Tampilkan postingan dengan label tawuran pelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tawuran pelajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2012

Tawuran (Wendy Rizki Saputra - 705120135)

     Tawuran merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menyebut suatu tindakan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok atau suatu rumpun masyarakat (Wikipedia, n.d). Tawuran merupakan aksi/tindakan yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang sering terjadi pada masyarakat, seakan-akan tawuran itu sudah menjadi tradisi atau bahkan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri. Meskipun tawuran itu tidak memberikan keuntungan besar bagi para pelakunya, tetap saja masih banyak orang yang melakukan aksi tawuran dimana-mana (Seto dikutip dalam Endang, 2012).
     Para pelaku aksi tawuran itu pun bermacam-macam. Mengingat bahwa tawuran merupakan tindakan yang dilakukan secara berkelompok, maka para pelaku-pelaku tawuran biasanya merupakan suatu kelompok seperti pelajar-pelajar sekolah (biasanya dari Sekolah Negeri), mahasiswa-mahasiswa dari suatu universitas tertentu (yang biasanya berkelompok dengan fakultas masing-masing), serta warga desa. Konflik yang dapat terjadi pun bisa beragam, terkadang tawuran tersebut terjadi antar satu sekolah dengan sekolah lainnya, antar mahasiswa yang berbeda fakultas ataupun universitas, atau bahkan suatu sekolah dengan suatu fakultas universitas tertentu. Semua tergantung dari masalah antar kelompok tersebut (Pengertian Tawuran, 2012).
     Salah satu tawuran yang pernah terjadi adalah antar pelajar SMA Negeri 6 dengan SMA Negeri 70. Konflik antara pelajar kedua SMA tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun namun sampai sekarang perkelahian mereka belumlah mereda. Belum lama ini tepatnya pada hari Senin tanggal 24 September 2012, seorang siswa dari SMA Negeri 6 bernama Alang-Yusianto Putra tewas setelah terkena sabetan celurit dari siswa SMA Negeri 70 ketika sedang berkumpul seusai sekolah & mendadak diserang oleh segerombolan siswa SMA Negeri 70 yang membawa senjata tajam. Konflik kedua SMA tersebut sampai saat ini masih ditangani oleh pihak kepolisian & pemecahan terhadap permasalahan itu masih dibahas Menteri Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia (Aziza, 2012).
     Faktor yang menyebabkan tawuran salah satunya adalah semakin memudarnya keteladanan sosial di dalam masyarakat. Elit masyarakat kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para pelajar atau remaja. Faktor lain yang juga membuat kekerasan semakin terpelihara adalah menggunakan kekerasan dalam mendidik seseorang. Kekerasan yang ditimbulkan akan melahirkan kekerasan berikutnya. Lemahnya penanaman nilai pendidikan karakter di sekolah juga menyumbang terpeliharanya kekerasan di kalangan pelajar. Pendidikan moral dan agama mendapatkan tempat yang tidak proporsional dan terlampau sedikit dibandingkan pelajaran lain. Ironisnya, pendidikan moral keagamaan hanya bersifat formalistik, sanngat terbatas dan hanya menjejalkan pengetahuan nilai tanpa mengarah ke pembentukan karakter (Hadiriyanto, 2012).
     Tawuran tentunya memiliki dampak-dampak yang bermacam-macam, dan pastinya dampak tawuran itu lebih condong ke arah yang negatif. Dampak negatif dari tawuran yang dapat dilihat adalah kerusakan yang terjadi pada fasilitas jalan, kendaraan, bahkan bangunan. Karena para pelaku biasanya melakukan vandalisme ketika melakukan aksinya yaitu dengan membakar, menghancurkan, atau merusak fasilitas disekitar mereka. Dampak bagi para pelakunya pun ada, yaitu terganggunya aktivitas sehari-hari mereka, seperti proses belajar para siswa (Novanto dikutip dalam Hadi, 2012).
     Selain itu ada juga dampak terhadap orang diluar kelompok itu sendiri, karena aksi mereka dapat melibatkan orang disekitar sebagai objek pelampiasan emosi mereka, sehingga terkadang para pengemudi kendaraan yang lewat ikut dipukuli dan kendaraan mereka dihancurkan. Ada juga dampak terhadap moral masyarakat, karena konflik kekerasan kelompok tersebut akan menyebabkan berkurangnya penghargaan terhadap toleransi, perdamaian, dan nilai-nilai hidup orang lain (Ahira, 2012).
     Ketika tawuran terjadi tentu saja harus dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi tawuran tersebut agar berhenti dan tidak berkepanjangan. Dalam hal menghentikan tawuran, dibutuhkan pihak kepolisian untuk turun tangan menghentikan perkelahian yang terjadi, mencegah kerusakan fasilitas yang dapat lebih parah ditimbulkan para pelaku tawuran, serta mengamankan dan melindungi orang-orang sekitar agar tidak ikut menjadi korban tawuran tersebut. Dibutuhkan juga pihak sekolah/universitas (bagi tawuran pelajar/mahasiswa) untuk melakukan sebuah ultimatum tegas yang dapat mengancam para pelakunya agar tidak berani melakukan tawuran lagi, seperti ancaman drop out dan lain-lain (Fauzi dikutip dalam Megarani, 2012)
     Mengetahui bahwa tawuran berdampak buruk bagi masyarakat, maka harus juga dilakukan tindakan untuk mencegah tawuran tersebut. Dari pihak sekolah yaitu dengan memberi pengajaran dan pemahaman bahwa semua permasalahan tidak akan selesai jika penyelesainnya dengan menggunakan kekerasan, lalu perlu dilakukan komunikasi dan pendekatan secara khusus kepada para pelaku untuk diajarkan rasa cinta kasih dan tidak saling membenci, dan diberikan pengajaran ilmu sosial budaya karena sangat bermanfaat untuk pelajar khususnya agar tidak salah menempatkan diri dilingkungan masyarakat. Para orang tua juga perlu memberikan perhatian dan juga nasihat kepada anak-anak mereka agar anak-anak mereka tidak kurang perhatian dan sadar akan akibat yang dapat ditimbulkan tawuran. Dan terakhir dari pihak pelajar dan mahasiswa juga harus waspada dan pandai dalam melihat dan memilih pergaulan, agar tidak ikut terjerumus dan terhasut untuk mengikuti tawuran (Ahira, 2012).


Daftar Pustaka
     Ahira, A. (2012). Sistem pendidikan islam solusi mengatasi tauran pelajar. Diunduh dari http://www.anneahira.com/tauran-pelajar-22295.htm.

     Aziza, K. S. (2012). Tawuran SMA 6 vs SMA 70 menahun, ada apa. Diunduh dari http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/09494948/Tawuran.SMA.6.Vs.SMA.70.Menahun.Ada.Apa.
     Endang. (2012). Kak Seto : Kesalahan dalam sistem pendidikan nasional. Diunduh dari http://www.majalahtopik.co.id/readnews.php?id=470.
     Hadiriyanto, M. (2012). Pelajar dan mahasiswa tawuran, mengapa. Diunduh dari http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/28/pelajar-dan-mahasiswa-tawuran-mengapa.

     Megarani, A. M. (2012). Cara mengatasi tawuran sekolah versi Fauzi Bowo. Diunduh dari http://www.tempo.co/read/news/2012/09/27/064432172/Cara-Mengatasi-Tawuran-Sekolah-Versi-Fauzi-Bowo.
     Pengertian tawuran. (2012). Diunduh dari http://www.tutorialto.com/pendidikan/1127-pengertian-tawuran.html.
     Tawuran. Diunduh dari http://id.wikipedia.org.

26 Oktober 2012

Senin, 05 November 2012

Tawuran (Stefanny Leonardi - 705120002)


Definisi Tawuran
     Tawuran bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita. Tawuran merupakan salah satu bagian dari kenakalan remaja, sehingga tak heran jika tawuran yang dilakukan antar pelajar mudah sekali kita temukan di jalan raya atau tempat umum lainnya. Namun tawuran tidak hanya sering terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa, tetapi tawuran juga kadang terjadi antar warga desa, sehingga tawuran sudah merupakan sesuatu yg membudaya di Indonesia. “Tawuran adalah suatu kegiatan perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat” (“Pengertian Tawuran,” 2012).

