumber. Akurasikan persepsi dengan afeksi narasumber. Memiliki pemahaman tentang ‘mengapa’ hal tertentu dapat terjadi kepada narasumber. Mampu menerima, mengerti, mengkonfirmasi “dunia”-nya. Tanpa memiliki judge tertentu tentang diri narasumber tersebut.
11. Interviewer harus mampu untuk membiarkan narasumber bercerita dan harus membatasi agar interviewer nya tidak terlalu banyak bicara ataupun memotong pembicaraan, misalnya terlalu  banyak mengomentari ketika narasumber berbicara. Komentar untuk memperjelas dipersilahkan namun jangan menghina narasumber. Terkadang interviewer dan narasumber memerlukan jeda untuk berpikir dan ketika jeda tersebut terjadi, usahakan untuk tetap menunjukkan sikap empati secara non verbal, misalnya melakukan kontak mata.
12. Tatap mata dengan klien itu diperlukan dan jangan mengalihkan pandangan ketika wawancara (visual). Atur serta perhatikan nada dan kecepatan bicara (tone & speech rate) untuk mengindikasikan seberapa besar ketertarikan dan empati terhadap cerita klien.
 14. Perhatikan tujuan pembicaraan yang ditetapkan sejak awal. Agar fokus pada tujuan awal. Pernyataan yang harus diberi perhatian khusus harus diingat dan usahakan untuk mengabaikan pernyataan yang tidak begitu penting (verbal tracking). Mengenai body language saat wawancara usahakan untuk attentive dan aunthentic serta gunakan bahasa tubuh yang jujur.




Empati dan Rapport itu PENTING !

16 September 2012

Cara Membina Rapport Yang Baik (Anthonia Christy)


Situasi berkomunikasi sesungguhnya mirip dengan situasi penjualan. Konon sekitar 83% keberhasilan seseorang dalam menjual ditentukan rasa suka pembeli terhadap penjual, bukan barang yang dijualnya. Kata kunci dari menyukai adalah adanya rasa kesamaan di antara keduanya. Seseorang menyukai orang lain jika ada sesuatu yang sama antara dirinya dengan diri orang lain tersebut.
Ketika kita berkenalan dengan seseorang yang baru kita temui, maka pembicaraan tanpa disadari akan mencari kesamaan di antara Anda berdua. Misalnya, dengan menanyakan asal usul daerah, asal sekolah, atau hal yang lainnya. Jika ternyata kita memiliki kesamaan, rasanya tiba-tiba dekat dengan kawan baru itu. Kesamaan membuat orang saling menyukai, jika lawan bicara kita sudah timbul rasa sukanya, maka akan mempercepat munculnya proses percaya.
Kepercayaan kepada kita akan membuat mereka merasa Anda berada di pihaknya. Ada logika umun begini: Orang akan membeli kepercayaan terlebih dahulu, baru membeli ide kita. Jika  sudah ada kepercayaan, orang akan lebih mudah menerima saran-saran, menyediakan lebih banyak waktu dan akan lebih terbuka, bahkan pada hal-hal yang tergolong sensitif.
Jadi, pada dasanya rapport building adalah membangun kesamaan diri kita dengan orang lain, yang menjadi sumber rasa menyukai, yang kemudian menjadi dasar tebangunnya  kepercayaan.
cara membangun kode kesamaan agar kita disukai orang lain dalam berkomunikasi, yaitu :
1. membangun kode kesamaan fisiologis/postur tubuh
2. membangun kode kesamaan dalam berkata-kata
Dua hal ini yang akan memunculkan suatu kepercayaan jika dibangun dengan sungguh-sungguh, yang kemudian akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang mulus dan harmonis.
Pengalaman lain dalam berkomunikasi adalah bercermin dengan lawan bicara kita, tanpa kita sadari. Pada saat berbicara dengan kawan akrab dan terjadi kecocokan,  dimana makin lama posisi tubuh keduanya semakin mirip satu sama lain seperti layaknya orang bercermin. Bahkan jika anda perhatikan lebih jauh, sepertinya saling menirukan tanpa disadari. Proses pencerminan ini terjadi dalam level alam bawah sadar.
Dari contoh di atas, maka dengan sengaja kita dapat melakukan pencerminan (mirroring) untuk mendapatkan rapport pada orang lain secara mendalam dan cepat. Menariknya, yang dapat kita cermin bukan hanya postur tubuh (gesture), namun kita juga bisa bercermin pola nafas (kecepatan, posisi tekanan), gerak mata, rona wajah, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara, dll. Kurangi atau tambah kecepatan bicara Anda sesuai dengan kecepatan lawan bicara. Demikian juga dengan tinggi rendah nada suara. Mereka akan merasa sangat nyaman, karena merasa sama dengan kita.
Mirrorring berbeda dengan “mimicking”, mirrorring harus dilakukan dengan tidak kentara, sehingga alam sadar lawan bicara tidak mengenalnya namun dapat dikenali oleh alam bawah sadar. Untuk meningkatkan ketidakkentaraan, Anda dapat melakukan cross mirrorring, yakni melakukannya dengan sedikit berbeda namun esensinya mirip. Semisal lawan bicara menggerakkan tangan kiri, maka Anda dapat menggerakkan tangan kanan. Semisal ia menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, maka Anda dapat melakukan dengan menyilangkan kaki kanan di depan kaki kiri tanpa menumpangkannya. Anda juga bisa melakukan yang disebut matching, yakni jika lawan bicara menyilangkan tangan maka kita menyilangkan kaki. Matching adalah melakukan pencerminan dengan bagian anggota tubuh yang berbeda.
Harus dicatat, mirrorring memiliki esensi ‘respek’, yakni ingin memahami alam pikiran orang lain karena kita merespeknya dengan cara menyamakan posisi tubuhnya. Sedangkan mimicking adalah meniru-niru gerakan orang lain tanpa respek.
Kode kesamaan yang kedua adalah menyamakan kata-kata (verbal mirrorring). Menyamakan kata-kata dalam tidaklah sekedar menyamakan kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Yang disamakan adalah sesuatu yang disebut predikat, yang menunjukkan preferensi pikiran lawan bicara dalam mengolah informasi.

