Kamis, 13 Juni 2013

Pengalaman menjadi seorang Interviewer (Gayatri A Ardhinindya)

  Hari Sabtu Tanggal 18 Juni 2013 adalah hari yang paling menegangkan sekaligus hari yang paling saya nanti-nantikan. Sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari pakaian, atribut almamater dan nametagnya hingga air mineral kecil dan makanan ringan untuk saya dan teman-teman saya di perjalanan. Dan pada hari H-nya pun saya bangun lebih pagi agar tidak terlambat, semua itu saya lakukan karena kelas Teknik Wawancara akan melakukan praktikum lapangan di Panti Sosial. Kebetulan saya dan kelompok, mendapat bagian di Panti Sosial Bina Daksa Budi Bhakti Cengkareng. Perjalanan kesana hanya memakan waktu sekitar 40 menit. Sesampainya disana kami langsung berjalan menuju Aula di daerah Panti bagian Pria.
     Para mahasiswa langsung berkenalan dan memilih subjeknya sendiri. Ada juga yang langsung memutar balik ke arah Panti Putri. Setelah saya memasuki Aula dan keluar menuju Panti Putri, saya langsung berhenti di dekat pintu Aula, karena ada seorang pria tuna daksa yang mengambilkan saya kursi untuk duduk berhadapan dengan kursinya. Maka dialah yang saya pilih menjadi subjek saya. Jujur ketika saya mulai mewawancarainya, saya agak bingung untuk merangkai kata. Maka saya awali dengan pertanyaan yang ringan seputar kondisi sehari-harinya di Panti itu.
     Setelah saya dapat mengira-ngira bagaimana moodnya hari itu, saya mulai perlahan bertanya dan menggali informasi dengan bahasa sehari-hari yang halus dan mudah dicernanya. Tidak lupa juga saya mengatakan maaf sebelum saya bertanya tentang luka-luka lamanya. Setelah saya selesai mewawancarainya, saya merasa iba kepadanya dan sedih karena tidak bisa membantu apa-apa kecuali memotivasinya. Seperjalanan pulangpun saya masih tidak nafsu makan, saya rasa empati saya terlalu berlebihan ya? Hehehe.
     Selanjutnya saya akan menjabarkan suka-duka yang saya alami dalam mengaplikasikan wawancara di laboratorium dan langsung ke lapangan (Panti). Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dalam 3 minggu terakhir menjelang UAS ini, kelas Teknik Wawancara telah melakukan tiga kali praktikum yang terletak di Laboratorium Observasi dan Wawancara PBKP Universitas Tarumanagara, Gedung K Lantai 2. Praktikum yang pertama kali adalah tentang PIO, minggu berikutnya dilakukan praktikum Psikologi Pendidikan dan minggu terakhir adalah mengenai Psikologi Klinis.

     Ketika awal melakukan praktik yang bertema PIO, saya merasakan ada ketegangan dan kekakuan dalam melaksanakannya. Tetapi berangsur-angsur mengalami kemajuan pada praktik bidang Psikologi Pendidikan dan Psikologi Klinis. Karena pada dua praktikum yang terakhir, saya sudah bisa mewawancarai orang tanpa melihat pedoman wawancara sama sekali. Ketika wawancara di dalam laboratorium itu, saya merasakan pengalaman yang berbeda dan menyenangkan. Entah saat mengarang cerita sebagai klien, ataupun mempunyai klien yang lucu dan menarik ceritanya. Saat saya menjadi observer, saya dapat menilai dan mengoreksi teman yang lainnya sekaligus dapat menjadi refleksi bagi perbaikan diri sendiri.

5 Juni 2013

Kesan menjadi Pewawancara (Intan Mega)