Jenis-Jenis Kenakalan Remaja dalam Hal Perkelahian
     Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat di golongkan ke dalam dua jenis, yaitu:
     Delinkuensi Situasional. Perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” para remaja untuk berkelahi. Keharusan tersebut biasanya muncul karena bertujuan untuk memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi secara cepat.
     Delinkuensi Sistematik. Perkelahian terjadi karena remaja berada dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di dalam geng tersebut, norma dan kebiasaan tertentu ada dan wajib di taati oleh anggotanya, termasuk berkelahi. Para remaja, sebagai anggota, akan merasa bebas melakukan apa saja tanpa perlu mematuhi peraturan-peraturan dan norma-norma yang berlaku karena mereka berada dilingkup kelompok teman sebayanya. Melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kelompoknya pun membuat rasa kebanggaan tumbuh dalam diri remaja tersebut (“Makalah Tawuran Pelajar,” 2011).

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tawuran
Dari jenis-jenis perkelahian yang dilakukan remaja tersebut, terdapat beberapa faktor-faktor penyebab terjadinya tawuran dan faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal biasanya berasal dari dirinya sendiri. Contohnya seperti, sifat yang ada di dalam diri individu itu sendiri. Terdapat kesalahan dari cara individu tersebut dalam menyelesaikan masalah yang ada. Individu yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks, dalam arti ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya, dan berbagai kerberagaman lainnya. Kita ambil contoh, Remaja. Para remaja yang mengalami hal-hal diatas akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan masalahnya tanpa berpikir panjang akan akibat yang ditimbulkannya. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Seperti sifat-sifat yang mudah frustasi, tidak mudah mengendalikan diri, kepekaan yang kurang terhadap lingkungan sekitarnya, dan lain-lain.
     Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri individu, seperti pengaruh teman, pengaruh lingkungan sekitar, keluarga, sekolah dan lain sebagainya.

Dampak dari Tawuran
    Berdasarkan pengertian tawuran pada awal karangan, dapat diartikan bahwa tawuran merupakan sesuatu yang negatif. Maka tawuran pun memiliki dampak yang sangat merugikan, baik bagi pelaku maupun masyarakat sekitar, antara lain seperti, (a) kerugian fisik, baik cedera ringan, berat, bahkan kematian; (b) kerusakan fasilitas umum maupun rumah warga; (c) terganggunya proses belajar mengajar; (d) menurunnya moralitas para pelajar; dan (e) Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, perdamaian dan saling menghargai.

Penanggulangan Tawuran
     Oleh karena itu, dalam usaha untuk mengantisipasi tawuran pelajar, proses pembelajaran di sekolah semestinya diarahkan pada empat pilar kegiatan, sebagaimana telah dirumuskan oleh United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO) yaitu: (a) belajar untuk tahu (learning to know), (b) belajar untuk berbuat (learning to do), (c) belajar untuk bersama (learning together), dan (d) belajar untuk membentuk jati diri (learning to be) (“Makalah Tawuran dengan Berbagai Teori dan Contoh,” 2012)
     Menurut Djohar, (dikutip dalam “Makalah Tawuran dengan Berbagai Teori dan Contoh”, 2012), menyarankan agar menggunakan fungsi “peace education” sebagai model pendidikan di Indonesia. Model pendidikan tersebut mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengatasi konflik tanpa penggunaan kekerasan. Metode yang digunakan dapat berupa belajar kelompok, sehingga siswa terlatih untuk menekan egoismenya dan menghargai hak-hak orang lain.
    Sekian karangan ini mengenai tawuran, khususnya tawuran para pelajar. Penulis berharap karangan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan tawuran dapat berkurang demi membangun Bangsa Indonesia yang berbudaya baik tanpa kekerasan.

Reference List
     Pengertian tawuran. (2012). Diundur dari www.tutorialto.com
     Makalah tawuran dengan berbagai teori dan contoh. (2012). Diunduh dari www.scribd.com
     Makalah tawuran pelajar. (2011). Diunduh dari http://iftitahnj.blogspot.com

Tawuran (Cindy Wijaya - 705120029)


     Belakangan ini, sering kali kita mendengar berita tentang perkelahian antar pelajar yang tidak lain ialah tawuran. “Tawuran adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota- kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekekarasan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat” (“Penyebab dan Dampak Tawuran”, 2009). Pelaku tawuran percaya bahwa kekerasan merupakan cara yang paling efektif untuk menyelesaikan  suatu  masalah. Oleh karena itu pelaku memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai tanpa berfikir tentang toleransi, perdamaian, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

     Banyak sekali aspek-aspek yang dapat mendorong terjadinya tawuran,  tetapi      faktor tersebut dapat dikategorikan kedalam tiga faktor penyebab seseorang terlibat dalam tawuran: (a) Pertama, faktor internal, remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang kompleks (keanekaragaman pandangan, budaya dan tingkat ekonomi; (b) Kedua, faktor keluarga, rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (KDRT) yang jelas berdampak bagi anaknya. Anak yang hidup didalam rumah yang dipenuhi kekerasan cenderung mengganggap kekerasan merupakan bagian dari dirinya.

     Kurangnya perhatian dari orang tua juga menyebabkan sikap individu menjadi acuh dan tidak peduli, karena ia beranggapan bahwa tidak ada yang peduli dan sayang pada dirinya; (c) Terakhir, faktor lingkungan, lingkungan yang memiliki anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba, pemberontakan, dan tawuran) akan memberi budaya tersendiri bagi individu yang tinggal dalam lingkungan tersebut. Individu cenderung belajar dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi (“Penyebab dan Dampak Tawuran”, 2009).

     Jelas bahwa sikap memberontak yang berujung pada tawuran ini merugikan banyak pihak. Pihak pertama yang paling dirugikan tidak lain ialah pelajar dan keluarganya yang terlibat perkelahian apabila terjadi cedera atau bahkan kehilangan nyawanya. Selain itu, pihak umum juga dirugikan dengan rusaknya fasilitas seperti kendaraan pribadi, bus, halte, kaca toko, dsb yang menjadi sasaran tawuran. Bukan hanya itu, rusaknya pandangan masyarakat terhadap pendidikan dan nama baik institusi dimana pelaku itu tergabung juga sangat merugikan bagi institusi tersebut.

     Untuk mencegah terjadinya tawuran, dapat ditanggulangi secara psikologis dan hukum. Secara psikologis, cara menanggulangi tawuran ialah: (a) kesadaran individu, yakni tetap menjaga nilai- nilai dan norma- norma yang berlaku, menghargai adanya perbedaan dan sikap toleransi terhadap sesama; dan (b) menjaga sikap, yakni dengan mengatur kestabilan emosi sehingga tidak mudah terpancing oleh provokator, dan cinta damai.

     Secara hukum, cara menganggulangi tawuran ialah, (a) memberikan sanksi yang tegas pada pelaku tawuran, sehingga mereka menjadi jera dan tidak mengulanginya lagi; (b) menegakan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia, hukuman atas suatu pelanggaran haruslah setimpal dengan pelanggarannya; dan (c) meningkatkan kualitas hukum yang berlaku di Indonesia, sehingga tidak dipandang sebelah mata oleh pelaku kejahatan dalam bentuk apapun.

26 Oktober 2012

Dampak Psikologis Tawuran Remaja (Florencia Irena - 705120060)


Pengertian Tawuran
     Tawuran merupakan salah satu penyimpangan kelompok yang terjadi secara nonverbal, menurut Henslin (2006/2007)  penyimpangan seperti tawuran dilakukan karena adanya keinginan untuk mencapai suatu tujuan terntentu namun cara untuk mencapai hal itu tidaklah sah. Tawuran dilakukan secara nonverbal atau dapat dikatakan tindakan kekerasan, tawuran terjadi seperti sebuah ajang perkelahian antar kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Pelaku Tawuran
     Pelaku tawuran dapat meliputi masyarakat besar seperti tawuran antar kelompok etnis, namun pada masa ini tawuran yang terjad banyak dilakukan oleh para remaja atau manusia pada masa adolescence yaitu masa perkembangan manusia masa kanak-kanak menuju keremajaan, masa remaja ini terbagi berdasarkan rentan usia, yaitu:

Usia 12-15 tahun (Middle Childhood)
     Pelaku tawuran pada usia ini adalah para remaja yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di masa ini merupakan awal dari perubahan masa kanak-kanak menuju remaja seperti perubahan yang terjadi secara afektif dan sosial (King, 2011).

