Kamis, 13 Juni 2013

Practice is not as Easy as the Theory (Sylvia Kristiani)

Praktek memang tidak semudah teori. Teori yang sudah diketahui belum tentu dapat dipraktekkan dengan baik. Praktek wawancara di ruang wawancara sangat memberikan pengalaman dan pelajaran bagi saya. Saya membayangkan bagaimana kalau seandainya suatu hari saya benar-benar memiliki ruangan praktek seperti itu. Ditambah lagi dengan peran yang berbeda-beda, semakin membuat saya mengetahui apa yang harus dilakukan oleh seseorang saat wawancara.
Wawancara membutuhkan seluruh indra kita dan dibutuhkan pula kemampuan multi-tasking. Saat wawancara, saya harus mendengarkan interviewee sambil berpikir mengenai apa yang dikatakannya dan pertanyaan apa yang saya berikan selanjutnya. Saya juga harus melakukan observasi pada interviewee sambil mendengar apa yang dikatakannya. Saya juga mencatat jawaban interviewee dengan tetap menjaga kontak mata dengannya, seperti tidak terlalu sering dan tidak terlalu lama menunduk dan melihat kertas sehingga tidak memperhatikan interviewee.
Saat berperan sebagai observer, hal itu juga tidak mudah dilakukan. Saya harus sungguh-sungguh memperhatikan interviewer dan mendengar apa yang dikatakannya agar tidak ada yang terlewatkan karena bisa saja ketika saya lengah dan tidak memperhatikannya, terdapat perilaku dan kata-kata interviewer yang cukup penting untuk dicatat. Saat berperan sebagai klien, saya harus memikirkan dan memposisikan diri saya seandainya saya benar-benar orang yang mengalami hal yang ada dalam wawancara.
Tema yang berbeda pun juga mempengaruhi saya. Misalnya, saat saya melakukan wawancara dalam setting pendidikan, maka saya harus memikirkan pakaian seperti apa yang harus saya gunakan, yang mungkin saja berbeda dengan ketika saya melakukan wawancara pada setting klinis atau pendidikan. Seluruh sikap dan perilaku saya juga harus sesuai dengan setting wawancara saat itu. Saya tidak dapat melakukan wawancara dengan menggunakan bahasa formal seperti melakukan wawancara untuk merekrut karyawan ketika saya melakukan wawancara pada setting pendidikan yang mungkin interviewee-nya adalah seorang anak SMP.
Pelajaran lainnya yang saya peroleh adalah bahwa dalam wawancara, kita harus benar-benar fokus pada interviewee, termasuk dengan apa yang dikatakannya. Kita harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum melakukan wawancara agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses wawancara, misalnya saja merasa lapar atau mengantuk saat wawancara sehingga dapat mengganggu konsentrasi kita pada interviewee. Di atas semuanya itu, praktikum wawancara benar-benar memberikan pengalaman dan pelajaran bagi saya.

5 Juni 2013

Here Comes The Real Experience (Dessy Lie)

setelah beberapa minggu mempelajari teori-teori teknik wawancara, tiba harinya kami terjun langsung (lah terjun..) dan menemui subyek masing-masing one on one untuk melakukan wawancara dan menggali informasi dari mereka. hari itu, tepatnya 18 Juni, kami semua berkumpul untuk bersama-sama pergi ke panti yang telah ditentukan. kami sampai di panti itu sekitar pukul 9, dan kemudian dibebaskan untuk mencari subyek yang kira-kira dapat diajak berbagi informasi mengenai masa lalu dan pengalaman-pengalamannya.

pertama-tama saya masih bingung bagaimana membina rapport dengan subyek, bukan hanya itu, bahkan saya bingung untuk memilih subyek yang mana yang kira-kira akan memberi informasi. akhirnya saya mendekati salah satu bapak-bapak yang terlihat sedang duduk di aula, dan ternyata ia baru bangun tidur, kebayang deh masi dengan muka ngantuknya, diajak bicara masih agak gak nyambung. namun setelah berbicara sekian lama, ia terlihat mulai tertarik dan semangat bercerita mengenai pengalamannya mengenai kehidupannya. setelah melakukan wawancara selama 30 menit lebih, saya pun berpamitan dengan bapak tersebut, mengucapkan terima kasih, dan kembali berkumpul dengan teman-teman saya dan saling berbagi cerita dengan teman saya.