Setelah mendapat teori dan penjelasan dari Bu Henny. Kami mendapat kesempatan untuk melakukan praktek wawancara setiap minggunya sebelum ujian akhir berlangsung. Setting wawancara akan berbeda setiap minggunya termasuk tema wawancara. Karena setiap kelas akan di bagi menjadi beberapa kelompok dengan memiliki temanya masing-masing. Dan kami akan mendapat kesempatan menjadi pewawancara, klien, dan observer. Masing-masing kelompok akan diminta untuk membuat draft pertanyaan untuk setiap setting. Dan kami akan diberikan durasi waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan praktek wawancara.
     Praktek wawancara pada minggu pertama kami adalah setting PIO. Pada praktek wawancara ini, saya cukup gugup sehingga saat menjadi pewawancara saya belum dapat melakukan keterampilan dasar wawancara yang baik terutama kecepatan bicara saya. Ditambah saya juga cukup mengalami kesulitan karena saya bingung untuk bertanya apa saja kepada klien saya dengan waktu sekitar 10 menit tersebut.
     Setting selanjutnya adalah setting pendidikan. Berdasarkan praktek sebelumnya saya cukup belajar dari kesalahan saya. Saya sudah mulai tenang dan berusaha untuk mengembangkan pertanyaan sendiri dari jawaban-jawaban klien. Walau saya cukup gugup bila membayangkan mendapat klien yang akan saya hadapi hanya memberikan jawaban yang singkat. Karena saya akan bingung untuk memberikan pertanyaan selanjutnya.
     Setting praktek wawancara pada minggu terakhir adalah setting klinis. Pada praktek wawancara ini saya cukup gugup, karena pada saat melakukan wawancara kami tidak diperbolehkan membawa draft pertanyaan. Tetapi yang saya lebih khawatirkan bila saya mendapat klien yang nanti pada saat praktek berlangsung tidak cukup membantu. Sehingga nantinya data yang saya dapatkan kurang dan nantinya wawancara tersebut akan lebih cepat berakhir dari waktu perkiraan. Selama 3 minggu ini melakukan praktek wawancara dalam 3 setting, cukup menambah pengalaman saya. Dan menurut saya hal ini cukup menyenangkan dan cukup melelahkan saat melakukannya. Tapi akan cukup berkesan.
     Ujian akhir kami dalam mata kuliah teknik wawancara adalah kami akan diminta untuk melakukan wawancara dalam lingkungan yang sebenarnya. Setiap kelompok akan mendapat lokasi yang berbeda untuk melakukan wawancara. Kebetulan kelompok saya mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara di panti lansia. Dengan tema yang sudah diberikan, kami akan diminta untuk membuat draft pertanyaan dengan diberikan durasi waktu sekitar 30 menit.
     Selama berada di panti saya bertemu dengan opah dan omah dengan perilaku dan sifatnya masing-masing. Sesampainya di sana kami disambut dengan sangat hangat oleh para opah dan omah. Dan saya bertemu dengan seorang omah yang akan saya wawancarai, usianya sudah mencapai 70 tahunan. Saat saya meminta izin untuk melakukan wawancara, beliau menyambut saya dengan hangat. Dan saya cukup terkejut saat berbicara dengan beliau, karena dengan usia yang sudah mencapai 70 tahun, baik pendengaran, penglihatan dan ingatan beliau masih sangat baik.
     Beliau juga masih dapat melakukan apapun seorang diri, baik ke kamar mandi mau melakukan ibadah, serta makan dan minum. Yang membuat saya cukup sedih adalah ketika saya akan mengakhiri wawancara saya dengan omah tersebut. karena di akhir wawancara, beliau mendoakan saya semoga sukses dan segera lulus. Beliau juga berpesan untuk tidak melupakan omah-omah yang ada di panti. Kehangatan beliau membuat saya teringat kakek dan nenek saya yang sudah tiada. Saya jadi membayangkan bila keduanya masih hidup, mereka pasti juga akan sehangat omah yang saya temui di panti.
     Pengalaman mengunjungi panti ini merupakan pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Karena saya dapat melihat kehidupan para opah dan omah yang berada di panti. Dapat mengetahui pengalaman hidup mereka, suka dan suka mereka selama berada di panti. Dan kesedihan mereka, bila mereka sudah tidak memiliki keluarga karena sudah tidak ada lagi yang menjenguk mereka.

4 Juni 2013

A Piece of Meaningfull Experience~Seru, Konyol, Berkesan! (Lusiana Rio Santoso)

     Well, sebelum mulai ke topic utama, saya cuma ingin bilang bahwa postingan saya kali ini akan cukup panjang, jadi kalau sebelum selesai sudah bosan membacanya, silahkan istirahat dulu dan lanjutkan lain waktu *lho? udah keburu males lanjutin bacanya kali ya hehehe*

     Baiklah, pertama saya ingin cerita mengenai pengalaman saya masuk laboratorium yang selama ini saya anggap misterius dan bikin penasaran, yaitu laboratorium tempat praktek Teknik Wawancara. Dari luar selalu saya pandangi dan selalu berpikir ‘isinya kayak apa ya??’, dan akhirnya dalam 3 pertemuan beberapa minggu terakhir ini saya merasakan juga suasana yang berusaha diciptakan ruangan tersebut. Suasana yang sebenarnya sangat nyaman buat saya, tapi bikin gugup juga jika mengingat bahwa keberadaan saya disana adalah untuk tugas dari mata kuliah Teknik Wawancara yang menurut saya sangat penting dan harus dikuasai ilmunya oleh para calon psikolog.