   Usia 16-18 tahun (Late Childhood).
     Pelaku pada usia ini adalah pelaku pelajar yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), pada masa SMA merupakan masa perkembangan para remaja mencari jati diri mereka menurut Erickson dalam King(2011) dalam proses pencarian jati diri, mereka akan membuat masalah atau menghadapinya agar para remaja dapat mencari jati diri para remaja, proses ini merupakan Identity versus confusion. Pada usia ini para remaja lebih rentan melakukan tawuran dibandingkan usia Usia 12-15 tahun (Middle Childhood).

Penyebab Tawuran
     Tawuran yang dilakukan para pelajar itu memiliki tujuan dan tujuannya sangat bermacam-macam dan juga disebabkan oleh beberapa faktor sehingga akhirnya para pelajar berani melakukan tawuran, berikut dua macam faktor penyebab tawuran:

Faktor Internal. Faktor ini disebabkan oleh faktor diri sendiri, seperti yang dikatakan oleh King (2011) bahwa proses pencarian diri dimulai dari para adolescence menghadapi masalah untuk mengetahui tujuan hidup para remaja selanjutnya. Dengan itu para remaja pelaku tawuran ini mencari dengan cara berkelahi melawan remaja pelajar lainnya agar dapat dianggap hebat. Dengan hasrat diri sendiri ingin ikut berpartisipasi tawuran sekolah agar dapat menemukan jati diri para remaja pelaku tawuran tersebut dan dianggap hebat oleh lingkungannya.

Faktor Eksternal. Faktor ini datang dari lingkungan sekitarnya, seorang remaja terutama laki-laki akan dianggap payah jika tidak berani melakukan tindakan yang dapat membuat dirinya terlihat hebat. Masa adolescene lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya atu peer group dan kelompok para remaja dapat memberikan pengaruh positif atau negatif (King, 2011). Jika peer group dari para remaja itu memberikan dampak negatif maka tidak heran jika para remaja dapat menjadi pelaku tawuran.

Dampak bagi para remaja pelaku tawuran
    Tawuran yang dilakukan para remaja pelajar akan sangat memberikan dampak yang buruk bagi para remaja pelaku tawuran tersebut, dampak buruk ini akan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan pelaku tawuran, yaitu:

     Akademis. Tindakan tawuran akan berdampak buruk bagi para remaja pelajar karena akan menggangu proses pembelajaran yang sedang para pelaku jalani, jika para pelajar diketahui menjadi pelaku tawuran maka sekolah akan memberikan hukuman seperti tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah untuk jangka waktu tertentu atau para pelaku akan diberikan hukuman seperti dikeluarkan dari sekolah sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya kembali.

     Fisik. Tawuran dilakukan secara non-verbal dengan tindakan kekerasan dan akan berdampak buruk bagi para pelaku tawuran yang berkelahi akan menyebabkan cacat fisik atau luka-luka dan hal ini akan sangat merugikan para remaja yang seharusnya dapat melakukan berbagai kegiatan menjadi terbatas karena dampak pada fisik para pelaku tawuran tersebut.

    Psikologis. Dampak buruk bagi psikologis para remaja pelaku tawuran adalah pada masa perkembangan adolescence menuju adult. pembentukan kepribadian di mulai dari masa adolescene dan hal-hal yang mereka lakukan di masa adolescence akan membentuk kerpribadian sampai adult, seperti para remaja pelaku tawuran pelajar diajarkan kebiasaan untuk berkelahi dan menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan maka sampai besar nanti hal itu akan digunakan para pelaku tawuran pelajar untuk mencapai tujuannya. Proses pembentukan kepribadian para secara psikologi merupakan pendekatan The behavioral Approach, Menurut Miltenberger (dikutip dalam King, 2011) mengatakan bahwa the behavioral approach memiliki tujuan agar manusia dapat menanamkan tindakan yang dilakukan membantu manusia tersebut dapat menjadi lebih baik. Namun pendekatan behavioral tidak akan berdampak baik jika hal-hal yang ditanamkan adalah hal negatif. Hal negatif yang dibiarkan akan menyebabkan kebiasaan yang terbaik di masa depan maka itu harus ada pengaturan seperti adanya hukuman agar hal negatif yang terjadi tidak dibiasakan. Jika para remaja terlibat menjadi pelaku tawuran dan diberikan hukuman akan membantu para remaja pelajar untuk tidak mengulang tindakan tersebut atau menjadikan kebiasaan dalam kehidupannya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi., H., A. (1991). Psikologi sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Henslin., J, M. (2007). Essentials of Scociology: A down to earth approach ( 6th
     ed.). (Dalam W. Hardani, & B. A. Yoso, penerj.). Jakarta: Penerbit Erlangga.
     Karya asli  dipublikasikan tahun 2006.
King, L, A. (2011) The science of psychology (2nd ed.). Columbia: University of
     Missouri.

26 Oktober 2012

Minggu, 04 November 2012

Tawuran (Maria Meliana - 705120025)


