Kamis, 29 November 2012

As Family (Reberta Oktavela)


Keluarga adalah tempat dimana kita merasa aman dan nyaman. Bagaimana jika sebuah rumah bukanlah tempat yang tidak nyaman lagi jika ada anggota keluarga yang melakukan kekerasan terhadap anggota keluarganya yang lain? Menurut data KOMNAS perlindungan perempuan  kasus KDRT pada tahun 2010 meningkat sekitar  6,25% dan diprediksi akan meningkat tiap tahunnya. Faktor utama terjadinya kasus KDRT adalah dominasi suami terhadap istri dan faktor ekonomi. Kekerasan ekonomi yang dialami korban sebagian besar adalah tidak diberi nafkah untuk biaya hidup sehari-hari, dalam bentuk lainnya adalah korban ditelantarkan suaminya yaitu ditinggal pergi oleh suaminya sehingga otomatis juga tidak diberi nafkah. Penelantaran yang dilakukan oleh suami ini banyak dilatarbelakangi oleh adanya perselingkuhan. Dalam beberapa kasus kekerasan ekonomi (penelantaran) terdapat korban yang akhirnya sampai menjadi PSK, karena dia harus menanggung biaya hidup dirinya dan anak-anak yang tinggal bersamanya. Kekerasan tidak hanya pada hubungan keluarga saja, namun bisa saja terjadi pada hubungan berpacaran, kekerasan yang biasa dilakukan adalah baik dalam bentuk fisik, psikologis, maupun seksual disebabkan karena hubungan yang tidak seimbang, tidak ada keberanian untuk menolak apalagi melawan.

Kekerasan dalam keluarga, terutama kekerasan seksual pada anak juga kerap terjadi. Namun, kekerasan seksual pada anak jarang melaporkannya ke pihak berwenang karena dianggap itu sebagai aib keluarg. Tak jarang pelakunya pun merupakan anggota keluarganya sendiri, seperti saudara kandung, ayah tiri, dan paman. Biasanya pelaku memberikan ancaman jika hal tersebut diberitahukan ke orang lain. Bentuk kekerasan seksual terhadap anak dapat berupa langsung dan tidak langsung. Kekerasan seksual langsung misalnya, meraba tubuh seperti payudara atau bokong, sedangkan kekerasan seksual secara tidak langsung yaitu seperti eksibisionisme atau pornografi pada anak seperti memotret atau merekam  bagian tubuh anak. Ada beberapa ciri anak yang mengalami sexual abuse, yaitu: perubahan perilaku, anak tiba-tiba berubah menjadi pendiam, tidak nafsu makan, sulit tidur, takut, sulit berkonsentrasi, hilangnya kepercayaan kepada orang lain, menjadi depresi, hingga sampai berniat untuk melakukan bunuh diri.
Anak adalah titipan Tuhan, hendaknya kita menjaga dan merawatnya dengan baik, agar tumbuh dengan baik pula.

28 November 2012

Child and Parents (Reberta Oktavela)


Seorang anak yang berumur lima sampai enam tahun biasanya sangat bersemangat untuk bersekolah dan bermain dengan saudara ataupun teman-temannya. Namun, pada sebagian anak tidak bisa merasakan hal itu, anak tersebut diharuskan bekerja oleh orangtuanya untuk membantu perekonomian keluarga. Saya jadi teringat dengan cerita dosen saya di perkuliahan, di salah satu Negara tersebesar seorang anak dipekerjakan untuk membantu orangtuanya dalam penjualan barang ilegal, pada saat melewati imigrasi ayahnya meminta anaknya yang menyimpan barangnya di tas sekolah anaknya agar barang tersebut tidak ketahuan oleh penjaga imigrasi. Ada sebuah cerita lagi yang membuat saya terkejut, bayi yang baru lahir diperjual-belikan tidak hanya untuk masalah aborsi atau pancingan, melainkan juga sebagai alat untuk menyimpan obat-obat terlarang. Jadi, pada saat di bandara pasangan suami istri berserta membawa "anaknya" untuk pergi ke suatu tempat dengan alasan liburan, namun ternyata pesawat yang mereka tumbangin itu mengalami keterlambatan yang cukup lama, pada saat itu salah satu petugas bandara melihat bayi itu terlihat biru dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Setelah diperiksa ini itu, ternyata terdapat banyak obat terlarang di perut sang bayi!!!

Orangtua adalah orang yang harus kita hormati, karena mereka lah yang merawat kita dari kecil. Orangtua yang ketika mereka sudah lansia kerap dimasukkan oleh anggota keluarganya ke panti werdha yang mungkin dikarenakan anak-anaknya terlalu sibuk hingga tidak bisa mengurusi orangtuanya, walaupun demikian ada juga sebagian dari mereka sendiri yang mau masuk ke panti werdha. Di panti werdha mungkin anaknya berpikir bahwa orangtua mereka akan dirawat dengan baik, namun kenyataannya tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak dirawat dengan baik, dan mereka pun kebanyakan merasa kesepian dan merindukan anak-anaknya.  Tak dipungkiri, ada dari mereka yang mengalami stress hingga depresi karena tidak ada yang bisa di ajaknya untuk sharing, berbagi pengalaman, dan keinginan mereka.

Ada kutipan dari yang pernah saya baca, dia menuliskannya seperti ini: "Mengapa orangtua selalu menganggap anaknya itu sebagai anak kecil? Karena orangtua sangat mencintai anaknya dari sebelum lahir hingga mereka meninggal."

28 November 2012

Inner Beauty (Ibarat Dewi Lakshmi) (Angela Kharista)


Bagi pria, wanita merupakan sosok teladan dan pembimbing dalam menempuh kehidupan rohaninya. Kasih yang murni dan tidak mementingkan diri sendiri merupakan sifat bawaan dalam diri wanita. Wanita yang berpengetahuan, berbudaya, diikat dengan kasih, dan selalu waspada mempertimbangkan apakah perkataan dan perbuatannya sudah selaras dengan moral, wanita tersebut ibarat Dewi Lakshmi, Dewi Kekayaan, yang membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi rumah tangganya. Wanita yang terikat kepada suaminya oleh cinta kasih benar-benar merupakan sekuntum bunga yang langka dalam menebarkan keharumannya. Wanita tersebut bagaikan permata yang memancarkan cahayanya dalam keluarga begitu cemerlang.

Sifat-sifat seperti kesopanan, kerendahan hati, dan bakti kepada Tuhan adalah perhiasan sejati bagi wanita, atau biasa dunia menyebutnya dengan inner beauty. Wanita memelihara nilai-nilai tradisional suatu kebudayaan agar bangsa tetap seimbang dan stabil. Wanita yang mengetahui teknik ketenangan batin, harmoni sosial, pengabdian tanpa pamrih, dan kepuasan ekonomi akan menjadikan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya kuat, jujur, dan bahagia.

Kebajikan dan kesucian merupakan ideal bagi setiap wanita. Itulah keutamaan yang paling terpuji pada wanita. Dengan kebajikan dan kesucian itu wanita dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan orang yang ia sayangi. Kesopanan dan kerendahan hati juga sangat penting bagi wanita. Tanpa kesopanan dan kerendahan hati, wanita tidak memiliki keindahan dan budaya. Kerendahan hati, kemurnian pikiran, tata krama, kesabaran, kelembutan hati, dipadu dengan cita-cita yang luhur, kepekaan, dan watak yang menyenangkan serta ramah, gabungan sifat-sifat ini adalah perhiasan paling berharga bagi wanita (inner beauty).

28 November 2012

Wanita dan Pekerjaan (Angela Kharista)


Dewasa ini semakin banyak wanita yang menempuh pendidikan modern. Mereka bekerja di kantor, sekolah, dan pabrik. Mereka juga mencapai kedudukan yang tinggi dalam berbagai bidang lain. Tetapi sebagian dari mereka bekerja karena terdorong oleh keinginan untuk membanggakan diri, bukannya karena ingin melaksanakan ideal pelayanan tanpa pamrih. Keinginan mereka akan kenyamanan meterial semakin lama semakin besar. Namun, bila wanita mengejar pekerjaan, siapa yang akan mengurus rumah tangga? Bila ayah dan ibu keduanya bekerja di kantor mencari uang, bagaimana jadinya dengan anak-anak mereka nanti? Bila sang ibu menghabiskan waktunya memperlajari buku-buku, siapa yang akan bekerja di dapur? Mungkin mereka akan memperoleh uang lebih banyak, tetapi itu hanya akan menambah kecemasan, kegelisahan, dan kerugian.

Wanita yang bekerja akan mendapati bahwa mereka tidak benar-benar berbahagia, kecuali mereka melakukan pekerjaan mereka dengan passion yang kuat dari dalam diri mereka. Wanita yang terpelajar harus menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk mengasuh anak-anaknya sehingga mereka tumbuh menjadi pecinta tanah air yang sehat, bajik, dan berdisiplin, yang berguna bagi nusa bangsa, kebudayaan, dan masyarakat. Mendapatkan uang bukan tujuan akhir pendidikan. Ketamakan untuk memperoleh uang dengan segala cara dan secepat mungkin telah menyebabkan kejahatan yang dewasa ini kita lihat dalam masyarakat. Uang menimbulkan rasa sombong, dan kesombongan menimbulkan rasa benci.

Bila wanita meninggalkan rumah untuk bekerja, di manakah ibu rumah tangga yang akan melakukan pekerjaan rumah tangga? Bila suami istri keduanya pergi ke kantor, lalu mana ibu yang akan merawat anak-anaknya? Bila sang ibu pergi ke sekolah mengajar anak-anak lain, siapa yang akan mengajar anak-anaknya sendiri? Walaupun mungkin keadaan uang membaik, berbagai kesulitan lain akan timbul dalam rumah tangga. Dalam usahanya memperoleh kesenangan, wanita bekerja di kantor hanya akan memperoleh kehampaan dalam rumah tangganya.

Janganlah pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh koki, pembantu, pengasuh, dan lain-lainnya! Wanita tidak boleh tergantung kepada mereka dalam merawat anak-anak atau melayani suaminya.

28 November 2012

Guru Utama (Angela Kharista)


Ibu merupakan sekolah bagi setiap manusia. Hanya para ibu yang penuh pengabdian dapat mempersembahkan kepada bangsa, anak-anak yang berjuang demi kebesaran masa depan negara. Ibu yang baik merupakan harta nasional. Ibu merupakan faktor yang paling menentu dalam kehidupan. Masa depan anak dibentuk oleh sang ibu.

Pada zaman dahulu anak-anak diberi air susu ibunya sendiri, berkembang menjadi orang-orang yang baik. Namun kini anak-anak banyak yang tidak diberi susu ibu, melainkan susu kaleng, sehingga akibatnya anak-anak mengembangkan mentalitas kaleng.

Ibulah yang menimang anaknya, ibulah yang memberi makan si anak dan mengajarkannya cara makan. Ibu pulalah yang mengajar anak mengucapkan suara-suara yang bermakna dan berbicara. Karena itu, ibu adalah guru utama bagi anak.

Kewajiban seorang ibu pertama-tama adalah memelihara anak-anaknya sendiri, menjaga, dan mengarahkan mereka pada jalan yang benar, sebelum mencoba mengurus anak-anak orang lain. Pertama anak-anak mereka sendiri harus dididik sehingga menjadi anak yang ideal.

28 November 2012

Love your parents :) (Catherine Prana)


Kelas psikologi perempuan kali ini membahas mengenai kekerasan pada lansia perempuan di panti werdha atau yang lebih familiar disebut sebagai panti jompo… Banyak sekali alasan yang membuat seseorang harus masuk ke panti jompo, seperti alasan tidak ada sanak keluarga yang mengurus atau bisa juga memang keinginan orang itu sendiri untuk masuk panti jompo.. Di panti jompo, seseorang mungkin dapat lebih memperoleh sesuatu yang tidak ia dapatkan di rumahnya, seperti misalnya teman untuk berbicara, teman untuk berbagi, dan lain-lain.. Di panti jompo, seseorang dapat bersosialisasi dan secara emosional dapat terhubung dengan orang lainnya yang ada di sana..

Kalau seseorang masuk ke panti jompo karena alasan keinginannya sendiri, itu tidak akan bermasalah besar, ia akan lebih mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang-orang yang ada di sana, tetapi kendalanya adalah ketika seseorang dipaksa atau terpaksa masuk panti jompo, itu akan jauh lebih sulit, ia dapat merasa lebih kesepian secara emosional walaupun banyak orang di sana.. Yang sangat disayangkan adalah ketika seseorang harus masuk ke panti jompo karena permintaan anaknya.. Di mana rasa tanggung jawabnya sebagai anak? Menurut saya, itu hal yang sangat keterlaluan.. Kalau ada kata-kata yang menggambarkan lebih dari keterlaluan, mungkin akan saya gunakan (hehehe)…

Mendengar kisah nyata yang dikemukakan Kak Tasya di kelas, saya terhenyak ketika mendengar ada anak yang mengirim ibunya ke panti jompo dan parahnya ia hidup di luar negeri tanpa memberi sepeser uang untuk ibunya hidup.. Ia menelantarkannya begitu saja.. Saya berpikir sejenak, apa yang ada di kepala orang itu sehingga membiarkan ibunya hidup di panti jompo.. padahal ibunya sering menangis karena rindu pada anaknya itu..

Terlepas dari hal itu, saya juga baru mengetahui kalau ternyata pelayanan di panti jompo seringkali tidak layak, lebih buruk dari yang saya pikirkan selama ini.. Semua pelayanan didasarkan pada uang semata, bukan pelayanan dari hati yang tulus untuk melayani.. Sekalipun ada panti jompo yang katanya sangat nyaman, layaknya hotel berbintang, tapi dimanakah rasa tanggung jawab kita sebagai seorang anak.. Saya sangat setuju ketika Bu Henny mengatakan bahwa orangtua adalah wakil Tuhan, beranikah kita melupakan orang yang sangat menyayangi kita, berjuang untuk kita, dan tidak memperhitungkan semuanya hanya demi kita anak-anaknya?