kemudian minggu berikutnya, tiba hari praktek wawancara dengan teman sekelas, dilakukan selama 3 minggu berturut-turut dengan tema yang berbeda-beda, yaitu PIO, pendidikan dan klinis. minggu pertama merupakan PIO, setiap orang diberikan waktu selama 10 menit untuk mewawancara, serunya ada yang menjadi observer dan tentu saja teman kita sendiri yang menjadi subyek wawancaranya. maklum yang namanya baru pertama praktek, saya kehabisan daftar pertanyaan sehingga tidak mencapai waktu 10 menit yang diberikan, hehe. lalu pada minggu kedua, mulai membaik dan mulai terbiasa dengan keadaan laboratorium wawancara tersebut. apalagi saat minggu ketiga, menjadi sesuatu yang menyenangkan (iya lah, hari terakhir soalnya :p). ada kejadian lucu saat saya menjadi observer, yaitu ketika klien mengatakan bahwa ia berasal dari kalangan atas, kemudian pewawancara menanyakan apa yang biasa ia lakukan saat hari minggu, kemudian klien menjawab, "biasalah pak saya kumpul sama tetangga ya, main gaple ato sabung ayam". saat itu saya langsung tertawa, kalangan atas ternyata main sabung ayam, toh :D

selama melakukan praktek baik di lab ataupun di panti, saya merasa wawancara merupakan hal yang menarik dan seru untuk terus dilakukan, dari yang terlihat seperti ngobrol-ngobrol santai pun kita bisa mendapat berbagai informasi mengenai orang tersebut, sudut pandangnya, pengalamannya.

and the last but not least, makasih banyak  buat Bu Henny dan Ci Tasya yang telah membimbing saya 1 semester ini, its fun to learn about interview, but its more fun to practice it for real. practice makes perfect!

5 Juni 2013

Final Reflection and Valuable Lesson (Teguh Lesmana)

Mata kuliah teknik wawancara bagi saya merupakan mata kuliah yang kalau cuma teori saja tidak akan ada hasilnya, mata kuliah ini memang akan lebih kelihatan hasilnya kalau sudah praktek di lapangan. Ya benar saja pada waktu saya datang ke panti PSBD di Cengkareng, akhirnya saya benar-benar tahu bagaimana rasanya melakukan wawancara yang sebenarnya dengan orang yang tidak kita kenal dan perasaan yang saya rasakan pertama kali adalah gugup dan cemas....ya kedua perasaan itu yang saya alami saat pertama kali datang masuk ke panti. Saya bingung harus memulai dari mana...terlebih lagi saya harus mencari sendiri dan mendekati subyek yang akan saya wawancara...makin bertambah lagi beban yang saya rasakan. Oleh karena itu saat ada salah seorang bapak mendekati saya, saya langsung tersenyum pada bapak itu dan untungnya dia juga ikut tersenyum kalau tidak wah saya tidak tahu harus memulai bagaimana.....karena saya pernah dapat pengalaman untuk mendatangi suatu panti juga (meski panti yang berbeda) saat saya tersenyum dan mendekati orang yang hendak saya ajak bicara, orang tersebut malah membuang muka dan pergi meninggalkan saya. Untung kejadian itu tidak terulang dan pada situasi ini bapak yang menjadi subyek saya sangat kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang saya tanyakan setelah sebelumnya bapak tersebut setuju untuk diwawancara.