     Di tugas praktikum ini saya berkesempatan merasakan bagaimana rasanya jadi observer, klien dan tentu saja interviewer. Sebagai observer, tugas saya adalah mengawasi jalannya sesi wawancara, dan yang harus saya jadikan fokus observasi saya adalah si interviewer, dan jujur saja, ruangan observer adalah ruangan yang paling nyaman buat saya hehehe… entah saya sendiri nggak tahu alasannya, suka saja sih. Berikutnya sebagai klien, tugas saya adalah menjawab pertanyaan dari interviewer, saya tidak tahu tema wawancara yang akan digunakan, maka saya pun harus putar otak untuk menciptakan skenario saya sendiri yang masuk akal (ini susah juga lho…).

     Terakhir peran yang menurut saya paling bikin deg-deg’an, yaitu sebagai interviewer. Wow banget sewaktu pertama kali mencicipi peran sebagai interviewer, dengan waktu yang dibatasi 10 menit dan dengan pertanyaan yang tidak begitu banyak, saya harus mikir gimana caranya agar dalam waktu 10 menit itu saya bisa mendapatkan info yang saya inginkan dari klien, dan lebih sulit lagi jika saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus ditanyakan dan waktu masih tersisa sekian menit, putar otaklah saya untuk menanyakan apa saja yang kira-kira bisa dimasukkan dalam bina rapport.

     Oh ya, praktikum dibagi dalam 3 tema, yaitu PIO, Pendidikan, dan Klinis. dari semua tema itu, banyak hal-hal menarik yang saya dapatkan, misalnya ketika saya jadi interviewer dengan tema PIO, saya memang berhasil mendapatkan info yang diinginkan dari klien, namun begitu praktikum selesai, klien bertanya sebenarnya posisi apa yang sedang ia perankan hahaha… ya sudah ternyata ia bingung antara marketing dan bagian pemasaran yang sebenarnya sama saja. Ketika praktikum bidang pendidikan, saya paling menikmati ketika menjalani peran sebagai klien, karena ketika itu saya menggunakan pengalaman saya sendiri semasa sekolah dulu hahaha… bahkan mengenai apa yang saya sukai dan tidak saya sukai dari sekolah pun menurut pengalaman pribadi, dan ketika gilirannya saya jadi Interviewer pun rasanya tidak terlalu sulit, karena kita semua pasti pernah mengalami masa-masa sekolah, dan beberapa dari kita pastilah pernah ‘mampir’ ke ruang konseling hahaha...

     Lalu terakhir adalah setting klinis, menurut saya ini yang paling sulit, karena selain saya sendiri kurang begitu tahu apa saja yang harus ditanyakan, kebetulan saya mendapat ‘klien’ pria… tidak masalah memang jika tema yang saya ambil bukan eating disorder, yang terlintas dalam pikiran saya adalah ‘wah, setau saya cowok jarang nih kena eating disorder… kira-kira klien saya tau gak ya harus ngarang cerita kayak apa?’ hehehe… tapi syukurlah klien saya pintar sekali merangkai kisah sedih di hari kamisnya *apa sih?*
Yah kira-kira begitulah pengalaman praktikum saya,…

     Nah, setelah berbagi pengalaman mengenai praktikum, saya akan bercerita mengenai pengalaman saya ketika saya dan teman-teman kelas TekWan lainnya berkunjung ke suatu panti. Pada hari sabtu yang cerah ini, saya dan teman-teman lainnya dari kelas Teknik Wawancara kelas C berkumpul di kampus pagi-pagiiiii sekali… untuk apa? Piknik? wow, tentu bukan hehehe, hari ini kami berkumpul untuk konvoi menuju Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 (well, nggak semuanya kesana, ada yang ke PSBD dan panti-panti lainnya). Setelah mengarungi lalu lintas menuju tempat tujuan yang lancar jaya, kami pun sampai di panti yang cukup luas itu.