Saya pribadi tidak akan membiarkan orangtua saya masuk panti jompo, walaupun itu atas keinginannya sendiri.. Saya akan berusaha merawatnya sampai Tuhan memanggil orangtua saya..  No one can give you truly love more than your parents in this world… ­-unknown-

27 November 2012

Etiskah menempatkan orangtua kita ke Panti Jompo? (Tiara Mareta)


    Pantai Jompo merupakan upaya Pemerintah untuk mengayomi para Lansia (orang lanjut usia) yang hidup miskin dan terlantar. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 telah mengamanatkan, memperhatikan “Fakir Miskin dan Anak Terlantar”. Pendirian Panti Sosial didasarkan atas Undang-Undang RI no.4 Tahun 1965 tentang “Pemberian Bantuan Kehidupan bagi Orang-Orang Jompo”; Keputusan Mentri Sosial RI No.3/1/50/107/1979 tentang “Pemberian kehidupan bagi Orang-orang usia Lanjut”; Keputusan Mentri Sosial RI no.12/HUP/KEP/UU/1982 tentang “Pembentukan Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar”. Undang-Undang RI No.6 tahun 1998, tentang “Kesejahteraan Lanjut Usia”.
     Bessi (2007:60, 135) menyatakan, alasan lanjut usia yang menjadi warga Panti Jompo (Wana Seraya Bali) karena kemiskinan dan terlantar, tidak memiliki keluarga, atau ditelantarkan keluarganya. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan apabila membicarakan tentang panti jompo atau panti wredha adalah “etiskah kita menempatkan orangtua ke panti Jompo?” atau bahkan “menelantarkan orangtua” Hmm..coba pertanyaanya kita balik, menjadi “apakah kita mau apabila kita sudah tua ditempatkan di panti jompo?” Nah, kebanyakan dari kita pasti langsung menjawab tentu tidak!
     Dulu ketika masih bayi.... ibu merawat kita dengan penuh kasih dan cinta, ayah mencari nafkah. Tapi mengapa setelah mereka berusia senja... kita menitipkannya ke panti jompo? Mereka juga ingin menikmati hari-hari tua dan menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan didampingi oleh orang-orang yang mereka kasihi.. Seharusnya kita harus membalas jasa kedua orang tua dengan hidup berdampingan dengan kita,membahagiakan mereka dengan berkumpul bersama cucu-cucu yang mereka cintai.
     Apabila mereka sedang sakit, rawatlah semampu kita, selayaknya dulu orangtua merawat kita apabila kita sedang sakit. Justru, saat mereka sakitlah kita dapat membalas jasa-jasa mereka yang sepertinya tidak terbalaskan oleh kita. Saran saya, rawatlah kedua orangtua kita, hargai setiap menit dan detik yang ada saat berkumpul dengan mereka. Karena apabila mereka sudah tiada, menangis darah pun tiada guna..

Sumber :
Bessi, S. (2007). Pelayanan Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar: Perspektif Kajian Budaya. Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Panti jompo, tempat membuang mereka yang renta.  (2010, 2, 7). Diunduh tanggal 26 November 2012 dari http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2010/02/07/panti-jompo-tempat-membuang-mereka-yang-renta.html

26 November 2012

KDRT (Tiara Mareta)


     Kasus kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia menunjukkan jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.  Komnas Perempuan dan Yayasan Mitra Perempuan memiliki data bahwa sepanjang tahun 2006 angka KDRT di Indonesia dipastikan meningkat dibandingkan tahun 2005. Temuan ini tentu amat mengejutkan mengingat telah diratifikasikannya UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Mereka melaporkan hasil penelitian tentang kondisi KDRT di Indonesia. Komnas Perempuan mencatat jumlah sejak tahun 2001 terdapat 3.169 kasus KDRT. Jumlah tersebut meningkat 61% pada tahun 2002 (5.163 kasus). Pada tahun 2003, kasus meningkat kembali 66% menjadi 7.787 kasus, lalu tahun 2004 meningkat 56% (14.020) dan tahun 2005 meningkat 69% (20.391 kasus). Pada tahun 2006 penambahan diperkirakan 70%.
     Kasus kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi kepada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun kekerasan dapat pula dialami oleh pria, namun perempuan merupakan individu yang teramat rentan menjadi korban. Pada kasus perempuan sebagai korban,  pelaku lebih banyak adalah suami atau mantan suami. Kekerasan dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, emosional/psikologis, seksual, ekonomi dan social.
     Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan salah satu permasalahan yang sering kali terjadi di masyarakat kita namun penanganannya kurang maksimal. Banyak kasus KDRT yang terjadi di lingkungan kita, namun para korban KDRT biasanya tidak mau  melaporkan kasus KDRT yang dialaminya dengan banyak alasan misalnya takut dengan pelaku KDRT yang notabene adalah keluarga korban atau mengganggap KDRT merupakan masalah rumah tangga sehingga merupakan aib apabila permasalahan rumah tangganya diketahui oleh lingkungan sekitar. Kadangkala lingkungan kurang tanggap terhadap kejadian KDRT di sekitarnya dengan alasan KDRT merupakan masalah domestik sehingga apabila ada kejadian KDRT orang lain tidak perlu campur tangan. Padahal dampak KDRT sangat besar baik bagi si korban maupun keluarganya.
     Dampak kekerasan dalam rumah tangga bagi perempuan adalah : (1) Terus menerus mengalami ketakutan dan kecemasan, hilangnya rasa percaya diri, hilang kemampuan untuk bertindak dan rasa tak berdaya ; (2) Kematian akibat kekerasan fisik, pembunuhan atau bunuh diri ; (3) Trauma fisik berat ; (4) Trauma fisik dalam kehamilan yang beresiko terhadap ibu dan janin ; (5) Kehilangan akal sehat atau gangguan kesehatan jiwa ; (6) Curiga terus menerus dan tidak mudah percaya pada orang lain/paranoid ; (7) Gangguan psikis berat meliputi depresi, sulit tidur, mimpi buruk, disfungsi seksual, kurang nafsu makan, kelelahan kronis, ketagihan alcohol dan obat-obatan terlarang.
     Seharusnya, rumah tangga itu terbentuk berdasarkan rasa cinta yang dalam dan kasih sayang, serta kemampuan untuk berkomitmen antara satu dengan yang lainnya. Pernikahan serta kehidupan rumah tangga itu seharusnya dinikmati, bukannya malah pasangan dijadikan pelampiasan untuk meluapkan emosi. So, know your partner well and be prepared !!




Sumber:
Ayo tolak kekerasan dalam rumah tangga!. (2012, 6, 29). Diunduh tanggal 27 November 2012   dari http://irmadevita.com/2012/ayo-tolak-kekerasan-dalam-rumah-tangga

Gambaran kasus kekerasan dalam rumah tangga. (2012, 7, 4). Diunduh tanggal 27 November 2012 dari http://ikeherdiana-fpsi.web.unair.ac.id/artikel_detail-49848-Psikologi%20Perempuan-Gambaran%20Kasus%20Kekerasan%20Dalam%20Rumah%20Tangga%20di%20Indonesia.html

26 November 2012

Panti Jompo (Gisela Aliyansari)


     Ketika saya masih kecil, saya menganggap panti jompo adalah tempat buangan untuk orangtua yang tidak mau lagi diurus oleh anaknya. Tetapi seiring bertambah usia, saya menyadari bahwa panti jompo bukan hanya tempat bagi orang tua yang tidak mau diurus oleh anaknya saja tetapi oleh kemauan sang lansia sendiri.

     Mama saya bercita-cita jika papa saya duluan menghadap Tuhan serta saya dan koko sudah dapat hidup dengan berdiri di atas kaki saya sendiri, beliau ingin tinggal di panti jompo. Beliau mengatakan bahwa ia tidak ingin menyusahkan saya dan koko saya. Walaupun saya dan koko saya berkata bahwa kami sama sekali tidak berkberatan untuk mengurus mama. Tetapi mama saya bersikukuh bahwa beliau ingin tinggal di panti jompo. Beliau berkata bahwa jika beliau tinggal bersama kami anak-anaknya, maka beliau akan kesepian. Kami anak-anaknya akan sibuk dengan dunia kerja kami, anak-anak kami akan sibuk dengan dunia sekolah mereka. Selain itu, kata beliau dunia kami dengan dunia beliau sudah berbeda. Maksudnya ketika nanti kami telah berumah tangga dan memiliki anak maka jaman akan serba canggih, sedangkan beliau pasti tidak bisa lagi mengikutinya, isi dari televisi juga tidak akan lagi sesuai dengan selera beliau, perbicaraan kami juga sudah berbeda. Mama saya mengatakan, “Orangtua hanya punya masa lalu, sedangkan anak muda memiliki masa depan”. Sehingga tak heran jika orangtua menceritakan masa lalunya berulang-ulang sedangkan anak muda menceritakan tentang cita-citanya. Jadi beliau ingin tinggal di panti jompo di mana tinggal teman-teman seusia beliau, maka beliau akan lebih cocok karena merasa satu dunia, kata beliau, beliau dapat berbicara dengan sesama lansia, dapat berolahraga bersama, dapat menjalankan aktivitas rohani bersama, bagi beliau pokoknya dapat menjalankan hidup yang lebih baik ketimbang harus hidup dengan kami. Kata mama saya, bukannya mama saya tidak ingin hidup dengan kami, tetapi menurutnya hidup dengan teman-teman yang seusianya akan jauh lebih menyenangkan daripada harus hidup dengan kami yang tentunya akan sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kata mama saya, saya dan koko saya dapat mengunjungi beliau setiap kali kami mau.

     Awalnya saya mengiyakan ide mama saya, tetapi setelah mendengar cerita Bu Henny dan Ci Tasya, saya jadi berpikir kembali apakah saya akan tega memasukkan mama saya ke panti jompo meskipun panti jompo tersebut bayar. Yang bisa saya lakukan adalah berdoa semoga papa dan mama saya panjang umur sehingga mereka bisa hidup berdua di masa tuanya.

Ada lagi kalimat dari Bu Henny yang saya sukai

“Orangtua adalah perwakilan dari Tuhan”

26 November 2012

Human Trafficking (Gisela Aliyansari)


     Human traficking atau perdagangan manusia adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Bukan hanya tenaga yang diperdagangkan tetapi juga organ tubuh. Umumnya yang menjadi korban human traficking adalah kaum menengah ke bawah yang untuk hidup sehari-hari saja susah, mereka ditipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengiming-imingi mereka duit yang lebih banyak dengan alasan bekerja di luar negeri, sehingga mereka terhasut dan merelakan salah satu anggota keluarganya. Padahal mereka nyatanya menjadi korban perdagangan manusia dengan jam kerja yang hampir 24 jam, yang hanya mendapatkan istirahat sebentar sekali. Perdagangan organ tubuh lebih terselubung dan susah sekali untuk diungkap dibanding dengan perdagangan manusia yang memperdagangkan tenaga. Organ tubuh dari seorang individu akan dijual di pasar gelap dengan harga yang tinggi, kalau tidak salah satu ginjal dapat dihargai 50jt rupiah bahkan lebih.

     Yang menjadi korban perdagangan manusia umumnya adalah anak-anak dan wanita. Mereka menjadi korban perdagangan manusia karena mereka yang biasanya dianggap lemah, tidak dapat melawan ketika diperintah. Untuk pekerja anak, mereka dapat digaji dengan upah yang lebih murah untuk pekerjaan yang dikerjakan oleh bukan pekerja anak.

     Saya pernah mendengar cerita dari salah satu dosen, beliau mengatakan bahwa kulit atau anggota tubuh orang albino dapat membawa keberuntungan/kesehatan. Jadi organ tubuh orang albino dihargai sangat mahal di pasar gelap. Jika mempunyai satu badan orang albino dari kepala hingga ujung kaki maka hal itu akan lebih baik. Masih menurut beliau, di sebuah negara maju, ada ibu tiridengan tiga orang anaknya yang albino, sang ayah kandung dari ketiga anak ini sudah meninggal. Ibu ini tidak bekerja tetapi hidup sangat berkecukupan. Selidik punya selidik ternyata sang ibu menjual satu per satu anggota tubuh dari masing-masing anaknya untuk dapat bertahan hidup. Mungkin benar kata dongeng, ibu tiri memang tidak sebaik ibu kandung.

     Saya juga baru tahu dari Bu Henny jika di Arab Saudi masih memegang tradisi kasta dan pembantu rumah tangga ternyata berada di kasta yang paling rendah. PRT diperlakukan sangat tidak manusiawi, pemilik sang PRT tersebut beranggapan bahwa mereka telah membeli sang PRT jadi nasib sang PRT tersebut berada di tangan majikannya itu, hidup dan mati sang PRT pun berada di tangan majikan. Syukur-syukur jika sang majikan baik dan berperikemanusiaan, jika tak berperikemanusiaan jangan harap hidup sang PRT akan baik, yang ada sang PRT akan disuruh terus dan terus untuk bekerja.

     Mungkin pemerintah Indonesia harus lebih bisa tegas dalam menyikapi kisah nyata dari perdagangan manusia yang ada. Walaupun untuk bisa tegas dalam menyikapi hal ini tidaklah mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, diperlukan kerjasama dari semua pihak dan yang pasti di Indonesia sendiri harus menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai untuk masyarakat Indonesia sehingga tidak ada lagi yang namanya perdagangan manusia. Saya harap suatu hari nanti Indonesia bisa benar-benar menjadi rumah bagi seluruh masyarakat Indonesia.