     Peristiwa tawuran banyak terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta. Individu sering mengartikan tawuran adalah salah satu bentuk penyimpangan sosial yang identik dengan kenakalan remaja. “Tawuran merupakan suatu kegiatan perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat” (“Pengertian Tawuran,” 2012). Perkelahian itu tidak hanya dengan tangan kosong tetapi sampai menggunakan batu, pisau, dan senjata berbahaya lainnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat, bahkan yang memprihatinkan banyak tawuran terjadi di kalangan pelajar.
     Banyak penyebab aksi tawuran antar pelajar, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Tawuran dapat disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. “Faktor internal adalah faktor yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi miliu di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar” (“Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah,” 2011). Seseorang salah dalam memahami maksud dan pengaruh dari luar. Remaja berkelahi karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Adanya keragaman pandangan, budaya, dan ekonomi menimbulkan tekanan pada setiap orang. Bagi remaja yang terlibat perkelahian, keragaman itu tidak dimanfaatkannya dengan baik sehingga remaja itu mudah putus asa, menyalahkan orang lain, dan memilih jalan pintas untuk keluar dari masalah (Zulkarnaen, 2011).
     Faktor eksternal penyebab tawuran adalah pengaruh yang diberikan oleh lingkungan sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun faktor eksternal itu adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Remaja yang kurang diperhatikan oleh orangtua dan guru membuat mereka merasa bebas melakukan apapun sesukanya. Dalam keluarga yang sering terjadi kekerasan rumah tangga, remaja menjadi belajar pengaruh buruk orangtuanya yang suka berkelahi (Zulkarnaen, 2011). Remaja menjadi ikut berkelahi karena dianggap kebiasaan atau hal yang wajar terjadi. Pasangan suami-istri yang tidak dapat mendidik anaknya dan memikul tanggung jawabnya sebagai orangtua menyebabkan anak tidak terdidik dan berkembang dengan baik dalam masyarakat (“Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah,” 2011).
     Dari pendidikan di sekolah dapat mempengaruhi cara pemikiran dan perilaku anak. Lingkungan sekolah yang tidak mendidik dan membimbing siswanya untuk belajar, menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya (Zulkarnaen, 2011). Guru sebagai pembimbing tidak mampu membentuk perilaku siswa yang baik dan cara pendidikannya pun terkadang dengan menggunakan kekerasan. Selain itu, sekolah yang tidak mempunyai fasilitas dan kegiatan ekstrakurikuler dapat membuat siswa melakukan tawuran karena tidak ada kegiatan pembelajaran sesuai potensi, minat, dan bakat siswa. Permasalahan yang sudah mengakar seperti sejarah dua sekolah secara tidak langsung menyebabkan siswa-siswa tersebut bermusuhan padahal tidak ada masalah (“Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Pelajar,” 2012).
     Lingkungan masyarakat atau pergaulan juga dapat mempengaruhi seorang remaja dalam berperilaku. Misalnya lingkungan rumah yang tidak mendukung perkembangan anak dengan baik seperti lingkungan sempit dan kumuh. Anggota lingkungan yang berperilaku buruk dan lingkungan masyarakat yang penuh kekerasan. Hal tersebut dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian mempengaruhi reaksi emosionalnya untuk berkelahi (Zulkarnaen, 2011). Selain itu, remaja menjadi cemas jika tidak mempunyai teman maka dorongan dan ajakan dari teman mampu mempengaruhi dan bahkan mungkin bersifat “memaksa”.
     Tawuran menimbulkan dampak yang negatif bagi yang terlibat tawuran dan lingkungan sekitar. Remaja yang terlibat dalam tawuran dapat mengalami cedera atau bahkan tewas. Misalnya peristiwa tawuran antar-pelajar dua sekolah yang hari Senin (24/9/2012) yang lalu. Seorang siswa SMA Negeri 6, Alawy Yusianto Putra (15) tewas terkena sabetan celurit dari siswa SMA Negeri 70 (Aziza, 2012). Apabila remaja itu anak tunggal atau yang sebenarnya tidak terlibat tawuran menjadi korban pasti sangat tragis dan menyedihkan bagi keluarganya. Bagi lingkungan, tawuran akan berdampak secara materi dan non-materi. Secara materi tawuran mengakibatkan lingkungan menjadi kotor, fasilitas umum seperti bus, halte, dan fasililtas lainnya rusak. Secara non-materi lalu lintas menjadi tidak lancar, aktivitas masyarakat menjadi terganggu, dan masyarakat menjadi risih. Tawuran yang banyak terjadi ini akhirnya menjadi budaya di Indonesia dan akan berpengaruh pada kelangsungan hidup bermasyarakat (Zulkarnaen, 2011).
     Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari tawuran, sehingga harus dicegah agar masyarakat Indonesia dapat mencapai hidup yang damai sejahtera. Untuk mencegah tawuran dapat dilakukan beberapa cara: (a) belajar mengisi waktu luang dengan hal positif yang bermanfaat; (b) keluarga memberi pengasuhan, suasana kebersamaan, dan pendidikan moral yang baik; (c) sekolah memberi pendidikan yang menyenangkan, kegiatan untuk anak mengembangkan potensi, dan menjalin kerja sama dengan sekolah lain; dan (d) lembaga pemerintah seperti Lembaga Swadaya Masyarakat dan Kepolisian memberi penyuluhan tentang tawuran. Tidak hanya itu, paradigma siswa tentang sekolah yang menyenangkan dan membangun pendidikan etika yang baik perlu dikembangkan. Tawuran dapat diberantas apabila semua pihak mau bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat yang damai sejahtera.

Daftar Pustaka
Aziza, K. S. (2012). Tawuran SMA 6 vs SMA 70 menahun, ada apa?. Diunduh dari http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/09494948/Tawuran.SMA.6.Vs.SMA.70.Menahun.Ada.Apa.
Faktor penyebab tawuran antar pelajar. (2012). Diunduh dari http://bungaabungee.wordpress.com/2012/03/11/faktor-penyebab-tawuran-antar-pelajar/
Pengertian tawuran. (2012). Diunduh dari http://www.tutorialto.com/pendidikan/1127-          pengertian-tawuran.html
Penyebab terjadinya tawuran antar sekolah. (2011). Diunduh dari http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/
Penyebab terjadinya tawuran antar pelajar. (2012). Diunduh dari http://kangwahyu.com/info-terkini/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-pelajar/#.UH6cF2_ez-N
Saputra, C. N. (2012). Hilangnya pendidikan etika penyebab tawuran. Diunduh dari http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/30/500/697017/hilangya-pendidikan-etika-penyebab-tawuran-pelajar
Tawuran antar pelajar (n.d). Diunduh dari http://mohkusnarto.wordpress.com/tawuran-antar-pelajar/
Zulkarnaen, S. D. (2011). Tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan. Diunduh dari http://kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html
Diposkan oleh Maria Meliana di 07:33 Tidak ada komentar:

25 Oktober 2012

Tawuran (Anisah Aninditya Rahmaputri - 705120071)


Definisi Tawuran
     Sunaryo (dikutip dalam “tawuran”, 2007) mengatakan bahwa tawuran adalah suatu perkelahian yang terjadi antar pelajar atau kelompok yang terjadi karena adanya salah paham atau memang niat membalas dendam. Untuk beberapa jenis, tawuran diakibatkan karena adanya aksi ikut-ikutan teman. Jika teman melakukan aksi penyerangan, maka orang akan mengikuti perilaku temannya tersebut.

Penyebab Tawuran
     Zulkarnaen (dikutip dalam “tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan”, 2011) mengatakan bahwa tawuran terjadi karena adanya kesalahpahaman atau dendam antara pelajar antar sekolah. Tawuran juga diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu: (a) faktor internal yang terjadi karena adanya perbedaan pada tingkat ekonomi, budaya dan agama yang menimbulkan tekanan batin terhadap pelajar; (b) faktor keluarga, faktor yang terjadi apabila sang anak mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang tidak sehat sehingga anak tersebut tumbuh menjadi individu yang suka berbuat kasar; (c) faktor sekolah yang diakibatkan oleh kurangnya aktivitas positif dan banyaknya guru yang berperan sebagai penghukum atau tokoh otoriter; dan (d) faktor lingkungan, lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi pelajar untuk berperilaku buruk.

Cara Menghindari Tawuran
     Assyifa (dikutip dalam “cara mencegah dan mengatasi tawuran”, 2012) mengatakan bahwa tawuran dapat dihindari melalui  beberapa cara berikut ini : (a) mengaktifkan peran orangtua, orang tua harus lebih aktivitas anak-anaknya agar mereka tidak berontak dan berperilaku tidak baik hanya demi mendapat perhatian lebih dari orangtuanya; (b) guru kreatif, para guru harus bisa menjadi teman atau sahabat bagi pelajar, hal ini dapat mencegah terjadinya tawuran karena guru yang akrab dan dekat dengan muridnya dapat lebih mudah untuk menasehati mereka tanpa kesan menggurui; (c) memberi hukuman yang lebih tegas agar niat pelajar untuk melakukan tawuran terminimalisir karena rasa takut akan hukuman tersebut; dan (d) media mendukung, dengan cara mengurangi atau bahkan menghilangkan tampilan kekerasan agar tidak ditiru oleh para pelajar.

Cara Menanggulangi Tawuran
     Oktora (dikutip dalam “cara mencegah dan menanggulangi tawuran”, 2012) mengatakan bahwa jika tawuran sudah terlanjur terjadi, sebaiknya inti pokok dari permasalahan harus segera dicari dan diselesaikan. Jika tidak, tawuran-tawuran berikutnya pasti akan muncul cepat maupun lambat. Pemerintah juga harus lebih perhatian terhadap masalah rakyatnya. Apabila pemerintah tidak peduli, maka tawuran tidak akan pernah bisa dituntaskan.

Reference list

Cara mencegah dan menanggulangi tawuran. (2012). Diunduh dari
     www.nandagokilz1.wordpress.com/2012/10/11/cara-mencegah-dan-
     menanggulangi-tawuran/
Cara mencegah dan mengatasi tawuran. (2012). Diunduh dari
     http://nabilaassyifa.blogspot.com/2012/10/cara-mencegah-dan-mengatasi-
     tawuran.html
Tawuran. (2007) Diunduh dari
     http://thio-sunaryo.blogspot.com/2007/02/tawuran.html
Tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan. (2011). Diunduh dari
     http://kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-
     memprihatinkan-dunia-pendidikan.html

25 Oktober 2012

Tawuran (Rakhi Cintaka - 705120090)


Definisi Tawuran
Tawuran adalah suatu tindakan perkelahian atau kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, seperti pelajar atau warga desa. Tawuran sudah merupakan hal yang biasa di Indonesia, bahkan telah menjadi budaya (“Pengertian Tawuran,” 2012).