Akhirnya setelah selesai wawancara saya berpikir mungkin wawancara itu ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan...bagian yang tersulit menurut saya adalah ketika hendak memulai wawancara karena saat hendak memulai itu kita masih belum tahu bagaimana karakteristik subyek kita dan cara kita mendekati subyek agar mau terbuka pada kita dalam menceritakan hidupnya juga tentu harus melalui percakapan kecil yang membuat kita lebih dekat dengan subyek. Setelah melalui semua itu saya rasa melakukan wawancara itu tidaklah sulit dan tanya jawab yang dilakukan antara saya dengan subyek pun seperti air mengalir karena mengalir begitu saja seperti orang mengobrol dan tidak ada beban sama sekali. Ya setidaknya hal itulah yang saya rasakan saat melakukan praktek langsung wawancara dengan orang yang ada di panti yang saya kunjungi hehehe :D

Nah selain praktek langsung itu kemarin juga ada sesi role play dimana semua mahasiswa itu masing-masing akan memerankan sebagai pewawancara, klien dan observer berdasarkan setting yang telah ditentukan. Dari ketiga setting yang ada mulai dari setting PIO, Pendidikan, dan Klinis; yang menurut saya paling sulit adalah setting klinis karena setting klinis itu kasusnya macam-macam dan juga saat melakukan wawancara itu kita harus sudah hapal pertanyaan yang kita ajukan tanpa melihat daftar pertanyaan wawancara. Jadi setidaknya kita itu harus sudah menghapal semuanya dulu gitu...karena pada praktek nantinya saat kita jadi psikolog juga tidak akan mungkin kita memakai kertas daftar pertanyaan yang mau kita tanyakan....semua pertanyaan harus sudah ada dalam kepala.

Kesan saya selama mengikuti kelas teknik wawancara dalam satu semester ini adalah mata kuliah teknik wawancara benar-benar merupakan mata kuliah yang luar biasa ilmunya dan pengalamannya saya rasa merupakan suatu pengalaman yang sulit dilupakan. Jadi saya sangat senang sudah dapat mengikuti mata kuliah ini bersama dengan pembimbing yang juga selalu menyenangkan dan tidak bikin ngatuk di kelas..bikin tertawa iya hahaha terima kasih Bu Henny dan Ci Tasya untuk semua yang telah diajarkan selama satu semester ini dan saya yakin semuanya yang diajarkan di kelas ini akan selalu diingat dalam hati kami semua mahasiswa :D

5 Juni 2013

Pengaplikasian Teknik Wawancara dalam Berbagai Bidang (Anastasia Salatang)

Wawancara memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai salah satu sumber pengumpulan data yang dapat berguna untuk memperjelas suatu tujuan yang ingin dicapai. Wawancara dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang dan memiliki peranan penting dalam bidang-bidang tersebut, misalnya saja pada tiga bidang umum yaitu pengaplikasian pada Indusrti dan Organisasi, Pendidikan, serta Klinis, wawancara memiliki peran yang sangat penting sebagai awal dalam suatu tujuan yang diinginkan masing-masing bidang. Dalam bidang Industri dan Organisasi, wawancara dapat digunakan sebagai langkah awal dalam menerima karyawan untuk berkerja di perusahaan, bukan hanya itu saja wawancara juga dapat digunakan untuk melihat kinerja seorang karyawan ataupun untuk memperjelas permasalahan yang sedang dihadapi karyawan di dalam pekerjaannya. Wawancara di bidang Industri dan Organisasi biasanya dilakukan dengan formal dan kaku.

Sedangkan pada bidang Pendidikan, wawancara dapat digunakan untuk penerimaan siswa baru, ataupun sebagai media pengumpulan data diri siswa yang ingin diketahui oleh guru secara langsung. Selain itu juga, wawancara dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh siswa atau untuk siswa yang memiliki perilaku yang kurang baik di lingkungan sekolah, sehingga setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswa dapat dipahami guru. Wawancara di bidang pendidikan, biasanya dilakukan dengan santai dan tidak kaku, sehingga siswa tidak merasa seperti diinterogasikan oleh guru. Dalam bidang Klinis, wawancara sangat diperlukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh klien, sehingga memudahkan dalam mendiagnosa apa yang menjadi penyebab permasalahan klien. Pada bidang klinis wawancara dilakukan tanpa menggunakan pedoman wawancara, dan wawancara biasanya dilakukan dalam lingkungan formal, sehingga terlihat lebih kaku.