26 November 2012

Minggu, 25 November 2012

KDRT DAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK-ANAK (Shanti Leli Umboh)


Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering dialami oleh perempuan. Hal ini disebabkan oleh para lelaki yang berpikiran bahwa perempuan lebih lemah dari dirinya. KDRT merupakan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri. Bentuk-bentuk kekerasan, antara lain  kekerasan fisik, verbal, dan seksual. Kekerasan fisik dapat berupa pemukulan, sedangkan kekerasan verbal dapat berupa kata-kata yang dikeluarkan oleh pelaku untuk merendahkan, menghina, memaki. Kekerasan seksual dapat juga berupa melakukan hubungan seksual tanpa adanya keinginan atau adanya paksaan dari orang lain. Kekerasan dapat juga dialami oleh anak-anak, tidak hanya pada perempuan. Kekerasan yang biasanya dialami oleh anak-anak, yaitu kekerasan seksual.

Kekerasan seksual pada anak-anak, biasanya dilakukan dengan membujuk anak melalui memberi permen, menunjukkan kasih sayang, dan memberikan uang. Penunjukkan kasih sayang merupakan hal yang baik untuk anak, tetapi hal ini sering disalahgunakan oleh pelaku, seperti mengatakan kepada anak bahwa ia menyayangi anak tersebut namun harus memegang alat kelamin dari si pelaku. Hal ini merupakan sebuah kekerasan seksual kepada anak-anak, dimana seharusnya mereka itu disayangi dengan cara yang benar, diberi perhatian, dan diajarkan hal-hal yang benar. Dampak yang nantinya akan dirasakan oleh anak merupakan suatu hal yang besar, tidak hanya biasa saja seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Contohnya anak pada saat dewasa nantinya akan merasa laki-laki adalah sama dan tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki.

Kekerasan dalam rumah tangga dapat diatasi melalui kemauan korban untuk dapat melakukan terapi agar dapat mengembalikan kepercayaan dirinya dan korban mau memisahkan diri untuk sementara waktu dengan korban. Kemudian pelaku pun harus diberikan terapi agar ia dapat menyadari bahwa dirinya dan korban memiliki hubungan yang sederajat dan diberikan pengertian untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sedangkan kekerasan seksual pada anak-anak dapat diatasi dengan mengajarkan pendidikan seksual sejak dini sesuai dengan usianya. Hal-hal kecil pun harus diajarkan, seperti menghargai tubuh sendiri dengan tidak memperlihatkan kepada orang lain. Ketika anak beranjak ke masa pubertas, maka diajarkan bahwa seks bebas bukan merupakan hal yang baik dan diberitahu dampak-dampak dari seks bebas. Anak-anak pun sudah dapat diajarkan untuk menghargai lawan jenis agar bisa terhindari dari kekerasan sesksual serta kekerasan dalam rumah tangga. Marilah mulai sekarang kita saling menghargai satu sama lain, dengan tidak memandang bulu, serta mulai mengajarkan anak mengenai seks sejak dini tanpa kita harus merasa malu karena hal ini akan sangat berguna untuk masa depan.

25 November 2012

Berani Berkata “TIDAK” (Imelda Victoria)


Asal mula adanya kekerasan adalah adanya agresi pada setiap manusia. Keinginan untuk melindungi diri, mempertahankan diri, dan menunjukkan kekuasaan atau kekuatan (power) merupakan hal-hal yang menyebabkan adanya penyaluran agresi seseorang kepada orang lain. Jelas bahwa sasaran penyaluran agresi adalah individu yang lebih lemah dari individu pemilik agresi. Apabila individu tersebut menyalurkan agresinya kepada orang yang memiliki power yang lebih kuat, maka mustahil agresi yang dimilikinya dapat disalurkan atau dilepaskan. Maka dari itu, perempuan dan anak-anak adalah sasaran penyaluran agresi yang tepat bagi mereka yang memiliki agresi yang kuat dan tidak terkendalikan.

Laki-laki digambarkan sebagai sosok yang lebih kuat. Walaupun sebagai notabene, masih terdapat beberapa laki-laki yang lebih kecil atau  lebih lemah daripada perempuan seumurnya. Akan tetapi bukan berarti hal tersebut menutup kemungkinan bahwa laki-laki kecil beragresi tinggi gagal untuk menyalurkan agresinya pada perempuan. Anak-anak yang jelas tubuhnya masih dalam tahap perkembangan dan terlebih lagi anak tersebut adalah anak perempuan, maka mereka akan menjadi sasaran yang tepat. Kekerasan pada anak umumnya berupa perbudakkan, baik perbudakkan untuk bekerja maupun menjadi pelayan seksual. Akan tetapi, di Indonesia, perbudakkan anak perempuan sebagai pelayan seksual dinilai menghasilkan uang yang lebih dibandingkan perbudakkan anak perempuan atau laki-laki di pabrik, dsb. Maka dari itu jenis perbudakkan ini menjadi semakin marak. Selain untuk mencari uang, mereka juga digunakan sebagai sasaran penyaluran agresi yang berupa kekerasan seksual. Berdasarkan informasi yang saya miliki, anak perempuan yang menjadi sasaran kekerasan ini adalah mereka yang baru mengalami menarche atau mereka yang belum puber. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan mengenai seks mereka dan mudahnya mereka untuk percaya dengan orang-orang dewasa. Solusi yang dibahas dalam kelas psikologi perempuan pada senin lalu, adalah pemberian sex education dini. Mengingat pembahasan sex menjadi hal yang cukup taboo di Indonesia, solusi ini menjadi agak sulit untuk ditegakkan. Meskipun sulit, bukan berarti solusi ini tidak mungkin untuk ditegakkan. Sex education dapat dilakukan apabila pendidik dapat memahami tingkatan pengetahuan seks yang diperlukan seorang anak.

Kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suami kepada istri adalah bentuk penyaluran agresi yang dimiliki suami kepada istri mereka, yang kekuasaannya dalam rumah tangga berada di bawah sang suami. Kekerasan ini adalah kekerasan yang dilakukan dengan membatasi hak-hak istri atau memperbudak istri mereka (misalkan memanfaatkan istri sebagai sarana pencari uang dan uang hasil kerjanya sepenuhnya menjadi hak suami). Kebanyakan perempuan yang mengalami KDRT seringkali sulit untuk mengatasi masalahnya ini karena adanya ikatan pernikahan antara mereka dengan si pelaku kekerasan. Ikatan pernikahan tidak mudah untuk dilepaskan karena melibatkan janji, komitmen, dan tanggung jawab antar individu. Terlebih lagi dalam beberapa agama, ada yang melarang penceraian. Selain penceraian sebagai solusi untuk menghentikan KDRT, solusi lain seperti pisah rumah juga digunakan oleh beberapa istri yang menjadi korban KDRT. Akan tetapi hal yang menjadi masalah dalam menggunakan solusi pisah rumah adalah hubungan suami-istri yang masih resmi secara tertulis. Suami berhak untuk meminta istrinya tinggal bersama kembali.

Baik dalam kasus kekerasan pada anak-anak maupun rumah tangga, solusi terbaik untuk menghindari kekerasan adalah dengan mengatakan “TIDAK” secara berani. Demikian yang dinyatakan oleh Ibu Henny dalam kelas psikologi perempuan senin kemarin. Ya, kekerasan tidak bisa dibalas dengan kekerasan. Kekerasan juga tidak bisa dihindarkan dengan sepenuhnya menggunakan bantuan orang lain. Untuk menghentikan kekerasan yang berlanjut kita harus berani untuk berkata “TIDAK”. Sex education yang tepat untuk anak-anak perempuan adalah membuat mereka untuk berani mengatakan “Tidak” kepada orang-orang yang hendak mempermainkan bagian penting tubuhnya. Karena dengan berkata “tidak” maka keberhargaan akan bagian tubuh tersebut menjadi lebih disadari oleh anak tersebut. Selain itu untuk istri yang menjadi korban KDRT, mengatakan “tidak” untuk suami yang memintanya kembali dapat menghindarkan mereka dari terulangnya kejadian yang sama. Cinta tidak bisa diatasnamakan untuk kasus ini. Karena seperti yang dikatakan Ibu Henny bahwa orang yang mencintai kita tidak akan pernah sekalipun menghempaskan tangannya kepada kita. Cinta adalah SALING MENGASIHI dan bukan SALING MEMILIKI. Maka dari itu kita harus berani untuk berkata “TIDAK” kepada mereka yang tidak mencintai kita.

25 November 2012

KDRT dan Kekerasan Seksual pada Anak (Leni Kopen)


     Pemantauan Komnas Perempuan tahun 2011 mencatat 60% korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mengalami kriminalisasi. Beberapa diantaranya dikriminalkan melalui UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) (http://www.komnasperempuan.or.id/2012/07/pentingnya-terobosan-hukum-dan-perlindungan-korban-di-pengadilan-nasional/). Meningkatnya jumlah kasus yang dilaporkan, bisa dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya meningkatnya kesadaran perempuan untuk memperjuangkan hak/keadilan. Adanya sosialisasi UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang semakin meluas, sangat memungkinkan masyarakat semakin mudah mengakses informasi dan memperkuat kesadaran masyarakat bahwa kasus KDRT penting untuk dilaporkan bahkan bisa diproses secara hukum. Namun pada kenyataannya, banyak warga tidak berani melaporkannya karena beranggapan itu masalah pribadi dan masalah keluarga saja yang perlu tahu.

     Menurut UU nomor 23 tahun 2004 tentang pengahapusan kekerasan dalam rumah tangga, Bab I pasal 1, menyebutkan bahwa Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan dalam lingkup rumah tangga. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga termasuk kekerasan fisik (seperti memukul, menendang, yang mengakibatkan luka, rasa sakit, atau cacat pada tubuh seseorang hingga menyebabkan kematian), kekerasan verbal (seperti menghina, berkata kasar dan kotor), dan kekerasan seksual (seperti melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau bahkan tidak memenuhi kebutuhan seksual). Selain kekerasan tersebut, kekerasan secara ekonomi dan mental pun termasuk dalam KDRT. Contohnya, seorang istri yang dianggap sebagai 'mesin pencetak uang' oleh mertuanya (laki-laki) dengan menjaga toko sepanjang hari tanpa libur dan tanpa digaji. Kekerasan mental yang dialami oleh istri berupa tidak adanya waktu untuk dirinya sendiri sehingga ia merasa tidak percaya diri, rendah diri, tertekan, dan lelah secara mental.

     Gejala-gejala yang dialami seseorang yang mengalami kekerasan terlihat dari merasa rendah diri, cemas, penuh rasa takut, sedih, putus asa, terlihat lebih tua dari usianya, sering merasa sakit kepala, mengalami kesulitan tidur, mengeluh nyeri yang tidak jelas penyebabnya, kesemutan, nyeri perut, dan bersikap agresif tanpa penyebab yang jelas. Secara keseluruhan mengatakan bahwa akibat kekerasan yang paling fatal adalah merusak kondisi psikologis yang waktu penyembuhannya tidak pernah dapat dipastikan. Apa saja penyebab kekerasan pada istri? Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan suami terhadap istri, antara lain persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harus ditutup karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah sosial, persepsi bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan, budaya bahwa istri bergantung pada suami khususnya ekonomi, budaya yang menganggap laki-laki superior dan perempuan inferior, dan pernah melakukan mengalami kekerasan serta modeling kepada orangtua yang juga melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, kita bisa melihat kekerasan yang terjadi diawali dari masa pacaran. Jika sejak pacaran saja Anda sering menerima perlakuan kekerasan seperti dihina, direndahkan, pemukulan, atau diberikan batasan-batasan dengan aturan yang tidak masuk akal hanya karena kecemburuan, harus selalu dibayarin ketika makan, dan bahkan percobaan kekerasan seksual, sebaiknya Anda pikirkan baik-baik untuk melanjutkan hubungan Anda. Kalau pacaran saja, sudah berani melakukan kekerasan, bagaimana nanti jika sudah menikah? Lebih baik, putuskan saja dan cari yang lebih baik dari orang tersebut. Tanpa mereka pun, Anda bisa hidup sendiri dan tenang. Jangan hanya menerima dan pasrah dengan keadaan karena cinta. Kalau dipukuli terus, itu namanya cinta? Pikirkan baik-baik tindakan Anda.

     Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi pada istri atau suami, tetapi anak pun sering menjadi korban kekerasan. Di Indonesia, kasus yang banyak terjadi kekerasan seksual pada anak. Kekerasan seksual anak dalam rumah tangga adalah fakta yang berat untuk diungkap. Kekerasan seksual pada anak jarang melaporkan kasus yang menimpanya karena dianggap sebagai aib keluarga. Umumnya pelaku kekerasan tersebut adalah orang terdekat dari korban pelecehan seksual seperti ayah, kakak kandung, paman, atau ayah tiri. Akibatnya, sudah menjadi tradisi bila menimpa pada keluarga mereka harus dirahasiakan. Pasalnya, sudah terpolakan dalam pemahaman warga menjadi aib keluarga yang tidak perlu diketahui oleh orang lain dan keluarga harus menjaga baik-baik rahasia tersebut agar tidak membawa nama buruk keluarga. Selain itu, kebanyakan korban kekerasan tersebut tidak mengetahui harus melapor kemana dan akhir setiap kasus yang menimpa mereka hanya mengendap tanpa ada proses hukum yang berkelanjutan lalu hilang tanpa berbekas. Hal ini yang perlu diluruskan, sebagai kaum perempuan, kita harus berani mengungkapkan tindak kekerasan yang umumnya banyak terjadi pada perempuan. Kita tidak boleh hanya diam dan menerima saja perbuatan yang termasuk dalam pelecehan seksual walaupun itu masih dalam anggota keluarga. Setiap kekerasan pada perempuan dan anak merupakan tindak pidana dan memiliki dasar hukum. Pengungkapan fakta kekerasan seksual tersebut dianggap menghalangi masa depan anak. Anak-anak merupakan aset masa depan yang harus diselamatkan dari kekerasan seksual, termasuk kekerasan seksual dalam rumah tangga.

