Senin, 27 Mei 2013

pengalaman baru teknik wawancara (Deasy Ayu Wulan)


Semester I sampai semester V hanya melihat ruang praktik wawancara dari luar dan gelap, ga pernah tau persisnya seperti apa dan akhirnya sekitar lima minggu yang lalu saya sempat masuk, duduk, dan praktikum di sana! senang banget..
mahasiswa teknik wawancara dikasi waktu masing-masing sekitar 10 menit untuk jadi interviewer, interviewee, dan observer. 

saat menjadi interviewer (pewawancara), mahasiswa ditugaskan untuk menyiapkan daftar pertanyaan; membawa alat perekam suara; juga membawa alat tulis seperti pulpen dan kertas untuk mencatat jawaban atau kata kunci yang diucapkan oleh interviewee.
saat menjadi interviewee, mahasiswa dapat menjawab pertanyaan sesuai tema yang telah ditentukan oleh interviewer.
saat menjadi observer, mahasiswa diharapkan mencatat aktivitas yang dilakukan oleh interviewer kemudian catatan yang telah dibuat, akan diberi kepada interviewer sebagai feedback.
 
nah.. praktikum ini berlangsung tiga minggu berturut-turut. minggu pertama dengan tema psikologi industri dan organisasi, minggu kedua temanya psikologi pendidikan, dan tema pada minggu ketiga adalah psikologi klinis.
saat tema psikologi industri dan organisasi, yang juga merupakan hari pertama praktik, cara saya duduk sangat kaku dan saat ingin bertanya sering melihat daftar pertanyaan atau melihat kanan dan kiri sambil berpikir pertanyaan selanjutnya. ketika interviewee menjawab pertanyaan, saya kurang mendengar dan memahami jawaban interviewee karena berusaha mencari pertanyaan selanjutnya atau mengingat pertanyaan yang akan saya tanyakan selanjutnya.
saat tema psikologi pendidikan dan psikologi klinis, saya mulai lancar bertanya; jarang melihat daftar pertanyaan. saya juga mendengarkan jawaban interviewee dan membuat pertanyaan dari jawaban tersebut.
ternyata memang kunci lancar berkomunikasi itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh ya.. 
saat menunggu giliran untuk jadi interviewer, deg-degan... paling senang saat dipanggil sebagai observer karena denger wawancara yang temanya bagus-bagus juga melihat gerak-gerik teman saat berinteraksi dan ruangannya dingin, adem banget lumayan pas kepanasan nunggu giliran.


11 Mei 2013, saya dan beberapa teman berkunjung ke Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2. Jika Anda ingin mengadakan kegiatan bakti sosial atau hanya ingin berkunjung untuk memberi penghiburan kepada para Oma dan Opa, Anda bisa datang ke Jl. Cendrawasih X/8, Cengkareng - Jakarta Barat. Lingkungan di luar maupun di dalam panti cukup terawat dan bersih juga banyak angin sehingga tidak perlu takut kepanasan atau merasa tidak nyaman dengan lingkungan panti.

Nah... Awalnya kami berkumpul sekitar lima menit di gedung utama yang berseberangan dengan aula serta area kamar Oma dan Opa, kemudian kami jalan bersama mengelilingi panti sambil memilih subyek untuk masing-masing kami wawancarai. Awalnya saya bingung memilih subyek, Oma atau Opa ya? Namun pada akhirnya saya melangkahkan kaki menuju Opa yang sedang duduk sambil merokok, kami berkenalan sambil sedikit berbincang mengenai kegiatan yang beliau lakukan. Beliau mengatakan sangat senang bila ada yang berkunjung ke panti karena merasa ada yang memerhatikan dan membuat panti seolah-olah ramai, lebih ada kehidupan. Beliau tidak berharap diberi uang atau barang oleh pengunjung panti, cukup dengan sapaan dan senyuman dapat membuatnya merasa berharga.

Ya... Pastinya sapaan dan senyuman yang tulus, benar-benar dari hati. Senyum sambil memberi perhatian pada orang yang kita beri senyum, bukan senyuman yang hanya bertahan satu detik kemudian mengalihkan pandangan tanpa memaknai 'bahasa' dari senyum tersebut.

