Kamis, 13 Juni 2013

RPLU dan Lab (Shierly Widjaja)

     Pada cerita saya kali ini, saya akan membagi cerita mengenai pengalaman saya ke RPLU (Rumah Perlindungan Lanjut Usia) dan pada saat saya praktek wawancara di kampus. Pertama-tama saya akan menceritakan pengalaman saya pergi ke RPLU. Awalnya kami mahasiswa-mahasiswi Psikologi UNTAR ditugaskan untuk mewawancara dengan tema positive psychology. Kami dibagi ke 3 tempat, dan saya mendapat bagian untuk wawancara opa atau oma di RPLU.  Ketika kami datang, kami di sambut dengan senyuman hangat oleh salah satu oma yang sedang duduk di bagian depan, mereka mengajak kami mengobrol, salah satu teman kami menghampirinya dan mengajak berbincang. Saya dan teman lainnya segera meninggalkan mereka, dan mulai mencari calon subjek kami. Awalnya saya masuk ke dalam satu ruangan bersama rombongan, namun rasanya sumpek sekali karena kami semua masuk ke sana, akhirnya saya dan teman saya meninggalkan tempat tersebut. Kami sempat kebingungan subjek mana yang akan kami wawancarai, mengingat cerita sebelumnya dari dosen bahwa ada mahasiswa yang diusir karena opa/oma-nya merasa terganggu. Saya takut hal tersebut terjadi pada diri saya, karena itu saya berusaha mencari subjek yang memang terlihat ramah dan memungkinkan untuk di wawancara.  Saya akhirnya memasuki satu ruangan dan melihat oma-oma sedang tidur dengan santai, dengan wajah ramah saya menyapanya dan menanyakan apakah ia terganggu jika saya ingin berbincang, ia mengatakan tidak dan akhirnya saya mulai mewawancarainya. Selama wawancara beliau menangis menceritakan mengenai keluarganya, namun ia sepertinya tidak mau terbuka mengenai kesedihannya, ia hanya menceritakan yang baik-baik saja seperti misalnya keluarganya sering menjenguk dan sebagainya. Selesai wawancara, saya merasa senang dapat mengenal beliau dan bersyukur bahwa saya masih dapat berkumpul dengan keluarga saya. Saya juga meminta untuk berfoto dan beliau bersedia.
     Cerita kedua yaitu mengenai praktik wawancara di kampus. Selama 3 minggu terkahir, kami anak-anak kelas Teknik Wawancara ditugaskan untuk mewawancara teman kami dengan tema pendidikan, PIO dan klinis. Kami juga ditugaskan menjadi klien, dan observer. Pada minggu pertama lab, saya sangat grogi dan ketakutan. Saya cemas apakah saya dapat menjadi pewawancara dan klien yang baik atau tidak. Saya cemas mengenai waktu dan jumlah pertanyaan yang akan saya tanya. Namun, setelah memasuki minggu kedua, saya merasa ketakutan saya mulai berkurang. Pada minggu pertama saya masih grogi, tegang, terfokus pada pertanyaan yang saya buat, dan tidak dapat probing. Sedangkan pada minggu kedua saya mulai merasa nyaman, tidak tegang dan mulai dapat melakukan probing dari jawaban klien saya sendiri. Pada minggu ketiga juga saya merasakan lebih santai dan rileks. Saya juga mulai bisa probing dengan lebih baik dari minggu sebelumnya karena mungkin sudah dapat hear and now pada saat wawancara klien.

