Senin, 27 Mei 2013

kesan--kesan selama praktikum di lab maupun di lapangan (Evelin Chandra)

     Penulis mengikuti praktikum laboratorium yang dilakukan selama tiga minggu dengan tema yang berbeda. Praktikum tersebut di mulai pada tanggal 6 Mei 2013 – 20 Mei 2013. Pertama, Penulis menjalani praktikum dengan tema industri dan organisasi. Kedua, Penulis menjalani praktikum dengan tema Pendidikan. Ketiga, Penulis menjalani praktikum dengan tema Klinis.
    Selama menjalani ketiga praktikum laboratorium, Penulis mendapatkan kesan yang berbeda di antara masing-masing praktikum tersebut. Ada suka dan duka yang di miliki di setiap sesi praktikum laboratorium tersebut. Penulis merasa bahwa sangat sulit melakukan wawancara dengan tema klinis jika dibandingkan dengan tema lainnya karena Penulis harus membuat pertanyaan yang lebih spesifik yang dapat menjelaskan mengenai latar masalah dari klien tersebut sementara klien pada saat itu sangat bersikap datar dan hanya menjawab seperlunya (satu-dua kata).
     Selama menjalani praktikum laboratorium dengan tema pendidikan, Penulis sangat merasa mudah melakukannya dan lebih santai di bandingkan dengan teman yang lainnya karena Penulis merasa bahwa kasus yang Penulis ambil sangat berhubungan erat dengan anak-anak pada umumnya. Penulis juga merasa tertarik dengan yang tema pendidikan yang di ambil yaitu kasus bullying.
     Selama menjalani praktikum laboratorium dengan tema industri dan organisasi, Penulis merasa kekurangan pertanyaan serta karena terlalu gugup sehingga pada saat melakukan wawancara, Penulis menjadi lupa dengan pertanyaan yang mau di pertanyakan kepada klien sehingga Penulis merasa harus membuka pertanyaan berulang kali dimana pada saat itu Penulis menaruh daftar pertanyaan di paha Penulis. Penulis merasa gugup karena tema tersebut adalah tema awal dan pertama kalinya juga Penulis di amati dan terjun lapangan langsung walaupun klien masih satu angkatan dengan Penulis.
     Selain praktikum laboratorium, Penulis juga menerapkan teknik wawancara di lapangan yaitu di Panti Sosial Trisna Werdha yang dilakukan pada tanggal 11 Mei 2013. Di panti tersebut, Penulis melakukan wawancara dengan seorang nenek yang sudah lama tinggal di panti tersebut. Awalnya Penulis merasa takut dan merasa nenek tersebut galak karena ketika Penulis bersalaman dan meminta persetujuan kepada nenek tersebut untuk menjadi partisipan dari wawancara yang Penulis lakukan. Ketika meminta izin, nenek tersebut dengan nada tinggi menjawab “boleh..tapi saya lagi tanggung..tunggu” (tanpa memperhatikan Penulis karena pada saat itu nenek tersebut sedang serius melakukan aktivitas menjahit) hingga 15 menit kemudian setelah selesai menjahit, Penulis kembali meminta izin dan bertanya kepada nenek tersebut. Nenek tersebut akhirnya sudah siap untuk di wawancarai dan selama proses wawancara dilakukan ternyata nenek tersebut aktif bercerita dan ramah kepada Penulis dengan logat Jawa-nya.
     Suka yang Penulis alami selama menerapkan keterampilan teknik wawancara tersebut baik di laboratorium maupun di lapangan adalah bahwa Penulis mendapatkan banyak pengetahuan dari klien, Penulis mendapatkan pengalaman yang berharga ketika terjun langsung berdasarkan teori yang sudah Penulis pelajari, Penulis juga dapat mengetahui susahnya dalam menerapkan teknik wawancara, Penulis juga menjadi belajar untuk melakukan proses wawancara yang baik dengan kritik dari teman-teman lainnya, Penulis juga harus memberikan alternatif pertanyaan yang lain dengan cepat jika klien tidak mengerti atau jika pokok masalah dari kasus yang Penulis ambil belum ditemukan intinya.
     Duka yang Penulis alami selama menerapkan keterampilan teknik wawancara tersebut adalah bahwa Penulis mengetahui sulitnya membina raport dengan klien agar klien nyaman dan mau terbuka dengan Psikolog, Penulis memiliki ketakutan pada tema-tema tertentu, Penulis juga merasa gugup bila berhadapan dengan klien pada saat awal wawancara dilakukan, Penulis juga mengalami suatu kejadian dimana pertanyaan yang sudah Penulis siapkan habis serta pertanyaan yang berlebihan.
 