Saat melihat Opa yang ada di panti, saya sedih karena teringat dengan Ayah saya. Ayah yang sedang berjuang sendirian untuk terus memberi pendidikan dan kehidupan yang layak bagi ketiga anaknya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kehadiran Ayah saya; seperti yang dilakukan beberapa orang yang sampai tega tidak pernah mengunjungi atau tidak ingin mengetahui kabar orang tuanya.

Apapun status sosial yang ada di masyarakat, hubungan orang tua dan anak maupun hubungan dalam keluarga inti harus tetap saling jaga dan menyayangi. Jagalah orang terdekat selagi kita mampu dan masih mempunyai waktu untuk bersama mereka.

Sekali lagi, ketulusan. Kita dapat menunjukkan rasa kasih dengan hal yang sebenarnya mudah. Senyum dan perbuatan tulus lainnya.
26 Mei 2013 

yeah, I can do it! (Nawal Afif)

     Melakukan wawancara merupakan hal menegangkan bagi saya. Berbicara dengan orang lain yang saya tidak kenal saja saya kaku, apalagi untuk menjadi pewawancara. Saya rasakan ketegangaan yang luar biasa pada saat praktikum pertama di kampus, saya benar-benar tercampur aduk antara rasa takut, tegang, panik dan takut tidak bisa mengingat daftar pertanyaan. Dan ternyata benar pada saat saya menjadi I-wer benar-tegang dan lupa pada daftar pertanyaan yang membuat saya mencontek daftar pertanyaan.

     Ketika wawancara pada lansia di panti merupakan pelajaran yang luar biasa untuk saya. Ketika subyek saya menangis didepan saya, rasa juga sedih ingin menangis bersama, tetapi saya ingat untuk menjadi I-wer yang baik tidak ikutan menangis dan saya dapat menahan rasa itu. dalam proses mencari data subyek, ternyata tidak segampang yang saya kira. Saya belajar di sini terkadang sebuah wawancara tidak harus sesuai dengan apa yang kita tulis didaftar pertanyaan, karena belum tentu subyek kita menjawab apa yang kita mau dan mengerti apa yang kita maksud. Dengan menanyakan hal-hal yang biasanya mereka lakukan mereka menjadi teringat dan akhirnya bercerita panjang lebar.

    Pada praktikum kedua merupakan bagian favorite saya, yaitu praktikum sebagai psikolog dalam sekolah untuk i-wer setting pendidikan. Hal ini membuat saya bertekat untuk melihat daftar pertanyaan lagi dan melakukannya dengan spontan. Dan ternyata berhasil walaupun ternyata sebelum 10 menit saya sempat kehabisan bahan pembicaraan. Pada pratikum kedua saya merasakan kehilangan rasa keteganggan dan rasa panik saya. Ketika praktikum ke terakhir saya juga merasakan ketenganggan, karena untuk setting klinis. Tetapi saya berpikir buat apa saya panik karena takut tidak hafal dengan daftar pertanyaan  dan tegang karena takut berbuat salah. Saya kan sedang belajar dan saya mecoba tidak panik agar tidak buyar semua. Dan ternyata hasilnya membuat saya mengatakan yeaah I can do it! Yang di mana saya tidak melihat daftar pertanyaan dan saya menanyakan dengan spontan. Ternyata saya bisa melakukannya :’) *terharu*.


    Dari semua praktikum di kampus dan di panti, merupakan pelajaran berharga buat saya dalam menjadi i-wer. Hal ini tidak akan saya lupakan, karena ternyata menjadi i-wer bukanlah suatu hal yang menyusahkan. Satuhal yang saya dapatkan menjadi i-wer dan merupakan kuncinya yang menurut saya, yaitu bersikap tenang. Dan saya yakin dari praktikum-praktikum ini membuat saya memiliki bekal untuk kelak nanti.

26 Mei 2013

“Easy to say, Hard to do…?” (Imelda Victoria)

If there’s a word “interview” written, what is the first thing that come to our imagination, our feel, our thought, our understanding?