     Sesampainya disana, kami dilepas untuk mencari sendiri oma dan opa yang ingin kami ajak ngobrol. Setelah celingak-celinguk mencari oma atau opa yang sedang nganggur, saya pun tertarik untuk mengajak ngobrol seorang opa, well yang pertama ini nggak berjalan mulus sayangnya *cry*, kenapa? well, saya dan opa awalnya ngobrol cukup lancar, dan si opa juga ramah banget, sampai akhirnya opa minta ambilin air minum sama saya, saya patuhi lah permintaan opa. saya muter-muter nyari dimana letak tempat minum si opa, Tanya staf disana, ternyata untuk minum pun ada gelasnya sendiri dan gelas si opa ada di kamarnya. Saya cari lah kamar si opa, ketemu staf, saya Tanya lagi ‘bu, kamarnya pak X dimana yah?’, ‘oh, di gedung itu dek, itu gedung pria’. Okelah saya kesana, sesampainya di depan gedung asrama (sebut saja begitu) pria, saya berhadapan dengan seorang opa lainnya… terjadilah percakapan seperti berikut ini (kira-kira saja, saya agak lupa saking terkesimanya saya).

Opa: nyari siapa neng? (si opa tersenyum manis)
Saya: opa, disini ada minum nggak?

Opa: (mendekat) apa dek? wc umum?
Saya: eh… minum opa!

Opa: oohh, minum… di dalem neng buat siapa?
Saya: oh, makasih opa (senyum) buat bapak X opa

Opa: hah? Nanang?
Saya: bukan opa (sweatdrop) bapak X

Opa: ooh di dalem neng ambil aja
Saya: iya opa, makasih opa (nyengir)

Si opa juga nyengir seneng, ‘iya sama-sama neng’ kata si opa.

     Sesuai petunjuk opa, saya pun masuk ke ruangan yang dimaksud, ada seorang teman kampus yang juga lagi ngobrol sama seorang opa. Saya yang makin kebingungan, celingak-celinguk kayak anak hilang… merasa tidak enak saya mengganggu sesi curhat si opa dan teman saya tersebut, saya pun memutuskan keluar dari sana dan kembali menemui si opa yang tadi itu. Saya cuma bisa bilang ‘ga ada opa…’ dengan muka hopeless, si opa cuma nyengir.
     Terus saya kembali menemui opa X, dan saya coba mengklarifikasi ke si opa dimana sebenarnya gedung tempat ia tinggal… dan ternyataaaa, opa lupa dimana gedungnya dia *gedubrakkkkk!*. Akhirnya sekali lagi saya berusaha mencarikan minum buat si opa, berpapasan lah saya dengan teman lain. Saya Tanya dia dimana gedung pria yang lainnya, dan ternyata gedung itu ada di depan saya, nggak sampai 10 meter *speechless*. Akhirnya saya masuk ke gedung itu, ketemu staf lagi, saya Tanya dimana kamarnya bapak X, ternyata di tiap pintu kamar ada daftar penghuni plus nama plus tempat asal plus umur dan plus lain-lainnya, duuuuhhhhh ngerasa bodoh banget deh hahahaha…. tapi setelah liat daftar nama satu persatu, tetep lho ya gak ada nama si opa X itu *mewek*. Saya pun berjalan dengan gontai lemah lunglai kembali ke tempat dimana opa X sedang duduk menanti air minum dari saya, sambil berpikir ‘si opa bener ga sih namanya X? kok namanya nggak ada deh?’. Lalu sesampainya di tempat si opa, saya beneran nanya ‘opa namanya X kan ya?’, si opa dengan yakin dan dengan wajah polosnya bilang ‘ya neng’, merasa sangat bingung sendiri, saya pun dengan jujur berkata ‘aku ga nemuin nama opa’ *dengan wajah memelas*.