20 September 2012

Cara menumbuhkan empati (Anthonia Christy)


Kita membutuhkan dua kaca sekaligus, yaitu kaca cermin dan kaca jendela. "Kaca Cermin" menggambarkan sikap egosentris, melihat persoalan hanya dari sudut pandang diri sendiri. Sedangkan "Kaca Jendela" merupakan cara mengetahui dan melihat kepentingan orang lain, di samping diri sendiri. Kita harus mengangkat sebagian kaca cermin dan menggantinya dengan kaca jendela. Melalui kaca jendela, seseorang tidak lagi melihat dirinya sendiri, tetapi mereka juga melihat orang lain di sekitarnya dengan berbagai kebutuhannya. Mengubah kaca cermin dengan kaca jendela adalah langkah penting agar perhatian seseorang tidak hanya tertuju ke dalam (self centered), melainkan tertuju ke luar kepada orang lain sehingga ia mudah merasa iba kepada orang lain (extra centered sensitivity).Empati sering juga disebut dengan kepedulian. Yakni kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain, kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Untuk dapat bersikap peka dan peduli dibutuhkan tingkat kematangan kepribadian tertentu. Para pakar ilmu komunikasi dan pendidikan menilai bahwa kepedulian atau empati merupakan kata kunci dalam tahap akhir kecerdasan emosional. Sebabnya antara lain, karena untuk berempati kita harus mampu mengobservasi dan melibatkan banyak panca indera.
Ada beberapa langkah praktis agar kita bisa belajar menanamkan rasa empati dan peduli:
Pertama, kenali perasaan sendiri.
Prosesnya adalah dengan meraba dan menghayati berbagai perasaan yang berkembang dalam diri seperti sedih, gembira, kecewa, bangga, terharu dan sebagainya. Mengenali perasaan sendiri merupakan bagian dari tuntutan kecerdasan emosi. Orang yang mengenali perasaan diri, biasanya mampu mengendalikan emosinya, sehingga ia tidak melakukan tindakan gegabah saat mendapati kenyataan di luar dirinya yang berbeda dengan keinginannya.
Kedua, sediakan waktu menyendiri untuk berpikir apa yang telah terjadi.
Ini sebenarnya termasuk proses pengenalan dan pengendalian emosi. Karena biasanya orang sulit mempunyai gambaran jernih terhadap suatu persoalan dalam kondisi emosi yang bermacam-macam. Pasangan suami isteri umumnya merasa lebih empati satu sama lain ketika mereka sendirian dan memikirkan pasangan mereka. Rasa bersalah biasanya muncul saat mengemudikan mobil seorang diri ke tempat kerja, di masjid saat tafakkur, menjelang tidur, saat shalat malam dan sebagainya. Dalam waktu-waktu tersebut, seseorang mempunyai waktu untuk memikirkan kembali berbagai masalah yang ia alami. Selanjutnya, memulai yang lebih baik dengan memperbaiki terlebih dulu dirinya, sebelum menuntut orang lain berlaku baik kepadanya.
Ketiga, cobalah memandang masalah dari sudut pandang orang lain.
Empati adalah ketika kita dapat merasakan, apa yang orang lain rasakan dan juga dapat melihat masalah dari sudut pandang mereka. Masukilah dunia mereka dan cobalah memandang masalah dari sisi tersebut. Dengan demikian, pihak lain tidak saja hanya merasa dimengerti tapi ia merasa lebih disukai.
Keempat, jadilah pendengar yang baik.
Kita lebih mudah merasa empati, memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri dalam keadaan orang lain, kalau kita dapat mendengar apa yang dialami orang tersebut. Tidak hanya kemampuan mendengarkan secara seksama, tapi juga membaca isyarat-isyarat non verbal. Sebab, seringkali bahasa tubuh dan tekanan suara lebih efektif menggambarkan perasaan ketimbang kata-kata. Orang tua misalnya, harus mampu meningkatkan kemampuan "mendengarkan" suara hati anak-anaknya. Anak-anak pun harus belajar "mendengarkan" lingkungannya, agar ia bisa terampil dalam kehidupan sosial. Anjuran mendengarkan berarti mengajak kita membuka pintu komunikasi dengan berbagai obyek. Informasi yang diterima dari banyaknya komunikasi itulah yang akan menjadikan kita bisa memahami dan mengerti.
Kelima, biasakan menghayati fenomena berbagai hal yang kita jumpai.
Misalnya, saat kita melihat seorang tunanetra di tengah keramaian, nyatakan dalam hati betapa sulitnya orang itu memenuhi kebutuhannya. Langkah ini biasanya berlanjut dengan kesanggupan menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Ketika mendapati anak-anak yang mengamen di jalanan hingga larut malam, misalnya. Katakanlah pada diri sendiri, bagaimana jika mereka itu adalah anak-anak kita. Jika menyaksikan himpitan rumah gubuk di pinggiran rel kereta, bayangkanlah bila keadaan itu dialami oleh keluarga kita. Dan seterusnya.
 Keenam, berlatih mengatur dan mengatasi gejolak emosi dalam menghadapi reaksi positif maupun negatif. Di sekitar kita, banyak peristiwa yang bisa menyulut gejolak emosi. Di rumah, seorang suami bisa saja menemui segala macam hal yang berantakan. Seorang istri mendapati suaminya tak banyak memberi nafkah. Di jalanan seorang sopir bisa menemui banyak peristiwa yang memanaskan. Dalam segala kondisi, berupaya mengendalikan emosi merupakan perjuangan berat, tapi itu perlu.
Ketujuh, latihan berkorban untuk kepentingan orang lain.
Sebuah studi di Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara besarnya tanggung jawab seorang anak, dengan kecenderungan bersedia mementingkan orang lain. Empati sangat berhubungan dengan kesediaan berbuat baik (altruisme). Empati yang tinggi memperbesar kesediaan untuk menolong, untuk berbagi dan berkorban demi kesejahteraan orang lain. Kesanggupan untuk berempati sendiri adalah kesanggupan yang ada pada tiap orang.