     Dari hasil advokasi dan pendataan yang dilakukan oleh LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum APIK) kurun waktu 2010-2012 telah menemukan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak mencapai 40 kasus. Semua kasus tersebut yang menjadi korban anak-anak yang masih dibawah umur. Pertanyaannya adalah mengapa tingkat kekerasan terhadap anak di Indonesia begitu marak? Faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan, secara umum disebabkan oleh stres dalam keluarga. Stres yang  bisa dari gangguan jiwa (psikosis atau neurosa) atau orangtua sebagai korban kekerasan di masa lalu. Bentuk kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kekerasan seksual langsung misalnya meraba atau memijat alat genital tubuh seperti payudara atau pinggul, adanya kontak mulut dan buah dada, dan lain sebagainya. Adapun cara kekerasan seksual secara tidak langsung yaitu seperti eksibisionisme atau pornografi pada anak seperti memotret atau merekam berbagai bentuk kegiatan seksual pada bagian tubuh anak. Tindakan penganiayaan seksual dapat dibagi atas tiga kategori yaitu perkosaan, incest, dan eksploitasi. Perkosaan seringkali terjadi pada suatu saat di mana pelaku lebih dulu mengancam dengan memperlihatkan kekuatannya kepada anak dan biasanya terdapat bukti fisik dapat ditemukan seperti air mata, darah, dan luka memar yang merupakan bentuk penganiayaan. Incest didefinisikan sebagai hubungan seksual atau aktivitas seksual antara individu yang mempunyai hubungan dekat, yang mana perkawinan diantara mereka dilarang oleh hukum maupun kultur. Eksploitasi seksual meliputi prostitusi dan pornografi. Usia rata-rata saat anak pertama kali mengalami kekerasan seksual berkisar antara 7 sampai 10 tahun untuk laki-laki, dan 6 sampai dengan 12 tahun untuk anak perempuan. Dampak dari kekerasan seksual pada anak adalah perubahan perilaku mendadak atau ekstrim (dari orangnya ceria menjadi pendiam), gangguan tidur, anti sosial (menarik diri dari orang lain), dan ingin merusak diri. Sedangkan secara kognisi, anak akan sulit berkonsentrasi dan hilangnya harapan untuk melanjutkan cita-cita sehingga minat sekolah menurun. Berdasarkan sosio-emosional, anak merasa kurang percaya diri, merasa tidak berharga, depresi, cemas, dan ketakutan. Dari segi fisik terlihat bekas luka memar atau mungkin bisa hamil.

     Bagaimana cara meminimalisir tindak kekerasan sesual terhadap anak dalam masyarakat kita? Anak adalah buah hati yang harus kita sayangi dan kasihi. Jangan sampai masa depan anak hancur karena kekerasan seksual yang dialaminya. Kepedulian dari orang tua dan masyarakat akan dapat mengurangi angka kekerasan seksual terhadap anak. Pendekatan sosial melingkupi pendekatan partisipasi masyarakat dalam melaporkan dan waspada setiap tindakan kejahatan, terutama human trafficking. Pendekatan medis, untuk memberikan pelayanan dan perawatan baik secara pisik atau kejiwaan, juga memberikan penyuluhan terhadap orangtua tentang bagaimana mengasuh anak dengan baik dan benar. Terakhir adalah pendekatan hukum, tentunya yang bertanggung jawab masalah ini adalah pemerintah untuk selalu mencari dan menanggapi secara sigap terhadap setiap laporan atau penemuan kasus kekerasan dan kejahatan dan menghukumnya dengan ketentuan hukum yang berlaku. Bukankah pasal 28 b ayat 2 menyatakan bahwa setiap anak harus dilindungi dari kekerasan dan diskriminasi? Sekarang juga kita harus bertindak dan jangan diam atau acuh tak acuh!

25 November 2012

LOVE SHOULD NEVER HURT (Kusbandiyah Chandrawati)


     Di zaman modern seperti ini, kekerasan semakin marak terjadi. Kekerasan yang terjadi tidak hanya dilakukan untuk orang luar saja, namun bahkan sering juga dilakukan terhadap keluarganya sendiri. Kasus kekerasan pada keluarga yang paling sering kita dengar adalah kasus kekerasan terhadap istri dan anak.

Kenapa ya hal tersebut bisa terjadi?
     Padahal katanya menikah karena alasan cinta. Memiliki anak juga dengan alasan cinta, tapi bagaimana bisa kekerasan terjadi terhadap orang yang katanya mereka cintai?
Banyak wanita yang menjadi korban dalam hal ini, meskipun ada juga kekerasan dengan laki-laki yang menjadi korbannya. Tidak sedikit pula anak-anak tak berdosa yang menjadi korbannya.

Alangkah indahnya jika dalam satu keluarga dapat saling menyayangi dan saling menjaga. Bukan justru sebaliknya menjadi saling menyakiti dan mencelakai.

     Menikah seharusnya telah menjadi suatu pemikiran yang matang mengenai calon pasangannya, apakah orang tersebut adalah orang yang terbaik untuk kita dan jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Menikah akan menjadi suatu tanggung jawab yang besar nantinya. Sebaiknya kita mengenali dulu watak dan sifat pasangan kita secara mendalam baru kita putuskan apakah harus menlanjutkan hubungan tersebut ke jenjang pernikahan atau tidak. Jika pada masa berpacaran tersebut saja seseorang telah berani memukul pasangannya, tidaklah menutup kemungkinan bahwa setelah menikah ia bahkan akan memukul pasangannya dengan lebih parah.

Jika suatu pernikahan benar-benar didasari oleh cinta, tentunya seseorang tidak akan melakukan kekerasan terhadap orang yang dicintainya.

     Selain kekerasan terhadap istri, banyak juga kekerasan yang dilakukan kepada anaknya. Terlebih lagi jika kekerasan tersebut merupakan kekerasan seksual. Kekerasan seksual tersebut dapat berupa pelecehan seksual dengan memegang atau mengelus bagian intim anak bahkan ada yang hingga memperkosa anaknya sendiri. Betapa malangnya anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual tersebut di mana seharusnya menikmati masa kecilnya namun menjadikan masa kecilnya sebagai kenangan terburuk baginya.

     Kok tega ya melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri? Padahal anak adalah karunia terindah dalam hidup. Anak itu ada untuk disayangi bukan untuk menjadi sasaran napsu orang tuanya. Rasanya... Lebih baik anak tersebut tidak pernah dilahirkan daripada harus menanggung beban sebesar itu yang bukan merupakan kesalahannya. Anak kecil tentunya masih polos dan belum mengerti bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan antara ayah dengan anak. Namun saat mulai besar tentu ia akan menyadari bahwa ia telah menjadi korban kekerasan seksual di masa kecilnya. Hal tersebut akan menjadi pukulan terbesar baginya di kemudian hari apalagi jika ia tahu bahwa pelakunya tersebut adalah orang terdekatnya mungkin ayahnya sendiri. Ayah yang seharusnya menjadi sosok pelindung bagi dirinya malah menjadi orang yang paling berbahaya baginya.

Ingatlah bahwa anak ada karena orang tua yang menciptakan kehidupan untuknya. Jangan sampai menjadi sebaliknya, merenggut kehidupan darinya dengan melakukan pelecehan seksual padanya.

     Siapapun yang menjadi keluarga kita, hendaknya kita mencintainya dengan sepenuh hati. Cinta tulus adalah cinta yang tidak pernah membiarkan mereka terluka, terlebih akibat perbuatan kita sendiri. Jika kekerasan tersebut terjadi, baik kepada pasangan maupun anak maka dapat diyakinkan bahwa orang tersebut tidaklah sungguh-sungguh mencintai mereka.

“If you really love someone, you will never hurt them at all”

25 November 2012

Kekerasan Pada Perempuan (Dinda Dwi Jayanti)


     Pada saat ini, semakin bertambahnya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan. Pada bulan lalu, terjadi beberapa kasus pemerkosaan pada perempuan di dalam angkutan umum dan beberapa korban meninggal dunia karena dibunuh oleh si pelaku pemerkosa. Akhir-akhir ini, banyak juga kasus yang melibatkan anak dibawah umur yang menjadi korban pemerkosaan oleh lelaki dewasa, baik masih ada hubungan darah dengan korban maupun orang tidak dikenal. Banyak juga kasus seorang anak perempuan di perkosa oleh ayah kandungnya sendiri, ada korban yang mengalami dari saat ia masih kecil dan ada yang mengalami saat ia sudah remaja. Ada juga terjadi pemerkosaan karena adanya perkenalan singkat melalui jejaring sosial facebook dengan bertemu orang yang baru dikenal dari facebook tersebut. Hal-hal tersebut sangat menakutkan untuk semua perempuan.

     Beberapa kasus pemerkosaan bisa terjadi karena banyak perempuan yang memakai pakaian yang kurang sopan sehingga memancing para lelaki bejat untuk berbuat yang tidak baik. Tetapi, tidak semua kasus pemerkosaan yang disebabkan oleh kesalahan perempuan. Banyak perempuan yang berpakaian masih sopan tetap menjadi korban pemerkosaan. Hal-hal tersebut bisa terjadi karena banyaknya akses porno yang di lihat oleh laki-laki, sehingga banyak perlakuan-perlakuan tidak baik yang timbul karena terlalu banyak menonton film porno, dan banyak penyebab-penyebab lainnya.

     Dari semua kasus kekerasan yang ada, kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah kandung sendiri yang membuat saya paling tidak bisa dimengerti, mengapa seorang ayah yang seharusnya menjaga dan melindungi anak perempuannya tega untuk melakukan pemerkosaan. Banyak kasus pemerkosaan yang terjadi pada perempuan yang dialami semenjak mereka masih kecil, disaat mereka belum mengerti bahwa perlakuan tersebut adalah suatu pemerkosaan, hingga saat mereka tumbuh dewasa mereka baru memahami bahwa mereka telah mengalami pemerkosaan.

     Dari kekerasan seksual tersebut, sebenarnya para orang tua dapat melakukan antisipasi sejak dini. Saat saya masih SD dulu, ibu saya pernah memberi tau kepada saya bagian-bagian yang tidak boleh disentuh oleh laki-laki manapun sebelum saya menikah. Hal tersebut semakin saya mengerti dimana saat saya mulai besar dan belajar agama, saya mulai makin memahami bahwa saya harus menjaga diri saya. Ada beberapa hal yang dapat orang tua terapkan pada anak-anak saat masih kecil untuk belajar menghargai tubuh mereka sendiri yaitu ajarkan cara bagaimana membersihkan alat kelamin, pada saat membuka pakaian anak jangan dilakukan di tempat umum, pada saat mandi sebaiknya pakaikan handuk kepada anak jika harus memakai baju di dalam kamar setelah mandi. Beberapa orang tua banyak yang membiarkan anaknya keluar dari kamar mandi dengan tanpa busana apapun, hal tersebut merupakan cara yang tidak sehat untuk anak bisa menghargai tubuhnya. Ketika anak tumbuh besar, baru orang tua mengajarkan cara berpakaian yang baik dan benar dengan menutupi bagian tubuh yang seharusnya ditutup.

     Selain kekerasan seksual, banyak juga terjadi yaitu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sudah banyak para istri yang menjadi korban kekerasan dari suami, baik kekerasan fisik, verbal, ekonomi, dan sosial. Kekerasan fisik ditandai dengan pemukulan, penganiayaan, dan lain-lain. Kekerasan verbal ditandai dengan suami sering melontarkan kata-kata kasar kepada istri. Kekerasan ekonomi berupa segala biaya keluarga hanya ditanggung oleh sang istri sedangkan suami tidak ada usaha untuk menghasilkan uang atau untuk membiayai keluarganya. Sedangkan, kekerasan sosial berupa suami yang tidak memberikan izin kepada istrinya memiliki relasi dengan laki-laki atau terlalu banyak bergaul diluar rumah atau suami yang selalu mengintai istrinya kemanapun istrinya pergi.

     Terjadinya KDRT dapat dicegah dengan memilih pasangan kekasih yang tepat. Bagi individu yang memiliki pacar atau kekasih yang sejak pacaran saja sudah melakukan kekerasan, hal tersebut dapat sangat berpotensi bahwa akan terus terjadi perlakuan tersebut hingga pernikahan atau akan terjadi lebih parah. Banyak perempuan atau istri yang mengalami depresi berat akibat KDRT yang dialami. Kekerasan yang dialami dalam rumah tangga mungkin dapat di akhiri dengan perceraian bagi sebagian orang. Tetapi, ada beberapa orang yang menurut agama tidak diperbolehkan untuk bercerai. Biasanya, untuk menghindari KDRT tersebut dapat dilakukan dengan cara sang istri terlebih dahulu berpisah rumah dulu dengan suami. Bagi istri yang mengalami depresi, dapat menjalankan terapi agar depresi tersebut dapat ditangani dengan baik. KDRT tidak semua dilakukan oleh laki-laki, tetapi ada juga yang pelakunya adalah perempuan. Walau sepertinya jumlah pelakunya tidak sebanyak laki-laki.