Wawancara dalam pengaplikasiannya lebih banyak yang bersifat formal dan kaku, untuk mendapatkan informasi dalam melengkapi data-data yang diinginkan guna memenuhi tujuan dari wawancara. Wawancara juga dapat diaplikasikan bukan hanya pada bidang pekerjaan saja tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan pelajaran dari nilai-nilai kehidupan yang belum diketahui sebelumnya. Pada saat mengunjungi salah satu panti, banyak nilai kehidupan yang sebelumnya tidak terfikirkan. Bagi orang-orang yang tinggal di panti, kebahagiaan itu adalah saat dapat berkumpul dengan keluarga, berada di tengah-tengah keluarga merupakan anugerah terindah yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang yang setiap harinya tinggal bersama anggota keluarga. Keluarga memberikan kehangatan dan kebahagiaan yang tidak pernah bisa dibeli dan digantikan oleh apapun. Ucapan syukur yang dipandang kecil, tetapi memiliki makna yang besar atas semua kesempurnaan yang Tuhan berikan tidak seharusnya dianggap kecil. Melalui ucapan syukur banyak nikmat yang akan diperoleh, di dalam kekurangan seseorang dapat melakukan banyak hal yang berguna, karena selalu mengucapkan syukur. Bersyukurlah atas segala sesuatu yang dilakukan walaupun keci, karena indahnya nikmat bersyukur akan membuat hidup menjadi lebih bermakna.

5 Juni 2013

Interviewing...Always Listening..Always Understanding..Always Interesting.. (Agnes Stephanie)

     Mengikuti kelas teknik wawancara memberikan banyak sekali manfaat bagi mahasiswa. Pengalaman praktek di panti werdha dan laboratorium meninggalkan ingatan-ingatan yang menyenangkan dan menarik. Saat di panti werdha kami diminta untuk melakukan sesi wawancara dengan para lansia. Pada saat itu seluruh mahasiswa harus memiliki keberanian untuk memulai pembicaraan dengan para lansia tersebut. Saya termasuk yang bingung sekali bagaimana cara memulai pembicaraan dengan nenek atau kakek di tempat itu. Hal tersebut mengakibatkan beberapa mahasiswa tampak kebingungan mencari nenek atau kakek yang dapat diajak mengobrol bersama. Kebingungan tersebut tampak jelas sekali dari wajah para mahasiswa selama kira-kira 30 menit pertama. Untungnya saya cukup cepat mendapatkan subyek yang dapat diwawancarai. Keberanian untuk mengatakan “Selamat pagi, nek. Boleh duduk di sini?” sangat sulit untuk keluar dari mulut saya pada saat itu. Karena jujur saja saya memiliki ketakutan akan dimarahi oleh nenek atau kakek tersebut. Namun setelah berusaha mendekati satu orang nenek dan nenek tersebut bersedia untuk diwawancarai, proses selanjutnya berjalan dengan lebih mudah. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa memang selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Menyapa dan tersenyum hangat kepada para lansia atau orang lain adalah hal yang paling dasar dan utama sebelum akhirnya membuka pembicaraan yang lebih lanjut.
     Saya mendapatkan pelajaran bahwa ketika anda memberikan senyuman dan sapaan yang baik, maka lawan bicara anda akan memberikan respon yang serupa. Hal serupa juga terjadi pada saat melakukan role play di laboratorium teknik wawancara. Saat menjadi seorang pewawancara, anda akan belajar untuk bersabar dan menunjukkan sikap yang sopan. Menurut saya mendidik seseorang untuk lebih sabar, ramah, sopan, dan memiliki tutur kata yang baik adalah mengikuti kelas teknik wawancara. Dalam wawancara tidak mungkin anda marah-marah atau berbicara dengan nada yang kasar kepada lawan bicara anda. Sekalipun lawan bicara anda berbicara kasar, namun tampaknya seorang pewawancara tetap harus menjaga nada bicara agar tidak saling berdebat. Hal yang paling saya ingat dalam teknik wawancara adalah ekspresi wajah benar-benar harus dipertahankan. Seorang pewawancara tidak boleh tampak terkejut saat mendengar cerita klien. Selama role play di laboratorium teknik wawancara, peran menjadi seorang pewawancara adalah peran yang paling menyenangkan namun sekaligus menantang. Menyenangkan karena seluruh mahasiswa berperan seakan-akan kami adalah seorang psikolog yang handal. Namun disisi lain menantang karena hal tersebut adalah pengalaman pertama kami. Perubahan terlihat dari pertemuan pertama di mana sebagian besar mahasiswa masih tampak terlihat tegang sampai pada pertemuan terakhir di mana sebagian besar mahasiswa telah terlihat sangat santai.
     Selama satu semester berada di dalam kelas ini membuat saya menyadari banyak hal. Pertama dengan wawancara membuat kita akan lebih peka terhadap keadaan orang lain. Wawancara juga membuat kita untuk lebih memperhatikan setiap perkataan lawan bicara kita bukan hanya sekadar mendengarkan. Dengan memperhatikan kita dapat memahami maksud dan arah pembicaraan lawan bicara sehingga hal tersebut akan mempermudah individu yang memiliki profesi seperti psikolog dalam menjalankan tugasnya. Melakukan sesi wawancara adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Dengan wawancara kita dapat membantu individu yang lain yang sedang membutuhkan seorang sosok untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Dengan wawancara kita juga mampu belajar dari pengalaman kehidupan subyek wawancara kita.