20 September 2012

Tips Membina Rapport dan Empati yang Baik kepada Klien (Firsty Yukaputri)


Bagaimana yaa cara membina rapport yang baik antara interviewer (bidang psikologi) dengan kliennya?

Dari kuliah Teknik Wawancara yang saya ikuti pada tanggal 13 September 2012 yang lalu, saya mendapatkan insight yang kemudian saya tuliskan melaui blog kedua saya ini. Pada saat itu, saya merasa sangat perlu mengembangkan hal-hal yang akan saya tuliskan di bawah ini mengenai hal-hal apa saja yang seharusnya dimiliki oleh seorang interviewer (psikolog khususnya) untuk membina rapport yang baik kepada kliennya. Beberapa yang saya tuliskan ini tentunya merujuk pada pendapat saya. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah

1. Penataan ruangan

Menurut saya, hal yang paling pertama harus diperhatikan untuk membuat kenyamanan pada klien oleh seorang interviewer agar mendapatkan kesan nyaman saat melakukan bangun rapport adalah bagaimana cara penataan ruangan yang disesuaikan dengan akan digunakan untuk konseling seperti apa ruangan tersebut. Contohnya, jika seorang psikolog anak tentunya ruangan yang digunakan untuk konseling setidaknya menggunakan barang-barang yang mencerminkan seorang anak, tidak perlu ruangan menjadi seperti kamar anak karena akan terkesan berlebihan, tetapi ruangan tersebut harus memberi kesan kenyamanan bagi anak tersebut. Contoh lain adalah ruangan yang digunakan untuk konseling keluarga, ruangan tersebut juga seharusnya menggunakan aksen-aksen yang berhubungan dengan keluarga, misalnya lukisan mengenai keluarga yang harmonis. Dengan demikian penataan ruangan ini juga dimaksudkan dapat menimbulkan insight dari klien sendiri agar menjadi nyaman ketika melakukan bina rapport dengan psikolognya.

2. Pembawaan diri interviewer ketika menyambut klien yang datang



Sikap atau pembawaan kita sebagai seorang psikolog harus memberikan kesan “KEPERCAYAAN” pada diri klien saat first impression. Bagaimana cara kita membuka pintu saat ia mulai datang kemudian kata pertama yang kita ucapkan sambil menjabat tangan. Kita juga harus memperhatikan bahwa ada beberapa klien yang mungkin merasa kurang nyaman saat berjabat tangan dengan kita. Oleh karena itu, kita juga harus memperhatikan bagaimana raut wajah klien ketika kita melakukan penyambutan kepada dirinya di hari pertama proses konseling maupun terapi. Tentunya sikap ini juga harus dipertimbangkan bahkan dilatih terlebih dahulu di depan cermin agar tidak terkesan berlebihan yang membuat ketidaknyamanan dari diri klien. karena hal yang ditakutkan adalah bukannya membuat klien nyaman atau merasa percaya tetapi malah membuat kesan berlebihan dalam diri psikolognya.