     Dengan diiringi permintaan maaf sebesar-besarnya, merasa nggak bisa membantu si opa, saya pun mengakhiri obrolan dengan opa X dan mencari oma atau opa lain yang bisa diajak ngobrol dan nggak bikin saya bingung lagi *well, buat nyari minum itu saya sudah menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit, capek juga, tapi berkesan*. Ketika sedang mencari, saya ketemu seorang oma yang menggunakan kursi roda, dengan senyum manisnya dan matanya yang berkilau-kilauan, si oma memegang tangan saya dan berusaha ngomong kepada saya dengan suaranya yang terbata-bata *saya mau nangis waktu itu sumpah!*. Si oma ngajakin saya main, terus saya berniat bawa si oma muter-muter pakai kursi rodanya, tapi si oma maunya disitu aja… senang katanya lihat banyak orang (teman-teman kampus saya semua sih hehehe… memang ramai waktu itu). Terus saya ngobrol dikit dengan oma itu yang sayangnya saya lupa tanya namanya. Akhirnya, karena saya harus move on ke calon teman ngobrol lainnya, saya pun dengan berat hati meninggalkan si oma *sambil berlalu, saya masih nengok-nengok ke belakang mandangin si oma… oh, baguslah ada anak lain yang ajak ngobrol pikir saya… kasihan oma sendirian soalnya*. Lalu, setelah kebingungan, keluar masuk kamar penghuni wanita dengan muka malu-malu plus salting diliatin oma-oma yang memperlakukan saya seperti artis *tiap masuk kamar disenyumin, didadah-dadahin, disalamin* akhirnya saya menemukan satu calon potensial, beliau lah oma yang akhirnya fix saya jadikan teman ngobrol saya hehehe… beliau sedang duduk-duduk di tempat tidurnya yang letaknya di paling ujung ruangan. Si oma dengan ramahnya mempersilahkan saya untuk ngobrol dengannya.

     Dari obrolan dengan oma, saya jadi tahu bahwa tidak semua oma dan opa yang tinggal disana adalah orang tua yang tidak dipedulikan/ditelantarkan oleh anak-anak mereka, atau oma opa yang tidak punya tempat tinggal. Contohnya oma yang saya ajak ngobrol ini bilang bahwa ia tidak betah tinggal di lingkungannya yang baru, karena fisiknya yang sudah tidak kuat, namun ia harus bersusah payah naik ke tempat tinggalnya yang ada di lantai 4 (mungkin semacam rusun), dan di rumah ia tidak ada teman ngobrol juga tidak ada kerjaan, alhasil ia lebih memilih tinggal di panti, karena di sana oma punya banyak teman untuk berbagi dan disana oma tidak perlu khawatir memikirkan hal lain selain masa-masa tuanya yang harus ia nikmati. Seminggu sekali juga anak-anak oma beserta cucunya akan datang untuk bermain dan mengajak oma jalan ke luar panti di hari minggu. Oma juga adalah tipe orang yang ‘nrimo’ saja dengan nasib, oma tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti kematian, ataupun masalah duniawi, oma setiap harinya hanya bergaul dengan teman-teman dan beribadah meski kaki oma agak sakit dan bengkak. Oma juga bilang bahwa di panti itu, pria dan wanita tidak boleh saling berinteraksi, dan oma sendiri sudah tidak terlalu peduli soal pasangan hidup semenjak suaminya yang kedua meninggal dunia. Oma bercerita bahwa sejak kecil, ia tumbuh di sebuah keluarga yang baik-baik saja, oma sendiri adalah anak bungsu sehingga ia disayang oleh kakak-kakaknya dan orangtuanya. Mungkin hal itu jugalah yang membuat oma merasa puas dengan kehidupannya saat ini, karena tidak ada penyesalan dan memang bagi oma tidak ada yang perlu disesali dalam hidupnya selama ini.

     Dari oma saya belajar untuk ‘nrimo’ juga, ikhlas terhadap hidup dan berusaha untuk bahagia setiap saat, juga tidak terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Bukan hanya dari oma yang saya ajak ngobrol, dari oma-oma dan opa-opa lainnya juga saya jadi belajar untuk lebih menghargai mereka yang sudah lanjut usia, meski mereka terlihat kuat, namun sebenarnya mereka rentan dan sebagai yang lebih muda, kita tetap harus memperhatikan kesejahteraan mereka… melihat mereka saya jadi teringat nenek saya satu-satunya di rumah… ah, apa saya sudah cukup membahagiakan nenek saya ya? namun sesulit apapun kehidupannya, para orang tua ini tetap tersenyum, dan saya menyadari bahwa senyuman mereka, sesamar apapun, tetap terlihat sangat manis di mata saya-teringat seorang oma di PSTW yang begitu berpapasan langsung tersenyum maniiiiis banget sama saya. Apa kelak saya bisa ya jadi orang tua seperti mereka? yang menikmati masa tua dengan senyuman, bukan penyesalan.