As for me, before i attend interview technique class, i see interview as a question-answer session only. Ask, then answer. No more. Like in magazine, or a detective movie, or perhaps something like test - just answering a question then it’s finished. A simple little thing that only need a courage of asking and the ability to answer the question, nothing more.
Learn interview through theory surely change my view of interview. It come to my sense and give me more deep understanding. The theory encourage my confidence. I began to think, “Oh, i see. So it was like that. If i master the interviewing skill’s theory, i will come near to be able to do the ‘real’ interview”. But when it comes to the practice, i’m confused by the theory myself. On my very first practice with roleplay setting, i didn’t check on my recorder so i didn’t record anything. Thanks to my note, so i’m still able to make a report. Not only i didn’t record it, i come to forgot that i need to record it while the practice has begun. I’m too excited, my mind full of interviewing skill theory and the question list. But i’m encouraged because i’m able to put both my attention and interest to the story of my client by setting at that time, i imagine it as a real one. I shall give her a big thanks too, since she help me a lot with her acting as we are in a real setting. But this isn’t something to be happy about. We able to follow and understand the client’s story is not the everything. On the next four practice i’ve done, this lead me to more and more error.

The second practice is not a role play, our client or subject is not our friend anymore. The answer isn’t made of, it’s a real one. I’m aware at these, and i become want to know more about the story. But here again the error, i’m sunken by the story. Didn’t control my expression, didn’t note which part is important to be digged out, didn’t check the recorder quality, ignoring the ‘real’ use of informed consent, in other word - i almost forgot every theory that i’ve learned. After two practice, i come to a conclusion that theory may not like it seems but it’s still needed and i should able to practice all of it. The third practice, here where i learn ‘bias’. Come to my luck, that my client-to-be is my bestfriend. I know her and i know there will be bias, so i learn how to control the ‘bias’. How to not mix my feel, emotion, and bring our relationship on the interview practice. Kind of hard, but i’m happy that i didn’t laugh on nor think any funny things while doing it. So i feel that i’ve success to control myself. Fourth practice, same like the second one but a little better than before. I begun to feel i’m better than before, and this kind of thought lead me to another error *again*. I’m trying to correct myself on something that i still lack on, but here i lost what i’ve maintain. It’s been the fifth one, i should be better than before. But i did a fatal error, forgot to ask full personal data, such as birthdate and so on, mixed the question and almost out of topic. Truthfully, i kind of shocked by my friend’s acting whose become my client on that day. It seems that we have a slight misscommunication, i’m trying to control her answer and lost my focus on what i should really do. I’m too rigid and think much on it. 

From above, it seems i’ve got a lots of error and maybe i almost lost my confidence on interviewing. To be honest, i’m not losing any confidence  because i really took a lot of lesson on it. I didn’t see myself as a total failure. Five times practice isn’t and never enough to me but in the same time it was my precious experience. Another good thing which come to my sense is about theory. Some people once told me that, theory is just theory and in real-life context they become nothing. I begin to questioning it and i come to believe that theory actually is our guidance (not a tool) to mastering skills - like a recipe in cooking class - especially on this case. But still theory isn’t the number one thing that must be done while learning. As for me, the number one which is needed was a desire to learn. Accept errors even if it cause resentment. Be proud of with what we’ve done. Don’t be satisfied fastly with what have been done. And more, take our learning experience as fun yet good things to be remembered. 

I really like this class. I have another precious experiences. I hope what i’ve learned here will be a good use in my future *i think it will*

26 Mei 2013

Refleksi Praktikum (Veronica Widiastuti)


Nah ini nih yang seru pas keluarin uneg-uneg yang sudah terpendam selama tiga minggu berturut-turut.. mau tau apa itu? ayo disimak..
Ini adalah blog saya di kelas teknik wawancara yang berisi tentang refleksi selama menjalani praktikum berminggu-minggu. Praktikum ini dilakukan tiga sesi yaitu dalam bidang PIO, Pendidikan, dan Klinis. Seru sih pas praktikum pertama.. ada deg-degannya, seriusnya, apalagi buat kesalahan. Dalam praktikum ini saya mendapatkan pengalaman baru yaitu dengan latihan menjadi pewawancara yang sesungguhnya, rasanya menjadi klien yang bermasalah, dan juga melihat apa saja yang telah dilakukan oleh teman lain yang sedang melakukan wawancara. Menjadi pewawancara yang baik sebenarnya sangat sulit karena dalam praktikum, walaupun sudah menyontek kertas pertanyaan, saya masih salah-salah dalam menanyakan pertanyaan dan juga dengan suara atau intonasi yang kaku. Seperti blog-blog saya yang sebelumnya terdapat beberapa keterampilan dan juga pengalaman yang banyak agar bisa menjadi pewawancara yang baik.
Di minggu pertama dalam setting PIO itu rasanya deg-degan banget sampai siapin contekan pertanyaan di mana-mana. Fokus ke klien? Saya rasa malah lebih fokus ke pertanyaan selanjutnya “mau tanya apa lagi yah”?. Belum lagi waktunya cukup atau tidak dengan daftar pertanyaan tersebut. Minggu kedua sudah ada persiapan dan juga setting Pendidikan lebih gampang sehingga memudahkan untuk wawancara. Nah di minggu ketiga nih, setting klinis.. yang ditakutin bukan jadi pewawancara, tapi jadi kliennya. Topik dari pewawancara ada yang gangguan atau tidak, kalau gangguan harus seperti apa yah acting-nya?