Jenis-jenis Tawuran
Ada dua jenis tawuran yaitu tawuran pelajar dan tawuran antarwarga. Tawuran pelajar adalah tawuran yang terjadi antar pelajar, baik dari satu sekolah atau universitas yang sama maupun berbeda (“Tawuran Antar Pelajar,” n.d.). Sementara tawuran antarwarga terjadi antar warga khususnya warga desa. “Tawuran antar warga masyarakat biasanya dimulai dengan hal-hal sepele, dan juga karena memang kedua kubu masyarakat sudah menjadi saingan sejak awal” (“Tawuran Antar Pelajar,” n.d.). Hal ini cenderung terjadi karena memperebutkan sesuatu, seperti lahan, ternak, dan lain lain.

Faktor Penyebab Tawuran
Faktor utama timbulnya tawuran ini didasari oleh adanya perilaku agresif yang dimiliki oleh seseorang. “Pada dasarnya perilaku agresif pada manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Dalam agresi terkandung maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain” (Anantasari, 2006).
Faktor-faktor pemicu terjadinya tawuran terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (“Tawuran,” 2011). Berikut adalah penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut:
Faktor internal. Faktor internal berasal dari dalam diri seseorang. Ketika seseorang tidak dapat beradaptasi dalam lingkungan sekitarnya yang kompleks, perbedaan pandangan, budaya dan tingkat sosial tersebut menimbulkan adanya tekanan mental dalam dirinya. Orang tersebut cenderung memiliki masalah dalam internalisasi dirinya. “Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya” (Ardiyansyah, 2011). Ia menjadi seseorang yang akan mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya saat memecahkan permasalahan yang sedang ia hadapi. Hal ini juga disebabkan karena ketidakstabilan emosi dalam dirinya, sehingga ia tidak mudah mengendalikan diri dan menyalahkan pihak lain, atau lari dari masalah. Faktor internal ini sangat mendorong seseorang untuk melakukan tindak kekerasan atau perkelahian.
Faktor eksternal. Faktor eksternal berasal dari luar diri seseorang meliputi: (a) faktor keluarga; (b) faktor sekolah; dan (c) faktor alasan pribadi.
Faktor keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter seseorang. Hawari (dikutip dalam “Makalah Tawuran Pelajar,.” 2011) menyatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya kenakalan remaja yang dapat menimbulkan tawuran ini dikarenakan oleh orangtua yang tidak berfungsi sebagai teladan atau figur yang baik bagi anaknya. Adanya kekerasan dalam keluarga adalah faktor pertama dari keluarga yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Jika seseorang terbiasa melihat tindakan kekerasan di dalam keluarganya, maka tidak heran jika seseorang terbiasa melakukan tindakan kekerasan karena ia tumbuh dalam keluarga yang menerapkan hal tersebut. Selain itu, jika seseorang hidup dalam keluarga yang tidak harmonis, ia akan merasa tertekan dalam keadaan keluarga yang memiliki banyak permasalahan antar anggotanya. “Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja” (“Makalah Tawuran Pelajar,” 2011).
Lingkungan sekolah adalah penyebab utama terjadinya tawuran antar pelajar. Faktor yang paling mendukung adalah dari kualitas pengajaran dan pengaruh teman. “Sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya” (“Tawuran Pelajar,” 2010). Peran guru adalah menjadi teladan atau pendidik yang baik, namun kenyataannya adalah “tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muridnya akhirnya guru tersebut menunjukan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya” (“Makalah Tawuran Pelajar,” 2011). Selain itu, dengan siapa seseorang bergaul merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan perilakunya, karena seseorang akan sangat mudah  terpengaruh oleh teman-teman sepermainannya. “Keadaan seseorang berubah sangat tergantung dengan pergaulannya, pembentukan perilaku manusia sangat dipengaruhi juga dengan lingkungan yang ada disekeliling mereka. Lingkungan yang berpengaruh besar terhadap pembentukan perilaku manusia adalah kawan dan pergaulan” (Lubis, 2011). Jika ia bergaul dengan orang-orang yang terlibat dalam tindakan kekerasan atau bahkan tawuran, ia akan cenderung ikut terlibat dalam tawuran tersebut karena didasari oleh rasa solidaritas pada temannya. “Pergaulan dan teman-teman sangat mungkin menjadi penghalang seseorang untuk menjadi pribadi yang hidup berkualitas dan penuh makna” (Lubis, 2011).
Selain itu, tawuran dapat timbul dari permasalahan seseorang atau kelompok dengan yang lainnya, contohnya seperti saling mengejek atau menyinggung dan memperebutkan sesuatu, bahkan rasa dendam satu sama lain. “Dendam menimbulkan proyeksi tawuran-tawuran berikutnya bahkan mungkin hanya dengan diawali dengan hanya saling pandang. Karena sebenarnya sudah ada kebencian yang mendasari hati mereka” (“Tawuran Pelajar,” 2010).

Dampak Tawuran
Dampak-dampak tawuran dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu dampak terhadap pelaku tawuran dan ketertiban dan keamanan umum (Pangloli, 2009; “Makalah Tawuran Pelajar,” 2011). Pelaku tawuran akan mengalami kerugian fisik seperti cidera kecil atau besar atau bahkan kematian, maupun gangguan psikis seperti trauma. Pelaku akan kehilangan kepercayaan dari orang-orang sekitar dan tentu saja moralitasnya akan menurun. Ia cenderung tidak memiliki rasa tolerasi, tenggang rasa dan menghargai orang lain. Dampak-dampak tawuran juga dirasakan oleh masyarakat serta fasilitas umum sekitar. Hal-hal tersebut telah mengurangi kenyamanan masyarakat karena adanya rasa tidak aman dan tidak tertib di lingkungan sekitarnya. Masyarakat sekitar tempat terjadinya tawuran dapat menjadi korban dan mengalami kerugian. Korban dapat mengalami kerugian fisik seperti cidera kecil atau besar maupun kematian dan kerusakan rumah atau kendaraan jika saat pelaku tawuran melemparkan sesuatu (seperti batu, dan lain-lain) ia tak sengaja mengenainya. Selain itu, fasilitas umum disekitar tempat kejadian tawuran dapat dirusak baik secara sengaja maupun tidak. Contoh fasilitas umum adalah toko, bus umum, halte, telefon umum, dan lain-lain.

Penanggulangan Tawuran
Ada berbagai cara untuk menanggulangi tawuran. Cara-cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 (Pangloli, 2009; “Makalah Tawuran Pelajar,” 2011), yaitu: (a) pengajaran, terdiri dari memberikan pendidikan moral melalui orang tua dan acara atau kegiatan sekolah, serta menghadirkan figur atau teladan yang baik seperti seorang guru, orang tua, dan teman atau kerabat yang memiliki kepribadian baik dan kemampuan untuk mengarahkan seseorang untuk berperilaku baik; (b) perhatian, orang tua berperan untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya khususnya dalam mengawasi pergaulan mereka (“Pengertian Tawuran,” 2012); dan (c) mawas diri, seseorang harus melakukan intropeksi diri untuk mengetahui kelemahan dirinya dan memperbaiki sifat-sifat yang tidak sesuai dengan nilai norma dan moral (Kartono, 1986).