4 Juni 2013

Refleksi Diri sebagai Pewawancara (Laura Hutami Putri)

Merefeksikan diri, mari mari. tiga minggu kemarin sudah melakukan praktikum wawancara dengan tiga setting yang berbeda. Setting PIO pada minggu pertama, minggu kedua dengan setting pendidikan dan minggu terakhir dengan setting Klinis. Pada minggu pertama semua masih dengan ketegangan dan muka yang masih belum bisa relax saat ketemu klien. Pada saat setting klinis saya sebagai pewawancara melupakan untuk mencatat hasil wawancara. masih melihat pedoman pertanyaan dan sempat kehabisan pertanyaan. Mingu kedua mulai ada ketenangan dalam diri dapat mengontrol apa saja yang dibawa dan diperlukan. Bertemu klien menjadi sesuatu yang dinanti dan rasanya 10 menit tidak ada rasanya, merasa lebih cepat. Saat ini mulai mencatat hasil wawacara diatas meja tetapi maish melhat pedoman pertanyaan.

Minggu terakhir, minggu ketiga dengan setting klinis ini sangatlah paling yang ditunggu. Saat menjadi klien sangatlah lancar, tetapi saat menjadi pewawancara lebih tegang. tegang karena kita menanyakan sesuatu yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya, bertanya seperti dokter. tapi saya berusaha tidak melihat pertnyaan lagi, mencatat hasil wawancara dan tatapn ke klien tetap terjaga. lebih seruhnya lagi, saat saya menjadi pewawancara untuk setting klinis, teman saya yang menjadi klien mencucurkan air mata sambil bercerita. Tidak tau iu acting atau pengalaman pribadi, pokoknya dia menangis..

Pengalaman terakhir saat wawancara di panti werda. Banyak belajar dari wawancara disana, belajar tentang sebuah pengontrol diri saat menjadi pewawancara dilapangan, bertemu dengan narasumber yang berbagai macam karakter.. Saya ditolak enam omah untuk diwawancarai, hampir muntah saat masuk ke kamar narasumber, diomelin juga udah.. Segalanya dirasakan saat wawancar di Panti Werdha. Tapi pengalaman ini menjadi berarti saat kita menemukan hal-hal yang serupa.

Berikut pengalaman-pengalaman haru biru saat menjadi pewawancara. Namun itu semua tidak akan menjadi indah jika kita tidak mempelajarinya dengan mengambil sisi positifnya. Terimakasih untuk dosenku bu Henny memberikan pengalaman yang bermakna selama perkuliahan Teknik Wawancara. Jadikanlah pengalamanmu sendiri menjadi bermakna sebelum orang lain dapat mempelajarinya.

3 Juni 2013

Don’t Stop Believing (Melissa Magdalena)

 

Jika melihat beberapa minggu terakhir ini, saya melihat kebodohan diri saya sendiri. Bodoh karena sangat mudah terkontaminasi dari omongan orang dan semakin bodoh karena masih terus mencari bukti-bukti penguat agar saya semakin terkontaminasi. Inilah ceritanya…..
 Kelas kami, Kelas C mendapat giliran untuk praktek wawancara UAS ke panti pada giliran minggu kedua. Dengan pikiran ingin mempunyai persiapan dahulu sebelum saya yang terjun langsung ke lapangan, maka saya pun menanyakan beberapa teman tentang pengalama mereka ke panti. Sayangnya saya mendengar cerita negatif, seperti opa di panti genit, opa di panti minta no hp, oma di panti tidak mau diwawancara, oma di panti galak-galak.,,,dan sebagainya. 
Saya sadar saya mulai merasa takut untuk wawancara ke panti namun karena tidak ada pilihan lain…ya saya harus juga ke panti pada hari Sabtu tanggal 18 Juni 2013.
Hal yang saya tidak sadar sampai saya sampai di panti adalah bahwa saya sudah kehilangan sesuatu pada diri saya. Saya kehilangan kepercayaan diri saya sendiri. Hal ini dapat dilihat ketika saya sampai di panti, saya merasa sangaaaat takut. Saya jalan terburu-buru, saya kesulitan memilih subjek karena saya tidak berani mendekat. Sekilas mungkin saya merasa bahwa saya ketakutan, namun sebenarnya adalah saya kehilangan kepercayaan diri. Hal ini disebabkan karena saya sudah terlebih dahulu mempunyai persepsi bahwa wawancara lansia di panti adalah hal yang sulit dan saya tidak mampu.
Karena saya berhenti percaya pada diri saya bahwa saya mampu, maka semuanya pun berjalan tidak lancar. Saya meminta dua anggota kelompok saya yang lain untuk menemani saya memilih subjek, menemani saya sampai saya akhirnya berani mengobrol dan mulai membina rapport.
Hal yang saya sadari pada kesempatan ke panti adalah saya berhenti percaya pada diri saya sendiri. Saya berhenti percaya bahwa saya sebenarnya mempunyai kemampuan komunikasi yang baik termasuk jika harus berkomunikasi dengan lansia. Saya berhenti percaya pada diri saya bahwa kemampuan wawancara saya sudah lebih baik. 
Saat saya berhenti percaya pada diri sendiri, di saat itu pula-lah saya kehilangan teknik-teknik yang dipelajari. 