     Dari semua yang sudah disebutkan diatas, sudah sepantasnya para perempuan untuk bertindak baik, sopan dan teliti. Perempuan sudah seharusnya menjaga pakaiannya agar tidak memancing perlakuan tidak baik dari lawan jenis untuk menghindari kekerasan seksual, dan anak-anak kecil sebaikanya sudah diajarkan mengenai seksual dari sejak dini. Untuk menghindari KDRT, perempuan pun dapat mencegahnya dengan memilih kekasih atau pacar yang tepat. Pada dasarnya, perasaan sayang tidak akan membuat seseorang melakukan perlakuan kasar pada orang yang disayanginya. Pada akhirnya, atas segala upaya yang dilakukan untuk menghindari segala kekerasan dengan cara selalu meminta perlindungan dari Tuhan setiap harinya.

24 November 2012

Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (Sylvia Kristiani)


Kekerasan terhadap anak dan perempuan bukanlah hal yang jarang kita dengar. Saat ini semakin banyak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Tidak hanya kekerasan, perempuan dan anak juga sering mengalami pelecehan seksual, bahkan pemerkosaan. Kekerasan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang terdekat dan anggota keluarga sendiri.
Ayah yang melakukan pemerkosaan terhadap anak perempuannya, kakek yang melakukan pelecehan seksual pada cucunya, suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap istri dan anak-anaknya, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang ada. Perempuan dan anak-anak yang seharusnya dilindungi, tetapi malah mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya diperoleh.

Kekerasan tersebut dapat menimbulkan luka batin dan membuat orang yang mengalami kekerasan juga melakukan kekerasan pada orang lain sehingga kekerasan akan menjadi sebuah lingkaran yang tidak terputus dan terus berulang. Jika hal tersebut terjadi, maka akan semakin sulit untuk menghentikannya.
Oleh karena itu, merupakan usaha bersama agar tidak terdapat lagi kekerasan terhadap perempuan dan anak, mulai dari hukum, masyarakat, dan anggota keluarga. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar hal tersebut dapat tercapai dan dapat menciptakan suatu masyarakat yang hidup dengan sejahtera.

24 November 2012

Women's Beauty (Sylvia Kristiani)


Perempuan merupakan makhluk yang memiliki keindahan. Keindahan yang dimiliki oleh perempuan “dimanfaatkan” oleh para pembuat iklan agar iklan mereka menjadi lebih menarik sehingga masyarakat tertarik untuk melihatnya dan membeli produk tersebut. Hampir semua iklan terdapat peran perempuan. Bahkan, produk yang dibuat untuk laki-laki pun menggunakan perempuan sebagai modelnya.

Adanya perempuan dalam iklan memiliki dampak positif, tetapi terdapat pula dampak negatifnya. Misalnya, iklan susu pelangsing dapat membuat perempuan berpikiran positif dan negatif. Dampak positif tersebut adalah perempuan termotiivasi untuk terus berkarya dan memiliki hidup yang sehat, tetapi dampak negatifnya adalah perempuan mungkin akan merasa bahwa tubuhnya tidak ideal dan menginginkan tubuh ideal karena pandangan masyarakat yang lebih menyukai perempuan dengan tubuh yang ideal. Hal tersebut menyebabkan perempuan dapat memiliki body image yang buruk terhadap dirinya.

Dalam iklan juga semakin digambarkan stereotype mengenai laki-laki dan perempuan, seperti laki-laki yang bekerja mencari nafkah, sedangkan perempuan berada di rumah dan mengurusi masalah rumah tangga serta merawat anak. Pada akhirnya, apa yang akan diserap oleh orang yang menonton iklan, tergantung pada orang tersebut karena kita tidak dapat membatasi pikiran dan pandangan seseorang saat melihat iklan.

24 November 2012

Breast Cancer (Sylvia Kristiani)


Kanker payudara merupakan suatu penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian dan merupakan penyakit yang cukup ditakuti oleh perempuan. Bukan hanya ditakuti oleh perempuan, penyakit tersebut juga mungkin ditakuti oleh laki-laki karena takut keluarga mereka yang perempuan terkena penyakit kanker payudara, seperti ibu, istri, atau anak mereka.

Saat menonton operasi kanker payudara di kelas Psikologi Perempuan, saya menjadi semakin mengetahui betapa mengerikannya kanker payudara. Kanker payudara dapat menyebabkan seorang perempuan kehilangan payudaranya. Walaupun payudara dapat “dibuat” dengan mengambil lemak dari daerah tubuh yang lain, tetapi hal tersebut tetap dapat berisiko bagi orang yang melakukannya.

Jika perempuan sudah terkena payudara dan kehilangan payudara, “membuat” payudara baru merupakan sebuah pilihan bagi perempuan tersebut. Seorang perempuan yang sudah menikah dan lanjut usia mungkin akan memilih untuk tidak “membuat” payudara baru, tetapi seorang perempuan yang belum menikah, akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk “membuat” payudara baru.

Saat ini sudah banyak seminar, buku, dan penyuluhan yang membahas mengenai kanker payudara. Bahkan, iklan juga menjadi sarana informasi agar masyarakat dapat lebih mengetahui kanker payudara. Kanker payudara dapat dideteksi secara dini. Dengan begitu, pengobatan dapat dilakukan dengan lebih awal dan mencegah berkembangnya penyakit tersebut. Kanker payudara dapat dicegah dengan memiliki pola hidup yang sehat, seperti menjaga makanan yang dikonsumsi dengan tidak memakan makanan yang mengandung bahan kimia atau makanan cepat saji.

24 November 2012

Be Healthy (Sylvia Kristiani)


Banyak perempuan yang menginginkan tubuh yang ideal. Tidak jarang dari antara mereka yang melakukan berbagai cara untuk dapat memperoleh hal tersebut, seperti minum obat, sedot lemak, akupunktur, dan masih banyak cara-cara yang dilakukan. Kecanggihan teknologi saat ini membuat perempuan menghalalkan segala cara agar dapat memiliki tubuh yang ideal.
Sebenarnya, hal tersebut sangat membahakan kesehatan perempuan, terutama kesehatan jangka panjang. Sayangnya, banyak di antara mereka yang tidak menyadari hal tersebut. Mereka lebih mementingkan kepuasan jangka pendek, yaitu dengan memiliki tubuh yang ideal, daripada kepuasan jangka panjang, yaitu memiliki tubuh yang sehat.
Tidak jarang pula perempuan mengontrol pola makan mereka secara berlebihan. Mereka takut menjadi gemuk sehingga hanya makan dalam jumlah yang sangat sedikit, bahkan ada yang memuntahkan kembali makanan yang telah mereka makan. Ada juga perempuan yang tidak makan dalam jangka waktu yang lama sehingga membuat mereka kelaparan. Semuanya itu mereka lakukan karena takut berat badan mereka akan bertambah jika mereka makan. Hal-hal tersebut pada akhirnya menimbulkan gangguan makan pada perempuan. Perempuan yang terus merasa bahwa mereka memiliki berat badan yang berlebih dapat menyebabkan depresi.
Tubuh yang ideal dapat dimiliki dengan memiliki pola makan secara teratur dan tidak makan secara berlebihan serta melakukan olahraga secara teratur. Dengan begitu, kesehatan pun tetap dapat dimiliki.

24 November 2012

KDRT dialami siapa saja (Susanti Amelia)


Perempuan memang selalu dianggap lemah maka dari itu kebanyakan perempuan selalu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga maupun segala hubungan seperti berpacaran. Kekerasan ada 4 macam yaitu kekerasan fisik seperti menampar atau memukul dan banyak lagi, berikutnya kekerasan psikis yaitu pemaksaan, larangan-larangan, penghinaan, kekerasan seksual seperti meraba, mencium secara paksa, menyentuh organ intim, dan dapat juga secara verbal contohnya siulan, gurauan porno, ejekan, dll dan yang terakhir kekerasan ekonomi seperti memaksa korban bekerja eksploitatif di pelacuran. Banyaknya PSK mengalami kekerasan yang secara fisik disetrika, dan keempat kekerasan diatas, korban PSK pasti mengalaminya walaupun korban bukan PSKpun pasti mengalaminya juga.

Biasanya seorang individu yang ingin menikah ataupun yang sudah niat untuk mengikat janji, seharusnya saling menerima pasangannya satu sama lain secara lahir dan batin. Tidak akan adanya kekerasan verbal maupun kekerasan apapun yang dialami karena "if you love someone, you will take care of them". Seseorang yang sudah mengalami kekerasan pasti secara emosional merasakan kesedihan dan sakit yang membuatnya teringat sampai kapanpun dan tidak akan sembuh atau hilang dari benaknya.
Perlakukanlah sesama manusia dengan layaknya manusia jangan seperti hewan.

24 November 2012

Fight for Violance! (Aurelia Felicia)


   KDRT? Hal itu pasti sangat sering kita dengar dan kita jumpai.. Kenapa ya bisa gitu? Kadang kala karena hal yang orang lain anggap sepeleh, kekerasan bisa terjadi. Apa yang melakukan kekerasan tersebut puas dengan berkelakukan seperti itu apalagi terhadap keluarganya sendiri? Sungguh mengenaskan.

   Banyak bentuk KDRT yang dilakukan dalam keluarga, khususnya pria terhadap wanita. Kekerasan itu dapat berupa fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Kekerasan fisik yang paling sering diberitakan di media massa seperti suami yang memukul istrinya sampai memar-memar atau menampar istrinya. Bahkan, ada yang hingga meninggal. Istri sendiri sampai tega dibunuh. Kekerasan secara fisik misalnya istri dikata-katain kata-kata yang parah atau kotor. Kekerasan seksual biasanya terjadi saat istri dipaksa suami untuk melakukan hubungan intim yang tidak wajar. Kekerasan ekonomi seperti istri yang dipaksa kerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kekerasan ekonomi biasanya terjadi jika suami tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran.

   Mengapa bisa terjadi kekerasan?
   Ada pandangan yang mengatakan dan menganggap pria itu harus kuat, wanita dan pria tidak sederajat, dan pemahaman yang keliru. Pemahaman yang keliru yaitu suami lebih menguasai istri. Selain itu, kekerasan dapat terjadi saat masalah keluarga yang ditutupi, apalagi jika pasangan saling tidak terbuka dan tidak jujur. Kepribadian suami yang tidak stabil dan imitasi terhadap perilaku orang lain juga dapat menyebabkan kekerasan.

   Sebaiknya jikaterjadi kekerasan, istri lebih baik pisah rumah dengan suami dan berani melawan perilaku suami. Istri harus kuat dalam menghadapi situasi seperti itu. Tidak harus ada perceraian, apalagi ada agama yang melarang perceraian. Pasangan harus saling terbuka dan jujur, saling berkomunikasi, dan menghargai.

   Selain kekerasan suami-istri, adapula kekerasan seksual terhadap anak dalam rumah tangga. Kekerasan ini biasanya dilakukan oleh ayah, paman, atau saudara. Kekerasan ini ada dua macam, langsung dan tidak langsung. Tipe yang langsung seperti meraba alat genital atau payudara, sedangkan yang tidak langsung seperti foto di saat anak sedang mandi atau ganti baju. Kekerasan ini biasanya ditutupi karena merupakan aib bagi keluarga. Seharusnya, keluarga menghadapi masalah tersebut dan melakukan usaha pencegahan di masa mendatang. Keluarga juga dapat melaporkan pada perlindungan anak dan mengajarkan anak bagaimana harus menghargai dan melindungi tubuh.

~ Fight it or You will become the victim..

24 November 2012

Don’t Hurt Me If You Love Me (Aska Dzumalin)


     Kekerasan terhadap siapapun, dilakukan oleh siapapun, dan dalam bentuk apapun dapat terjadi di sekitar kita, termasuk kekerasan fisik, verbal, seksual, dan lain sebagainya. Berbagai bentuk kekerasan yang diterima dapat membuat seseorang mengalami luka secara fisik maupun psikologis.
     Dalam suatu hubungan, seharusnya seorang pria dapat melindungi seorang perempuan, begitu juga sebaliknya, perempuan harus dapat menghargai pria. Hubungan timbal balik ini merupakan hubungan yang sehat, meski memang gampang-gampang susah untuk menciptakan hubungan yang selalu sehat, namun jika memang sayang dengan pasangan kita, tidak ada salahnya untuk berusaha semaksimal mungkin.
     Tidak masalah jika beberapa kali bertengkar atau beradu argumen dalam suatu hubungan, karena setiap orang pasti memiliki pemikiran dan pendapatnya sendiri, namun berusahalah untuk tidak melakukan kekerasan verbal maupun fisik dalam suatu pertengkaran. Maka dari itu, untuk menghindari kekerasan verbal maupun fisik ketika bertengkar atau kesal dengan pasangan, ada baiknya kita membuat jarak atau diam sejenak untuk mendinginkan kepala dan menurunkan emosi, karena saat emosi sedang meningkat biasanya akan lebih mudah untuk melontarkan kata-kata kasar dan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kekerasan fisik.
     Biasanya, saat pacaran banyak kata-kata maupun janji-janji manis yang terucap untuk meyakinkan pasangannya, seperti “I won’t hurt you, trust me!”, “I will never slap you”, “I will always be gentle with you”, dan lain sebagainya. Tetapi kenyataannya, apakah ketika menikah kata-kata atau janji-janji tersebut tertepati? Pada kenyataannya, tidak sedikit para suami atau istri melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal jika kita sayang dan peduli dengan pasangan kita, seharusnya kita tidak akan mau untuk menyakitinya melalui perkataan atau perbuatan, karena ibaratnya jika orang yang kita sayangi terluka atau sakit maka kita juga akan merasa sakit.
“A part of kindness consists in loving people more than they deserve.” - Joseph Joubert

23 November 2012

KDRT itu Tanda Sayang? (Anita Lusiana)


Berbicara soal KDRT, tidak pernah lepas dari perilaku dan korban, tentang siapa yang memulai dan siapa yang terkena sasaran. KDRT terjadi dalam rumah tangga, sesuai dengan namanya, KDRT adalah kekerasan dalam rumah tangga, yang tentu pelakunya bisa suami, maupun istri. KDRT juga tidak selalu selalu dilakukan dengan kekerasan secara fisik saja, namun juga dapat terjadi secara fisik,  psikis, seksual, serta kekerasan ekonomi. KDRT secara fisik tentu sudah sangat familiar di telinga kita. Dimana pelaku KDRT secara fisik, tentu akan mengalami lebam atau luka di bagian tubuhnya. Sementara untuk KDRT secara psikis dapat disebabkan oleh salah satu pasangan yang membuat salah satu pasangannya merasa lelah secara batin. Dalam artian, mungkin saja salah satu pasangannya di suruh-suruh tanpa mengenal waktu, mengatakan perkataan yang tidak pantas serta kasar, dan meninggalkan pasangan dalam waktu yang lama tanpa kejelasan. Selanjutanya KDRT secara seksual, dapat berupa pemaksaan hubungan seksual di saat salah satu pasangan tidak mau atau tidak menginginkannya. Hal yang sepele tersebut dapat dikatakan sebagai kekerasan juga. Terakhir, ada kekerasan secara ekonomi. Kekerasan ini terjadi apabila salah satu pasangan membatasi pasangan untuk berkerja, sementara pasangannya tidak menafkahi sama sekali, dapat juga dilakukan dengan mengambil seluruh simpanan pasangan secara paksa.