Daftar Pustaka
Anantasari. (2006). Seri pustaka familia: Menyikapi perilaku agresif anak. Yogyakarta: Kanisius.
Ardiyansyah, M. A. (2011). Proses internalisasi nilai. Diunduh dari http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/proses-internalisasi-nilai.html
Kartono, K. (1986). Psikologi sosial 2: Kenakalan pelajar. Jakarta: Rajawali.
Lubis, A. (2011). Pengaruh kawan dalam membentuk perilaku dan karakter. Diunduh dari http://fimadani.com/pengaruh-kawan-dalam-membentuk-perilaku-dan-karakter/
Makalah tawuran pelajar. (2011). Diunduh dari http://iftitahnjk.blogspot.com/2011/06/makalah-tawuran-pelajar.html?m=1
Pangloli, A. A. (2009). Tawuran, ga jaman gitu loch. Diunduh dari http://www.kekal-indonesia.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=54
Pengertian tawuran. (2012). Diunduh dari http://www.tutorialto.com/pendidikan/1127-pengertian-tawuran.html
Tawuran. (2011). Diunduh dari http://keantere21.blogspot.com/2011/09/tawuran.htmli?m=1
Tawuran antar pelajar. Diunduh dari http://www.scribd.com/mobile/doc/31705681
Tawuran pelajar. (2010). Diunduh dari http://daimabadi.blogdetik.com/2010/04/27/tawuran-pelajar/comment-page-1/

Tawuran (BELLATRIX WULANSARI - 705120112)


Pendahuluan
     Perkelahian atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan hanya antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Akhir-akhir ini terjadi tawuran di kota Jakarta yang melibatkan SMA 70 dengan SMA 6. Tawuran ini memakan satu korban yaitu pelajar dari SMA 6.

Definisi Tawuran
     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), “Tawuran diartikan sebagai perkelahian beramai-ramai.” Dalam arti umum tawuran adalah suatu perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Tawuran sering diidentikan dengan para pelajar, mahasiswa bahkan warga desa sekalipun. Maka tak heran jika kita sering menjumpai tawuran dijalan, khususnya ibukota.

Faktor-faktor yang Menyebabkan Seseorang Terlibat Tawuran
     Faktor internal. Remaja yang terlibat tawuran di dalam faktor internal tidak dapat mengembangkan dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Biasanya remaja ini mempunyai sifat yang mudah lari dari masalah dan menyalahkan orang lain. “Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks” (Zulkarnaen, 2011).
     Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak yang di asuh oleh orang tua yang melakuakan kekerasan akan merasa wajar jika dia melakukan kekerasan terhadap orang lain. Sebaliknya, anak yang terlalu diberikan perhatian lebih, dampaknya ia akan menyerahkan dirinya secara total  dengan teman-temannya.  “Many youth are drawn from families that are abusive, and particulary for girls the gang provides the skill to fight back against the violence of their family” (Joe & Chesney-lind dikutip dalam Barak, 2003, h. 66).
     Faktor sekolah.  “Lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya” (Zulkarnaen, 2011). Kegiatan yang mereka lakukan bisa bersifat positif atau negatif. Kegiatan negatif yang dilakukan remaja berupa tawuran.
     Tindakan kekerasan guru didalam kelas juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya tawuran remaja. “Guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam  ‘mendidik’ siswanya” (Zulkarnaen, 2011).
     Faktor lingkungan. Lingkungan yang bersifat negatif akan mempengaruhi  kelakuan remaja dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya lingkungan yang kumuh dan bayak pelaku kejahatan yang tinggal di daerah itu(pengguna narkoba). Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
Howell (dikutip dalam Barak, 2003, h. 94) mengemukakan bahwa :
        Most gangs are governed by norma supporting the expressive use of violence to settle disputes and to achieve group goals associated with member recruitment, deferise of one’s  identity as a gang member, truft protection and expansion and defenseof the gangs honor.gang sanctioning of violence is also dictated by a code of honor that stressesthe inviolability of one’s manhood and defines breaches of etiquette. Violence is also a means of demonstrating toughness and fighting ability and of establishing status in the gang.

Dampak dari Tawuran
Zulkarnaen (2011) mengemukakan bahwa:
       Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

Upaya dalam Mencegah Terjadinya Tawuran    
             Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar adalah sebagai berikut (a) memberikan pendidikan moral untuk para pelajar, (b) menghadirkan figur yang baik untuk dijadikan contoh, (c) memberikan perhatian lebih kepada para remaja, dan (d) memberikan fasilitas yang baik untuk para pelajar baik di lingkungan rumah maupun dilingkungan sekitar (“Perkelahian Remaja,” 2011).


Daftar pustaka
Barak, G. (2003). Violence and nonviolence: Pathways to understanding. California, CA: Sage Publication, Inc.
Perkelahian remaja. (2011). Makalah. Diunduh dari http://iftitahnj.blogspot.com/2011/06/makalah-tawuran-pelajar.html.
Tawuran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online. Diunduh dari http://www.kbbi.web.id/
Zulkarnaen, S. D. (2011, 15 Mei). Tawuran memprihatinkan dunia pedidikan. Diunduh      dari http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html.

24 Oktober 2012

Kamis, 01 November 2012

Faktor dan Dampak Tawuran Di kalangan Remaja (Dwi Maulidyani - 705120064)


Pengertian Tawuran
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), “tawuran adalah perkelahian massal atau perkelahian yang dilakukan beramai-ramai”. Berdasarkan definisi tersebut, maka tawuran pelajar dapat diartikan sebagai perkelahian yang dilakukan secara massal atau beramai-ramai antara sekelompok pelajar dengan sekelompok pelajar lainnya.
     Menurut Mansoer (dikutip dalam Solikhah, 1999) “perkelahian pelajar atau yang biasa disebut dengan tawuran adalah perkelahian massal yang merupakan perilaku kekerasan antar kelompok pelajar laki-laki yang ditujukan pada kelompok pelajar dari sekolah lain”.

Penyebab Tawuran                                                                              
     Faktor keluarga. Berikut ini adalah salah satu faktor penyebab tawuran, yaitu faktor keluarga: a. Adanya  parenting  yang  otoriter,  di  mana  dalam  pengasuhan  dipenuhi  dengan tindakan  kekerasan  terhadap  anak; b. Adanya kekerasan yang terjadi antar orangtua, misalnya orangtua kurang harmonis, sering  bertengkar  dan  melakukan  tindak  kekerasan.
Faktor sekolah. Sekolah merupakan salah satu faktor penyebab tawuran, berikut ini faktor-faktor penyebab tawuran dari lingkungan sekolah: a. Adanya kualitas pengajaran yang kurang memadai dan kurang menunjang proses belajar; b. Adanya guru yang lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai  tokoh  otoriter  yang  seringkali  menggunakan  kekerasan  dalam  “proses pembelajaran” dan “mendidik” siswanya.
Faktor lingkungan. Berikut ini faktor-faktor dari lingkungan sekitar bisa terjadinya tawuran: a. Adanya lingkungan yang sempit dan kumuh, anggota lingkungan yang berperilaku buruk, misalnya: pemakai narkoba, zat adiktif, pemerasan, pengeroyokan, dan tindakan brutal lainnya; b. Lingkungan kota (tempat tinggal) yang penuh kekerasan yang hampir setiap hari, setiap saat disaksikan oleh para remaja, seperti: tayangan buser, TKP, paroli, dll.; d. Adanya  kelompok  sebaya  (geng)  yang  berprilaku  tidak  baik.
Perbedaan persepsi. Dalam menghadapi suatu masalah, jika terjadi perbedaan persepsi maka hal itu dapat menyebabkan munculnya konflik.

Sumber Konflik
  Menurut Smith (dikutip dalam Sopiah, 2008), sumber terjadinya konflik adalah masalah komunikasi, struktur organisasi dan faktor manusia.
Masalah komunikasi. Yang bisa terjadi pada masing-masing atau gabungan dari unsur-unsur komunikasi, yaitu sumber komunikasi, pesan, penerima pesan dan saluran.
Struktur organisasi. Secara potensial dapat memunculkan konflik. Dalam organiasasi mempunyai tujuan, kepentingan dan program sendiri-sendiri yang seringkali berbeda dengan yang lain.
Faktor manusia. Sifat dan kepribadian manusia satu dengan yang lain berbeda dan unik. Hal ini berpotensi memunculkan konflik.