5 Juni 2013

Bertanyalah dengan Baik dan Benar (Kusbandiyah Chandrawati)

Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda. Meskipun dua orang yang kembar identik, tinggal di rumah yang sama, hidup di lingkungan yang sama sekalipun pasti memiliki pengalaman yang berbeda.  Selain itu, meskipun sama-sama mengalami suatu peristiwa, namun tentunya pemaknaan dari peristiwa tersebut akan berbeda antara satu dan lainnya.

Oleh sebab itu, saat melakukan wawancara terhadap klien, social history adalah hal yang paling penting untuk ditanyakan. Hal yang harus ditanyakan bukanlah mengenai kejadian apa yang telah terjadi pada mereka, namun bagaimana mereka memaknai kejadian tersebut. Sebagai contoh, menurut saya mungkin ketika melihat seorang bapak-bapak yang sedang berjalan sambil membawa tongkat adalah suatu hal yang biasa dan tidak membawa pengaruh apa-apa pada saya, namun bagi orang lain belum tentu hal tersebut merupakan hal yang biasa. Bisa saja saat ia melihat seorang bapak-bapak berjalan membawa tongkat ia akan menjerit ketakutan karena mengingat pengalamannya di masa kecil saat ia sering dipukul oleh ayahnya dengan menggunakan tongkat.

Jadi, sebenarnya apa saja yang perlu kita tanyakan pada saat wawancara terhadap klien?

Terdapat 17 area yang perlu ditanyakan terhadap klien. Area tersebut mencakup: family of origin, extended family, present family constellation, educational level attained, occupational training/job history, marital history, interpersonal relationship, recreational preferences, sexual history, medical history, psychiatric/ psychotherapy history, legal history, alcohol and substance abuse, nicotine and caffeine consumption, current living situation, source of support dan religion.

Ternyata untuk memberikan pertanyaan dalam ke-17 aspek tersebut tidaklah semudah yang dipikirkan. Terdapat beberapa area yang cukup sensitive untuk ditanyakan.