Untungnya di saat praktek di kampus, percaya diri saya sudah kembali. Saat dimana saya harus mewawancarai “klien” saya bisa dengan tenang. Saya juga tidak merasa 10 menit seperti neraka, melainkan 10 menit penuh damai dan menyenangkan. hehehe
 Maka dari itu saya menamai blog ini dengan Don’t stop believing, untuk mengingatkan saya dan bagi yang lain untuk tidak berhenti percaya pada diri sendiri. Semoga dengan percaya pada diri sendiri kita akan sukses di mata kuliah apa pun. Lets fight for our future and dont stop believing!!
3 Juni 2013

be sensitive! (Levina Sutiono)

Post kali ini akan lebih banyak membicarakan mengenai pengalaman-pengalaman dan kesan yang saya dapatkan ketika praktek teknik wawancara, baik di laboratorium maupun di panti.

Saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu panti sosial yang berada di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengunjungi panti tersebut. Panti tersebut tidak hanya menampung para lansia, tetapi juga para penderita gangguan mental, namun yang tidak membahayakan.

Saat itu kami diminta untuk mencari satu orang lansia untuk diwawancarai. Saya pun mencari-cari lansia mana yang sekiranya cocok untuk diajak berbicara. Saya berusaha untuk memulai percakapan dengan beberapa lansia, namun saya merasa mereka tidak sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibutuhkan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang lansia yang pada akhirnya menjadi subjek saya.

Tentu tidak mudah bagi saya untuk membina rapport pada awalnya. Saya melakukan kunjungan wawancara selama dua kali, karena data yang saya dapatkan pada wawancara pertama belum cukup banyak untuk dianalisa. Pada pertemuan kedua, subjek saya sudah lebih terbuka dalam menceritakan kehidupannya.

Ada satu kejadian menarik yang saya alami ketika saya berkunjung ke panti tersebut untuk kedua kalinya. Saat itu saya sampai cukup pagi ke panti tersebut, sehingga saya belum dapat masuk ke barak para lansia yang ada di panti tersebut. Barak tersebut masih dibersihkan sehingga saya menunggu di halaman panti bersama dengan dua orang teman saya. Pada saat saya sedang duduk menunggu, seorang wanita melewati tempat kami duduk dan bertanya mengenai tujuan kedatangan kami, dan sebagainya.

Terdapat perbincangan singkat dengan wanita tersebut, sampai akhirnya wanita tersebut meninggalkan kami. Saya merasa biasa saja dan tidak merasakan keanehan apapun ketika berbincang dengan wanita tersebut. Namun, setelah wanita tersebut berjalan cukup jauh dari tempat  kami duduk, salah satu teman saya berkata bahwa ia pernah bertemu dengan wanita tersebut di salah satu rumah sakit jiwa. Teman saya mengatakan bahwa wanita tersebut dulu tinggal di rumah sakit jiwa.

Daaaan yaa....saya merasa cukup terkejut karena saya bahkan tidak dapat membedakan antara orang dengan gangguan dan orang normal, hahaha.. Memang ada sedikit kejanggalan ketika ia mengatakan bahwa ia hendak pergi meninggalkan kami, namun saya tidak menyangka bahwa hal tersebut terjadi karena ia memiliki gangguan. Mungkin wanita tersebut sudah residual dan dapat berfungsi seperti orang-orang normal di masyarakat.

Hanya saja, saya cukup terkejut karena saya tidak sepeka itu untuk menyadari kondisi wanita tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, teman saya yang lainnya ternyata juga mengalami hal yang sama. Teman saya juga tampak sulit membedakan individu mana yang memiliki gangguan dan mana yang tidak memiliki gangguan.