3. Kemampuan komunikasi yang baik

Tentunya, untuk menjadi seorang interviewer, khususnya psikolog kemampuan manggunakaan bahasa yang baik adalah sebuah kewajiban. Apa jadinya jika seorang psikolog menggunakan bahasa yang (katakanlah) mengganggu atau tidak layak kepada kliennya? Mungkin beberapa kasus, contohnya pada kasus anak muda psikolog perlu menggunakan bahasa-bahasa pergaulan mereka. Tetapi, menurut saya hal tersebut dapat dilakukan ketika klien sudah mulai merasa nyaman dengan psikolognya. Perlu diketahui, bahwa bahasa atau komunikasi yang baik bukan berarti bahsa yang digunakan juga kaku, tetapi gunakanlah bahasa dengankstruktur subjek + predikat + objek agar kalimat yang disampaikan mudah dimengerti. Dengan demikian percakapan antara psikolog dengan kliennya akan menjadi efektif dan meminimlisir miss understanding kedepannya.

4. Jadilah pendengar yang baik



Menjadi seorang pendengar yang baik juga merupakan kewajiban bagi seorang psikolog, apalagi dalam bina rapport. Karena biasanya hari pertemuan pertama adalah hari yang cukup berat bagi klien dan psikolognya. Berat bagi klien karena ia harus menceritakan permasalahannya apalagi masalah yang menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi klien. Sedangkan berat bagi seorang psilkolog adalah karena psikolog tersebut harus mendengarkan seluruh masalah yang diceritakan kliennya dan tidak boleh terganggu pendengarannya dengan hal-hal lain diluar hal yang sedang diutarakan kliennya. Yang terpenting adalah jangan asik sendiri terhadap sesuatu hal yang malah akan merusak kesan pertama klien terhadap psikolognya ketika psikolognya tersebut membina rapport dengannya.

5. Sikap selama proses pembinaan rapport

Last but not least adalah sikap kita selama proses bina rapport berlangsung. Jika di poin kedua yang ditekankan adalah sikap saat first impression, sedangkan di poin terakhir ini yang ditekankan adalah sikap selama proses bina rapport berlangsung. Contohnya bila klien bersikap defence atau menarik diri dari psikolognya, maka psikolognya tersebut harus bersikap sabar pada kliennya ini. Percayalah bahwa klien juga memerlukan adaptasi terhadap suatu hal yang “baru” dilakukannya. oleh karena itu, psikolog tersebut tidak boleh berputus asa untuk juga menjadi cuek terhadap kliennya tersebut. Jika kesabaran tersebut belum juga mendapatkan hasil, maka tidak ada salahnya juga bagi psikolognya untuk menggunakan cara lain yang sekiranya dapat mencairkan suasana bina rapport antara dirinya dengan kliennya tersebut.

Kemudian bagaimana membangun empati pada klien?

Ketika membaca catatan kuliah mengenai empati, kemudian munculah insight saya untuk mengartikan terlebih dahulu arti empati menurut saya. Menurut saya empati adalah bentuk integrasi psikologis dari observasi dan pemaham kita terhadap permasalahan yang sedang dirasakan oleh orang lain untuk menghasilkan perasaan yang sama ke dalam pikiran dan perasaan kita. Dari pengertian tersebut kemudian munculah pertanyaan mengenai apa saja yang dibutuhkan untuk memunculkan sikap empati ketika sedang dalam proses bina rapport atau konseling? Menurut saya, jawabannya adalah kunci dari sikap empati yang kemudian muncul didasari oleh bagaimana cara bina rapport yang baik kepada klien. Dengan mengintegrasikan seluruh poin-poin yang sudah saya tuliskan di atas, mengenai tips untuk membina rappot yang baik dengan klien, saya rasa akan memunculkan sikap atau perasaan empati dari seorang psikolognya. Karena tidak perlu sesuatu yang berlebihan untuk memunculkan rasa empati, karena jika seorang psikolog memiliki rasa ikhlas untuk membantu kliennya mengatasi masalah kliennya tersebut rasa empati tersebut akan muncul dengan sendirinya dan tidak berlebihan.

Sekian blog yang saya tuliskan mengenai pendapat saya tentang tips untuk membina rapport dan memunculkan rasa empati bagi seorang interviewer (bidang psikologi khususnya) kepada klien. Selamat membaca  .

20 September 2012

tips membina rapport dan empati yang baik (Martin Leo)


Halo semuanya ini blog saya yang kedua tentang teknik wawancara.Kali ini saya akan membahas tentang rapport, bentuk hugungan yang kita bangun dengan interviewee akan sangat menentukan kapasitas informasi yang bisa kita dapatkan.Sehinnga saya akan membagikan beberapa tips jitu untuk membina rapport yang baik dengan interviewee dalam proses wawancara.

Berikut beberapa tips tersebut :

Tepat waktu
Taktik pertama mungkin tampak jelas tapi sangat penting ... tepat waktu. Jika Anda terlambat untuk wawancara Anda telah menghancurkan pondasi bagi hubungan. Berada di sana 15 menit sebelum proses interview.


Kontak mataLihatlah pewawancara mata. Kontak mata membentuk koneksi dan kepercayaan. Saya tidak menyarankan tatapan jenis menguntit tetapi melihat orang itu di mata selama 2-8 detik, kemudian berpaling dan kemudian kembali lagi.

TersenyumPastikan untuk tersenyum. Senyum yang menular dan akan menetapkan nada keramahan dan koneksi.