Pengalaman ke panti juga gak kalah serunya nih dengan pengalaman praktikum. Di panti itulah saya menemukan pengalaman baru. Dengan mewawancarai seorang nenek, saya mendapatkan banyak nasehat darinya dan juga cerita pengalamannya. Mewawancarai seseorang yang baru dikenal tidaklah mudah. Cara membina raport akan sangat bergantung dengan hasil yang akan nantinya saya dapatkan. Untungnya saya berhasil membina raport hingga saya disenangi kehadirannya.  
Itu pengalaman praktikum yang sangat bagus bagi saya.. itu pengalamanku, kalau kamu? Silakan mencoba..
 
26 Mei 2013

Pengalaman adalah Teman Terbaik (Eko Hadi Sayekti)

Setelah 3 minggu menjalani praktek wawancara mulai sejak di dalam Kampus dan di Panti, saya sangat bersyukur karena dari sana, saya mendapat banyak pengalaman dan juga bertambahnya jam terbang saya dalam wawancara. Mengingat mewawancarai seseorang merupakan sebuah ketrampilan, maka latihan adalah dasar awalnya, meskipun seseorang mengerti dengan benar tentang teori dasar dari teknik wawancara tetapi tanpa pernah melatih dan mempraktekkan pada orang lain, maka seseorang tidak akan pernah menjadi ahli sebagai pewawancara. Saya melihat dari praktek yang sudah, ada isitlah yang tepat yaitu “Bisa karena Biasa” maka dalam praktek wawancara dengan sering melatihnya berulang-ulang maka kita akan bisa menjadi pewawancara yang baik.

Dalam praktikum di kampus ada pengalaman menarik, pengalaman menariknya adalah dapat bermain peran seolah-olah menjadi seorang Psikolog (Psikolog IO, Psikolog Pendidikan, Psikolog Klinis) yang benaran, karena settingnya seolah-olah nyata, saya merasa ada keyakinan dalam diri saya, apalagi ditambah teman-teman di kampus sangat baik sekali dalam memerankan sebagi seorang klien. Setiap sesi persesi saya berusaha menunjukkan kompentesi saya mulai membuka pintu, menyapa, mempersilahkan duduk, membina rapport sampai mendapatkan informasi. Ketika klien menjawab pertanyaan saya,  membuat diri saya berlatih terbuka dalam merespon jawaban yang dilontarkan sambil latihan mengobservasi perilaku yang ditampilkan.

            Selain itu pengalaman yang tidak terlupakan adalah saat pertanyaan yang saya berikan dan ternyata jawabannya berbeda, maka saya perlu memutar pikiran saya, agar proses wawancara berjalan dengan baik. Memang klien memiliki hak untuk menjawab yang dia mau serta jawaban itu tidak harus sama dengan yang saya mau, dan ini justru memacu saya untuk membuat pertanyaan baru yang memang belum ada dalam daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Untungnya meskipun waktu yang diberikan hanya 10 menit sebagai pewawancara saya berusaha untuk selalu sadar pada informasi apa yang ingin saya dapatkan dari wawancara saat itu.

            Pengalaman saat menjadi observer, ada pengalaman yang mungkin hanya sekedar pengalaman bukan niat merendahkan orang lain. waktu itu ada teman saya yang berperan menjadi pewawancara saat itu dia sudah mulai kehabisan daftar pertanyaan bukannya membuat inisiatif bertanya malahan sibuk bolak-balik lembar daftar pertanyaan. Semacam orang sedang bingung mau melakukan apalagi. Saya belajar dari sini bahwa seyogyanya sebagai pewawancara, meski selalu siap membuat pertanyaan baru ketika kehabisan pertanyaan apalagi ketika informasi yang dimau belum didapatkan.