     Demikian akhir sharing saya mengenai pengalaman wawancara di lapangan, semoga bermanfaat 

2 Juni 2013

REFLEKSI DIRI KUNJUNGAN PANTI WERDHA :) (Francine Nathalia)

Pada hari ini saya akan mengulas sedikit mengenai kunjungan saya dan rombongan kelas saya ke panti werdha. Melihat dari katanya, mungkin kita sangat kurang familiar.. Panti werdha adalah panti jompo, kata werdha mulai dipakai untuk menggambarkan para lansia yang tinggal di panti tersebut. Para lansia yang tinggal disana disebut sebagai WBS (Warga Binaan Sosial). Dari jenisnya tentu ada panti werdha yang dikelola oleh pemerintah atau swasta. Biasanya yang dikelola oleh pemerintah bebas biaya atau free of charge J ,tentu ini diperuntukkan untuk kaum yang kurang mampu. Namun panti werdha yang dikelola oleh swasta biasanya mematok biaya tertentu untuk per bulannya. Para keluarga yang menitipkan anggota keluarga mereka di panti werdha swasta biasanya memiliki kemampuan ekonomi  yang cukup.
     Kemudian pada tanggal 18 Mei 2013 saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu panti werdha yang ada di Jakarta Barat. Disana panti werdha yang dikelola oleh pemerintah. Untuk fasilitas dan layanan kesehatan yang diberikan sepertinya sudah cukup baik. Namun disana kebersihannya saya rasakan kurang terjaga. Kami menyambut para WBS disana  dengan senyum yang ramah, kemudian saya menghampiri seorang WBS pria yang berusia 70 tahun. Sebut saja bapak LS. Bapak ini sudah 3 bulan tinggal di panti ini, dulu selama 3,5 tahun sempat tinggal di panti werdha yang lain. Bapak LS mengaku bahwa layanan kesehatan disini sudah cukup memadai, hanya saja di panti ini sangat sepi pengunjung. Keseharian bapak LS mungkin tidak jauh berbeda dengan para WBS lainnya, namun bapak LS lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain catur bersama pegawai panti tersebut. Bapak LS juga menceritakan sedikit kisah hidupnya sampai akhirnya dia tidak memiliki pilihan dan memutuskan tinggal di panti werdha.
     Hati saya sedih mendengarnya, tak kuasa saya menahan air mata sebanyak dua kali. Mungkin orang berpikir ini sangat berlebihan, tetapi cerita beliau sangat menyentuh hati saya. Kini saya tahu apa arti anak bagi setiap orangtua. Mereka sudah renta dan tua, tangannya tidak kuat seperti dulu menggendongmu. Kakinya tak cukup kekar untuk berjalan mencari sesuap nasi untukmu. Kenapa kau sia-siakan mereka? Kau anaknya bukan? Sungguh tak habis pikir saya, mengapa sampai hati meninggalkan mereka, bahkan tidak pernah kembali lagi untuk menjenguknya. Taukah kalian diantara ingatan mereka yang masih terbatas, mereka masih ingat aroma tubuhmu, dan gambaran rupamu..?? Ya Tuhan, ampunilah mereka..
     Rasanya hanya itu yang dapat saya sampaikan. Hati saya remuk mendengar cerita dari Bapak LS. Setiap malam doa orangtua terus terucap demi keselamatan anak-anak dan cucu mereka. Kini saya belajar banyak, saya mengucapkan beribu terimakasih untuk Bu Henny dan Kak Tasha selaku pembimbing saya. Saya mendapatkan pengalaman berharga saat kunjungan ke panti werdha. Saya berjanji saya akan menjadi anak yang baik serta mencintai orangtua saya sampai selamanya. Saya mau menjadi psikolog yang berkualitas, yang mengandalkan Tuhan untuk segala pekerjaan saya. Saya mau memberdayakan kaum yang jarang tersentuh oleh kita. Kaum lansia harus semakin sejahtera, karena dari merekalah generasi penerus bangsa ada, hanya di genggaman tangan mereka, yaa..hanya mereka..

“Saat kita kecil, mungkin kita menangis ketika terjatuh dan cepat-cepat menggenggam tangan orangtua kita.. Tapi ketika kita dewasa, mereka yang renta terjatuh, dan kita yang menghapus air mata mereka dan kembali mengenggam tangan mereka seperti dulu mereka mengenggam kita...”