Jadilah diri sendiriJadilah diri Anda menjadi rileks. Ini mungkin menjadi tantangan dalam situasi wawancara namun perlu diingat wawancara adalah dua manusia bertemu satu sama lain. Perlakukan wawancara sebagai kesempatan untuk bertemu seseorang dan mengenal mereka. Ini menggeser konteks dan membantu untuk mengembangkan hubungan baik. Anda akan terlihat lebih autentik, jujur, dan bersinar.

Observasi
Lihatlah pewawancara dan dan lingkungan, amatilah keadaan sekitar anda. Apa yang Anda pelajari tentang mereka dari apa yang Anda amati. Dengan memperhatikan pewawancara Anda menyetel ke dunia mereka dan menjadi lebih terbuka dan sensitif terhadap mereka sebagai pribadi. Ini akan dikomunikasikan dalam sikap Anda baik secara verbal maupun komunikasi non-verbal.

Ajukan pertanyaan, dengarkan, dan komunikasikan pemahaman
 Ketika Anda mengajukan pertanyaan, posisikan diri anda benar-benar mendengarkan dan memahami. Hal ini membantu untuk memastikan Anda memahami dan membiarkan pewawancara tahu bahwa Anda sedang masuk ke dunia mereka. Menjadi pendengar yang baik akan membuat anda terlihat menarik dan membantu memupuk hubungan baik. Dengarkan dengan hati-hati terutama untuk tujuan pewawancara dan kekhawatiran, harapan dan kebutuhan akan informasi.

Buat diri anda serileks mungkin

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa emosi sangat menular. Masuklah ke sebuah wawancara dengan rasa percaya diri yang rendah atau dengan perasaan gelisah maka interviewee atau subyek akan merasakannya. Kegelisahan  dan kepercayaan diri yang rendah menghambat hubungan. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kecemasan adalah untuk dipersiapkan dengan baik

Jadilah seorang pribadi yang penasaran

Ini adalah elemen yang paling penting dalam membangun hubungan baik. Jadilah benar-benar penasaran dengan pewawancara sebagai pribadi. Saya tidak menyarankan Anda bertanya tentang masalah pribadi, wawancara harus profesional dan terfokus. Cari tahu bagaimana interviewee atau subyek bisa sampai pada posisi mereka, apa yang mereka sukai tentang pekerjaan mereka, hidup mereka, dan hal lainnya. Hal ini penting untuk menjadi benar-benar penasaran. Jika Anda mengajukan pertanyaan dengan terlalu kaku tanpa menunjukkan perasaan ingin tahu anda, maka subyek atau interviewee akan menjawab anda sebatasnya saja. Tetapi pada poin ini saya tidak menganjurkan anda untuk terlihat penasaran dengan ekstrim samapai menganggu dan membuat risih subyek. Saya sarankan tunjukkan penasaran anda dengan elegan, percaya diri dan menarik.

Demikian kira-kira beberapa tips saya kali ini, semoga sangat berguna untuk kalian yang ingin menggunakan teknik wawancara. Terima kasih yah atas perhatiannnya, see you in the next blog :)

20 September 2012

Cara Membina Rapport Yang Baik dan Mengembangkan Empati (Rian Kurnia)



Kembali kita membahas topik tentang wawancara. kali ini saya akan memberikan tips bagaimana cara membina rapport yang baik dan mengembangkan rasa empati ketika melakukan proses wawancara dengan klien.

Melakukan wawancara bukanlah suatu hal yang mudah dan tidak hanya sekedar sesi tanya jawab antara pewawancara dengan klien yang diwawancarai sebagai sumber informasi. kita semua tahu bahwa tujuan dari wawancara adalah untuk menggali informasi yang lebih dalam dan lebih detail dari sumber informasi langsung, dan tidak mudah untuk menggali informasi yang akurat tanpa adanya hubungan yang baik antara pewawancara dan klien yang diwawancarai.

Bagaimana bisa kita mendapatkan informasi yang akurat dan lebih dalam jika suasana saat malakuakn proses wawancara terasa kaku dan tegang?

Klien pasti akan merasa kurang nyaman dan ini akan mempengaruhi informasi yang kita dapatkan. kemungkinannya adalah klien kurang terbuka ketika bercerita dan bahkan klien tidak akan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.

Sama halnya ketika kita berinteraksi dengan orang lain yang baru pertam kali kkita jumpai. kita tidak mungkin dengan mudah langsung bercerita dan akrab dengan orang tersebut bukan?

Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, hal yang harus kita lakukan adalah membina rapport yang baik di awal proses wawancara dan mengembangkan rasa empati kita. berikut cara-cara yang dapat saya berikan :