26 Mei 2013

Minggu, 26 Mei 2013

Lets do it! (Nurul Hidayah Prabowo)

      Pada 3 minggu terakhir ini, saya praktikum wawancara dalam 3 setting. Pertama itu pratikum Psikologi Industri dan Organisasi. Pratikum pertama kalo tidak salah (berarti bener..) jatuh pada hari Senin (06/05/13). Nahh,, Pas hari minggunya tuh yaa, sebelum hari Senin, stresnya minta ampun. Kalo otak bisa protes, dia bakal protes kali yaa, "Nggak bosen apa mikirin buat besok! Tugas noh kerjain". hahaha.. mungkin kalo bisa ditebak, kurang lebih begitulah bunyinya protesan otak saya ini. 
      Keesokan harinya,,
     Setelah menunggu beberapa menit untuk mengantri sembako jatah pratikum ke sebuah ruangan di kampus yang pada hari itu juga adalah pertama kalinya saya masuk ke ruangan itu, nama kelompok saya pun dipanggil juga. Kebetulan pertama kali kelompok kami dapat jatah menjadi "OBSERVER". Itu di capslock gitu tulisannya ada alasannya loh, alasannya itu karena saya merasa beruntung. Dengan menjadi observer, perasaan tegang langsung runtuh seketika. huh! Nafas terasa plooonnggg!! 
     Hokinya lagi, orang yang saya obervasi pertama kali adalah teman saya yang sangat bagus sekali saat memerankan interviewer. Begitu mengkhayati..  Jadi pada hari pertama itu saya seharusnya berterima kasih pada teman saya tersebut, begitu menginspirasi.. :D (Urutan perannya : jadi observer, klien, dan interviewer).
     Seminggu kemudian...
     Tibalah pada pratikum wawancara setting Psikologi Pendidikan. It's my favorite! Pada minggu kedua ini, rasanya tidak begitu terlalu tegang. Setidaknya tidak sampai membuat otak saya protes seperti minggu pertama. :D Pratikum pendidikan ini, saya lebih banyak membayangkan guru Bimbingan Konseling (BK) saya sewaktu SMA. Hmmm,, Nggak sia-sia juga dulu suka nongkrong di ruang BK. :p Pada pratikum Pendidikan ini, jatah pertama kelompok saya adalah menjadi klien. (Urutan perannya : jadi klien, interviewer. dan observer).
     Dua Minggu kemudian,,
     Minggu ketiga ini adalah pratikum wawancara yang terakhir. (Huh!! Akhirnyaaa...!!). Begitu lah perasaan saya sewaktu pratikum ketiga dalam setting Psikologi Klinis ini. Hmm,, Sebenarnya pada saat pratikum Klinis ini, kelompok saya belum membuat pedoman pertanyaannya (soalnya kelompok saya ganti tema). Tapi entah mengapa, karena saya terlalu keenakan dengan 2 pratikum sebelumnya. Saya seakan jadi meremehkannya. Tapi untuk jaga-jaga, saya meminta nasehat pada salah satu dosen di kampus saya (sepertinya saya juga harus say to thanks pada beliau.. :). 
     Kena batunya deh!
     Pada pratikum minggu ketiga, kelompok saya pertama kali mendapat jatah menjadi interviewer. Jenggg.. jenggg... Saat prakteknya, nggak selancar pratikum 2 minggu sebelumnya. Psikolog Klinis sepertinya emang harus pintar-pintar yaa memainkan kata-kata dalam menghadapi kliennya.
     Intinya, daripada belajar teorinya melulu, penting juga loh kita praktekkin ilmu yang udah dipelajari. Karena prakteknya nggak segampang teorinya.. Teori mah asal nempel,, Ada soal, bisa jawab? Kita bisa dibilang udah lulus. Tapi kalo disuruh praktekkinnya? Belum tentu semudah menghafal teori :D
So, Just Lets do it!!  :D