2 Juni 2013

Refleksi Diri Kunjungan Panti (Ivana Leo)

     Kunjungan ke Panti Sosial Bina Daksa dalam rangka untuk mempraktekkan teknik wawancara kepada subjek yang telah ditentukan sebelumnya ini membuat saya sadar jika saya melakukan banyak kesalahan dalam teknis. Salah satunya ketika saya melakukan tugas verbatim wawancara, saya baru menyadari bahwa saya melakukan banyak parroting kepada subjek. Selain itu saya juga tidak sepenuhnya membiarkan subjek membicarakan suatu hal, terkadang saya masih memotong pembicaraan subjek. Saya juga merasa kesulitan dalam menangkap cerita subjek yang cukup berkesan bagi saya, dikarenakan cerita subjek seakan-akan membuka mata saya jika ada orang yang mempunyai kisah hidup seperti ini, yang dimana tidak pernah terbayangkan oleh saya sendiri.

     Kekurangan saya lainnya dalam wawancara adalah saya masih kurang bisa berempati dengan apa yang dialami oleh subjek, dikarenakan subjek belum bisa melihat subjek seutuhnya. Alasan lainnya saya harus masih belajar untuk mempunyai sikap profesional dalam melakukan sesuatu hal dan tidak membawa masalah pribadi ke tanggung jawab lainnya. Lalu, saya juga terlalu banyak ekspresi ketika mendengar cerita subjek, walaupun ketika wawancara saya menyadarinya. Hal itu saya lakukan agar saya ingin subjek mengetahui jika saya tertarik dengan cerita subjek. Masalah ekspresi wajah, saya maish harus belajar banyak. Saya juga masih merasa kurang bisa menggali informasi yang lebih mendalam dari apa yang telah dicerita subjek, karena saya masih merasa terkejut dengan cerita subjek.

     Namun kelebihan saya lainnya adalah, saya merasa cepat dalam membina rapport. Saya merasa bisa cepat akrab dengan subjek, dan juga terbuka dengan subjek. Subjek juga orangnya cukup dapat bekerjasama selama proses wawancara, dimana subjek dapat menjawab semua pertanyaan yang diajuin oleh saya dengan baik. Setelah wawancara selelsai, saya juga memberikan pandangan dan nasehat-nasehat positif. Pada dasarnya subjek yang saya wawancarai sudah memiliki kekuatan hidup yang baik, tetapi saya hanya menambahkan beberapa kata-kata positif agar subjek lebih baik dari sebelumnya.

1 Juni 2013

Our Process (Hanna Yunita)