Perhatikan penampilan dan cara berpakaian ketika akan melakukan wawancara. pakailah pakaian yang rapi dan sopan agar klien menangkap impresi positif.
Pada saat klien datang pertama-tama persilahkan masuk dan juga persilahkan untuk duduk. jangan lupa untuk memberikan salam seperti "Selamat Pagi" atau "Selamat Siang" dan berjabat tangan serta tidak lupa memberikan senyuman kepada klien.
Sebelum masuk kedalam topik wawancara, sebaiknya berikan pertanyaan sehari-hari seperti "Bagaimana kabar anda hari ini?" atau "Apa yang anda lakukan sebelum datang ke tempat ini?"
Hal yang penting selanjutnya adalah perhatikan posisi dan sikap duduk kita di depan klien. usahakan untuk tidak terlalu kaku dan tegang. posisikan badan dengan rileks tetapi tetap sopan.
Saat wawancara sudah berlangsung penting bagi kita memperhatikan ekspresi wajah ketika mendengarkan cerita klien. jangan memberikan ekspresi wajah yang terlalu berlebihan apabila kita merasa kaget dengan cerita klien. tetap berikan ekspresi wajah yang tenang dan menjaga kontak mata yang baik. sesekali berikan senyuman dan menganggukan kepala saat mendengarkan klien bercerita.
Fokuskan untuk mendengarkan klien. jangan menggunakan alat komunikasi saat wawancara berlangsung.
Setelah selesai melakukan waancara, pada bagian akhir berikan kesimpulan dari cerita atau informasi yang anda dapatkan dari klien, pemberian kesimpulan disebut juga dengan summarizing.
Demikian cara-cara membina rapport yang baik dan mengembangkan empati yang dapat saya berikan, semoga bisa mengembangkan kemampuan dalam melakukan wawancara menjadi lebih baik lagi.

Terima Kasih :)

20 September 2012

Tips-tips Membina Rapport dan Menggembangkan Empati (Indah Dwi Wahyuni)


Hai semuaaanyaa…

     Dalam blog ini, saya akan mencoba memberikan tips-tips praktis dalam membina rapport dengan interviewee pada saat melakukan wawancara. Agar tercipta suasana yang amandan nyaman. Dan interviewee tidak merasa takut untuk memberikan informasinya kepada kita. Dan dapat mempercayai kita dalam memberikan informasi-informasinya.
     Tips-tipsnya, yaitu :
1.    Menyapanya dengan baik.
2.    Menanyakan kabar dengan bahasa yang sesuai dengan sukunya agar subyek merasakan adanya kedekatan antara kita. Misalnya, apabila subyek orang Sunda, berbicaralah dengan bahasa Sunda.
3.    Pehatikan ruangan yang ingin kita pakai, apakah terlalu dingin apa masih terasa panas. Tanyakan pada subyek tentang hal itu, buat klien merasa nyaman dalam ruangan itu.Menyambutnya dengan senyuman, namun tidak berlebihan.
4.    Apabila subyek merasa masih tidak nyaman dengan kita, atau suasananya belum cair, yakinkan subyek bahwa kita hanya ingin membantu subyek dalam menyelesaikan masalahnya.
     Selain itu, saya juga akan memberikan tips-tips untuk mengembangkan rasa empati kepada orang lain dalam melakukan wawancara.
     Tips-tipsnya, yaitu :
1.    Mencoba merasakan apa yang subyek rasakan dalam masalah yang dialaminya.
2.    Mencoba berada dalam kondisi dan situasi tersebut, namun jangan terlalu mendalami kesedihan terlalu dalam, sebab kita harus terlihat wibawa di depan subyek.
3.    Usahakan kita harus terlihat lebih tegar dari subyek, walaupun masalah yang dialami subyek sangat menyedihkan.
4.    Mendengarkan masalah subyek dengan seksama, tanpa melakukan kegiatan lain dan tetap fokus kepada subyek. Agar subyek berpikir kita sangat empati kepadanya.
     Itulah beberapa tips-tips yang dapat saya berikan kepada kalian semua. Silahkan dicoba. Semoga bermanfaat.

20 September 2012

Two Important Things on Interview: Building Rapport and Empathy – how to do those? (Marsela Giovani)


This time I wanna share to you some tips about building rapport and empathy when we do interviewing, which I got from several sources, and some are based on my experience (still need a lot of experience!)

Membina rapport adalah membangun rasa percaya dan hormat dengan orang lain.

Ketika kita telah memiliki rapport dengan seseorang, kita merasakan suatu ikatan dan pemahaman atau penerimaan, suatu perasaan bahwa kita berada pada posisi yang sama/serupa.

Empati adalah kapasitas untuk merasakan, memahami, pemikiran, perasaan, serta pengalaman yang dialami oleh orang lain. Apabila kita berempati terhadap orang lain, kita memahami dan menghargai perasaan dan sudut pandang orang lain. Empati dianggap sebagai elemen kunci dalam kecerdasan emosional.

Berikut tips-tips membangun rapport dan berempati pada saat melakukan wawancara:

1. Matikan atau silent alat-alat komunikasi seperti handphone agar tidak mengganggu atau mengalihkan perhatian pada saat melakukan wawancara.

2. Siapkan pikiran untuk fokus hanya pada wawancara dan interviewee.

3. Berikan jabatan tangan dan senyuman yang hangat, jika tidak memungkinkan berjabat tangan dengan interviewee, tetap berikan senyuman terbaik yang tulus dan sesuaikan salam dengan latar belakang (etnis,dsb) interviewee.

4. Ucapkan terima kasih atas kesediaan interviewee untuk diwawancara, gunakan sapaan yang sopan dan sesuai, seperti Ibu, Bapak, Dokter, dan lain sebagainya.