Praktikum dan Kunjungan Panti (Elvandari Armen)

Setelah tiga minggu selesai praktikum teknik wawancara sebagai psikolog PIO, pendidikan, dan klinis, saya banyak mendapatkan pengalaman. Saya dapat mempraktekkan teori-teori yang telah dipelajari di mata kuliah teknik wawancara yang berlangsung selama satu semester. Selain itu, saya dapat mengasah inisiatif menjawab pertanyaan secara langsung ketika harus berperan menjadi klien.
Hal yang paling mengasyikan dalam hal ini adalah selain menggunakan pakaian formal layaknya psikolog sungguhan, kami pun diobservasi langsung oleh teman. Selain itu, saya mendapatkan feedback selama saya menjadi seorang pewawancara. Jadi, saya dapat mengetahui gerak-gerik yang mungkin tanpa saya sadari dilakukan.
Pengalaman menjadi pewawancara diteruskan.... Kami, mahasiswa teknik wawancara melakukan kunjungan ke panti. Kelompok saya mengunjungi salah satu panti tuna daksa di daerah Jakarta.
Pertama kali, ketika saya sampai bersama teman kelompok, saya melihat seorang laki-laki berusia sekitar 23 tahun dengan keadaan kaki tidak sempurna, sehingga dia tidak dapat berjalan dengan baik. Laki-laki tersebut membukakan pintu pagar ketika mobil kami sampai di panti dengan tersenyum.  Saya merasa saya orang yang beruntung karena hingga detik ini saya masih bisa berjalan dengan kedua kaki saya..
Setelah keluar dari mobil, saya dan teman-teman sekelompok menunggu rombongan lain. Setelah meminta ijin kepada kepala panti, pencarian subyek dapat dilakukan. Kami dikumpulkan di suatu aula besar di mana penghuni panti sudah duduk dan melihat ke arah kami... Penjaga panti menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk mencari subyek sendiri..
Kami tampak bingung ketika dipersilahkan mencari subyek sendiri. Saya dan teman-teman saling menatap satu sama lain.  Kami merasa canggung karena selama melakukan kunjungan ke panti untuk mata kuliah lain, penghuni panti dibiarkan melakukan aktivitas biasa, tidak dikumpulkan seperti ini. Setelah beberapa menit saya melihat sekelinling aula, akhirnya saya tertarik dengan seorang bapak-bapak yang duduk di  atas kursi roda, di pojok aula. Saya mulai memperkenalkan diri dan proses wawancara berlangsung.
Bapak yang saya wawancarai sungguh luar biasa. Bapak tersebut menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya. Beliau mampu menerima keadaannya dan masih sangat bersyukur karena masih diberi kehidupan oleh Tuhan. Padahal, menurut saya pribadi, dengan keadaan seperti itu, saya tidak tahu apakah saya masih bisa semangat menghadapi hidup. Dan satu pelajaran yang dapat saya petik dalam kunjungan panti kali ini.... Yaitu bersyukur :)

Seberapa pun sulit hidup yang kita lalui, pada akhirnya tetaplah dapat diselesaikan.. Semua terasa manis ketika kita mau bersyukur tentang apa yang terjadi hari ini... :)
 
25 Mei 2013

What We Face Now is Nothing Compared to What Real Life Will Give to Us (Melly Preston)