Salah satunya adalah marital history. Bayangkan apa yang akan dirasakan seorang klien wanita berusia 40 tahun jika kita bertanya padanya tentang usia pernikahannya atau bahkan tentang anaknya? Ternyata klien tersebut belum menikah apalagi memiliki anak. Tentu akan sangat menyinggung perasaannya.

Tidak hanya itu, bahkan untuk bertanya soal pendidikan dan pekerjaan saja, hal tersebut dapat menjadi hal yang sensitive untuk ditanyakan. Tidak sedikit orang yang merasa kurang nyaman saat ditanya soal pendidikan maupun pekerjaannya. Mungkin saja, mereka merasa tidak ada yang dapat dibanggakan dari pendidikan maupun pekerjaannya.

Setiap area yang ditanyakan bisa menimbulkan perasaan sensitive/tersinggung pada klien, jika kita tidak dapat mengajukan pertanyaan dengan kata-kata yang baik dan benar. Misalnya, bertanya soal pekerjaan. Jangan bertanya: “Apa pekerjaan Anda setiap hari”, melainkan bertanyalah dengan berkata: “Apa kesibukkan Anda setiap hari?”

Jadi, sesungguhnya apapun area yang kita tanyakan, apabila kita tidak dapat menyampaikannya dengan baik, maka tidak akan efektif karena belum tentu mereka mau menjawab pertanyaan tersebut jika kita telah menyinggung perasaannya.
Maka dari itu, berhati-hatilah saat kita berbicara dengan orang lain, tidak hanya kepada klien melainkan pada siapapun juga yang kita temui.

24 Maret 2013

Wawancara --> The Most Enjoyable Experience Ever (Kusbandiyah Chandrawati)

Mari kita lanjutkan lagi pembicaraan tentang “wawancara”….
Sudah lama juga rasanya saya tidak menulis…. Dan sekarang… Banyak cerita yang ingin saya ungkap di sini, mengenai “wawancara”.  
Sudah beberapa minggu terakhir ini saya cukup sibuk dengan mata kuliah yang namanya teknik wawancara beserta tugas-tugasnya, namun bukan berarti kesibukkan itu membuat saya merasa jenuh. Justru sebaliknya, meski sibuk, tapi ada perasaan senang tersendiri di dalamnya. Mengapa demikian?


Yupz… karena hanya di mata kuliah ini lah saya bisa mendapatkan pengalaman baru sebagai seorang pewawancara. Kapan lagi saya bisa merasakan yang namanya wawancara face to face dengan seseorang guna mengumpulkan informasi kalau bukan di mata kuliah ini.

Sejak awal dikatakan bahwa akan praktek wawancara di lab, rasanya saya sungguh tidak sabar ingin merasakannya, dan beberapa minggu inilah akhirnya saya dapat merasakannya. Saya bisa memasuki suatu ruangan kecil di mana hanya terdapat sebuah meja dan dua buah kursi di dalamnya. Di sana saya akan berperan sebagai seorang pewawancara.

Mari saya ceritakan sejak awal praktek di mulai. Minggu pertama, saya berperan sebagai seorang HRD yang memanggil salah satu staff accounting-nya karena ia sering datang terlambat. Hmm… Merasa punya kekuasaan…. Hehe… Rasanya seru sekali. Meskipun seru, bukan berarti hal itu mudah dilakukan. Bayangkan, kita harus melakukan wawancara dengan menerapkan teknik-teknik yang telah diajarkan sebelumnya. Awalnya yang agak saya takutkan adalah kontak mata. Saya pikir akan sulit melakukan kontak mata jika kita berhadapan dengan seseorang tepat di depan kita dalam keadaan formal. Namun ternyata… kontak mata tidak sesulit yang saya pikirkan. Akan tetapi, hal yang tidak saya anggap sulit ternyata kemudian menjadi hal yang sulit saya kuasai saat wawancara. Apa itu? Ternyata masalah konsentrasi…. Hmm… padahal selama ini saat saya belajar ataupun melakukan aktivitas lain, rasanya saya tidak pernah bermasalah dengan konsentrasi. Ternyata pada saat wawancara, untuk berkonsentrasi terhadap jawaban seseorang itu sulit. Saya kurang dapat berkonsentrasi saat klien saya bercerita, rasanya pikiran saya melayang-layang entah kemana. Nah, itu membuat saya tidak dapat memberikan pertanyaan secara mengalir, sehingga pertanyaan yang saya berikan terkesan melompat-lompat. Baiklah… Itu baru praktek pertama kan? Let’s try better for the next.