Our Process


Satu semester hampir berlalu.. sangat banyak kenangan dan pelajaran (baik formal maupun informal) yang dapat dipetik selama semester enam ini.. terdapat sebuah mata kuliah yang memiliki panggilan khas anak-anak psikologi dan nama panggilannya seperti nama makanan. Mata kuliah ini juga sempat membuat saya bingung apa isi dan materinya.. yap, mata kuliah teknik wawancara yang biasa disebut dengan bahasa gaul anak-anak psikologi TEKWAN.
Setelah dijalani, ternyata sangat menyenangkan belajar di kelas teknik wawancara dengan ibu dosen dan cici asisten yang baik. Setengah semester berlalu, kami dibekali materi dan teori tentang bagaimana melakukan wawancara yang baik, membinarapport dengan klien, bagaimana cara memberi respon terhadap cerita klien, dan masih (sangat) banyak lagi.. tidak hanya itu, kami juga diijinkan untuk mempraktekkan langsung dalam setting wawancara, baik berperan sebagai HRD, Guru BK dan Clinicians.
Ternyata setelah menjalani praktek yang dibuat dalam setting sedemikian rupa, apa yang diajarkan di kelas tidak semudah saat kita harus mempraktekkannya langsung. Salah satu yang kurang dapat saya praktekkan adalah memasang muka flat saat mendengarkan cerita klien (“bagaimana pun juga usahakan untuk pasang muka flat,ohh dan emm aja..” kata Bu Henny). Saat berperan menjadi HRD saya banyak tertawa karena klien saya banyak bercerita hal-hal yang lucu. Yes i’m failed.
Baiklah, minggu kedua saya bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Praktek diminggu kedua memiliki tema Guru BK yang memanggil siswa yang senang jahil di kelas. Mungkin karena effect sebagai guru BK, saya menjadi lebih percaya diri dalam bertanya, bagaimana posisi duduk saya, bagaimana merespon cerita dan lain-lainnya. Baik, minggu kedua saya dapat menyelesaikan praktek dengan baik dan masalah sebelumnya tidak terulang lagi.
Sampai lah kita pada minggu ketiga dengan tema Seorang wanita yang memiliki kecemasan terhadap body image-nya. Bayangan saya mendapat klien yang memiliki berat badan diatas rata-rata dan pertanyaan yang saya siapkan sudah seputar kegemukan. Tapi setelah subjek saya masuk, jeng jenggg.. yang masuk adalah teman saya yang memiliki tubuh ideal sebagai seorang perempuan (kurus, tinggi, langsing). Saya masih berharap klien saya ini akan berkata ia memandang tubuhnya terlalu gemuk (kan bisa saja tuh kasus bulimia atau anorexia). Tapi ternyata teman yang menjadi klien saya ini mengatakan bahwa ia cemas karena ia terlalu kurus. Okeh, dalam hati sudah ketar-ketir sambil nelen ludah. Saya memutar otak bagaimana caranya membalik-balikkan pertanyaan (yang sudah ada di otak saya) tentang kegemukan menjadi kekurusan. Namun untunglah setelah sedikit mengalami panic attack, saya mendapat pencerahan dan mampu menguasai situasi dengan baik.
Semua hal yang saya alami (dari awal praktek sampai terakhir) membuktikan apa yang dikatakan Bu Henny benar adanya. “Sekarang mah masih gampang, kalian yang bikin sendiri temanya, kasusnya seperti apa, lalu kalian bisa bikin pertanyaannya terlebih dahulu sebelum menghadapi klien tersebut. Nah nanti kalau jadi clinicians asli, kita ga tau apa masalah klien sebelum langsung menghadapinya di ruang konseling..” baiklah, disini faktor JT a.k.a Jam Terbang memang sangat berpengaruh. Ini adalah proses bagi kami semua..


Seperti oma saya pernah bercerita.. untuk membuat perhiasan yang baik, awalnya emas harus dihancurleburkan, dipanaskan sampai suhu yang sangat tinggi dalam dapur perapian dan di tempa sedemikian rupa. Bahkan jika hasilnya kurang baik, emas itu akan kembali dileburkan di dapur api dan di tempa berulang kali hingga menghasilkan mahkota yang benar-benar indah..

1 Juni 2013

EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER (Catherine Prana)

Setelah mengikuti satu semester mata kuliah teknik wawancara, saya pribadi mendapatkan banyak pelajaran baru terutama secara teknis.. Melalui tiga kali praktikum dalam setting yang berbeda-beda (Klinis, Pendidikan, dan PIO) ditambah satu kali kunjungan ke panti sosial untuk menerapkan teknik wawancara pada dunia nyata, saya dapat mengetahui secara khusus apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan saya ketika melakukan wawancara.. Saya tahu secara spesifik area apa yang harus saya perdalami untuk menjadi pewawancara yang baik..