            Pada waktu di panti lanjut usia di Grogol, ada pengalaman yang membuat sadar inilah kehidupan dan akhirnya seperti merekalah kita nantinya. Dimana tidak ada lagi kecantikan dan ketampanan, tidak ada lagi wangi-wangian, yang tercium hanya aroma minyak kayu putih bercambur aroma bekas air kencing.  Saat Kak Tasya memperbolehkan mulai wawancara saya bingung awalnya, karena berpikir mau wawancara yang mana ini, saya berjalan menyusuri kamar-kamar mereka, sampailah dibagian ujung kamar yang dihuni oleh tiga orang lansia. Mereka umumnya sudah susah untuk berjalan dan berjalannya pun merangkak, ketika melihat itu sedih rasanya. Tapi mau bagiamana? Dengan niat yang sudah ada saya memperkenalkan diri, menjelaskan niat dan tujuan saya pada mereka dan akhirnya salah satu dari mereka bersedia saya wawancarai.

            Selama wawancara di panti dengan subyek pengalaman yang harus dipegang adalah pentingnya sikap sabar. Sebab  dengan sabar kita akan mendapat informasi yang lengkap dan subyek juga merasa senang dengan kehadiran kita. Selain sabar kita perlu berempati agar minimal kita tahu bagaimana kondisi dia sehingga kita tidak menjadi muncul rasa tidak suka, atau bahkan membuat penilaian yang salah tentang mereka.

            Meskipun praktek wawancara sudah berakhir, semoga kiranya pengalaman ini menjadi modal dasar dalam pengembangan kemampuan saya, saat menggali informasi tentang orang lain. Meskipun seandainya saya tidak menjadi seorang psikolog minimal dengan belajar dan praktek wawancara ini, saya sudah mendapatkan pengalaman berharga yang berguna dalam hidup saya. Terima kasih Bu Henny dan Kak Tasya…

26 Mei 2013.

kunjungan panti sosial (Annisa Ayu Primadani)


     Selama sebulan ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Dalam rangka mengerjakan tugas mata kuliah Teknik Wawancara, saya mengunjungi salah satu Panti Sosial di kawasan Jakarta Barat untuk mewawancarai salah satu WBS setempat. Pada awalnya saya sempat kaget karena ambience-nya yang sangat nyaman dan higienitas yang sangat terjaga. Jujur saja, dalam pikiran saya selama ini, kata panti sosial selalu memiliki konotasi yang negatif. Saya pikir, seperti panti-panti pada umumnya, tempatnya akan sempit, berisik dan agak jorok. Namun ternyata panti tersebut cukup luas dan bersih. Penghuni-penghuninya sangat bersahabat, petugasnya juga cukup helpful. Saya seperti berada di rumah sendiri.
     Awalnya saya datang bersama teman-teman sekelas. Namun karena kondisi saat itu yang sangat hectic, saya tidak berhasil mendapatkan subyek untuk diwawancarai. Karena itu lah saya terpaksa kembali lagi ke panti tersebut untuk kedua kalinya. Pada kunjungan kedua, saya ditemani 2 teman saya yang merupakan teman sekelompok saya pada project tersebut. Saat itu saya berangkat dari kampus tercinta sekitar pukul 13.30 siang. Mungkin memang nasib saya yang sedang sial, lagi-lagi saya belum berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan karena di hari itu ada sebuah acara perpisahan yang diselenggarakan oleh suster-suster yang magang di panti tersebut.
     Saat acara perpisahan berlangsung, saya dan teman-teman diizinkan untuk menonton. Suster-suster tersebut mengadakan sebuah kuis yang pesertanya tidak lain adalah oma-oma tersebut. Walaupun mereka sudah cukup berumur dan memiliki kondisi fisik yang sudah tidak prima lagi, mereka masih bisa bersenang-senang. Bahkan ada salah satu oma yang heboh joged-joged dengan diiringi musik dangdut.
     Walaupun hari itu saya tidak berhasil wawancara, saya tidak merasa kecewa sama sekalikarena saya sangat menikmati kunjungan tersebut. Oma-oma di sana sangat friendly dan lucu-lucu dengan keunikannya masing-masing. Mungkin karena kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki keluarga lagi, mereka terlihat sangat senang ketika saya dan teman-teman mengajak mereka untuk ngobrol-ngobrol. Saya jadi ketagihan untuk main ke sana lagi.
     Pada kunjungan ketiga, akhirnya saya berhasil untuk mewawancarai salah satu oma di sana. Orangnya sangat ceria dan lucu. Pada saat wawancara, tidak ada kesulitan yang berarti karena beliau sangat kooperatif dan terbuka. Walaupun ia memiliki keterbatasan fisik dan tidak memiliki keluarga, beliau mampu mensyukuri keadaannya dan menjalani hidup layaknya orang-orang pada umumnya. Hal ini juga berlaku pada beberapa penghuni panti tersebut. Banyak hal-hal positif yang dapat dipelajari dari oma-oma tersebut. Saya juga semakin menyadari passion saya pada bidang klinis dewasa. Kelak jika saya sudah menjadi psikolog yang mumpuni, saya sangat ingin menolong orang-orang seperti mereka sesuai kemampuan saya.