Selama tiga minggu terakhir ada banyak hal yang saya pelajari, begitu juga dengan teman-teman. Kami belajar bagaimana mewawancarai klien dalam situasi yang setengah real. Kami belajar bagaimana mengaplikasikan secuil teori mengenai wawancara yang ada dengan baik dan benar dalam berbagai setting. Kami belajar bagaimana cara menghadapi klien yang bermacam-macam karakteristiknya (baru 3 macam, sih). Sebagian dari kami bersorak senang, semangat, dan menganggap praktikum ini menyenangkan. Namun dari satu praktikum ke praktikum selanjutnya, selalu terdengar keluhan, hembusan pasrah, atau kekesalan dari sebagian lainnya, baik sebelum maupun sesudah praktikum.
Selama masa praktikum ini, saya banyak menyadari beberapa hal mengenai diri saya, tidak hanya dari sisi kelemahan saya dalam melakukan wawancara, tetapi juga dari sikap saya terhadap hidup. Harus saya akui bahwa beberapa kali saya juga mengeluarkan desah gelisah dan keluh kesah kepada teman-teman saya. Namun setiap kali sedang melakukan wawancara, ada rasa exited yang muncul karena ini adalah pengalaman baru yang akan sangat berguna bagi saya. Di sisi lain, ada satu masa dimana saya merasa begitu bodoh dan tidak kompeten dalam melakukan wawancara. Ada juga satu masa dimana saya berpikir kenapa hidup ini begitu memusingkaaannn..
Ketika diminta untuk membuat refleksi di blog ini, saya mulai menyadari betapa tidak perlu atau tidak sepantasnya saya untuk berkeluh kesah, khususnya setelah saya mengingat kembali cerita dari opa yang saya wawancarai secara real pada tanggal 11 Mei 2013 di panti lanjut usia. Opa menceritakan kepada saya bagaimana ia harus berjuang hidup dengan merantau dari satu tempat ke tempat lain dan kenyataan pahit yang ia alami dalam hidup. Kenyataan pahit bahwa rumahnya terbakar dan tidak lama kemudian orang tuanya meninggal saat ia masih muda.
Dari ceritanya saya belajar bahwa inilah hidup yang sebenarnya, bahwa hidup memang akan disertai penderitaan, and we have to face it and accept it. Selalu akan ada kesulitan yang harus dihadapi manusia untuk dapat menghargai dan mensyukuri hidup. Oleh karena itu, tidak sepantasnya saya atau teman-teman untuk berkeluh kesah atau menyerah hanya karena tersandung oleh batu kecil. Di masa depan masih ada banyak batu-batu besar yang akan menghadang langkah hidup saya, seperti layaknya yang telah opa lalui. Keluhan seperti “aduh, panas; capek; susah, pusing” dan lain-lain harus segera dihilangkan dari kamus kita karena keluhan tidak akan menolong kita berdiri kembali.
Secara keseluruhan, dari pengalaman praktikum dan wawancara di panti, saya juga mendapatkan satu bukti lagi bahwa psikologi itu layak untuk dipelajari. Psikologi tidak semudah atau serendah yang orang pikirkan. Pada akhirnya, psikologi bukanlah teori sosial, teori belajar atau teori kepribadian, melainkan adalah teori atau pelajaran tentang hidup yang sebenarnya dan tentang menolong sesama manusia.

25 Mei 2013

Pengalaman Seru saat Pratikum.. (Dhiya Afifah Purvita)

     Pada 3 minggu terakhir ini, saya tidak lagi belajar teori mengenai teknik wawancara melainkan langsung praktek mengenai teori yang telah diajarkan. Tentu saja hal ini membuat saya menjadi deg-degan dan grogi. Awalnya dalam pikiran saya campur aduk. Saya berfikir bisa ga ya saya praktek dengan baik?kira-kira pertanyaannya cukup ga ya?siapa ya klien saya?kalo klien saya tidak kooperatif saya harus gimana ya?hal itu membuat saya cemas menjelang ngambil nilai praktek.
 