Hal-hal tersebut apabila dilakukan dalam kurun waktu yang lama, dapat menyebabkan pasangan menjadi depresi, trauma, luka emosional, luka psikis, dan lain sebagainya yang dapat membahayakan kejiwaannya. Apabila pasangan Anda ada yang melakukan hal demikian, tidak ada salahnya untuk di bicarakan terlebih dahulu, untuk dicari jalan keluarnya. Namun, apabila pasangan tetap tidak berubah, pisah rumah terlebih dahulu dapat dilakukan pasangan, agar kekerasan tidak terjadi secara terus menerus.

Ketahuilah seseorang yang mencintai kita, tidak akan melakukan hal itu kepada kita, dengan alasan apapun, dan tidak membawa nama "cinta" sebagai landasan untuk melakukan kekerasan.

24 November 2012

air mata wanita (Dionisius Ferdi Weros)


Tulisan saya kali ini memiliki judul yang sedikit dramatis yang secara khusus didedikasikan kepada para korban kekerasan rumah tangga yang mayoritas wanita dan anak-anak.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga sangat banyak di Indonesia dimulai dari pemukulan terhadap istri, anak laki-laki yang membakar hidup-hidup ibunya sendiri, pembantu rumah tangga yang disiram air panas oleh majikannya, anak perempuan yang dilecehkan oleh pamannya sendiri, dan masih banyak kasus lainnya.

Penulis menilai bahwa salah satu faktor terbesar mengapa korban kekerasan dalam rumah tangga adalah perempuan karena perempuan secara kekuatan fisik jauh lebih lemah daripada laki-laki. Para korban selain itu juga memiliki kekuasaan yang jauh lebih terbatas dibandingkan pelakunya, hal ini sangat terlihat pada kasus penyiksaan terhadap pembantu rumah tangga oleh majikannya sendiri. Hal ini sungguh memprihatinkan memang.

Penulis juga mengamati bahwa faktor lain maraknya kasus ini adalah anggapan bahwa perempuan merupakan kepunyaan pria. Anak perempuan merupakan kepunyaan ayahnya. Istri merupakan kepunyaan suaminya. Pembantu rumah tangga adalah kepunyaan majikannya. Pandangan ini membuat orang-orang yang memiliki "kekuasaan" tersebut kadang-kadang bertindak sewenang-wenang.

Kasus kekerasan pada wanita adalah suatu fenomena yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Akan tetapi, pengungkapan kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu hal yang sangat sulit sekali dilakukan karena dianggap suatu aib keluarga. Tentu sangat sulit sekali bagi korban pemerkosaan incest untuk mengungkap secara jujur kejahatan yang dialaminya.

Namun, penulis menilai bahwa seiring kemajuan zaman dan pendidikan yang semakin baik terlihat bahwa wanita mampu untuk menuntut hak-haknya. Penulis pernah membaca di sebuah koran yang mengungkapkan bahwa pengajuan cerai di Jakarta akhir-akhir ini lebih banyak dilakukan oleh wanita. Akan tetapi, sekali lagi perlu diingat bahwa masih banyak sekali kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di luar kota Jakarta.

Menurut penulis, adanya keberanian dan sensitivitas di lingkungan tetangga sekitar sangat penting dalam mengungkapkan adanya kekerasan dalam rumah tangga. Faktor rasa sungkan sering menjadi penghalang utama untuk mengungkapkan kasus-kasus seperti ini. Hal ini menyebabkan banyak tetangga korban yang mendiamkan keberadaan kasus ini hingga korban sudah dalam keadaan sangat parah.

Perempuan yang menjadi korban kekerasan harus secepat mungkin keluar dari rumah tempat tinggalnya untuk mengungsi di tempat yang lebih aman. Kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu lingkaran setan yang harus segera diputus karena akan makin lama semakin parah.

Simpulannya kekerasan rumah tangga adalah suatu fenomena yang nyata yang harus dihentikan secepatnya. Bantuan masyarakat sekitar korban kekerasan sangat penting. Rasa sungkan jangan sampai menyebabkan korban berada dalam keadaan yang semakin parah. Pada zaman modern ini, wanita, bahkan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, harus semakin mandiri dan mempunyai penghasilan tambahan. Meskipun tidak menjadi korban kekerasan, wanita yang mempunyai penghasilan tambahan tentu memiliki kelebihan tersendiri.

Pada akhir tulisan ini, penulis hanya memiliki satu pesan sudah cukup air mata wanita tertumpah. Jangan sampai bertambah korban kekerasan rumah tangga.

24 November 2012

Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT? (Priska Aprilla)


     Dalam memilih pasangan hidup memang tidak akan menemukan seorang pun yang sempurna tanpa memiliki kekurangan. Semua orang tumbuh dalam lingkungan dan proses hidup yang berbeda, sehingga kepribadian orang akan memiliki keunikan masing-masing. Untuk menjaga kelangsungan hubungan agar dapat tetap bertahan dibutuhkan toleransi demi toleransi terhadap kekurangan yang dimiliki oleh pasangan. Akan tetapi ada beberapa hal yang tidak dapat ditoleransi jika terjadi dalam sebuah hubungan, salah satunya adalah kekerasan. Kekerasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan berpotensi dilakukan baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, namun kebanyakan kasus yang terjadi menunjukkan yang sering menjadi korban kekerasan adalah perempuan.

     Perempuan seringkali mengalami berbagai macam bentuk kekerasan, baik menimbulkan luka fisik maupun psikologis. Kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh pasangan bukanlah hal baru dan mengagetkan bagi kita. Banyak perempuan yang sangat merasa tertekan bahkan tersiksa dalam menjalin sebuah hubungan. Hal ini bukan hanya terjadi dalam hubungan rumah tangga, tapi seringkali sudah mulai terlihat saat masih berpacaran. Untuk menghindarinya, ada beberapa tanda-tanda yang dapat menujukkan seseorang berpotensi untuk melakukan kekerasan, di antaranya: kecemburuan yang berlebihan; sering mengekang bahkan mengucapkan ancaman; hipersensitif; sering mengucapkan perkataan kasar; mood yang mudah berubah-ubah; suka menghina, melecehkan, bahkan mengintimidasi; dan masih banyak perilaku lainnya.

     Memang, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berhak untuk diberi kesempatan untuk berubah. Tapi apabila kekerasan terus terjadi dan tidak kunjung ada perubahan, apa yang masih dapat dijadikan alasan untuk tetap bertahan? Pasangan yang tega melakukan kekerasan, baik dalam bentuk apapun, sudah menggambarkan bahwa apa yang menjadi dasar hubungan baginya bukanlah rasa cinta. Pasangan yang tidak memiliki cinta untuk apa diperjuangkan? Buka mata, buka hati, kenali tandanya, apakah itu pasangan Anda saat ini?

23 November 2012

Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT?


     Dalam memilih pasangan hidup memang tidak akan menemukan seorang pun yang sempurna tanpa memiliki kekurangan. Semua orang tumbuh dalam lingkungan dan proses hidup yang berbeda, sehingga kepribadian orang akan memiliki keunikan masing-masing. Untuk menjaga kelangsungan hubungan agar dapat tetap bertahan dibutuhkan toleransi demi toleransi terhadap kekurangan yang dimiliki oleh pasangan. Akan tetapi ada beberapa hal yang tidak dapat ditoleransi jika terjadi dalam sebuah hubungan, salah satunya adalah kekerasan. Kekerasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan berpotensi dilakukan baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, namun kebanyakan kasus yang terjadi menunjukkan yang sering menjadi korban kekerasan adalah perempuan.

     Perempuan seringkali mengalami berbagai macam bentuk kekerasan, baik menimbulkan luka fisik maupun psikologis. Kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh pasangan bukanlah hal baru dan mengagetkan bagi kita. Banyak perempuan yang sangat merasa tertekan bahkan tersiksa dalam menjalin sebuah hubungan. Hal ini bukan hanya terjadi dalam hubungan rumah tangga, tapi seringkali sudah mulai terlihat saat masih berpacaran. Untuk menghindarinya, ada beberapa tanda-tanda yang dapat menujukkan seseorang berpotensi untuk melakukan kekerasan, di antaranya: kecemburuan yang berlebihan; sering mengekang bahkan mengucapkan ancaman; hipersensitif; sering mengucapkan perkataan kasar; mood yang mudah berubah-ubah; suka menghina, melecehkan, bahkan mengintimidasi; dan masih banyak perilaku lainnya.

     Memang, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berhak untuk diberi kesempatan untuk berubah. Tapi apabila kekerasan terus terjadi dan tidak kunjung ada perubahan, apa yang masih dapat dijadikan alasan untuk tetap bertahan? Pasangan yang tega melakukan kekerasan, baik dalam bentuk apapun, sudah menggambarkan bahwa apa yang menjadi dasar hubungan baginya bukanlah rasa cinta. Pasangan yang tidak memiliki cinta untuk apa diperjuangkan? Buka mata, buka hati, kenali tandanya, apakah itu pasangan Anda saat ini?

23 November 2012

Apa Salahnya Menjadi Wanita Gemuk? (Claudia Deini Irawan)


Di jaman sekarang ini yang penuh dengan ke-glamour-an kota Jakarta dan segala isinya yang aduhai, wanita yang menjadi icon atau menjadi SPG suatu produk tertentu haruslah memiliki kriteria-kriteria seperti bentuk tubuh yang proporsional, putih, menarik, dan tinggi yang mencukupi. Lalu bagaimana dengan nasib wanita yang memiliki badan yang tidak proporsional alias gemuk?? Anda sudah pasti mengetahui jawabannya.

Wanita yang memiliki badan yang gemuk cenderung identik dengan wanita yang suka banyak makan. Padahal pada kenyataannya, tidak demikian. Ada wanita yang gemuk karena gen, memiliki massa tulang yang besar dan berat seperti tulang laki-laki atau memang pola makan dari wanita tersebut yang memang tidak sehat sehingga membuat badannya menjadi gemuk. Pola makan jaman sekarang yang penuh dengan junk food dan segala sesuatu yang menggandung obat-obatan bahan pengawet yang tentu saja membuat lemak menjadi cepat tertumpuk dimana-mana. Namun, karena adanya stereotype yang mengatakan bahwa wanita yang cantik dan menarik adalah wanita yang memiliki badan langsing, kulit putih, rambut panjang terurai, dan tinggi yang semampai, membuat para wanita yang tidak memiliki kriteria tersebut merasa bahwa mereka tersisihkan, apalagi ditambah dengan adanya cemooh-cemooh yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya.

Pertanyaan yang selalu terbesit di dalam benak saya adalah, "Apa salahnya memiliki badan yang gemuk?". Memang benar, jika memiliki badan yang terlalu gemuk sekali atau sering disebut dengan obesitas, kesehatan pun menjadi terancam, mudah terkena penyakit seoerti jantung koroner, darah tinggi, dan sebagainya. Namun, yang disini saya bicarakan adalah gemuk yang masih dalam kapasitas normal, dan tidak berlebihan atau terlalu obesitas.

Wanita yang memiliki badan gemuk hampir selalu menjadi bahan cemoohan lingkungan sekitarnya, baik teman, saudara, maupun laki-laki yang di sukainya. Apa dampak psikologisnya? Dampak yang mungkin saja terjadi adalah berkurangnya rasa percaya diri untuk tampil didepan orang banyak, stress, depresi, putus asa, mengambil pola diet yang salah yang dapat berujung menjadi anorexia atau bulimia. Mungkin bagi orang yang mencemooh, cemoohan yang dilontarkannya dirasa biasa saja, namun bagaimana dengan yang dicemooh? Rasa sakit hati dan malu tentu dirasakannya. Terkadang orang lain tidak dapat melihat apa saja yang telah dilalui oleh wanita tersebut, dan bagaimana ia melaluinya, namun dengan mudahnya mencemoohnya dengan (mungkin) kata-kata yang cukup kasar dan menyakitkan bagi wanita tersebut.