26 Mei 2013

Refleksi Praktikum Wawancara (Monica Unsri)

Saat menjalani praktikum di kelas Teknik Wawancara, saya mendapatkan pelajaran menarik mengenai cara untuk mewawancarai orang-orang yang berbeda setiap minggunya. Misalnya saja saat minggu pertama dengan setting PIO, kelompok saya mendapat giliran pertama sebagai pewawancara, sangat terasa groginya karena saya merasa seperti benar-benar sedang mewawancarai seseorang. Namun, hal-hal yang penting telah dipersiapkan dengan baik bersama dengan kelompok yang baik pula sehingga proses wawancara berjalan baik sampai ke dua minggu setelahnya dengan setting pendidikan dan klinis. Setelah menjalani tiga minggu praktikum dengan ‘klien’ yang berbeda, membuat saya merasa ini merupakan latihan wawancara yang sangat berarti saat harus mewawancarai yang sebenarnya nanti. Saya jadi mengetahui bahwa mewawancarai tidaklah semudah yang saya pikirkan sebelumnya, belum lagi jika klien tidak kooperatif dan sulit digali informasinya.
Akhirnya, tibalah saat dimana saya harus benar-benar melakukan wawancara yang sesungguhnya di sebuah panti tuna daksa di daerah Cengkareng. Klien benar-benar di depan mata, saya harus benar-benar membina rapor dan mengingat kembali ‘latihan’ yang sudah saya lakukan selama tiga minggu terakhir. Memang, pada pertama kunjungan saya mengalami kesulitan yaitu tidak mendapatkan subyek, tetapi tetap mencoba untuk melakukan wawancara dengan seorang subyek perempuan yang telah diwawancarai oleh teman saya yang lain. Kebetulan di panti itu subyek sebaya dengan saya. Namun, subyek tidak kooperatif dengan saya setelah saya ajak bicara dan sebagainya, sehingga saya memutuskan untuk harus kembali pada hari berikutnya.
Baru kemudian hari berikutnya, di siang itu saya bertemu dengan seorang subyek laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dari saya dan ternyata memiliki semangat yang luar biasa dibalik kekurangan fisiknya. Proses wawancara berjalan dengan sangat baik. Subyek secara tidak langsung memberikan saya pelajaran yang sangat berharga bahwa dengan kekurangan yang dimilikinya, ia masih memiliki semangat dan tidak berkecil hati jika diremehkan orang lain. Ditambah lagi, subyek juga tidak menggunakan kekurangannya sebagai sarana meminta belas kasihan orang lain, tetapi ia memiliki kemauan untuk berkarya, bekerja, dapat berpikir positif di balik penderitaan yang dialaminya, dan bahkan mampu menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri. Sekiranya kita, khususnya saya, dapat menyerap pelajaran berharga dari orang-orang yang berkekurangan seperti Beliau dengan mengucap syukur pada Tuhan atas hidup kita yang tidak berkekurangan dalam hal fisik dan menjalani hidup dengan tersenyum dan terus bersemangat setiap harinya.

Demikian refleksi praktikum saya pada kelas Teknik Wawancara. Tidak lupa juga saya untuk mengucapkan terimakasih pada dosen mata kuliah bersangkutan, Ibu Henny dan asistennya Kak Tasya yang telah dengan sangat baiknya menurut saya, mengajarkan kelas Teknik Wawancara secara atraktif dan tidak membosankan karena saya menyadari materi mata kuliah ini cukup berat jika tidak diperhatikan dengan baik, khususnya bagi saya.. Hehe.. Terimakasih, Bu. J

26 Mei 2013