     Pada Senin, 6 Mei 2013 itu pertama kali saya mengambil nilai pratikum. Pada hari itu saya sangat cemas sampai tidak selera makan karena sudah takut duluan hehehe..Pada saat kelompok saya dipanggil untuk menjadi pewawancara, saya sudah mulai tidak tegang, dalam hati saya berdoa untuk dapat melakukannya dengan baik. Dan saya pun mulai wawancara, dan pada setting pio, kasus saya mengenai rekrutmen staff HRD. Pada saat pratikum pertama saya merasa bahwa masih banyak kekurangan yang saya miliki seperti tidak mencatat poin-poin penting dari jawaban klien, selain itu saya juga masih merasa grogi dalam menyampaikan pertanyaan kepada klien sehingga terdengar seperti terbata-bata. Saya juga belum melakukan probing. Diantara keterampilan dasar yang harus di kuasai oleh pewawancara, saya sudah dapat membina rapport dengan klien seperti pada saat klien mengetuk pintu, saya membuka pintu dan berjabat tangan dengan klien, lalu saya menanyakan kabar dari klien pada saat itu serta menanyakan bagaimana perjalanan klien menuju kantor (perusahaan). Dalam sesi wawancara saya juga sudah mencoba mencairkan suasana supaya tidak tegang, hal ini terlihat saat klien juga tertawa kecil menanggapi humor yang saya lontarkan. Dari keempat aspek attending behavior, yang saya telah saya lakukan dengan baik adalah visual (kontak mata). Selama klien menjawab, saya hampir selalu mengarahkan pandangan mata saya ke arah klien. Selain itu, saya juga sudah menggunakan body language, hal ini dapat dilihat pada saat saya bertanya kepada klien saya menggunakan pergerakan tangan dan tidak hanya diam. Salah satu hal yang sudah saya lakukan pada active listening adalah nonverbal encouragement dan verbal encourangement, dimana saat subyek bercerita saya suka menganggukkan kepala dan sesekali saya mengatakan “ya..lalu..”. 
 
     Pada tanggal 11 Mei 2013, saya mendapatkan tugas untuk ke Panti Sosial Tuna Werdha Budi Mulia II. Pada saat itu yang saya takutkan adalah saya takut pertanyaan saya menyinggung oma atau opa yang ada disana. Pada saat sampai di panti tersebut, saya melihat ada seorang oma yang duduk dibawah pohon dan terlihat oma tersebut lagi santai. Saya mencoba untuk mendekati oma tersebut dan terlihat oma tersebut menyambut dengan ramah dan tersenyum. Ia juga mengatakan bahwa saya tidak menganggunya sehingga saya mulai dengan membina rapport terlebih dahulu. Setelah itu, saya meminta izin untuk merekam selama berlangsungnya tanya jawab. Yang saya dapatkan bahwa mewawancarai seseorang yang sudah tua tidak semenakutkan yang saya kira. Oma yang saya wawancara cukup kooperatif saat menjawab pertanyaan yang diberikan hanya saja mungkin ada beberapa pertanyaan yang ia tidak mengerti maksud yang ditanyakan sehingga kita harus menjelaskan dengan jelas maksud kita sehingga menjadi leading question. Pada saat wawancara, saya sudah melakukan kontak mata dengan oma dan seseklai mencatat jawabannya. Saya juga sudah melakukan verbal encouraging seperti “oh gituu omaa..lalu..” dan sesekali saya mengangguk saat mendengarkan jawaban dari oma tersebut. Hal yang menghambat saat wawancara adalah suara oma yang terlalu kecil sehingga terkadang saya tidak mendengar jawaban dengan jelas. Saat oma merasa sedih dan mengeluarkan air matanya saat bercerita, saya merasa tertantang karena saya harus dapat menghibur klien agar dapat ceria kembali.
 
     Pada pratikum kedua dan ketiga, saya berusaha memperbaiki kekurangan yang saya lakukan pada pratikum sebelumnya. Hal yang saya perbaiki adalah saat pratikum pertama saya tidak mencatat poin-poin penting dari  jawaban subyek, lalu saya sudah melakukan probing untuk memperdalam jawaban klien. Hal-hal yang sudah saya lakukan pada pratikum pertama yang sudah sesuai dengan keterampilan dasar saat wawancara saya pertahankan supaya lebih baik lagi. Tetapi, pada pratikum terakhir saya merasa bahwa kurang melakukan kontak mata dengan klien sehingga hal itu membuat performance saya kurang baik. Hal yang paling menyenangkan saat pratikum adalah saat melakukan observasi. Pada saat itu kita dapat menilai sekaligus mengintropeksi diri serta kita dapat melihat akting temen sendiri saat melakoni perannya sebagai klien, hal itu merupakan hal yang menyenangkan.