Selanjutnya, minggu kedua datang. Kali ini saya berperan sebagai seorang guru BK.  Asik… Kapan lagi bisa jadi guru? Hehe… Saya berperan sebagai guru BK yang memanggil salah satu muridnya karena di kelas ia sering mengganggu teman-temannya. Bayangkan apa yang terjadi? Pertanyaan yang telah saya rencanakan akhirnya tidak sesuai dengan jawaban teman saya yang berperan sebagai murid. Jadi bagaimana? Ya sudah… Saya berusaha berkonsentrasi mengikuti apa yang ia ceritakan dan membuat pertanyaan baru dari jawabannya. Alhasil, not bad lah… akhirnya saya bisa berkonsentrasi dan mengikuti alur jawaban klien. Mungkin terlalu senangnya saya telah dapat berkonsentrasi, dan terjadilah kebodohan berikutnya. Saya lupa merangkum jawaban (summarizing) klien di akhir wawancara, padahal pada wawancara yang pertama saya telah melakukannya. Haduh… Lagi-lagi tidak sempurna…

Nah, apa kabar dengan praktek di minggu terakhir?
Begini ceritanya… Minggu ketiga tiba, dan saya sudah berjanji pada diri saya bahwa praktek terakhir harus sempurna. No more error happened again! Saya sudah berusaha sebaik mungkin melatih diri di rumah, berusaha menghafal semua pertanyaan yang akan saya tanyakan dan berusaha mengingat semua teknik wawancara yang harus diterapkan. Baik… I’m ready now! Let’s start it!
Coba tebak apa yang terjadi?
Yupz… Gagal lagi!  Huff… Keberuntungan sungguh tidak berpihak pada saya. Mungkin segala macam persiapan telah saya lakukan. Tapi, bagaimana kalau ternyata faktor lain ikut berperan? Faktor apa itu? Takdir… Sungguh bodoh sekali saya hampir datang terlambat di praktek terakhir. Biasanya jika saya berangkat pada jam itu, saya akan tiba sekitar 30 menit sebelum kelas di mulai. Mana terpikir oleh saya bahwa hari itu jalanan sungguh macet tidak seperti biasanya. Alhasil… saya tiba tepat di saat kelompok saya akan masuk ke ruang praktek dan memulai sebagai pewawancara pertama. Akhirnya, tanpa pikir panjang saya langsung memasukki ruang praktek dan berperan sebagai seorang psikolog. Tiba di ruang praktek dalam keadaan tergesa-gesa, keringat bercucuran dan napas yang masih terengah-engah sungguh merusak segalanya. Jadi apa yang terjadi? Blank… hilang semua yang sudah saya pelajari, hilang semua yang sudah saya persiapkan. Jadilah saya psikolog dadakan yang mencari informasi dari kliennya. Klien saya alias teman saya bercerita bahwa ia mengalami masalah tidak percaya diri akan tubuhnya yang gemuk. Meskipun dalam keadaan panik, tentunya teknik-teknik dasar wawancara tetap tidak akan terlewatkan. Namun, hal yang kembali terulang adalah masalah konsentrasi. Saya lupa memperkenalkan diri serta kurang fokus akan pertanyaan yang saya berikan. Pertanyaan yang saya berikan terkesan melompat-lompat lagi dan tidak ada alurnya. Meskipun saya telah menghafal pertanyaan yang akan saya berikan, namun saat klien menjawab di luar ekspektasi saya, saya menjadi bingung dan kurang dapat menguasai situasi. Saya bingung… Saya kurang dapat membedakan apakah klien saya yang kali ini memberikan jawaban yang kurang informatif atau saya yang memberikan pertanyaan dengan kurang jelas, sebab pada klien-klien sebelumnya saya tidak merasakan demikian. Tapi overall, semua masih dapat digolongkan cukup baik. Meskipun setiap praktek masih ada kekurangannya, tapi okelah… namanya juga masih latihan. Mungkin suatu hari nanti saya tentunya akan bisa karena biasa…