Akibat tawuran
  Akibat dari tawuran yaitu luka-luka karena terkena batu yang dilempar oleh musuh atau terkena ikat pinggang salah satu musuh. Tawuran juga menimbulkan dampak berupa hukuman dari sekolah. Hukuman dari sekolah dapat memberian efek jera bagi para pelajar, seperti skorsing atau bahkan dikeluarkan dari sekolah atau Drop Out (D.O). Masuk penjara juga merupakan akibat dari tawuran. Jika tertangkap polisi dan dianggap membahayakan maka akan terkena Pasal 351 ayat 3 dengan hukuman 7 tahun penjara, Pasal 170 ayat 2 ketiga E dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, dan yang paling parah Pasal 338 dengan ancaman 15 tahun penjara. Lebih parah akibat dari tawuran yaitu kehilangan nyawa. Sudah banyak korban-korban yang kehilangan nyawa akibat mengikuti tawuran.

Menghindari Tawuran
    Cara menghindari tawuran yaitu, tidak terpengaruh lingkungan sekitar, menolak ajakan teman yang ingin kita mengikuti tawuran; hindari senior yang suka mengajak tawuran, menghindar jika bertemu atau melihat senior yang suka mengajak tawuran; sepulang sekolah langsung pulang ke rumah, jika bel pulang sekolah sudah berbunyi, jangan terlalu sering kumpul bersama teman-teman; melakukan kegiatan positif, seperti mengikuti ekstrakurikuler.

DAFTAR PUSTAKA
Fakhrurrozi, M. (2009). Kecerdasan emosi pada remaja pelaku tawuran. Diunduh dari http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10501002.pdf
Sopiah. (2008). Perilaku organisasional. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET (penerbit ANDI).

23 Oktober 2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Tawuran (Tiffany Frederika - 705120108)


Tawuran
     Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 September 2012, kita digemparkan oleh peristiwa tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 yang menewaskan seorang pelajar. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai tanggal 26 September 2012, 17 orang pelajar telah tewas akibat tawuran, sementara data dari Komnas Anak menunjukkan bahwa dari tanggal 1 Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 telah ada 139 kasus tawuran (Ren, 2012).

Definisi Tawuran
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, kata tawuran, yang memiliki kata dasar tawur, berarti  perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal. Tawuran dilakukan oleh dua atau lebih kelompok yang saling bermusuhan. Biasanya dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, karena itu, tawuran yang akan dibahas adalah tawuran antar pelajar yang sedang marak terjadi.

Penyebab Tawuran
     Orang-orang sering berasumsi bahwa pelaku tawuran adalah anak-anak yang berasal dari tingkat ekonomi rendah dan memiliki nilai moral serta nilai agama yang rendah, padahal penyebabnya tidaklah sesederhana itu, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada di kota besar seperti Jakarta, karena sering kali masalahnya sangat kompleks dan meliputi berbagai faktor (Zulkarnaen, 2011). Diantara faktor-faktor tersebut, ada dua faktor yang akan dibahas lebih lanjut.
     Pengaruh lingkungan. Lingkungan sosial, terlebih kelompok dimana seorang remaja berada, berpengaruh besar sebagai salah satu faktor penyebab tawuran. Howell (dikutip dalam Barak, 2003, h. 94) mengungkapkan:
Most gangs are governed by norms supporting the expressive use of violence to settle disputes and to achieve group goals associated with member recruitment, defense of one’s identity as a gang member, turf protection and expansion, and defense of the the gang’s honor.
Howell telah menjelaskan bahwa dalam kebanyakan kelompok, kekerasan cenderung digunakan untuk berbagai hal, termasuk untuk melindungi anggota dari kelompok mereka. Hal ini yang menyebabkan tawuran terjadi, solidaritas yang terlalu kuat yang tejalin dalam sebuah kelompok, sehingga bila ada satu saja anggota kelompok mereka yang terluka, mereka akan berusaha membelanya. Selain itu, lingkungan di sekitar rumah dan sekolah yang buruk juga dapat merangsang remaja untuk berperilaku buruk, yang mendukung perilaku berkelahi (Zulkarnaen, 2011).
     Pengaruh keluarga. Cara orang tua membesarkan anaknya juga merupakan salah satu faktor seorang anak terlibat dalam aksi tawuran. Bila seorang anak dibesarkan dengan kekerasan, dia akan berpikir bahwa kekerasan adalah sesuatu yang wajar, sehingga dia akan mudah melakukan kekerasan, sebaliknya, bila seorang anak dibesarkan dengan perlindungan orang tua yang berlebihan, sang anak akan menjadi individu yang tidak mandiri dan akan mudah terpengaruh oleh teman-temannya (Zulkarnaen, 2011). Ada juga alasan-alasan lain dalam keluarga, seperti kurangnya perhatian dari keluarga.
Cara Pencegahan Tawuran
     Sebenarnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tawuran, mulai dari yang sederhana sampai yang membutuhkan tenaga ekstra. Berikut ini ada beberapa cara pencegahan tawuran yang dapat dilakukan.
     Pencegahan tawuran oleh sekolah. Untuk mencegah tawuran, Kemendibud telah membuat 3 rumusan dasar, yaitu:

Tegakkan disiplin internal sekolah.

Kita bangun kegiatan bersama antar sekolah.

Kita berikan dukungan penuh kepada kepolisian untuk menegakkan hukum siapapun yang salah harus dihukum.

Jika sekolah benar-benar menjalankan ketiga rumusan di atas, maka tawuran antarpelajar akan dapat dicegah.
     Pencegahan tawuran oleh keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah kelompok sosial, karena itu, selain sekolah, keluarga juga bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan tawuran antarpelajar. Menurut Alimoeseo (dikutip dalam Felicia, 2012), masa remaja adalah masa pencarian jati diri, sehingga orang tua harus mengarahkan anak-anaknya agar memiliki karakter yang baik, serta memiliki komunikasi yang baik dengan anak sehingga anaknya memiliki karakter yang kuat dan tidak mudah terpengaruh lingkungan.

Kesimpulan
     Masa remaja adalah masa seseorang masih berusaha mencari jati dirinya, sehingga remaja mudah terkena pengaruh buruk dari lingkungan sekitarnya, terlebih lagi teman-temannya. Oleh karena itu, bimbingan orang tua dan sekolah sangat diperlukan agar remaja dapat memiliki karakter yang tidak mudah terpengaruh lingkungannya dan tidak terlibat dengan kelompok-kelompok yang mudah melakukan kekerasan.

Daftar Pustaka
Barak, G. (2003). Violence and nonviolence: Pathways to understanding. California, CA:    Sage Publications, Inc.
Felicia, N. (2012, 26 September). Pencegahan tawuran pelajar butuh komitmen berbagai pihak. Diunduh dari http://www.beritasatu.com/keluarga/74048-pencegahan-tawuran-pelajar-butuh-komitmen-berbagai-pihak.html
Ren, R. (2012, 28 September). Sederet tawuran pelajar di Jabodetabek sejak awal 2012. Diunduh dari http://metro.news.viva.co.id/news/read/354946-sederet-tawuran-pelajar-di-jabodetabek-sejak-awal-2012
Tawuran. (n.d.). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online. Diunduh dari http://www.kbbi.web.id/
Zulkarnaen, S. D. (2011, 15 Mei). Tawuran pelajar mempriatinkan dunia pendidikan. Diunduh dari http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html

23 Oktober 2012

DAMPAK PSIKOLOGIS TAWURAN PELAJAR TERHADAP PELAKU DAN KORBAN TAWURAN DI MASYARAKAT (MEILINDA WIJAYA - 705120043)


Fenomena Tawuran Pelajar
     Tawuran tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, namun para pelajar juga melakukan aksi tawuran. Menurut Zulkarnaen (2011), dari tahun ke tahun jumlah kasus perkelahian dan jumlah korban cenderung meningkat. Berdasarkan data dari Pembinaan Masyarakat Kepolisian Daerah [Binmas Polda] Metro Jaya pada tahun 1992 tercatat ada 157 kasus perkelahian pelajar. Pada tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan mengakibatkan 10 pelajar meninggal dunia. Pada tahun 1995 terdapat 195 kasus yang mengakibatkan kematian pada 13 pelajar serta dua anggota polisi. Pada tahun 1998 terdapat 230 kasus yang meyebabkan 15 pelajar serta dua anggota polisi meninggal dunia. Pada tahun berikutnya jumlah korban meningkat menjadi 37 orang. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat tiga kasus perkelahian di tiga tempat. Jumlah kasus perkelahian yang terus meningkat sangat memprihatinkan dan dapat berdampak buruk di kalangan masyarakat.

Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar
     Faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pada pelajar meliputi faktor sosiologis, psikologis, dan budaya.
     Faktor sosiologis. Faktor sosiologis meliputi pertemanan, balas dendam, dan ketidakmampuan orang tua memahami dunia anak.
     Pertemanan. Pertemanan merupakan kegiatan untuk bersosialisasi dengan sesama ternyata menjadi salah satu faktor penyebab tawuran. Remaja sering merasa kesulitan untuk menolak ajakan temannya walaupun para remaja tahu bahwa ajakan tersebut akan berdampak buruk pada diri sendiri. Hal ini dikarenakan untuk menunjukkan rasa setia kawan terhadap temannya dan karena para remaja cenderung takut dijauhi oleh teman-temannya.
     Balas dendam. Balas dendam merupakan suatu hal yang tidak baik dan sebaiknya dihindari. Biasanya tawuran dipicu oleh suatu tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh sebuah kelompok terhadap kelompok lain. Anggota kelompok yang menjadi korban biasanya akan menceritakan perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya dan hal itu memicu dendam pada anggota lain. Anggota lain yang merasa tidak senang tersebut akan membalas dendam dan akhirnya menimbulkan suatu perkelahian atau tawuran.
     Ketidakmampuan orang tua memahami dunia anak. Orang tua yang terlalu sering melarang anaknya melakukan hal tertentu atau bersikap otoriter dapat menyebabkan anak sulit untuk mengekspresikan dirinya. Hal tersebut dapat membuat anak mencari alternatif lain sehingga anak dapat mengeskpresikan dirinya, salah satunya dengan cara tawuran.
     Faktor psikologis. Faktor psikologis, salah satunya yaitu hilangnya kasih sayang dari orang tua. Kesibukan orang tua yang sangat padat membuat waktu orang tua lebih banyak tersita untuk pekerjaan dibandingkan untuk anak. Kasih sayang dari orang tua yang kurang akan menghambat pembentukan moral dan budi pekerti yang baik pada anak.
     Faktor budaya. Faktor budaya meliputi faktor budaya di sekolah. Hal ini sudah tidak asing di masyarakat. Gengsi menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diperebutkan antar pelajar untuk sekolah mereka. Aksi tawuran ini sudah menjadi sebuah tradisi turun-temurun dari para senior.

Dampak  Tawuran Pelajar
     Dampak tawuran pelajar meliputi dampak sosiologis dan dampak dalam masyarakat.
     Dampak Psikologis. Dampak psikologis meliputi frustrasi dan stres.
     Frustrasi. “Frustrasi adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan karena adanya halangan atau rintangan untuk mencapai kepuasan atau tujuan tersebut” (Fauzi, 2004, h. 62). Frustrasi dapat dialami oleh para korban tawuran karena mereka tidak dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan yang disebabkan karena rasa takut akibat aksi tawuran.
     Stres. “Stres dirumuskan sebagai setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seseorang dalam kehidupan, pengaruhnya bisa bersifat wajar ataupun tidak, tergantung dari reaksinya terhadap ketegangan tersebut”  (Gunarsa & Gunarsa, 2004, h. 263). Stres yang terlalu berat dapat mengganggu kondisi mental pelaku tawuran sehingga pelaku tawuran tidak mampu menjalani aktifitasnya seperti biasa.
     Dampak dalam masyarakat. Dampak dalam masyarakat menyebabkan merusak identitas bangsa, membahayakan keselamatan diri, merusak citra keluarga dan hubungan antar anggota keluarga, serta merusak fasilitas umum.
     Merusak identitas bangsa. Tawuran pelajar yang sekarang ini sering terjadi dapat berdampak buruk bagi identitas bangsa Indonesia di mata negara lain. Hal ini membuat bangsa lain melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tidak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan cara damai.
     Membahayakan keselamatan diri. Aksi tawuran tidak akan lengkap jika tidak ada senjata yang digunakan untuk melawan musuhnya. Senjata yang dibawa umumnya senjata tajam yang dapat membahayakan diri sendiri dan bahkan dapat membahayakan orang lain.
     Merusak citra keluarga dan hubungan antar anggota keluarga. Tidak hanya identitas bangsa yang menjadi buruk, citra keluarga pelaku tawuran pun menjadi buruk. Membangun sebuah citra yang baik di mata masyarakat tidaklah mudah. Namun, jika citra baik yang sudah dibangun lalu dirusak oleh kelakuan anak yang buruk dapat menyebabkan kerenggangan hubungan antar anggota keluarga. Selain itu, orang tua pun akan merasa malu dan kecewa atas tindakan anaknya tersebut.
     Merusak fasilitas umum. Aksi tawuran selalu identik dengan senjata tajam seperti pisau dan batu. Aksi tawuran yang dilakukan di jalan raya dapat merusak fasilitas umum yang diakibatkan karena pelemparan batu-batu oleh para peserta tawuran. Kerusakan fasilitas umum tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga merugikan pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan pemerintah daerah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaiki fasilitas umum tersebut.

Cara Mencegah Tawuran Pelajar
     Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tawuran pelajar.
     Membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga. Hal ini bertujuan agar anak tidak merasa tidak dipedulikan oleh keluarganya. Membangun sebuah hubungan yang baik dapat dilakukan dengan beberapa cara.
     Makan malam bersama. Makan malam bersama dapat menjadi alternatif lain dalam berkomunikasi. Para orang tua dapat bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan oleh anak selama satu hari sehingga kegiatan anak selama satu hari dapat terpantau oleh orang tua.
     Pergi ke tempat rekreasi bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan saat liburan. Hal ini bertujuan agar anak menyadari bahwa orang tuanya saying terhadap dirinya. Dari kegiatan ini sikap kerja sama antar anggota keluarga dapat terbina dengan baik.
     Saling membantu satu sama lain. Peran orang tua untuk menumbuhkan sikap tolong-menolong pada diri anak sejak kecil sangatlah penting. Dengan saling membantu anak dilatih untuk lebih peduli dan bertoleransi terhadap sesama.
     Melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang.  Mengisi waktu luang dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mendekatkan diri pada Tuhan.
     Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ada berbagai macam kegiatan ektrakurikuler di sekolah.
     Ekstrakurikuler menari daerah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler menari, anak dilatih untuk melatih kesabaran dan mencintai budaya Indonesia yang mulai tergeser oleh budaya barat.
     Ekstrakurikuler olahraga. Kegiatan ini dapat melatih anak untuk dapat bekerja sama dengan baik dengan teman-temannya dan dapat melatih fisik anak agar sehat.
     Ekstrakurikuler melukis. Kegiatan ini dapat membantu menyalurkan hobi anak yang menggemari bidang seni dan melatih kreatifitas anak.
     Mendekatkan diri pada Tuhan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berdoa atau melakukan renungan harian bersama di rumah dan pergi ke tempat beribadah bersama. Melalui cara ini diharapkan anak menjadi punya iman yang kuat sehingga dapat menolak ajakan temannya untuk ikut aksi tawuran. Dengan mendekatkan diri pada Tuhan juga dapat membantu anak untuk lebih cerdas dalam memilih pergaulan yang baik dan yang buruk.

Daftar Pustaka

Apa penyebab tawuran?. (2012). Diunduh dari
     http://m.tempo.co/read/news/2012/09/26/064432006/Apa-Penyebab-Tawuran-
     Pelajar
Fauzi, A. H. (2004). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.
Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi praktis: Anak, remaja, dan
     keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Kasih sayang hilang dari rumah dan sekolah. (2012). Diunduh dari
     http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/15/14315390/Kasih.Sayang.Hilang.dari.
     Rumah.dan.Sekolah?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=
     Tawuran%20Sma%2070%20Dan%20Sma%206
Zulkarnaen, S. D. (2011). Tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan.
     Diunduh dari http://kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-
     memprihatikan-dunia-pendidikan.html