Melalui tiga kali praktikum di ruang wawancara (akhirnya mencicipi ruang praktek hehehe), menurut saya itu pengalaman unik…  Praktikum tersebut mengharuskan setiap mahasiswa menjadi observer, klien, pewawancara secara bergantian selama 3 minggu berturut-turut.. Lucu sekali kalau mengingat pengalaman menjadi klien, ketika saya harus berpura-pura menjadi klien yang “sakit”.. Ketika menjadi pewawancara pun banyak hal lucu yang terjadi di ruang praktek.. Bagaimana harus menghadapi teman yang suka usil ingin membuat kita tertawa dengan jawaban-jawaban yang lucu.. Menjadi klien pun tidak mudah karena berbohongnya harus konsisten hehehehe.. :D Selain hal-hal lucu, unik, dan seru nya, pastinya saya memperoleh banyak pengetahuan, banyak masukan untuk diri saya dalam memperbaiki teknik wawancara yang saya miliki.. Saya merasa ketika mewawancara masih berbicara terlalu cepat, tempo berbicara yang kurang terkendali menjadi salah satu kendala saya ketika praktikum.. Teknik lain seperti membina rapport, paraphrasing, summarizing, visual (eye contact) sudah saya kuasai dengan cukup baik..

Melalui pengalaman nyata di panti sosial, juga banyak hal lucu, sedih, terharu yang saya dapatkan… Lucu ketika harus berbicara pada oma opa yang ada di sana dan terkadang karena pemilihan bahasa saya yang kurang tepat, oma opa tersebut jadi tidak menjawab pertanyaan.. Jadi seperti tidak nyambung hehehe… Hal yang membuat saya sedih adalah melihat opa oma disana ada yang merasa kesepian, ditinggal keluarganya dan dilupakan oleh pasangannya.. Tetapi ada juga hal yang membuat saya terharu dan saya belajar sesuatu.. Salah satu opa disana ternyata tetap kuat dan bertahan bahkan ia mengajari saya banyak hal.. Ia mengatakan bahwa hidup itu tidak ada yang pasti, terkadang kamu bisa berada di atas dan terkadang kamu bisa ada di bawah.. Hal itulah yang terjadi pada opa tersebut dimana dulu ia memiliki segalanya, harta, keluarga, tetapi sekarang ia harus berada di panti sosial tersebut sebatang kara…

Rasanya seperti mendapat pelajaran hidup ketika melakukan wawancara tersebut :D Selain hal lucu sedih dan terharu, hal lain yang saya dapatkan adalah saya mengenali kelemahan saya yang lain secara teknis.. Saya harus lebih dalam mempelajari teknik verbal tracking, dimana terkadang yang namanya opa dan oma kalau sudah bercerita, lupa waktu dan lupa topik awal.. Saya merasa bingung ketika harus mengembalikan jalur percakapan pada topik awal karena merasa tidak tega memotong cerita hidup mereka.. Lalu saya juga belajar hal lain dalam praktek nyata yaitu bagaimana saya menerapkan teknik empati ketika opa yang sedang bercerita itu menangis karena ingat masa lalunya..

Secara keseluruhan, saya mendapat sangat banyak pelajaran dari mata kuliah ini terutama ketika praktikum apalagi ketika kunjungan ke panti sosial.. Terimakasih banyak untuk Bu Henny dan Ci Tasya untuk setiap feedback yang membangun, terima kasih juga sudah menjadi dosen dan asisten dosen yang tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.. :)

30 Mei 2013

APPLICATION OF INTERVIEW (Catherine Prana)

Teknik wawancara merupakan hal yang sangat vital dalam berbagai bidang.. Wawancara menjadi salah satu alat dalam mendapatkan informasi, baik dalam setting PIO maupun pendidikan, dan sebenarnya masih banyak bidang lain yang juga menggunakan wawancara sebagai senjata untuk memperoleh informasi...

Dalam bidang pendidikan, masalah-masalah yang sering terjadi adalah masalah perilaku anak (membolos, melawan guru, dll), bakat dan minat (penjurusan), learning disabilities, dan masalah lainnya... Ketika kita berhadapan dengan murid yang bersangkutan (bermasalah), ada beberapa hal yang perlu kita lakukan sebagai langkah untuk mengatasi masalah yang dialami siswa. Pertama, kita harus mengetahui dulu informasi mengenai siswa tersebut (hobi, minat, ketidaksukaan siswa, dll). Selanjutnya, mencoba memahami masalah yang dialami, mencari tahu apa yang melatarbelakangi persoalan tersebut terjadi..