5. Perkenalkan diri secara singkat.

6. Memulai percakapan dengan menanyakan kabar atau kondisi interviewee untuk menunjukkan kepedulian kita (berempati) seperti “Bagaimana kabar Ibu?” “Apakah Ibu sudah makan siang?” “Apakah Ibu sedang sibuk/ada janji berikutnya setelah wawancara?” jika kita mengenal pasangan suami/istri atau famili interviewee dapat ditanyakan juga kabarnya “Bagaimana kabar Bapak (suami interviewee)?”

7. Beritahukan tujuan atau inti dari wawancara yang akan dilakukan, seperti “Saya ingin bertanya kepada Ibu mengenai …”. Minta ijin kepada interviewee jika ingin merekam percakapan.

8. Ajukan pertanyaan dengan jelas, dengan nada yang tenang, tidak terlalu kaku.

9. Dengarkan interviewee dengan perhatian penuh (tidak terbagi), eye-contact, anggukkan kepala sesekali untuk menyatakan bahwa kita memahami apa yang dikatakan oleh interviewee. Berekspresi atau berkomentar kecil sesuai dengan situasi, seperti tertawa ketika interviewee menceritakan hal yang lucu; tersenyum, antusias untuk menyatakan persetujuan kita; dan mendengarkan dengan prihatin ketika interviewee menceritakan hal yang sedih, atau memprihatinkan.

10. Usahakan tidak memotong interviewee meskipun jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan, tunggu hingga interviewee menyelesaikan kalimatnya, baru kemudian menjelaskan maksud dari pertanyaan yang sesungguhnya.

 11. Jika kurang jelas, kita dapat bertanya kembali kepada interviewee, kemudian mengklarifikasi maksud yang telah disampaikan interviewee untuk menunjukkan bahwa kita telah mengerti.

12. Setelah selesai, ucapkan terima kasih kepada interviewee atas waktu dan kesediaannya diwawancara. Nyatakan juga bahwa apa yang dibagikan oleh interviewee merupakan pengalaman berharga yang menjadi inspirasi bagi kita, interviewer, jika memang demikian. Berikan kembali senyuman yang terbaik.

Selamat mencoba =D

20 September 2012

TIPS MEMBINA RAPORT DAN MEMBANGUN EMPATI DALAM TEKNIK WAWANCARA (Violen Olivia)


TIPS MEMBINA RAPORT DAN MEMBANGUN EMPATI DALAM TEKNIK WAWANCARA
 Beberapa TIPS untuk membina raport dalam teknik wawancara :
- Mempersilahkan klien untuk duduk
- Bersikap ramah, salah satunya dengan ekspresi wajah yang tersenyum dan tidak datar
- Menanyakan hal-hal ringan. Contoh : bagaimana suasana perjalanan menuju ke tempat ini? Apakah tempat yang dituju sulit dicari ?
- Tanyakan dan bicarakan hal-hal seputar diri klien (mengenai keluarganya, orang-orang yang dicintainya, kesukaannya, hobinya, dsb), bukan  berbicara seputar diri kita
- Berhati-hati dalam menggunakan humor. Jangan sampai membuat diri klien tersinggung atau justru tidak nyaman.

Beberapa TIPS untuk membangun empati dalam wawancara :
- Dengarkan dengan baik hal-hal yang disampaikan oleh klien. Jangan memotong pembicaraan atau hal yang sedang ia ceritakan.
- Open minded
Ingat bahwa setiap individu memiliki nilai-nilai yang berbeda. Nilai apa yang dipegang oleh satu individu belum tentu sama dengan individu lain. Maka, interviewer tidak harus setuju dengan klien tetapi harus mencoba membayangkan dan berusaha memahami apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh klien berdasarkan nilai-nilai yang dipegangnya.
- Without judgement
Setelah memahami apa yang dilakukan oleh klien, jangan menghakiminya. Menghakimi dapat membuat klien merasa tertuduh dan tidak nyaman.
- Fokus pada klien sehingga dapat mengerti lebih banyak dan berempati kepada klien.

Semoga tips-tips untuk membina raport dan membangun empati ini membantu ya teman-teman :)

20 September 2012

Membangun Rapport yang baik (Danny Kojima)


Di dalam wawancara, tentunya harus membangun Rapport yang baik. Rapport yang baik adalah hubungan antara seorang psikolog dengan klien nya. Nah, bagaimana kiat-kiat membangun Rapport yang baik? Ada beberapa caranya:

1. Sewaktu baru berkenalan dengan klien, sambut klien dengan ramah
Jangan memperlihatkan kita tidak memperdulikan dirinya, dingin, dan kita sedang tidak mood. Sebaliknya tunjukkan diri kita bahwa kita adalah orang yang ingin mendengarkan dirinya. Klien datang kepada kita dikarenakan mereka sudah mencoba segala cara untuk menanggulangi masalah mentalnya, namun tidak tercapai, karena itu kita harus menyambut klien dengan ramah dan mempersilahkannya duduk.

2. Mencari jarak aman antara klien
Mencari jarak yang aman ini merupakan hal yang penting. Ada klien yang tidak bisa terlalu dekat, ada juga klien yang risih kalau kita terlalu jauh. Dengan mencari jarak aman antara kita dengan klien, klien akan merasa nyaman untuk berbincang dengan kita.