25 Mei 2013

Belajar Praktek (Ayu Thannia Dewi)

Kami sebagai mahasiswa psikologi, pasti nantinya akan melakukan serangkaian proses dalam bekerja. Apapun bidangnya, di dalamnya pasti akan ada proses di mana kita bertanya untuk tujuan tertentu. Namely, interview. Nah, dalam rangka mempersiapkan diri, selama tiga minggu terakhir ini, kami melakukan praktek wawancara dalam tiga bidang. Yaitu, I/O, Pendidikan, dan Klinis. Prosesnya adalah, satu kelompok (terdiri dari 5) melakukan wawancara, satu kelompok menjadi klien, dan satu kelompok lainnya mengobservasi si pewawancara. Setiap kami diputar untuk mendapatkan masing-masing peran. Rasanya, nervous banget!
Minggu pertama, ketika tema kami adalah I/O, itu luar biasa panas-dinginnya. Saya sendiri sampai mencoba berkali-kali, mengedit daftar pertanyaan berkali-kali, dan hasilnya, SUKSES!!Yea, sesuksesnya pertama kali mencoba lah ;p
Saya sudah mencoba attending behavior dengan eye contact (I think this is the most important), dan mencoba berbicara dengan nada yang tidak terlalu keras, tidak terlalu kecil, tidak terlalu cepat, melambatkan di beberapa tempat. Setelah melakukan prosesnya, ternyata tidak sesulit itu. Seperti mengobrol biasa memang, namun apa yang menjadi topiknya itu yang harus digali terus. Rasanya, teori yang banyak itu justru membuat bingung -.-"
Saya juga sudah mencoba melakukan pembinaan rapport, seperti tersenyum, mempersilakan duduk, dan menanyakan kabar. Namun karena ini kali pertama dan nervous banget, akhirnya saya malah menanyakan kabar dua kali. Oh my GOD! That was so stupid. 
Yang terpenting adalah memperhatikan dan mengelaborasi dari pernyataan klien, terkadang mengangguk dan mengatakan "heem" di saat yang tepat (that's called encouraging). Saya juga sudah mencobanya. Namun apakah itu sudah bisa dikatakan empati, Saya tidak tahu. Hingga saat ini saya masih bertanya-tanya, bagaimana caranya berempati? Mungkin harusnya saya tidak terlalu mempertanyakannya dan let it flow.
Tema minggu kedua adalah Pendidikan. Klien saya adalah siswi kelas 3 SMP (yang diperankan oleh teman saya). Saya rasa saya menyukai anak-anak, atau remaja. 
Wawancara kali ini menjadi lebih baik karena tidak se-nervous kemarinnya. Saya masih melakukan attending behavior yang sama, membina rapport dengan cara yang sama (disesuaikan dengan usia), menggunakan nada yang lebih ceria (disesuaikan dengan usia), encouraging, mengelaborasi, dan.. let it flow. 

Tema terakhir adalah Klinis, dengan tema wawancara yang kelompok saya pilih adalah Insomnia. Sebelum praktek, saya mengalami sedikit insiden sehingga hampir tidak ada waktu untuk berlatih seperti minggu-minggu sebelumnya. Dan, kelompok saya maju pertama. Wished to be luck. Anehnya, proses wawancara terasa begitu cepat dan kami sudah kehabisan waktu.
Saya masih melakukan hal yang sama dengan minggu-minggu sebelumnya, seperti melakukan attending behavior, membina rapport dengan cara yang sama, encouraging, dan mengelaborasi. Namun karena nervous kembali, saya sempat lupa apa yang ingin saya tanyakan. Akhirnya terjadi "Em.." panjang. Untungnya saya cepat mengalihkan pertanyaan, meskipun ujungnya menjadi sedikit aneh. Haaa....