Mungkin kami harus lebih melatih diri lagi agar dapat menjadi lebih peka dalam menyadari hal-hal seperti itu hehehehehhe :p

Tapi overall, kunjungan ke panti dan mempraktekkan langsung teknik-teknik wawancara yang telah dipelajari merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan. Selain itu, saya juga dapat lebih menyadari kekurangan-kekurangan yang saya miliki ketika sedang menjadi pewawancara. Tentu  masih banyak hal yang harus diperbaiki dan saya percaya seiring berjalannya waktu kami dapat menjadi pewawancara yang baik dan profesional.. Amiin hehehe :)

3 Juni 2013

Yang Saya Rasakan Selama Wawancara Adalah (Laras Yuliansyah)

Ini adalah posting terakhir di kelas Teknik Wawancara karena sudah mau akhir semester. Gimana rasanya? Antara senang atau sedih. Senangnya karena uda ga ada kelas lagi (semoga ga ngulang, amin) dan sedihnya karena merasa masih banyak kekurangan. Semoga seiring berjalannya waktu, “jam terbang” semakin banyak untuk mengaplikasikan wawancara. Amin.
Lalu, saya ingin menceritakan bagaimana kesan selama praktikum di tiga minggu terakhir kelas dan saat wawancara di panti werdha. Pertama saya akan menceritakan kesan selama praktikum terlebih dahulu. Di minggu pertama yaitu praktikum bidang PIO. Selama praktikum ini, pada awalnya saya masih merasa tegang. Lucu ya kalau wawancara dengan rasa tegang. Pikiran benar-benar fokus sama daftar pertanyaan. Tapi di situ saya berusaha untuk mengendalikan rasa tegang dan akhirnya lebih rileks dari waktu pertama masuk lab. praktikum.
Di minggu kedua, wawancara dengan setting pendidikan. Saya rasa, saya lebih berminat di bidang ini daripada PIO. Jadi, saat wawancara ini saya merasa jauh lebih rileks. Hal ini terbukti karena saat wawancara dengan subyek, saya berbicara dengan tidak ada beban jadi saya dapat menanyakan lebih mendalam dari jawaban yang subyek berikan. Yang menarik ketika wawancara di minggu ketiga, yaitu setting klinis. Di awal wawancara, ternyata alat perekam saya belum berfungsi. Waduh, sempat panik tapi untungnya semua itu dapat teratasi. Beberapa pertanyaan pun saya berikan kepada subyek dengan yaaa.. untungnya saya tetap mendapatkan jawaban dari subyek sesuai dengan gejala yang dialami.
Lalu, saya akan menceritakan pengalaman ketika wawancara di panti werdha. Awalnya saya sangat antusias sekali untuk wawancara di sana. Saya mencari subyek dengan mencoba berbicara dengan beberapa wanita lanjut usia. Sampai pada akhirnya saya merasa wanita ini lah yang akan saya pilih menjadi subyek saya. Tapi… Saya cukup merasa kesal karena ketika sudah masuk ke pertanyaan yang berhubungan dengan psychological well-being, subyek beberapa kali menjawab “biasa aja”. Hmm.. Yak ini lah saat saya harus berjuang untuk mendapatkan jawabannya dari subyek.
Saya telah berusaha untuk mencoba bertanya dengan pertanyaan yang mungkin lebih dimengerti. Tapi, saya tidak mengerti kenapa subyek tetap menjawab “biasa aja”. Sebenarnya ini karena subyek yang tidak mengerti pertanyaannya, subyek yang tidak ingin bercerita, atau karena subyek tidak memahami dirinya sendiri sehingga sulit mengeluarkannya melalui kata-kata? Huaaa… rasanya mau ganti subyek tapi uda setengah jalan. Sebisa mungkin saya mendapatkan jawaban dari subyek. Syukur lah, saya sedikit mendapatkan pencerahan. Setidaknya saya mendapat gambaran untuk dianalisis.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya sangat sangat sangat ingin berlatih untuk dapat bertanya secara mendalam kepada subyek di kemudian hari, apalagi kalau sampai saya menemukan subyek yang menjawab “biasa aja”. Bahkan saya ingin mempelajari lebih dalam lagi bagaimana untuk mengatur emosi ketika dalam keadaan tertekan selama wawancara. Semuanya itu harus berlatih, berlatih, dan berlatih terus. Semoga saya bisa! Harus bisa!
3 Juni 2013