3. Mencoba untuk berbincang seperti seorang teman
Jangan memberikan kesenjangan kedudukan antara kita dengan klien. Walaupun memang kita bertanya hal yang sensitif di dalam dirinya, akan tetapi dengan berbincang layaknya teman, ini akan membuat klien lebih terbuka dan akan menceritakan hal yang menyusahkan hatinya.

4. Jangan menyentuh atau menekan tombol ketidaknyamanan dirinya
Kalau kita sudah mengetahui tombol ketidaknyamanannya atau tombol kelemahannya, jangan pernah kita tekan, kecuali ini demi klien sendiri. Dengan menekan tombol ketidaknyamanannya, klien akan menjadi risih, dan tentunya sakit karena melakukan sebuah perubahan.

5. Utamakan klien, bukan diri sendiri
Hal yang paling penting adalah mengutamakan klien, bukan diri kita sendiri. Kalau kita memanfaatkan klien untuk diri kita sendiri, tentunya kita tidak dapat menjadi seorang psikolog yang baik.

Semua hal ini lah yang diperlukan seorang psikolog dalam mewawancarai klien. Memang ini belum tercakup semua, tapi ini merupakan hal yang penting di dalam membangun Rapport antara kita dengan klien.

19 September 2012

tips membina rapport dan membangun empati (Vani Vidiya Rastie)


Jujur saja pada awalnya saat mendengar kata rapport yang terlintas dibenak saya adalah buku raport jaman sekolah dahulu. berwarna biru dan isinya yang mengerikan kalau ada yang berwarna merah  tentu saja pemikiran bodoh saya ini salah, rapport yang dimaksudkan disini adalah membangun sebuah hubungan dan memulai komunikasi dengan efektif. dengan membina rapport yang baik maka diharapkan akan tercipta suatu kepercayaan sebelum memulai komunikasi dimana hal tersebut akan sangat penting untuk memulai sebuah wawancara. beberapa tips untuk membina rapport yang baik :

1. tersenyum. mulailah dengan senyuman. senyum menunjukkan bahwa kita adalah orang yang ramah sehingga orang yang sedang berkomunikasi dengan kita merasa nyaman untuk memulai percakapan tanpa merasa canggung.

2. berikan perhatian yang lebih, dan tunjukkan bahwa kita tertarik pada apapun masalah yang sedang diceritakan oleh lawan bicara. hal ini sedikit banyak menggambarkan bahwa kita peduli pada lawan bicara sehingga lawan bicara pun merasa nyaman untuk berbicara pada kita.

3. sedikit basa-basi sebelum memulai topik pembicaraan. contohnya seperti bertanya cuaca, apakah lawan bicara terjebak macet sebelum bertemu kita, atau juga sedikit humor untuk sekedar ‘ice breaking’

4. disisi lain, bahasa non-verbal atau bahasa tubuh juga diperlukan. apabila pada bahasa verbal parroting itu penting, dalam bahasa non-verbal apa yang disebut mirroring juga penting. dimana kita beberapa kali akan melakukan hal yang sama dengan lawan bicara kita. contohnya, pada saat lawan bicara melipat kaki kesebelah kanan beberapa saat kemudian kita juga akan melipat kaki kita kesebelah kiri, tujuannya adalah untuk menyamai lawan bicara kita secara tidak sadar pasti orang tersebut akan berpikir ‘Orang ini sedikit banyak mirip denganku, maka dari itu ia orang baik.’ Pemikiran ini membantu dan menguatkan rasa suka terhadap satu sama lain.

hal penting lainnya dalam wawancara adalah membangun empati, dimana hal ini akan sangat berguna pada saat kita melakukan wawancara. beberapa tips membangun empati:

1. dengarkan lawan bicara kita dengan baik dan coba mengerti cerita lawan bicara kita tersebut sehingga kita dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapi oleh lawan bicara kita.

2. jangan terburu-buru menghakimi apa yang sedang diceritakan oleh lawan bicara kita. bisa saja pada saat kita berada diposisi lawan bicara kita yang sedang menghadapi masalah tersebut kita juga akan melakukan hal yang sama bahkan bisa lebih buruk.

3. terbukalah pada hal-hal yang melenceng jauh dari apa yang kita anggap benar atau prinsip hidup kita. lebih peka pada hal-hal baik lainnya yang berbeda jauh dari prinsip kita. tidak semua yang kita anggap baik maka baik pula untuk orang lain, begitu juga sebaliknya.

 20 September 2012

Cara Membina Rapport dan Membangun Empati (Fenny Hartono)


Tips untuk membina rapport:

1. bersikap ramah terhadap klien

2. tidak membeda-bedakan status klien

3. bersikap terbuka

4. berempati terhadap masalah klien

5. mendengarkan dengan baik

6. menerima klien apa adanya

7. sabar

8. objektif

Tips untuk membangun rasa empati:

1. pikirkan bagaimana bila kita yang berada diposisi klien (berusaha memahami masalah dan perasaan klien)

2. tidak membeda-bedakan setiap individu

3. terbuka akan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip kita

4. lebih peka terhadap masalah yang terjadi disekitar kita

19 September 2012