Ada juga kemarin pengalaman kunjungan panti di sebuah panti penyandang cacat. Suasananya cukup nyaman dan menyenangkan, terutama klien saya sangat responsif dalam menjawab. Pengalamannya bukanlah sesuatu yang biasa, hampir membuat nangis klien loh! Kasus-kasus seperti ini memang sangat sensitif ketika harus menggali masa-masa yang tidak mengenakkan. Saya sudah berusaha untuk menjaga agar klien tidak menangis, dan mengobrol ngalor-ngidul (tetap ada tujuannya) mengenai kehidupannya beliau. Disana saya cukup tertegun mengenai kepercayaannya yang dipegang teguh dan impian yang masih belum tau kapan terwujud. 
Proses wawancara tersebut berlangsung santai. Saya berbicara menghadap klien, namun tidak terus menerus melakukan eye contact karena saya ingin melakukannya seperti ngobrol santai. Paling hanya nada suara dan kecepatannya yang saya atur agar klien masih tetap merasa bahwa ceritanya diperhatikan. Pada awalnya saya mencoba mengajak klien untuk duduk di tempat lain karena ruang aula terlihat sumpek, akhirnya kami duduk dekat jembatan. Saya mencoba membuat rapport dalam waktu yang sangat singkat itu, bersyukur karena kliennya pun responsif meskipun beberapa hal tidak bisa diungkapkan dengan jelas oleh beliau. 
 
Bertanya di sana-sini, gali terus dan terus, benar-benar menjadi orang yang kepo. Angguk-angguk juga saya lakukan, yang lebih karena kebiasaan daripada keharusan. Pengalaman ini bukan hanya pengalaman untuk wawancara menurut saya, tapi juga pengalaman membersihkan jiwa. Haha ^^
 
Begitulah minggu yang panjang ini berakhir. 
Semoga minggu Anda lebih menyenangkan!
25 Mei 2013

Its All About The Process (Ricki Victor)

     "Pelajari teorinya, lakukan prakteknya" mungkin kata-kata tersebut cocok untuk mata kuliah Teknik Wawancara, di mata kuliah ini saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pewawancara, yang diwawancarai, dan observer sekaligus dalam tiga setting (IO, Pendidikan, Klinis).

     Pertama kali melakukan praktek, saya berkesempatan menjadi yang diwawancarai, saat itu saya menjadi seorang karyawan yang melamar pekerjaan di salah satu perusahaan multi-nasional dengan jabatan manager. Hal yang paling menyenangkan saat menjadi orang yang diwawancarai adalah saya tahu rasanya bagaimana saat diwawancarai di suatu perusahaan walaupun hanya dalam bentuk role play (by the way, kami semua diwajibkan untuk mengenakan pakaian formal agar terlihat lebih nyata), pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara saat itu cukup membingungkan karena tidak ada persiapan apapun yang kami lakukan dan topik wawancara baru diketahui 5 menit sebelum role play dimulai. Selanjutnya di minggu ketiga (for your information, saya  tidak mengikuti role play di minggu kedua karena berhalangan) saat menjadi yang diwawancarai dalam setting klinis, saya menjadi seorang klien yang memiliki gangguan makan (anorexia nervosa), jujur saja sangat sulit membuat gangguan makan seperti topik yang kami bahas, mungkin jika gangguan tersebut diganti dengan autis atau schizophrenia akan lebih gampang untuk dilakukan prakteknya, hehe.

     Mari kita lanjutkan ke pengalaman saya sebagai seorang pewawancara. Hal yang pertama kali saya rasakan adalah menegangkan. Pertama kali saat menjadi pewawancara, saya membahas topik mengenai "hubungan gelap yang dilakukan seorang manager di perusahaan x dengan bawahannya yang telah berumah-tangga", awalnya kami berdua sempat ingin tertawa saat melakukan wawancara karena harus mewawancarai teman sendiri dengan kasus yang seperti itu pula ditambah dengan jawaban dari teman saya yang ngelantur saja tetapi akhirnya kami berdua bisa menahan diri sampai di akhir. Di minggu ketiga, saya juga mewawancarai seorang klien yang memiliki gangguan makan (anorexia nervosa) juga. Saat itu wawancara berjalan baik tetapi dari kedua kali kesempatan saya menjadi pewawancara, masih banyak hal yang harus saya kembangkan, seperti membangun rapport yang lebih baik juga agar klien dapat lebih nyaman sehingga ingin berbagi masalahnya, meningkatkan cara bertanya yang lenih baik lagi agar tidak bingung, dan cara untuk menutup sesi dengan halus agar tidak terkesan selesai begitu saja tanpa ada jalan keluarnya.