Itulah praktek wawancara saya di lab, mungkin masih banyak kurangnya. Nah, masih ada satu lagi pengalaman wawancara saya. Kali ini bukan latihan lagi, tapi sudah langsung terjun ke lapangan. Bukan teman lagi yang menjadi klien saya, tapi ini adalah orang yang bahkan belum pernah saya kenal sama sekali.

Kali ini saya berkesempatan untuk mewawancarai salah satu orang lanjut usia yang tinggal di panti werdha. Ini bukan saatnya main-main lagi. Kali ini harus serius karena ini juga menyangkut nasib tugas akhir mata kuliah teknik wawancara saya. Baiklah, setidaknya saya mungkin tidak akan sekaku saat wawancara di lab. Saya berusaha untuk membuat suasana tidak tegang dan membuat keadaan seolah-olah hanya berbincang-bincang biasa.

Saat tiba di panti, ternyata sulit mencari lansia yang berkenan diajak bicara. Beberapa tidak mau diajak bicara, dan lainnya yang bersedia sudah di pilih oleh teman saya. Awalnya saya memilih seorang lansia wanita di panti itu. Saat pertama menyapanya, terlihat ia ramah dan bisa diajak bicara. Betapa senangnya saya akhirnya mendapatkan klien setelah cukup lama mengelilingi panti tersebut untuk mencari. Pada awal pembicaraan, terlihat tidak ada yang aneh dengannya, namun semakin lama ia semakin berbicara aneh dan kata-katanya tidak saya mengerti. Tidak hanya itu saja, ia bahkan bicara tanpa hentinya. Saya bingung dan salut, napasnya panjang sekali sehingga bisa bicara tanpa henti selama ± 20 menit. Saya ingin tinggalkan dia tapi sungguh tidak sopan. Tapi jika saya terus mendengarkannya, saya tidak mengerti apa yang ia bicarakan.

Baiklah akhirnya saya berhasil lepas dari lansia pertama setelah beberapa lama saya menunggu. Selanjutnya, lansia wanita kedua. Terlihat tidak ada yang aneh juga. Awalnya saya ajak bicara cukup dapat dimengerti, namun semakin lama bicaranya semakin tidak nyambung. Bukan bahasanya yang tidak jelas seperti lansia pertama, tapi yang kali ini tidak nyambung saat diajak bicara. Sepertinya ia mengalami halusinasi, dan pada menit ke-7 tiba-tiba lansia ini mengatakan bahwa ia tidak mau lagi diajak bicara. Tiba-tiba ia katakan “sudah cukup, oma tidak mau lagi” tanpa ada alasan yang jelas. Oke… gagal lagi…

Ckckck… saya mulai pasrah…
Akhirnya tibalah saya pada lansia ketiga, dan yang kali ini adalah laki-laki. Saya berpikir, kalau masih tidak berhasil juga, saya pasrah dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Untungnya kali ini berhasil. Ia bersedia di wawancarai dan apa yang ia katakan masuk akal serta dapat dimengerti. Awalnya ia bersikap agak tertutup, namun di akhir-akhir wawancara, ia kemudian mulai terbuka dan mau menceritakan segala hal yang saya tanyakan.
Akhirnya tugas wawancara saya di panti werdha bisa selesai. Yes… Saatnya pulang…


Meskipun terjadi banyak kekacauan saat wawancara. Tapi itulah yang kemudian menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan dan mungkin akan menjadi hal yang dirindukan. Overall, it can be done with good results and will be the most enjoyable experience ever.

5 Juni 2013