23 November 2012

"We're here to be loved not to be hurt.!" (Ruth Kurnia Wulan)


     Kekerasan merupakan sebuah perlakuan yang tidak baik dan mengakibatkan orang lain terluka, baik terluka secara fisik maupun psikis. Kekerasan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya berkuasa dan merasa paling hebat sehingga mereka biasanya akan menyerang orang yang dianggapnya lemah dan tidak berdaya. Bentuk-bentuk kekerasan yang sering terjadi seperti kekerasan fisik, verbal, dan seksual.Dan sebuah data dari salah satu media cetak Indonesia pernah menyiratkan bahwa kekerasan terhadap wanita jauh lebih tinggi dibandingkan kekerasan terhadap anak.
     Fenomena saat ini tentang kekerasan biasanya terjadi pada pasangan yang telah menikah dan pasangan yang berpacaran. Umumnya pelaku kekerasan adalah laki-laki tetapi tidak menutup kemungkinan perempuan tidak melakukan kekerasan. Bentuk kekerasan yang biasanya dilakukan laki-laki terhadap perempuan adalah kekerasan fisik dan verbal bahkan juga seksual. Kekerasan verbal biasanya merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh para perempuan. Kekerasan fisik biasanya terjadi dalam kehidupan rumah tangga, penyebab terjadinya hal tersebut dikarenakan adanya masalah ekonomi, adanya ketidaksetaraan dalam posisi pekerjaan, adanya WIL atau PIL dalam rumah tangga, dan faktor-faktor lainnya. Faktor tersebut yang sering menimbulkan kecemburuan dan emosi yang berlebihan sampai pada akhirnya emosi tersebut keluar dalam bentuk ucapan atau pukulan atau bahkan ketika amarah tersebut sudah menhilangkan akal sehat kita maka kita dapat melakukan hal yang lebih kejam lagi, yaitu membunuh.
     Segala bentuk kekerasan apapun pastilah akan memiliki dampak bagi korban dan juga pelaku. Dampak negatif yang didapatkan dari perlakuan tersebut bagi korban kekerasan jauh lebih buruk dibanding dengan akibat yang akan diterima oleh si pelaku. Para perempuan yang biasanya menjadi korban akan cenderung mengalami depresi, trauma, cedera fisik, dan pastinya luka batin yang mendalam. Luka batin yang mendalam itulah yang paling sulit untuk disembuhkan. Perempuan akan sangat merasa tersakiti menjadi korban kekerasan apalagi jika pelakunya adalah orang yang paling mereka sayangi atau bahkan orang terdekat mereka.
     Lalu, kenapa kekerasan paling banyak terjadi dalam rumah tangga?. Hal tersebut bisa saja terjadi karena kurangnya pengenalan diri dan pemahaman terhadap pasangan ketika masa pacaran. Biasanya, pada masa pacaran, individu atau yang paling sering umum adalah pihak laki-laki hanya menunjukkan sikap manis selama masa berpacaran tetapi jika sudah menikah, mereka biasanya akan semakin terlihat sifat asli diri mereka. Oleh karena itu, bagi perempuan cobalah untuk lebih mengenal diri pasangan anda, jangan mudah tertipu akan sikap baik dari pasangan anda. Masa pacaran adalah masa yang tepat untuk mengenal satu dengan lainnya secara baik sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya. Jadi, pergunakan masa pacaran untuk meyakini diri anda sendiri bahwa pasangan anda adalah orang yang tepat bagi diri anda dan anda tidak akan pernah merasa menyesal telah memilikinya. Bagi pasangan yang sudah menikah, terimalah diri pasangan anda apa adanya dan sayangilah mereka karena pasangan anda sudah menjadi bagian dari diri anda. Dan jika memiliki masalah, hadapilah masalah secara bersama-sama tanpa melibatkan emosi negatif diri anda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“The woman was made of a rib out of the side of Adam; not made out of his head to rule over him, nor out of his feet to be trampled upon by him, but out of his side to be equal with him, under his arm to be protected, and near his heart to be beloved.”
-Matthew Henry-

23 November 2012

Kekerasan Terhadap Perempuan (Maulidhya Pramono)


     Kekerasan menjadi berita yang tidak pernah habis di sekitar kita. Coba saja tenggok acara tv yang selalu membahas kasus kekerasan yang terjadi di jagat raya ini. Mulai dari tawuran antar pelajar, perkelahian artis, hingga kekerasan pada perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dimana saja termasuk di dalam lingkungan yang dianggap paling aman yaitu keluarga. Tidak jarang saya mendengar teman saya bercerita jika ayah atau ibunya suka memukul dirinya jika ia melanggar aturan. Menurut saya, mengajarkan anak dengan cara kekerasan bukanlah cara yang tepat. Anak merupakan anugrah tuhan yang dititipkan ke orang tua, bukanlah binatang yang harus dipukul supaya bisa nurut. Menggunakan kekerasan bukanlah jalan yang tepat untuk mendididk anak.

     Kekerasan terhadap perempuan juga dapat terjadi pada masa pacaran. Kekerasan saat masa pacaran merupakan indikasi yang kuat untuk terjadinya kekerasan dalam rumah tangga kelak. Kadang para wanita terlalu naif dan menganggap bahwa pacarnya dapat berubah seiring berjalannya waktu. Tapi sampai kapan? Hal ini perlu dipikirkan matang-matang. Jangan menutup mata anda dengan kata cinta yang diselubungi romansa-romansa. Kekerasan adalah kekerasan. Salah satu indikasi adanya kejanggalan dalam suatu hubungan adalah ketika pasangan anda mengekang kehidupan anda sedemikian rupa. Misalnya dengan membatasi pergaulan anda dan memasuki wilayah privasi anda. Ini menjadi indikasi adanya ketidakpercayaan dari pasangan anda. Alasan yang biasanya muncul adalah “aku tuh cuma mau jagain kamu”. Mungkin untuk sebagian orang itu adalah cinta, tapi sesungguhnya itu adalah cerminan dari kurangnya rasa percaya. Jika anda merasa diri anda menjadi korban kekerasan oleh pacar anda maka ambilah keputusan yang tepat. Berfikirlah dengan jernih dan realistis.

23 November 2012

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Dini Puspita Ayati Sofyan)


Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan suatu tindak kekerasan yang terjadi di dalam lingkup rumah tangga. Banyak dari pelaku KDRT merupakan kaum pria, meskipun tidak menutup kemungkinan kaum wanita juga ada yang melakukan tindak KDRT. Ada beberapa macam tindak KDRT, seperti verbal, fisik, ekonomi, bahkan secara seksual.

Sebenarnya saya belum terlalu paham apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya KDRT, karena menurut saya segala permasalahan seharusnya dapat dibicarakan dengan baik-baik dan dengan kepala dingin dan bukan dengan kekerasan. Tetapi, mungkin KDRT dapat terjadi karena modelling dari orang-orang sebelumnya (melihat orang melakukan tindak KDRT, secara tidak sadar menjadi berpikir bahwa begitulah cara menyelesaikan masalah).

KDRT dapat dicoba diselesaikan dengan beberapa cara, seperti meminta bantuan orang ketiga yang dihormati untuk membicarakan bahwa tindakan tersebut tidaklah baik. Selain itu, pergi ke psikolog untuk melakukan konsultasi juga dapat dilakukan. Dan apabila hal-hal tersebut belum juga mengurangi tindakan KDRT, korban dapat melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwajib karena saat ini sudah ada undang-undang yang menangani mengenai KDRT.

Saya berharap semoga tingkat KDRT di Indonesia akan menurun, bahkan tidak ada. Saya merasa kasihan pada para korban dan lingkungan sekitarnya, karena tindak KDRT akan meninggalkan dampak yang negatif pada korban dan lingkungan sekitarnya.

22 November 2012

Mana yang Lebih Penting, Kecantikan Fisik Atau Kecantikan Dari Dalam Diri? (Dini Puspita Ayati Sofyan)


Setiap wanita di dunia ini menginginkan memiliki wajah yang cantik dan menawan. Sebenarnya, seperti apakah wajah yang cantik dan menawan untuk kebanyakan wanita? Beberapa wanita mengungkapkan bahwa wajah yang cantik dan menawan itu adalah yang memiliki mata besar dan indah, hidung yang mancung, bibir yang sedikit tebal sehingga terlihat seksi, serta kulit yang putih dan bersih. Namun apakah kecantikan dari dalam diri tidak dapat diperhitungkan? Apakah kecantikan fisik melebihi segalanya termasuk kecantikan hati?

Banyak wanita rela melakukan apa pun untuk memiliki wajah yang cantik, bahkan sampai melakukan operasi plastik agar matanya terlihat lebih indah, atau hidungnya terlihat lebih mancung, dan melakukan suntik putih agar kulitnya menjadi lebih putih. Tidak hanya itu, bahkan sekarang sudah ada yang kita kenal dengan sulam alis dan tato bibir. Sulam alis bertujuan agar alis terlihat lebih tebal dan tak perlu lagi menggunakan pensil alis saat berdandan. Dan tato bibir bertujuan agar bibir terlihat merah alami tanpa menggunakan lipstick.

Hal-hal tersebut mungkin memang membuat para wanita terlihat lebih cantik secara fisik, namun hal tesebut memiliki dampak yang cukup besar pada kesehatan para wanita juga. Tidak terpikirkankah para wanita bahwa bahan kimia yang digunakan tersebut berbahaya atau tidak? Terutama untuk operasi plastik. Hal tersebut dapat mengakibatkan kanker kulit pada wanita yang melakukannya.

Menurut saya, daripada melakukan segala cara untuk terlihat cantik secara fisik dan akan membahayakan kesehatan, lebih baik para wanita mempercantik kecantikan hatinya agar kecantikan dari dalam diri terpancar keluar. Contohnya dengan bertutur kata dengan baik, berperilaku sopan, ramah kepada semua orang, dan terutama murah senyum. Senyuman dapat membuat semua orang terlihat lebih baik dibandingkan jika ia diam apalagi cemberut. Bukankah hal-hal tersebut lebih mudah dan murah dilakukan ketimbang melakukan operasi plastik dan sebagainya? Cobalah pancarkan kecantikan dalam dirimu dan kamu akan terlihat lebih cantik dan menawan dibandingkan dengan berbagai perawatan yang dilakukan untuk kecantikan fisik, dan yang terpenting, TERSENYUMLAH! :)

22 November 2012

Be Wise! Be Mature! (Catherine Prana)


Perempuan sangat rentan terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga… Banyak perempuan yang menjadi korban untuk kasus tersebut.. Kekerasan yang dimaksud di sini tidak sesempit kekerasan dalam arti fisik, seperti memukul saja, kekerasan yang dibahas kali ini mencakup kekerasan verbal atau psikologis, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi… Ternyata kekerasan sangat beragam macamnya, kita sebagai kaum perempuan harus lebih sadar akan kekerasan di lingkungan sekitar kita, jangan sampai sudah menyandang status “korban” pun, masih tidak sadar bahwa itu merupakan bentuk kekerasan…

Kekerasan dalam rumah tangga itu sendiri sebenarnya dapat dicegah sejak masa berpacaran.. Kita harus lebih “menguji” pasangan kita dalam berbagai hal.. Saya senang dan sangat setuju ketika Bu Henny menjelaskan bahwa hubungan dengan rasa cemburu itu sebenarnya salah satu indikasi bahwa hubungan yang kita bina tidaklah baik.. Cemburu menandakan bahwa pasangan kita merasa insecure, sehingga ia harus menganggap orang lain adalah rival nya..  Ia merasa tidak aman, tidak percaya diri, menganggap dirinya selalu dikalahkan oleh orang lain.. Padahal dalam kehidupan kaum muda, yang digembor-gemborkan seringkali adalah cemburu itu tanda sayang, cemburu itu bumbu cinta..

Saya mempunyai sebuah kasus nyata berkenaan dengan pacar yang cemburuan.. Saya mengetahui kejadian teman saya yang sudah berpacaran sampai hampir empat tahun… Hubungannya pada awal-awal masa pacaran baik-baik saja, tetapi mulai masuk tahun ke 3 dan 4, pacarnya berubah menjadi overprotektif, bahkan teman saya ini dilarang bergaul dengan teman-temannya, padahal teman-temannya berjenis kelamin perempuan.. Ia marah kalau teman saya tidak mengikuti keinginannya,, Untungnya pada akhirnya teman saya ini lelah dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dan terakhir sempat diketahui bahwa ternyata pacarnya itulah yang justru selingkuh dari teman saya ini..

Orang yang cemburuan bisa berubah menjadi overprotektif untuk membentengi dirinya, sebagai respon rasa cemburu yang ada dalam dirinya.. Cemburu dalam taraf yang parah dapat menjadi tanda bahwa di masa sesudah menikah nanti, ia dapat menjadi pelaku kekerasan.. Seperti contoh teman saya, pada awal-awal ia justru tidak menampakkan perilaku overprotektif semacam itu, tetapi semakin ke belakang, ia menunjukkan perilaku mengekang, dan parahnya lagi ia akan marah ketika keinginan atau kemauannya tidak dituruti,. Belum menikah saja sudah terlalu memaksakan kehendak.. Ia terlalu merasa memiliki teman saya sehingga ia merasa bisa memperlakukannya sesuai dengan keinginannya..

Hal-hal kecil seperti itulah yang harus kita ketahui, terkadang, hal-hal kecil itu lah yang membuat kita terjatuh.. sering kali karena itu berupa “hal kecil”, kita jadi tidak sadar akan keberadaannya.. Cemburu dapat menjadi bibit kekerasan nantinya walaupun memang tidak semua berakhir demikian.. Cemburu hanyalah tanda ketidakdewasaan yang ada pada diri seseorang.. Berhati-hatilah terhadap orang seperti ini kalau kalian nantinya tidak mau terjatuh lebih dalam.. Kalau kata Bu Henny, “mending nangis sekarang, daripada nanti nangis beredisi.. “ (hehehe)…. So, Be wise! Be mature!