Langkah selanjutnya adalah verifikasi pengakuan siswa dengan kenyataan, artinya kita perlu mencari informasi dari sumber lain untuk meng crosscheck apa yang dikatakan siswa tersebut.. Langkah selanjutnya adalah diagnosa apa yang terjadi pada siswa tersebut dan melakukan treatment atau modifikasi perilaku siswa yang bermasalah.. Terakhir, yang perlu kita lakukan adalah memantau apakah ada perubahan perilaku antara sebelum dan sesudah treatment...

Dalam bidang industri organisasi, kuliah kali ini langsung mendatangkan pakarnya yang adalah seorang HR Manager dan saya mendapat banyak pelajaran mengenai pekerjaan seorang lulusan sarjana psikologi di ranah industri organisasi... Pekerjaan yang banyak dilakukan adalah seputar psikotes dan interview.. Yang saya dapatkan adalah menjadi seorang HR itu akan penuh dengan konflik dalam diri, karena seringkali terjepit antara peraturan perusahaan dengan  hubungan pertemanan.. Seringkali kita ingin menolong karyawan yang ada dalam perusahaan tersebut namun terbentur dengan atasan ataupun peraturan perusahaan.. Kita menjadi penengah antara atasan dengan karyawan dan itu tidaklah mudah... Hasil wawancara saya dengan psikolog yang bekerja di bidang industri organisasi juga demikian, beliau mengatakan bahwa sebenarnya yang menjadi kesulitan beliau bukanlah pekerjaan yang menumpuk dan banyak yang harus diselesaikan, tapi lebih kepada tekanan atau press baik dari atasan maupun dari teman sekerja...

Aplikasi dalam masing-masing setting pasti memiliki sedikit perbedaan karena orang yang dihadapi berbeda dan tentunya kasus yang dihadapi juga berbeda sehingga membutuhkan teknik yang berbeda pula.. :)

2 Mei 2013

Learn to Live from Others....(Regina)

     Minggu demi minggu berlalu dengan cepat... Tidak terasa, semester enam ini juga sudah hampir berakhir. Hal ini juga berarti kelas-kelas di semester ini telah berakhir... Tiga minggu belakangan ini, banyak sekali pengalaman-pengalaman wawancara yang diajarkan di kelas Teknik Wawancara. Praktikum-praktikum wawancara mulai dijalani.. Dimulai dari setting industri, pendidikan, dan terakhir adalah klinis...

     Awalnya, tentu ada rasa panik dan cemas ketika memulai praktikum... Tidak terbayang harus melakukan apa, harus bertanya apa, harus bersikap seperti apa, dan sebagainya. Namun, setelah mencoba praktik wawancara yang pertama, ketegangan itu seolah sedikit menghilang. Setidaknya terbayang apa yang harus dilakukan pada praktikum-praktikum selanjutnya...

     Praktikum ini tentu memberikan manfaat kepada saya yang belum pernah memiliki pengalaman wawancara di bidang klinis, industri, dan pendidikan... Cukup menyenangkan, melakukan observasi terhadap teman, menjadi pewawancara, dan menjadi klien secara bergantian... Menurut saya, hal ini merupakan suatu hal yang paling berkesan selama saya mengikuti kelas Teknik Wawancara ini...

     Oh ya! Pada kelas ini, saya pun terjun langsung ke lapangan untuk mewawancarai seorang kakek di sebuah rumah perlindungan untuk orang lanjut usia... Banyak sekali pengalaman yang saya peroleh, mulai dari berkenalan dengan para kakek dan nenek di panti hingga bertemu dengan kakek yang menjadi subyek wawancara saya... Satu hal yang saya pelajari selama wawancara adalah bahagia itu tidak harus mewah dan kaya... Terkadang kebahagiaan cukup diperoleh dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang positif... :) Thanks opa for your lessons :)

31 Mei 2013