     Saat menjadi observer, tugas saya adalah "menikmati" role play yang dilakukan oleh kedua teman saya dan tugas saya adalah melakukan observasi terhadap pewawancaranya, apakah sudah bisa menjadi pewawancara yang baik atau masih harus ditingkatkan lagi. Dari observasi yang saya lakukan selama dua minggu, kedua teman saya sudah dapat melakukan wawancara dengan baik, namun ada beberapa hal yang harus dikembangankan lagi agar mereka menjadi pewawancara yang lebih baik lagi.

     Well, itu sedikit pengalaman saya yang dapat saya sampaikan saat malakukan role play teknik wawancara, masih banyak lucu, aneh, dsb yang tidak mungkin untuk saya sampaikan semuanya. Satu hal yang perlu diketahui adalah teknik wawancara merupakan satu-satunya mata kuliah yang memberikan kami teori, praktek dalam bentuk roleplay, dan juga praktek di luar lapangan. Sungguh suatu pengalaman yang menyenangkan dan mungkin tidak akan ada di mata kuliah lain.

Dalam kesempatan ini, saya juga akan membahas tentang pengalaman saya saat mengunjungi panti Bina Daksa di daerah Cengkareng pada tanggal 11 Mei lalu. Well, kunjungan tersebut merupakan pertama kali yang saya lakukan karena sebelumnya tidak ada mata kuliah yang menfasilitasi kunjungan langsung seperti ini.

Hal yang saya dapatkan cukup banyak selain pengalaman dalam melakukan wawancara pastinya. Diluar sana ternyata masih banyak orang yang memiliki keterbatasan fisik yang sangat terbatas namun mereka masih berusaha untuk dapat menjalani hidup ini dengan baik. Mereka mungkin merasakan tekanan yang tinggi dari masyarakat atas keterbatasan yang dimilikinya, namun hal tersebut tidak mengurungkan niat mereka untuk belajar. Seperti salahsatu penghuni panti yang kebetulan menjadi subyek wawancara saya, Beliau mengalami keterbatasan dalam berjalan karena terkena virus polio sejak usia 2 tahun. Beliau sangat ingin untuk dapat beraktifitas seperti manusia normal dan membantu kedua orangtuanya namun karena adanya keterbatasan tersebut membuat dirinya sering menjadi korban bullying temannya di sekolah sehingga ia tidak menyelesaikan sekolahnya. Sangat disayangkan, ketika seorang memiliki keterbatasan fisik, bukan berarti ia pantas untuk menjadi korban bullying dari orang-orang sekitarnya, ia juga memiliki hak dalam mendapatkan pelajaran dan beraktifitas seperti manusia normal. Setelah saya melakukan wawancara dengan beliau, ada beberapa hal yang saya tanggap, keputus-asaan dalam menjalani hidup ini di masa kecil, namun hal tersebut berangsur-angsur menurun karena Beliau masih mensyukuri apa yang ia miliki sekarang dibandingkan dengan teman-temannya yang berada di panti yang sama. Hal kedua yang saya dapatkan adalah Beliau ingin untuk bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain, hal yang sangat simple untuk kebanyakan orang tetapi sangat berarti untuk Beliau.
Mungkin saya dapat menutup blog ini dengan satu kalimat sederhana, syukurilah apa yang ada pada diri kita saat ini karena apa yang kita miliki sekarang dan kita anggap biasa saja, bisa sangat berarti untuk orang lain diluar sana.
25 Mei 2013