19 November 2012

I'm Your Child (Dwiya Novi Wijayanti)


Sudah tidak asing lagi jika kita mendengar kekerasan seksual pada anak dalam rumah tangga. Hal tersebut banyak terjadi di sekitar kita. Banyak contoh yang dapat kita lihat di media elektronik maupun media massa. Mulai dari seorang ayah atau anggota keluarganya yang melakukan pelecehan seksual kepada anaknya bahkan ada juga yang mengeksploitasi anak untuk kepentingan orang tuanya sendiri.
Anak-anak yang megalami kekerasan seksual dalam rumah tangga biasanya tidak mau atau tidak berani untuk melaporkan kepada orang lain. Banyak faktor yang mendasarinya, bisa karena malu, diancam oleh pelaku, dan tidak mengerti jika si anak telah mengalami pelecehan seksual. Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual dalam rumah tangga ini akan sangat berdampak pada masa depan dan psikologis ketika ia sudah beranjak remaja atau dewasa. Apabila si anak sudah dewasa, anak mungkin akan merasa dirinya itu kotor. Dan apalagi jika kekerasan seksual tersebut dialami si anak berulang-ulang kali. Bahkan ada yang akan berdampak pada anak yaitu si anak akan menutup diri atau menjaga jarak terhadap lawan jenisnya, karena ia merasa trauma. Dan jika sudah menutup diri kepada lawan jenisnya maka jika ingin sembuh dibutuhkan terapi.
Dan menurut saya, sebaiknya para orang tua harus membekali atau memberitahu kepada anak-anak mereka megenai sex education. Sex education itu sangat penting diketahui anak sejak dini karena untuk mencegah salah paham atau salah pengertian mengenai dunia seks itu seperti apa. Mungkin tidak secara sekaligus anak diberitahu mengenai pendidikan seks, tetapi dilihat dari umur si anak atau diberi tahapan-tahapannya, contohnya jika si anak masih berumur 6, 7, 8 tahun mugkin anak diberitahu mengenai apa itu pubertas dan seterusya. Tujuan anak diberi sex education sedini mungkin agar si anak tidak mencari tahu sendiri tentang seks, yang terkadang informasi-informasi di luar sana itu salah.

19 November 2012

KDRT is not cool!!!! (Dwiya Novi Wijayanti)

Kekerasan dalam rumah tangga pun sudah ada dan sudah terjadi sejak dulu. Banyak faktor yang mendasarinya. Kekerasan juga banyak macamnya, seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, dll. KDRT biasanya terjadi pada istri. Faktor ekonomi juga dapat memicu kekerasan. Atau bahkan bisa saja karena sang suami cemburu terhadap istrinya. Tetapi kebanyakan istri tidak berani atau tidak mau untuk melaporkannya kepada polisi, karena alasan untuk menjaga perasaan anaknya, ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, bahkan berharap suaminya dapat berubah. Pada kejadian ini, istri hanya bisa lebih banyak bersabar saja walaupun psikis dan batinnya tersiksa. Sebaiknya jika sudah terjadi kdrt, suami-istri harus berpisah rumah terlebih dahulu untuk masing-masing saling menenangkan dan menginstropeksi diri. Tetapi kdrt tidak juga dialami oleh istri, ada juga istri terhadap suami. Mungkin itu terjadi karena status atau kedudukan istri yang lebih tinggi daripada suaminya. Walau bagaimanapun juga kdrt itu tidak baik, dilarang, dan sudah ada undang-undang hukum yg akan memberikan hukuman. Banyak juga sekarang istri-istri yang masuk penjara karena telah membunuh atau menganiaya suaminya, salah satu dari faktor tersebut adalah bahwa si istri sudah merasa lelah atau tidak tahan terhadap perlakuan suami atau kdrt bertahun-tahun yang telah dialaminya. KDRT sangat tidak baik jika dilihat oleh anak-anak mereka, karena akan menyebabkan trauma dan dampak buruk terhadap psikologisnya. Bahkan akan membuat anak untuk meniru contoh-contoh dari kekerasan tersebut kepada teman-temannya atau untuk masa depannya.

19 November 2012

KDRT (Gisela Aliyansari)


   Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sudah sering kita dengar di berita. Umumnya pelaku adalah sang suami tapi tak jarang sang istri melakukan KDRT terhadap suaminya. Malahan sekarang ini muncul berita bahwa sang anak yang melakukan tindak kekerasan kepada ayah/ibunya atau sang cucu melakukan tindak kekerasan kepada kakek/nenek. KDRT dapat berupa secara psikis, fisik, verbal, dan ekonomi. Mereka melakukan KDRT dengan berbagai macam alasan, yang paling umum adalah karena masalah ekonomi. Masalah ekonomi adalah masalah yang sensitif di kota besar seperti Jakarta. Jika sang istri memiliki tingkat penghasilan yang paling tinggi dan merasa dirinya lebih hebat dari sang suami adalah suatu hal yang mungkin untuk sang istri melakukan kekerasan kepada suaminya. Atau sang suami yang merasa dirinya seorang tulang punggung keluarga dan sang istri hanya ibu rumah tangga biasa ditambah sifat suami yang tempramen maka sang suami sangat mungkin melakukan kekerasan kepada istrinya.

     Sifat tempramen pasangan haruslah diketahui ketika masih pacaran karena jika kita mengetahuinya sedini mungkin maka kita dapat mengambil keputusan yang tepat. Kita sulit merubah sifat pasangan karena yang dapat merubah sifat seseorang hanya dirinya sendiri, individu yang bersangkutan mau atau tidak untuk berubah. Jika tidak ada kemauan untuk berubah maka akan susah merubah sifat orang tersebut. Maka daripada menyesal di kemudian hari ketika sudah mengalami KDRT maka kita sebagai wanita dapat memutuskan pasangan yang memilki sifat tempramen tersebut dan kita layak mendapat pasangan yang lebih baik.

Ada satu quote dari Bu Henny yang saya suka
“If you love someone, you will take care of him/her”

19 November 2012

Sex Education (Gisela Aliyansari)


    “Sex” 3 huruf satu kata itu adalah kata yang sangat enggan diomongkan oleh orangtua. Khususnya oleh orangtua dan anak, kebanyakan orangtua menganggap obrolan tentang sex adalah omongan yang tabu untuk diperbincangkan. Sebagian orang tua lagi menganggap obrolan tentang sex bukanlah hal yang pantas diperbicarakan dengan terbuka dengan anaknya. Sebagian lagi menganggap seputar sex lebih pantas diajarkan oleh guru di sekolah. Mungkin karena kita adalah orang timur yang tertutup mengenai masalah sex. Padahal tertutup mengenai masalah sex dan menganggap hal yang tidak pantas jika dibicarakan dengan anak itu adalah anggapan yang salah besar.

     Menurut saya pribadi, sex education harus disampaikan oleh orangtua sejak dini, agar anak tidak terkejut melihat perubahan dalam tubuhnya dan agar anak mengerti bagaimana harus menyikapi perubahan yang terjadi. Dan saya baru mengetahui bahwa sex education bukan melulu tentang alat kelamin, berhubungan intim, dan lain-lainnya, tetapi ketika orangtua mengajarkan seorang anak untuk menghargai tubuhnya, mengajarkan anak agar tidak membiarkan tubuhnya dipegang-pegang oleh siapa pun juga, membuka pakaian ketika si anak mau mandi di tempat yang pantas, mengajarkan membersihkan alat kelamin sehabis buang air, ternyata semua itu adalah bagian dari sex education. Waktu anak lebih banyak bersama dengan orangtua bukan dengan guru, maka sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi sex education kepada anak. Tugas guru hanya melengkapi penjelasan yang lebih mendalam dan lebih teoritis tentang apa yang telah disampaikan oleh orangtua.

     Semua orangtua pasti ingin memberikan masa depan terbaik untuk anaknya dan salah satu caranya adalah memberikan sex education. Memberikan sex education sedini mungkin dapat menghindari anak dari pelecehan seksual oleh siapa pun dan tak menutup kemungkinan pelecehan tersebut dilakukan oleh kerabat dekat. Jika sang anak sudah mengalami pelecehan seksual maka ia akan mengalami trauma yang sulit untuk dihapus dari memori dan akan berdampak pada kehidupannya kelak. Jadi, sex education harus diberikan sedini mungkin oleh orangtua agar anak dapat lebih menegerti bagaimana cara ia menyikapi suatu perubahan.

19 September 2012

Jadilah Dirimu Sendiri (Gisela Aliyansari)


Semua wanita mempunyai daya tariknya masing-masing tetapi bagaimana wanita yang memasuki usia yang tidak muda lagi yang sudah terdapat garis-garis keriput di mukanya, tentulah ia akan mencari cara untuk menghilangkan keriput tersebut. Saya pernah membaca satu quote kalau wanita paling takut jika tua. Mereka takut jika suaminya sudah tidak mencintainya lagi, tetapi bukankah jika seseorang menikah mereka bukan hanya menikahi kecantikan seorang wanita yang lebih penting adalah pria tersbut menikahi hati seorang wanita tersebut. Kecantikan dapat saja termakan usia tetapi hati seorang wanita yang mulia tidak akan termakan usia. Ditambah dengan senyum yang selalu merekah pada setiap masalah maka akan membuat kita menjadi lebih muda.

      Saya pernah membaca cerita yang isinya kurang lebih demikian, cerita tentang seorang pasangan yang sudah tua sekali, mereka saat menikah belum pernah memakai pakaian pengantin. Ketika mereka melangsungkan ulang tahun pernikahan mereka, mereka berkesempatan mengenakan pakaian pengantin. Dan ketika sang suami ditanya mengenai penampilan sang istri, sang suami menjawab bahwa sang istri cantik sekali. Padahal kalau orang umum melihat pasangan tersebut telah banyak dipenuhi oleh kerutan dan tubuh mereka sudah bongkok. Tetapi hanya sang suami yang dapat melihat letak kecantikan sang istri tersebut.

      Sekarang ini banyak sekali produk-produk yang memakai wanita sebagai pemerannya. Seperti sabun, sampo, minuman, makanan, produk perawatan kulit, produk perawatan tubuh dan masih banyak lagi. Banyak wanita sering membanding-bandingkan dirinya dengan wanita yang mejadi model suatu iklan tertentu. Yang ujung-ujungnya membeli produk yang diiklankan agar badan atau mukanya menjadi seperti model tersebut. Perempuan tersebut bodoh karena perusahaan penjual produk tersebut akan mencari seorang wanita yan sesuai kriteria yang telah ditentukan untuk mengiklankan produk mereka. Bukan karena wanita tersebut menggunakan produk dari perusahaan tersebut dan tubuh atau mukanya menjadi cantik atau langsing, tetapi tentunya wanita yang menjadi model suatu produk sangat menjaga penampilannya dengan berolahraga, makan-makanan bergizi, dan lain lain. Nah yang harus dicontoh dari model suatu produk adalah bagaimana ia mendapatkan tubuhnya atau wajahnya atau daya tarik yang lainnya. Jadi kita sebagai wanita haruslah pintar-pintar menjaga tubuh dengan beragam cara dan ketika memilih suatu produk jangan hanya termakan oleh iklan.

19 November 2012

Senin, 19 November 2012

Be your own cheerleader! :) (Catherine Prana)


Body image bagi sebagian besar wanita sangatlah mempengaruhi kehidupan mereka sebagai kaum perempuan.. Ada perempuan yang rela menghabiskan uang yang begitu banyak demi mendapatkan proporsi tubuh yang ideal.. Penampilan memang dapat berpengaruh terhadap harga diri atau self esteem seseorang.. Selain penampilan, self esteem juga dapat dipengaruhi oleh prestasi, afeksi atau kasih sayang dari orang sekitar, social support dari lingkungan, dan nilai yang dianut oleh seseorang, seperti nilai keagamaan.. Yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika penampilan dapat secara signifikan mempengaruhi harga diri seseorang..

Seseorang yang menganggap bahwa penampilan adalah segala-galanya mungkin saja memiliki self esteem yang rendah ketika penampilannya tidak sesuai dengan body image yang ia inginkan... Saya tertarik dengan sebuah fenomena dimana seorang perempuan bisa menjadi stres dan depresi karena penampilannya yang menurutnya kurang memuaskan.. Ia merasa stres karena lingkungan di sekitarnya sangat sering menghina dan mengolok-ngolok penampilannya..

Yang perlu kita sadari adalah semua masalah berawal dari pikiran kita sendiri... Kalau kita sudah mempunyai pikiran negatif mengenai diri kita sendiri, tidak ada lagi cara yang bisa menolong kita… Be your own cheerleader untuk setiap masalah dalam hidupmu, karena memang hanya kita yang bisa menolong diri kita sendiri.. Ada sebuah quote yang sangat menarik yang pernah saya baca, berbunyi demikian, “nobody is in charge of your happiness, except you” ya memang itulah faktanya.. Mau orang lain memberi support sekuat apapun kalau kita memilih untuk terpuruk, ya itulah pilihan kita..

Di kelas psikologi perempuan, Bu Henny juga mengatakan “seisi dunia boleh menghinamu, tetapi kalau kamu belum meng “iya” kan hinaan itu, itu tidak akan berdampak bagi dirimu…” Quote yang sangat baik menurut saya.. Kalau penampilan menjadi satu-satunya hal terpenting, ya sangat mudah bagi kita untuk merasa tidak berharga, merasa tidak penting, karena selalu ada yang “lebih” daripada kita di luar sana… tidak akan ada habisnya…  Yang terpenting adalah bagaimana kita mengatur mindset kita agar tidak  mudah untuk dikendalikan orang lain… Be your own cheerleader.. ! :)

18 November 2012